Rasa Adalah Kesadaran Manusia?

Ajaran kejawen sering menyebut kata “rasa”. Tapi, seringkali disamakan dengan rasa pada makanan atau sensasi ragawi. Setahu saya kalau di wilayah raga biasa disebut hawa, walau terminologi rasa sering dipakai juga. Jadi, apa yang sebenarnya yang dimaksud dengan rasa? Menurut Ki Ageng Suryomentaram itulah potensi yang relatif sama dalam diri tiap manusia. Beliau menganggap kesadaran manusia pun adalah rasanya. Kebetulan saya mendapati dalam ajaran ilmu jiwa versi jawa ada empat tingkatan kesadaran.

Pada prinsipnya saya hanya akan memaparkan pemahaman pribadi saja. Kemungkinan pandangan ini bisa berbeda dengan orang lain yang juga mendalami ajaran-ajaran ‘kawruh jiwa’. Seperti biasa bakal disertai bumbu-bumbu sinkretis supaya lebih kuat nuansa kejawennya. :cool:

Potensi manusia banyak macamnya dan tiap individu unik, punya ciri khas antara satu dengan yang lainnya. Ki Mentaram juga mengakui hal ini dalam sejumlah wejangannya. Menurut saya pandangan beliau juga relatif sama dengan pandangan kejawen pada umumnya, di mana dimensi utama keberadaan manusia ada tiga.

Di level terendah Ki Mentaram menyebut kesadaran manusia yang menganggap dirinya sebagai tukang catat. Kesadaran dimensi pertama ini diibaratkan seperti tumbuh-tumbuhan, pasif terhadap pengaruh dari luar. Kalau boleh saya istilahkan sendiri sebagai kesadaran inderawi atau nabati. Di level ini manusia hanya menangkap atau mencatat segala sesuatu melalui inderanya. Berhubung cuma bisa mencatat, belum ada penilaian apa-apa mengenai apa yang telah dicatat.

Kesadaran di level ini tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Ada yang dari sananya “sempurna” dan ada yang sejak lahir terdapat “kekurangan”. Kalaupun semua indera berfungsi, daya tangkapnya juga berbeda-beda. Alhasil, hasil yang ditangkap pastilah tidak sama.

Kesadaran dimensi kedua menurut Ki Mentaram mirip binatang. Saya sebut kesadaran hawa atau hewani saja lah. Di sini manusia menganggap catatan-catatan tersebut (kumpulan informasi) sebagai dirinya. Tiap catatan sudah ada nilainya, meski masih “primitif” katakanlah. Dengan demikian bisa dibilang bahwa kesadaran hewani ini menjadi tuan dari kesadaran nabati. Seperti halnya seekor hewan, kesadaran ini bersifat reaktif dan belum ada pertimbangan nalar. Kalau diberi makan atau dipupuk bakal semakin kuat, sedangkan bila dibiarkan / tidak diikuti bisa mati. Hewan hanya bertindak alami, berkelahi atau lari kalau merasa diri atau catatan-catatannya diganggu.

Sepertinya kesadaran level ini sudah relatif sama bagi tiap manusia. Masalahnya, ini adalah kesadaran hewani, sedangkan manusia konon derajatnya lebih tinggi dari hewan. Meski begitu, kesadaran hewani sudah bisa bereaksi terhadap sensasi yang didapat dari inderanya. Biasanya disebut hawa nafsu. Kalau dari blog Sufi Muda saya mendapati bahwa hawa dan nafsu ternyata dua hal yang berbeda. Hawa artinya kesenangan, sedangkan nafsu atau nafs artinya ego. Mungkin ini yang dimaksud pandangan kejawen (yang tidak populer) soal hawa dan ‘kula’ (aku sing ala / aku yang buruk).

Selanjutnya ada kesadaran dimensi ketiga, yang menganggap Kramadangsa (identitas diri) sebagai dirinya. Identitas tersebut bisa nama, etnis, ataupun pendikan yang pernah ditanamkan orang lain, termasuk orang tua. Maksudnya tak lain adalah pikiran kita. Di dalamnya terdapat catatan-catatan (data) maupun perangkat untuk memrosesnya (analisis).

Menurut ajaran kejawen mazhab  saya sih, pikiran manusia hanyalah sebuah perangkat. Dia memang punya kemampuan menyimpan data sekaligus memrosesnya, tetapi tidak bakal bekerja tanpa adanya sebuah kehendak sebagai motor penggerak. Kalau disebut sebuah kesadaran, pikiran adalah sebuah kesadaran yang mendua, tergantung kehendak mana yang diikutinya. Standarnya tiap manusia [katanya] berada dalam kondisi seperti ini. Selalu berada dalam konflik “abadi” antara dua kepentingan yang berbeda pandangan. Dalam kesadaran ini manusia sudah memiliki rasa, tetapi umumnya masih bercampur antara rasa dari alam jiwa dengan hawa (rasa ragawi). Lalu, menurut guru saya, idealnya manusia menjadikan pikiran sebagai tuan bagi raganya.

