Tak Semua Hari itu “Baik”

Dalam tradisi Jawa (Tengah) dan mungkin etnis-etnis lain dikenal adanya “hari baik”. Sebelum melakukan berbagai aktivitas kehidupan, orang-orang jaman dulu biasanya lebih dulu menghitung hari baiknya. Di Jawa (Tengah) ada banyak sekali petungan atau perhitungan soal hari-hari baik ini.

Perhitungan yang paling populer mungkin adalah hari baik untuk melangsungkan pernikahan. Di luar itu sebetulnya masih banyak. Ada perhitungan umum seperti untuk cocok-tanam, pindah rumah, berdagang, bepergian, dan ada pula perhitungan yang sifatnya “pribadi”. Sistem hitungan macam itu dalam sejarah umat manusia katanya sudah berlangsung ribuan tahun. Bahkan, konon sebelum menciptakan huruf sendiri pun bangsa Jawa sudah akrab dengan hal tersebut.

Di jaman sekarang pencarian hari baik tak selalu dianggap sebagai hal yang positif. Banyak orang beranggapan bahwa semua hari adalah baik. Tuhan tidak pernah menciptakan hari yang buruk. Karena itu, orang-orang yang masih senang mencari hari baik dianggap penganut kepercayaan kuno, tahayul, dan bahkan sesat.

Benarkah semua hari itu baik? Menurut saya sih memang benar. Namun, tradisi leluhur itu pun tidak mesti disalahkan, dilupakan, dihilangkan. Menghakimi orang lain yang masih menjalankan tradisi leluhur tanpa tahu duduk perkaranya bukanlah hal yang bijaksana. Sebaiknya diteliti dulu apa latar belakang perhitungan-perhitungan tersebut.

Orang Jawa jaman dulu biasa mengklaim bahwa pencapaian mereka didasari sebuah metode yang disebut “ngelmu titen” atau observasi, pengamatan, pencatatan, dll. Leluhur sebagian dari kita itu terbiasa mengamati fenomena-fenomena alam sepanjang hidupnya. Hasilnya atau hikmahnya lalu dikaitkan dengan kehidupan mereka sendiri sebagai pelajaran di kemudian hari.

Mereka senang mengamati alam sekitar, benda-benda langit, maupun diri sendiri. Kita tahu bahwa alam semesta ini bekerja menurut pola-pola tertentu. Ada siklus harian yang dialami bumi, bulan, matahari, dll. Ada siklus mingguan, bulanan, tahunan, dll. Intinya tiap mahluk atau benda memiliki siklus-siklus tertentu. Manusia sebagai bagian dari alam tentu mengalami hal yang sama. Tampaknya dari situlah muncul konsep-konsep dasar perhitungan itu. Tujuannya tentu supaya kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Kuktur Jawa (Tengah) mengenal adanya panduan menghitung siklus alam yang disebut Kalamangsa, sebuah produk asli yang keakuratannya konon sudah teruji. Soalnya, panduan itu sudah mengalami penyempurnaan dari generasi ke generasi. Di banyak pedesaan di Jawa Tengah bisa ditemui orang-orang yang bisa menjawab bila ditanya kapan “sangat” atau saatnya menanam padi, kapan musim hujan, kapan musim kemarau, kapan saat hewan-hewan melakukan reproduksi, dll. Dengan kondisi alam yang serba tidak menentu seperti sekarang pun katanya sistem Kalamangsa masih relatif akurat.

Perlu diketahui bahwa saya bukan bermaksud untuk memberi anjuran agar masyarakat mempercayainya. Saya hanya berusaha melihat tradisi leluhur ini dari sudut pandang yang lepas dari asumsi, prasangka, citra, dll. Sebagai contoh sederhana, penentuan hari baik pernikahan atau bisa dikatakan kapan tepatnya sebuah pernikahan bisa dilakukan. Soalnya, ini yang paling populer.

Misalkan kita ingin mengadakan resepsi pernikahan yang dilengkapi pesta kebun. Dengan anggapan bahwa semua hari baik tentunya acara bisa diadakan kapan pun. Tapi, apakah tepat bila pesta pernikahan diadakan pada bulan Desember atau Januari, di mana hujan bisa turun tiap hari? Ditambah lagi mungkin pada hari tersebut pengantin putri sedang haid. Lha… malam pertama terpaksa fuasaahahaha… :D

Jadi, bisa dibilang semua hari memang baik. Tapi, tidak semua hari tepat untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu, terutama yang memerlukan pertimbangan khusus. Lebih bagus lagi bila ada yang mau menggali kekayaan ilmu leluhur itu. Bukan untuk menghakimi, tapi siapa tahu ada hikmah besar yang tersimpan di sana. Syukur-syukur bisa direvisi dengan ilmu-ilmu modern supaya lebih akurat.