Bila ada permohonan dari sang hamba (raga), merasa lapar misalnya, pikiranlah yang sebaiknya mengatur tentang kapan, seberapa, dari mana, dan apa yang bakal dimakan. Namun, hal itu belum tentu terjadi dengan sendirinya lantaran pikiran bisa saja berbalik menghamba kepada kehendak raga. Pikiran sepertinya cenderung ambigu dan berat sebelah. Dia bisa terjebak mengikuti hawa dan menggunakan kemampuan analisisnya untuk mewujudkan kehendak raga tersebut menjadi nyata.

Manusia kemudian menjadi sangat reaktif bila merasa terganggu atau isilahnya impulsif barangkali. Belum lagi ada kemungkinan data yang disimpan sudah terdistorsi, rusak, tidak akurat, kurang lengkap, dsb. Akibatnya, dalam menganalisis data sesuai permintaan hawa, pikiran lalu “dipaksa” menyumpal kekurangan data yang ada. Lha, akhirnya data yang digunakan adalah asumsi, yang bisa diberi arti “asal sumpal supaya terisi”. Kesimpulan yang dihasilkan sepertinya bisa membahayakan akibat kualitas sumpalan mungkin cenderung asal-asalan dan bisa pula dijejali unsur ketakutan, kemarahan, kebencian, dll.

Solusinya menurut kejawen, pikiran hendaknya juga menghamba, tetapi kepada kehendak lebih tinggi yang disebut rasa tadi. Salah satu metode yang umum dipakai adalah dengan menyingkirkan pengaruh hawa untuk sementara waktu. Menurut abang saya, dalam cerita pewayangan ada fragmen di mana Arjuna menjadi pertapa lantaran stres memikirkan perilaku Kurawa. Di situ dia berganti nama menjadi Begawan Ciptaning. Kata ‘ciptaning’ artinya ‘cipta ingkang hening’ (cipta / pikiran yang hening). Katanya, dalam keheningan itulah terjadi dialong antara Arjuna dengan Sri Kresna tentang ilmu kesempurnaan hidup. Jadi, menurut ajaran kejawen mengheningkan (bukan kosong) cipta adalah cara untuk memasuki realitas sesungguhnya alam jiwa, mendekati kesadaran rasa.

Katanya pula, di alam jiwa ada sebuah ruang yang biasanya disebut [lentera] hati (simbol) atau kalbu. Kata “kalbu” sendiri dalam bahasa kejawen sering diartikan “kalam sing wis mlebu” (kalam yang sudah masuk). Isinya [kayaknya sih] adalah pantulan cahaya yang berpendar, tidak seperti cahaya aslinya dari dimensi yang lebih tinggi. Jadi, rasa di sini ada beberapa atau bercabang. Mungkin dari situ muncul istilah ‘pangrahsa’, yang berasal dari kata ‘pang’ (ranting / cabang) dan ‘rahsa’. Nah, di sinilah letaknya kehendak yang dianggap lebih kompeten memimpin atau menjadi tuan bagi pikiran manusia. Melalui eksplorasi atau olah rasa ini seseorang bisa mendapat berbagai jawaban yang disebut ‘panemu’ (apa yang sudah ketemu). ‘Panemu’ itu bisa dimasukkan pula ke dalam pikiran untuk menambah kekayaan data. Bedanya dengan data dari alam raga, [mungkin] apa yang diperoleh di sini sifatnya lebih murni atau bebas distorsi. Namun, target sesungguhnya dari olah rasa sebenarnya supaya manusia tidak lagi menganggap rasa sebagai sekadar pengetahuan, tetapi kalau bisa menjelma menjadi rasa tersebut.

Meski begitu, rasa di alam jiwa tadi bukanlah kesadaran manusia sesungguhnya atau biasa disebut diri sejati. Di level keempat ini, menurut Ki Mentaram, manusia menyadari bahwa diri yang sesungguhnya bukan Kramadangsa, tetapi seorang Pengawas atau biasa disebut diri atau rasa sejati. Secara teori, setelah menyadari bahwa dirinya bukanlah kumpulan catatan-catatan dan pikiran, maka manusia menjadi sadar bahwa dia sejatinya adalah kesadaran sukma, rohani, atau saya sebut saja kesadaran ilahi. Di sini manusia katanya bisa mencapai derajat universal. Diri sejati menurut beliau adalah rasa bahagia, tapi sebagian mungkin menyebutnya rasa damai, sejahtera, suka cita, cinta, dsb. Sepertinya semua istilah tersebut mengacu pada hal yang sama, yaitu rasa / diri sejati. Manusia yang telah mencapai tahap ini, lalu mengeksporasinya, [mungkin] layak disebut sebagai rohaniawan.