31 comments on “Tak Semua Hari itu “Baik”

  1. Satu hal yang mungkin luput dari cara pandang kita terhadap tradisi dan nilai-nilai budaya leluhur kita adalah penggalian makna dan hakikat di baliknya. Sebagian dari kita biasanya menilai bahwa tradisi dan budaya -termasuk di dalamnya spiritualisme- sarat dengan pemikiran yang jauh dari rasionalitas, dalam bahasa lainnya: klenik, tahayul dan tidak masuk akal.

    Padahal jika kita melihatnya dengan jernih, petuah, petitih dan tradisi hakikatnya sarat dengan filosofi yang mengandung makna ketuhanan dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

    -> ya. ajaran penjernihan (atau kebersihan) itu yang mestinya ditanamkan sejak usia dini. masuk dalam budi pekerti. bukankah kebersihan adalah bagian dari iman? lha menjaga yang sebagian aja masih kisruh kok ngakunya sudah beriman :D

  2. Intinya yaa menghargai tradisi itu toh mas?
    sebab tradisi itu juga salah satu rekam jejak orang2 terdahulu, namun keraifan kita yang sudah banyak mengenyam pendidikan formal kadang tidak percaya itu… maka, mengikuti tradisi bukan berarti mengamini tapi sebagai bagian dari penghargaan kepada para tetua kita…
    kira2 begini boleh kah?

    -> tepat sekali pak. selain menghargai ada baiknya menggali. kita kan kebanyakan impor. gaya pakaian impor, makanan impor, istilah bahasa impor. giliran reog diaku milik tetangga, ngamuk :D

  3. budaya pop sekarang kan yang jelas-jelas aja… males mempelajari yang tersirat alias gak nyata,seperti orang merokok biar ditakut2i dengan seabrek penyakit dalam dan rusak jeroan gak takut soale gak terlihat, cobak ditakut2i bahwa merokok bisa menyebabkan panu kadas kurap dan ketombe malah lebih medeni hehehe *OOT ga yo?*

    -> he he he… gak papa. malah nambah nuansa :D

  4. Yang jelas, tradisi budaya jawa, ada bukan tanpa alasan. Walaupun kadang terdengar nyeleneh,ternyata sangat banyak makna yang tersirat maupun tersurat. Yang paling mirip soal ini adalah masalah kejawen dan tasawuf. Coba deh dicari hakekat kejawen. Pasti seru klo di ulas.

    -> wah kalo soal yang berat-berat gak kuwat :D mending yang sepele aja deh… buat memperkuat landasan berpikir.

  5. “hari baik” bagi saya, ya ketika mood lagi enak. everyday is a good day (kayak iklan yah!)

    -> ah yang bener? kalo lagi gak dapet “jatah” dari pacar apa gak stress? :D

  6. Saya justru terkagum dengan mereka, terutama pada kemampuannya membaca alam dan bersahabat dengan alam, hingga bisa mengambil tanda-tanda dari sana. Baiknya memang kita pelajari….

    -> ya. katanya candi prambanan aja dibangun dengan pondasi campur pasir, sehingga tahan gempa. bisa jadi mereka udah punya pengetahuan & ngelmu gempa. kalau dipelajari kan lebih baik…

  7. “warisan” itu kadang jadi rebutan. Namun anehnya, warisan budaya yang begitu bernilai seakan lenyap bagai asap. Agaknya korosi budaya itu ada something wrong pada pemahaman kita? atau dari agama itu sendiri? mbuh ah mas … :)
    sulit mengira2kannya.

    -> saya malah dapet info bahwa di jaman majapahit sudah menganut sistem sekuler. kata “agama” artinya undang-undang, sedangkan keyakinan disebut “darma”. landasan negaranya negarakertagama atau UUD Majapahit. :D

  8. ::suatu negara mengeksport ciptaan negaranya keberbagai pelosok dunia dengan lable “made in xxxx” agar negaranya dikenal…, namun kebanyakan pemakainya hanya sebagai pengguna tanpa melihat lable siapa pembuatnya :lol:

    -> kalo perlu malah impor label doang biar ikut terkenal :D

  9. Ada benarnya tradisi “petung” dalam tradisi Jawa. Orang2 tua kita punya paradigma tersendiri dalam memandang hidup dan kehidupan. Mereka masih memiliki kepekaan dalam menangkap gejala dan fenomena alam. Perhitungan hari baik saya kira sangat erat kaitannya dengan itu, Pak. Bukankah semesta ini akan terus berputar sesuai dengan *halah sok tahu dan maaf kalau salah* orbitnya. Dan setiap orbit akan membawa makna2 tertentu. Dan makna itulah yang berhasil ditangkap oleh orang2 tua kita.