Mengenai apa dan bagaimana rasa sejati itu, menurut saya kayaknya memang wilayah para rohaniawan, sedangkan saya hanyalah seorang penjaga halte perjalanan. Jadi, saya rasa *haiyah* cukup sekian. :cool:

62 comments on “Rasa Adalah Kesadaran Manusia?

  1. Menjelma menjadi rasa ya ? Indah, abstrak tapi susah dibayangken.

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: lha membayangken itu kan pake pikiran… jelas aja susah :D

  2. walah, kedahuluan sama mas love, hiks. wah, sepertinya mas jenang pengagum berat ki suryomentaram nih.

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: ya, soalnya bahasanya jauh lebih sederhana ketimbang para pujangga masa lalu, pak. :mrgreen:

  3. wah, gitu ya teorinya mas?
    saya kok ya hanya bisa menjalani hidup dan merasakan semua tempaan dari pengalaman2 hidup itu sdr, yg kemudian bikin saya ngerti “rasanya” hidup. kemarin dapat istilah jawanya di komen fb teman, “ngilmu kuwi kalakone kanti laku” maksudnya learning by doing ya mas? life experience banget. so.. guru sejati adalah hidup itu sendiri deh. maka kita tahu “rasa”-nya dan Nya.. gitu ga sih mas jenang?

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: itu maksudnya ilmu didapat melalui proses. proses itu bisa saja “by doing”. guru sejati itu kalo kejawen sih diri sejati, tapi bisa dimaknai hidup juga sih.

  4. ::kefahaman saya mengatakan, fikiran adalah media, (mungkin termaksud medium, garis tengah) yang menghubungkan batin denga dzahirnya, interaksinya bisa jadi fikiran yang menjemput jawaban, atau jawaban yang memenuhi gudang fikiran, misalnya untuk mengatakan sesuatu maka sebenarnya kalimat berjalan sudah bergerak lebih dahulu difikiran barulah mulut berucap (seperti pembaca berita di tv)
    dengan pengetahuan itu fikiran bisa lebih pongah, jumawa atau semakin tunduk.
    jumawanya, bisa jadi menimbulkan penuanan pada fikiran, meskipun sebenarnya distribusinya berasal dari gudang yang jauh lebih besar, meskipun sang gudang tetap mendistribusikan kebenaran, namun kejumawaan bisa menggesernya, sehingga menimbulkan efek confuse pada fikiran itu sendiri.
    Ketundukan akan mendatangkan kejernihan pandang, karena dengan ketundukan maka distribusi yang datang akan memberi sinyal mana yang paling benar diantara yang benar tersebut.
    jalur pembuktiannya adalah tindakan, alih bahasanya adalah rasa fisik…
    tapi embuhlah..aku juga cuma membaca…

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: kalo menjemput berarti punya kehendak sendiri. kayaknya pasif aja. ketundukan berakibat berdirinya sang tuan. jumawa itu ‘maju rumangsa dadi dewa’ barangkali… :mrgreen: tapi ya gak tau juga sih. saya juga cuman pengumpul info aja.

  5. wahh.. panjang.. tapi enak di baca.. rasa.. mungkin emang lebih tepat di rasakan saja, tanpa di bicarakan, tapi terima kasih ilmu baru nya..

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: makasih udah menyempatkan baca. sepertinya memang harus mencoba dan rasakan saja. kembali…

  6. wah saya banyak belajar tentang arti dari kata2 nih :D siplah nanti saya minta ijin buat kepekan ya Kang
    ajaran Ki Ageng sendiri bagi saya ada kesamaan dengan ajaran Sidharta *terserah kata orang, menurut saya Ki Ageng adalah Sidharta-nya Jawa*. Aku ‘sang pengawas’ adalah kesadaran tertinggi dimana manusia mampu melihat ketidakkekalan pikiran *langgeng owah gingsir* yang terus berubah dalam kemelekatan & penolakan yang semakin menjauhkan manusia dari Rasa Bebas. Dalam Budha ada dua entitas dalam diri manusia yaitu : Pikiran yang terus owah gingsir & Kesadaran.. Kesadaran adalah mentari yang selalu menerangi, dalam hal ini ‘Aku Sang Pengawas’ yang melihat dan mengerti.

    …Ndheprok mengamati si pikir yang langgeng owah gingsir untuk melihat dan mengerti dalam terang mentari kesadaran *haiyah*

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: he he… silaken. setuju! tapi ya gak tau juga apa pendapat para penganut ajaran Sidharta. saya pernah baca Suluk Wujil bagian Pucung (Sunan Bonang). di situ sang wali juga mengungkap pandangan yg setipe. anehnya lagi, beliau mengaku orang jawa. padahal kata sejarah yg belum lama beredar, sunan selain Kalijaga kan katanya tionghoa… :mrgreen:

  7. Ngomongin mbah Kramadangsa ya?Terlalu detil mengamati hidup, kok lama2 kaya orang gila. Atau jangan jangan memang gila ya….., auo uo..

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: he he he… gak papa lah… wong sekarang kan jaman edan. :D

  8. Seperti pada ilmu² psikologi juga ya pak .. cuma beda bahasanya aja kali ya pak :)

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: ya. katanya sih setara dengan teori psikologi modern. bahkan lebih jauh lagi karena membahas kesadaran level-4.

  9. Dunia Tasawuf/kerohanian adalah dunia rasa dan merasakan. Ada falsafah bagi sufi, “Tidak tahu kalau tidak merasakan”.
    Bukankah kehadiran Tuhan juga lewat “rasa”?

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: masalahnya rasa itu kayaknya emang wilayah klaim. kalo belum mencoba kemungkinan besar gak tau rasanya. :D

  10. Saya dulu pernah baca sih masalah 4 level kesadaran Ki Suryo tapi karena waktu itu prakteknya belum jalan, jadi ya antara mudeng dan tidak. Sekarang baru bisa baca sambil senyum-senyum. :mrgreen:

    Level ke-4 kesadaran tsb dalam tradisi Siddharta disebut sama sati (istilah singkatnya) atau atapi sampajano satima (istilah lengkapnya).

    seeing as mere seeing
    hearing as mere hearing
    etc
    dengan kata lain, “mindfullness and equanimity”, alias sekedar jadi “Pengawas”

    Prakteknya? Susah bleh… masih terus berjuang setiap hari

    ▄▄▄▄▄▄

    …Level ke-4 kesadaran tsb dalam tradisi Siddharta disebut sama sati

    SJ: nah, jelas bahwa sati maksudnya “rasa sejati” :D

    …dengan kata lain, “mindfullness and equanimity”, alias sekedar jadi “Pengawas”…

    SJ: ini mirip falsafah Jedi tempo hari: there is no emotion; there is peace :cool:

  11. Apapun yang kita alami…kita menilainya dengan rasa…menyenangkan, menyakitkan, mendidik dll
    Apa yang kita makan kita juga menilainya dengan rasa…asin, manis,pahit,asam
    Apa yang kita pelajari kita juga menilainya dengan rasa…rasanya sudah paham..rasanya belum mengerti
    Apa yang hati kita lakukan,alami kita juga menilainya dengan rasa..ras benci..rasa mencintai…rasa kangen…

    Jadi semua aspek…memang dinilai dengan rasa…dan bagaimana kita sendiri mengungkapkan dan menilai rasa itu sendiri hanya kita yang tahu, dan kebenarannya mungkin orang lain bisa membantu menilai.

    Nyambung ngak sih, koemntku ? :oops:

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: ya, ukuran yg relatif sama untuk dipake emang rasa. kalo indera dan pikiran kan beda-beda.

  12. rasa sejati ? apa itu kata lain dari manunggaling kawula gusti ?
    jadi, ingsun adalah ingsun ?
    whalah, ngomong apa saya, wong bacaan saya cuma primbon betaljemur thok kok, haha….

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: ingsung is ingsun. sepertinya yg manunggal ya menjelma menjadi ingsun itu barangkali.

  13. sak jane De pakDe…saya setuju, cuman masalahnya, klo boleh dibilang masalah, tingkat kesadaran manusia itu kan beda2, penggunaan terminologi ‘Rasa’ bisa disalah artikan dengan ‘rasa’ secara harfiah yakni sebagai rasanya raga… padahal ‘Rasa’ yang dimaksutkan adalah rasaning Jiwo kang Iklas lan Syukur…
    nah sulitnya ya ini..sulit bahkan untuk saya menyaring bahwa Rasa yg tak alami bukan sekadar Rasaning Rogo melainkan Rasaning Jiwo (yg Ikhlas dan Syukur)
    mekaten De… :)

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: ya, demikian pula dengan rasa cinta. wong birahi kok dikira cinta. menurut saya rasa memang klaim aja bagi orang yg sudah mengalaminya. orang yg belom pernah punya anak misalnya, pasti sulit mengira-ngira gimana itu rasanya menggendong anak, menyayangi mereka, dsb. :cool:

  14. there is emotion, but instead of getting overpowered by it, jadilah “Pengawas”. Lebih mirip kejawen yak?