    -> njih leres *halah sok njawani* :D pak. selama ini saya lihat pengamat budaya Jawa sepertinya lebih senang melihat dari kacamata orang asing. pake kacamata sendiri aja seeeh :D

    saya pernah baca artikel *tapi lupa di mana* bahwa kaum abangan yang tadinya dikira orang-orang beragama KTP ternyata salah besar. kaum abangan aslinya adalah pengikut ajaran syeh siti jenang jenar atau syeh lemah abang.

  10. Saya dibesarkan oleh orangtua yang menganggap semua hari baik, akhirnya saya tak terlalu memahami tradisi itu. Keluarga mertua sebaliknya, semua ada hitungannya. Awal menikah, saya bingung kok apa-apa harus dihitung, dan mertua tahu kalau saya tak percaya tentang hal tsb walau saya tak mengungkapkan…..untunglah suami bisa menjembatani.

    Jadi, kalau saya bisa mengikuti sesuai hari yang disarankan (seperti pindah rumah) ya saya ikuti…tapi kalau harus cuti kantor…lha ini yang paling sulit, lha cutiku terbatas hanya 12 hari kerja selama satu tahun…itupun untuk cadangan kalau anak sakit. Jadi, selama ini kalau pindah rumah selalu hari Sabtu Minggu, syukur kalau hari Jumat atau Senin nya libur.

    -> pada dasarnya semua hal yang bisa kita pertanggungjawabkan memang terasa lebih nyaman untuk dikerjakan.

  11. Nuwun sewu njih pak, sepertinya saya setuju dengan pendapat panjenengan kalau :

    Jadi, bisa dibilang semua hari memang baik. Tapi, tidak semua hari tepat untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu, terutama yang memerlukan pertimbangan khusus.

    Dulu waktu saya kecil, orang tua saya masih ngugemi Primbon Betaljemur Adamakna, namun sekarang sepertinya mereka berpikir bahwa semua hari memang baik :grin:

    -> ya ya ya… Primbon masih kalah di bidang promosi barangkali. :mrgreen:

  12. Usaha para leluhur tersebut memang tidak sepatutnya dipandang negatif, kan nggak gampang tuh melakukannya. Mesti membuat penelitian, perhitungan, hipotesis *mungkin* dan sebagainya, sampai pada sebuah kesimpulan mana hari baik dan mana yang bukan. Tentunya dengan asumsi kita taat menjalani ibadah masing.-masing supaya tidak terjebak pemahaman yang salah.

    Bagi saya pribadi, hari terbaik adalah hari Minggu, the Sunday, fun day. Harinya terlepas dari segala kerumitan dunia, walaupun nggak semua hari Minggu baik.

    -> ya. baik di sini maknanya mengarah ke yang “tepat” atau yang “pas”.

  13. ya… semua hari baik, tapi baik buat apa?
    ada yang baik buat punya hajat, ada yang baik buat beristirahat, baik untuk beribadah kepada Tuhan menurut agama kita masing-masing (jika punya agama..)

    eh… hari ini naga dina-nya dimana?
    (sudah lama nggak buka primbon he he he…)

    -> ya, tepat. kalo primbon sih gak pernah buka… gak ngarti :D

  14. Dlm Agama saya pun ada hari yg baik dan yang “kurang” baik.
    Monggo…

    -> lha iya… wong agama kita sama kok… he he he

  15. Ping-balik: Keselarasan Dalam Ilmu Kejawen « Halte Perjalanan

  16. Ping-balik: Menjadi Raja dan Ratu Sehari, Esensi Kepemimpinan Ningrat « Halte Perjalanan

  17. Ping-balik: Menghargai Sebuah Penghargaan « Halte Perjalanan

  18. Ping-balik: Watak Alam dan Manusia Menurut Primbon « Halte Perjalanan

  19. saya juga tadinya sempat gak percaya hari baik mas, karna menurut saya semua hari memang baik. apalagi saat2 akan menikah, camer sangat percaya sekali perhitungan hari baik dan buruk. walaupun pada akhirnya mengorbankan hari kerja(karna hari baiknya akad ternyata hari senin).

    tapi setelah baca sana baca sini, tanya sana tanya sini, akhirnya terjawab sudah :) memang sebaiknya utk hal2 yg baik, kita dianjurkan mengikuti tradisi leluhur, dan benar mas siti bilang, sangat tidak bijaksana menghakimi sesuatu tanpa kita sendiri tahu duduk persoalannya.

    btw, makasih mas atas postingannya. nice post. :)

  20. Sugeng Tepangan,
    mohon maaf, belum kenal saya langsung komentar.
    Senang membaca tulisan njenengan, khusus hari “Baik” dan hari “Tidak Baik”, saya hanya menambahkan, sesuai ajaran agama saya, Islam.
    Di dalam Islam, ada hari yang disebut hari Sial/Nahas.
    Hari-hari Nahas ( Ayyaamun Naahisaat) menurut Agama Islam memang ada, Firman Alloh yang menerangkan hal ini diantaranya :

    QS Fusshilat ayat 16 :Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang nahas (sial), karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.