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: saya melihat maksud ketiadaan emosi itu adalah ketika menjadi pengawas. aku bukan pangrasa itu lagi. ya, mirip kejawen.

  15. atau kejawen mirip buddha? sejarah membuktikan (halah bahasanya), kejawen hasil sinkretisme dari 3 kepercayaan mapan (Budha, Hindu dan Islam) + kebijaksanaan lokal.

    Ada berapa aliran pikiran Kejawen sih? SJ kan penggemar Ki Suryo, trus ada seorang kawan penggemar kakaknya Kartini (namanya lupa-lupa ingat, Sastrokartono?). Trus bedanya aliran-aliran tsb di mana? Kalau jawabannya panjang, dibuat postingan baru aja deh :-)

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: memang sinkretis lah. tinggal duluan yg mana. Budha pun gak mungkin gak campur Hindu. Islam juga campur Kristen plus kultur Arab. wah kalo macam aliran gak tau juga deh, bukan anggota HPK :D … kalo udah pembandingan gak kuat deh… kalo menurut saya sih esensi kejawen adalah pelajaran mengenal diri.

  16. Saya pernah mendengar bahwa rasa itu adalah panca indera, yang juga perlu olahraga agar sehat, perlu istirahat agar tak letih …. sampai sekarang belum ngerti ini betul gak?

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: apa iya sehari punya rasa dan sehari tanpa rasa?

  17. Oooo…. jadi rasa itu adalah sinonim daripada kesadaran toh?? Dan tingkat kesadaran itu ada bermacam2?? Dikirain saya, rasa itu yang hanya dirasakan oleh indera pengecap saja seperti Nano-nano yang asam-asin-manis itu…. huehehe…..

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: lha gak tau juga deh apakah Pak Yari kalo liat anak sendiri gak ada rasa. :razz:

  18. Jadi rasa cinta itu dari mata turun ke hati. Koq ya logis ya?
    Hihihihi….sok tehu aja!

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: wah kalo dari mananya sih gak tau pasti juga… :mrgreen:

  19. “Rasa” ini apa sih? Bulak balik baca tapi nggak ngerti. Kalau rasa di sini ada hubungan dengan perasaan, naluri kekristenan saya sudah terlatih untuk tidak percaya pada perasaan. Beda dengan gnostisisme (musuh bebuyutan kristen purba) yang memang mengandalkan perasaan sebagai pegangan/penunjuk jalan. Apakah kejawen itu semacam gnostisime?

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: kalo kejawen naluri itu seperti binatang, makan, birahi, marah, dsb. kalo nurani itu rasa seperti kalau sedang senang, suka, tenteram, dsb. saya gak paham juga naluri kekristenan itu yg gimana. bukankah Kristen sering menggunakan istilah cinta, suka cita, bahagia, dsb?

  20. @ga ada istilah naluri kekristenan :mrgreen: saya niru-niru teman saya. sewaktu debat soal filsafat dan sospol, temen saya ini dari teknik dan kadang nggak mudeng apa yg sedang dibahas. Lalu kalau kepepet dia bilang “naluri keteknikan saya mengatakan begini…”. (Karena keseringan ga mudeng akhirnya dia kursus di driyarkara. mengejar ketertinggalan, katanya). Lalu di antara kami, tiap kali nggak ngerti tapi kebelet mau ngomong ya didahului dengan “menurut naluri … saya”. OOT :mrgreen:
    .
    Jadi saya pake “naluri” untuk mengendus apa makna “rasa” di sini. Lha dinalar sambil bulak-balik baca kok ga ngerti :mrgreen: jadi dinaluri saja.

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: he he he… emang gak ada. soalnya menurut pengalaman, makin dijelaskan sepertinya malah makin berpeluang untuk tidak jelas. :D

  21. karena “rasa adalah segalanya” :mrgreen:

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: muahahaha… boleh jadi segala sesuatu yang ada sebetulnya rasa, sedangkan sisanya tiada… hambar sahaja… :cool:

  22. Tak Tahu maka tak kenal
    Tak kenal maka tak sayang
    tak sayang maka tak cinta
    tak cinta maka tak kasih
    Salam kenal dan mhn ijin bergabung
    rasa harus dipraktekkan berulang2 seperti peribahasa di atas, maka dari praktek diulang2 akan muncul kesimpulan rasa
    rasa yg paling tinggi adalah menyatu dengan Allah dan Kekasihnya

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: salam kenal juga. silaken bergabung.

  23. Komen lagi ah … saya ‘rasa’ bukanlah rasa dengan lidah … rasa sejati adalah ‘suara qalbu’ … mask sih wilayah para rohaniawan doang

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: untuk menjabarkan sepertinya memang wilayah mereka, pak. maksudnya yg pantes ya mereka. :D

  24. Manusia menurut versi yang lain adalah bersatunya akal budi ( rasa) dengan nafsu hewani, pada dasarnya manusia dan hewan adalah sama yang membedakannya adalah adanya akal tau rasa itu sendiri mohon maaf kalau kagak nayambung Boss

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: ya, akal itu setahu saya rasa atau nurani. budi itu kan pikiran, sedangkan nafsu hewani adalah dorongan ragawi.

  25. iya mas jenang ini rasa yang bagaimana yah? jadi rasa adalah kesadaran? ini mirip gnostisisme. elemen mistik kejawen ini agak sulit dicerna naluri filsafat saya. :mrgreen:

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: rasa di sini menurut saya = nurani. masalahnya kalo disuruh menjelaskan nurani itu seperti apa… lha itu tanya para ronahiawan. barangkali mereka tahu… :D

  26. salam kenal mas
    di tataran syariat selalu terjadi perbedaan walau dalam bungkus yang sama, sebab itu adalah dunia bentuk yang terbentuk dari opini berkepanjangan tetapi dalam hakikat semua sama adalah satu tak ada perbedaan karena itu adalah dunia makna yang hanya bisa dicerna oleh rasa, rasa yang sejati, saya, kamu dan engkau semua sejatinya satu maka rasa sayang dan saling mengasihilah sesama manusia, ……

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: manusia ternyata manunggal, ya?

  27. Mas siti jenang apa khabar
    kalo jaman sekarang ini seperti pemancar radio ya mungkin mas, maaf kalo salah…. he he, di situ ada AM, MW, dan FM makin kesini gelombangnya makin jernih makin lembut dan teratur, suaranya jelas ga kresekan,…..
    sama seperti kita mencari frekuensi gelombang tadi kita pun harus menemukan frekuensi masing masing dengan menaik turunkan rasa kita supaya ketemu gelombang FMnya gitu lho…… maaf klo salah mas tolong dilurusin bye… bye

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: he he… gelombang yg jernih itu di FM berarti… :mrgreen:

  28. wah rasa…..
    gimana yah rasanya kalau rasa itu bertemu dengan yang punya rasa?
    pasti akan sangat2 menyenangkan. :)

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: senang itu memang karena keinginan tercapai… :cool:

  29. kasihan juga ya tumbuhan direndahkan. padahal tumbuhan juga berkembang biak, dan ada yang mampu menjulurkan kepalanya ke arah sinar matahari pagi. kesadarannya hampir sama dengan binatang, cuma mobilitasnya saja yang terbatas.

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: kalo bicara simbol, sebongkah batu pun bisa jadi simbol Tuhan. apa lalu dianggap meninggikan bendanya?

  30. Ping-balik: Lima Soal Yang Saya Pikirkan « Catatan Gentole

  31. Nuwun sewu…

    numpang “ngaji” ilmu mas, sekalian mengucapkan terima kasih sudah bersedia mampir ke tempat saya.

    salam sejahtera..

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: silaken. salam sejahtera.

  32. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Numpang teduh nggeh….numpang ngansu ngelmune…
    yah akhirnya ketemu lagi dengan tulisan yang bersumber dari Ki Ageng Suryo Metaram, dulu saya sempat pusing baca tulisan Beliau karena disamping tebal waktu itu saya masih remaja 17an, so dengan bahasa dengan membutuhkan pemahaman yang tinggi akhirnya menemukan kebuntuan dan menjadi penat di pikiran.
    tapi Al-hamdulillah sekarang dengan sedikit tumbuhnya KESADARAN maka ternya semua itu beda di tulisan saja dan tidak perlu di permasalahkan (dipikiran),,, itu bukti bahwa ilmu Allah Ta’ala itu sangat2 luas…, jadi sedikit saran dari saya jika anda menuntut ilmu carilah ilmu yang hasil pemikiran tulisan itu adalah langsung kepada PEMAHAMAN yg dimaksud, itu lebih baik.. yang susah dimengerti cukuplah jadi perbendaharaan ilmu saja.. pada dasarnya ilmu sejati itu hanya bisa di pahami dan di mengerti melalui KESADARAN diri… mungkin benar kata Ki Ageng KESADARAN = Rasa, tapi rasa disini rasa yang merasakan bahwa ada yang hidup pada diri diluar kesadaran biasa..
    jadi intinya ketika kita sudah bisa merasakan bahwa ada yang hidup pada diri kita, yang mengatur kita, dan yang mengendalikan kita dan meliputi diri kita(awal..) mka itulah yang disebut denga KESADARAN bahwasannya manusia itu adalah Laa hawlaa walaquwwata….(tidak ada daya dan upaya …..) jika sudah tumbuh rasa itu.. insya’allah hidayah (pengetahuan ilmu) dari Allah akan mengalir begitu saja tanpa disangka2…melalui diri kita sendiri..dengan kasih sayang-Nya, tidak ada perbedaan lagi tidak ada perselisihan dan terbuka diri atas ilmu apa saja (tentunya ilmu yang Benar Lo!) tanpa saling menyalahkan dan merasa paling benar…