    QS Al Qomar ayat 19 :Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus,

    Hadits Nabi :

    “ Akhiru arbi’aa in fissyahri yaumun nahsin, artinya : Bersabda Rosululloh saw: Hari rabu Akhir dalam tiap-tiap bulan adalah hari nahas. HR An Abnu Abbas, Kitab Jami’us Shoghir, Alif.

    Hadits lainnya :
    “An Anas bin Malik RA : Suila Rosululloh SAW. An yaumil arbi’aa-I qola yaumun nahasun mustamirrun qoluu kaifa dzaalika yaa rosullalloh? Qola aghroqollohu ta’ala fihi Fir’auna waqoumahu wa ahlaka ‘aadan watsamudan wahum qoumun sholihun” artinya “Keterangan dari Anas bin Malik RA, ditanya Rosululloh SAW dari soal hari Arbi’aa, Jawab Rosululloh : Itu hari nahas yang lestari, Tanya para sahabat: bagaimana itu ya Rosululloh ? Jawab Rosululloh SAW : Alloh Ta’ala menenggelamkan Fir’aun dan kaum Aad dan kaum Tsamud dan semua kaum Sholih juga pada hari Arbi’aa. (Kitab Al Ba’iyyat, bab 5)

    Jadi, yang dinamakan hari nahas itu memang ada menurut Alloh SWT.

    Demikian Kang Siti Jenang, sekali lagi, salam kenal dan mohon maaf, semoga tulisan saya tadi ada manfaatnya, amin.

  21. Nuwun sewu… saya pernah berpikiran bahwa semua hari itu baik,kemudian saya buktikan: saya pergi ke BCA untuk ambil bunga deposito e”’h Bank nya tutup, tetangga ku, saya suruh sholat jum’at an di hari sabtu eh..saya malah di penthelengi, ibu ku tak suruh berpuasa saja di hari h Idul fitri eh”saya malah di kabyuk pakai tenong, waktu saya remaja coba ngapelin pacar saya di hari Jumat siang eh…saya malah di usir sama bapaknaya,…
    soal makna di balik hari2 itu sudah ada kok buku2 panduanya.atau tanyakan pada ahlinya.
    Matur nuwun.

  22. Boat para oemat ..Ingatlah..Dr sbgaian primbon sunan bonang trtulis. Jodo rejeki lan pati iku wes pesti…Sugeh mlarat,drajad lan pangkat iku wes kodrat. Mulo kabeh iku kito mong sadermo. Ikhtyar iku wajib. Kito mong anenadah paringe pangeran…Siki wes jaman edan nak rangedan rakeduman. Neng kabeh mau oradadi kslametan. Kejobo wong seng eling lan waspodo

  23. Etong lan pretungan iku wes ket jaman biyen nenek moyang. Biso ugo di jennengi ilmu titen. Pcy monggo ,ora yoramekso. Kabeh iku ono ilmune. Pengen coba?Kapan sengenge mletek iku jam 6.Tancepno tongkat. Lan titenono.. Setiap stngh jam di coret..Nganti ilange ayang2nane. Sokor nganti surup jam 6. Sesok balenono.. Podo pora?? Jaman biyen kanjeng nabi nentoke wektu sholat nganggo coro iku..Yo maklum tenologi jam drng ktmu.. Neng khadis yo raono jam piro wkt subuh,zuhur asar dst. Gor sawuse lingsire sengenge iku manjing zuhur. Ayang2an punjul kr degege wektu asar.Surup sngenge manjeng mahreb. Dst. Isane ngerti tanggal lan gawe tanggalan yo podo koyo iku. Nak wongjowo gk reti etong lan pretong gor dapusi londo. Nwun

  24. Mas siti, artikelnya bagu s dan sangat menarik. jika boleh bertanya ? apakah perhitungan hari-hari baik ini termasuk pada ilmu falak ?

  25. Saya setuju dngan hal itu,ilmu perhitungan wajib kita pelajari dan kita amalkan karna leluhur kita membuat itu untk keselamatan dan kemakmuran bersama.dgan catatan manusia akan lbh dekat dan lbh mengenal dgan dirinya apabila kita belajar sabar,ikhlas,welas asih,lan titen.salam bt smua amiin

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s