    trimakasih semoga berkenan dengan sedikit coretan…dan dapat dijadikan Renungan…mudahan ada hikmah.
    mohon maaf jika ada yg tesalah kata, mohon segera dibenarkan..?

    Buat mas SJ salam kenal…

    Damai.. bahagia .. sentosa.. untuk semua bersatu menuju Kesempurnaan Sejati.

    Wassalam,,
    Dari yang masih berjalan si fakir miskin serta hina dan tidak ada daya dan upaya.. untuk menuju KEBENARAN SEJATI.

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: salam kenal. makasih tambahannya… makin melengkapi tulisan saya.

  33. Mohon maaf mas Zal saya tinggal di KALTIM (Samarinda) mas kalo mas Zal tinggal dimana?..

    Salam kenal dari saya
    yu2d yang lagi berjalan…menuju Kebenaran

  34. ::Mas Yu2d biasanya kata “nggeh..” ini digunakan di Lampung, .. ya..salam kenal ya Mas Yu2d’ saya sangat terkesan dengan komentar sampeyan…

  35. Rasa adalah Keadaran Manusia jelas iya, karena berdasar sifat komutatif, hanya manusia sadarlah yang punya rasa dan bisa merasakan

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: kalo ada rasa berarti rasa itu ada…

  36. Setelah baca yang di atas, saya jadi mikir, tentang alam pikiran, tentang rasa…tentang kesadaran. Entah sudah sampai dimana kesadaran yang saya miliki. Lah wong antara pikiran dengan rasa saja masih sering campur aduk. Susah memilahnya….Duh…

    Sembah nuwun ilmunya, Pak…

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: sama-sama… saya kira tidak masalah ada di mana, tapi sepertinya lebih baik bila terus berjalan.

  37. Rasa dalam arti kesadaran jika dipikirkan memanglah tidak akan pernah dapat diketemukan
    dan mustahil orang bisa menemukan… karena rasa adalah bentuk SIR /RAHASIA di jiwa… yang tidak bisa diumpamakan dan diserupakan dengan apa2…
    tinglkan Fikir maka akan kamu temukan Rasa itu…
    akal fikir itu cenderung pada logika.. dan yang nyata2
    semantara Rasa kan tidak nyata tapi terasa…
    dan seolah2 nyata… karena itulah fitrah manusia ….
    entah datangnya dari mana yang jelas tidak mungkin dari makhluk lain…
    dan sudah pasti datangnnya hanya dari Tuhan… sajalah segala rahasia….itu
    berarti jika demikian bersyukurlah bagi yang sudah mengenal Rasa=KESADARAN karena ternyata “rasa” itulah satu2nya jalan untuk mengenal/melihat Tuhan… dengan begitu maka perlulah digunakan akal dan Iman…. barulah bisa disebut Insan….

    mohon maaf jika keminter,, padahal saya memang tidaklah pinter, botol dn tidak berilmu, maka kembalilah semua Ilmu itu kepada-Nya saja. jika salah mohon dibenarkan

    Wassalam…
    dari yg masih belajar…

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: pikiran juga mampu untuk mengenali konsep, simbol, dan hal abstrak lainnya lho… tinggal masalahnya pikiran itu dikendalikan siapa, nurani atau naluri? maksud saya gitu… :D

  38. rahayu
    bicara rasa erat hubungannya dengan keluarga dan tetangga, kalau nyetel musik malem malem digedein rasanya enggak enak, kalau lihat pengemis di traficlight rasanya kasihan, kalau lihat orang naik mobil bagus yah pingin juga ngerassain,

    dulu kelerengnya kecil kecil sekarang enggak main kelereng…

    wass wb

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: pengen dan rasa sepertinya beda, seperti pengen main kelereng itu. sekarang sudah tidak pengen…

  39. Selamat bertemu kembali Kang Jenang,

    Begitu masuk pekarangan sudah disodorin RASA….lah…kok pancen ROSONE KEPENAK tenan yoh….

    Nggelesod neng teras dhisik ah..Kang…NGISIS…mumpung angine silir-silir…bagi Kopine + Udud…huakkks..kaks..kaks..

    Huiiiikkk…ROSO-ROSONE kok ono Kadhang Sinorowedi melu cangkrukan neng kene yoh Kang….

    Mas Yu2d dari Samarinda, salam KEKADHANGAN Kang.
    Sumonggo kulo aturi sowan dateng gubug reyot kawulo wonten mriki.

    http://kariyan.wordpress.com/2009/02/22/memahami-elmu-kamanungsan/

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: lha itu… mas yuyud mungkin tetangga :mrgreen:

  40. yang pertama adalah uwong artinya suwung/kosong diisi baik ya mau disi jahat ya mau kedua manungso manunggale rasa sudah agak baikan ketiga adalah tiyang titisane hyang manusia setengah dewa keempat titah kembali kepada sejatinya manusia. kita harus belajar pada alam yang mana guru sejati yang memberikan ajarannya langsung kepada tiap manusia

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: makasih tambahannya… manstap… :cool:

  41. Rasa adalah kesadaran diri titiknya ada pada titik 0 ilmunya adalah ilmu nol, yaitu titik wolo wolo kuwoto kalo katanye mas lambang,… disinilah keadaan jiwa yang tenang alias dimulainya perjalanan shiratal mustakim atw jalan nyang lurus, modalnya ikhlas, sabar, tawakal, ridha dan syukur dan mulai tumbuh benih pohon cinta kepada Allah atau hidupnya bayi ruhani atau disinilah kita mulai masuk dalam perjalanan mbatin… kiye kiye hihihi… Mas Jenang hueleh weleeeeeeeeeeeh uadeeeeeeeeem reeeeeek ,,… dimanakah dikau berada hehehe… uapiiiik tenaaaaaan hihihi…. Salam Sayang Always

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: sumangga pinarak. cuman rahsa itu emang seperti buah langka, sulit dijelaskan sebelum merasakan.

  42. Apa kabar Kang Jenang..
    Membahas tentang rasa sangat mengasikan, apalagi yg dinamakan olah rasa/rahsa sungguh membuat penasaran. Semakin banyak ulasan mbabar kawruh ngelmu kajaten semakin membuat kesadaran kita meningkat. Dan yg membedakan orang waras dgn tidak waras adalah kesadaran ini pula. Semakin kita mendekati kesadaran, berarti kita menjauhi ketidak warasan. Dalam Kejawen banyak sekali dibahas tentang olah rasa (sejati) sebagaimana dlm serat Wedhatama terdapat catur sembah atau empat macam sembah sebagai upaya meraih kesadaran tinggi (high consciuousness)yakni;
    sembah raga
    sembah cipta/kalbu
    sembah jiwa/sukma
    sembah rasa (rahsa sejati)
    Rasa bukan dalam lingkup indera perasa (jasad), namun “rahsa sejati” terletak di dalam batin sebagai indera yg ke-enam. Lebih tinggi dari kesadaran sukmawi atau roh-ani. Sulit dibayangkan :)

    salam sejati
    rahayu

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: wah sebenarnya saya pengen nulis soal sembah-menyembah, tapi apa daya kirang referensi nih… :D

  43. Hahahahahahaha……………
    Hidup adalah sebuah perjalanan pencarian
    Hidup adalah kepalsuan yang harus diungkap dan dibukakan
    Hidup yayaya hidup entahlah ada apa dengannya

    Karena dalam hidup kita terjerat dan terperosok
    Bahkan terikat oleh ikat yang nikmat dan samar
    Sehingga sedikit sekali yang terbangun dan tersadar dari mimpinya
    Buaian mimpi indah yang mencelakakan hehehe…

    Kesadaran dari mimpi oooh sungguh suatu anugerah yang tak terkira
    Kebangkitan untuk mulai berjalan mencari arti hidup
    berfikir untuk mengungkapkan makna kehidupan
    sungguh sungguh telah mencelikkan mataku sedikit demi sedikit

    Bermodalkan cinta dan kepasrahan
    Kucoba untuk melangkah dan melangkah
    Tanpa daya dan upaya apalagi ilmu
    kucoba menghadapkan kesadaran diri ini

    walau hanya setitik harapan dan asa yang tertinggal
    kupasrahkan dan terus kuserahkan keburukan ini
    diri yang terlanjur kotor ini
    untuk kucoba kembali dan kembalikan

    Yaaa…. kukembalikan kepada Yang Empunya Hidup
    kucoba menggapai dengan kesadaran diri yang lemah
    sambil berharap suatu saat nanti kesadaran Tertinggi menjemputku
    Ya ya menjemputku untuk kembali kepangkuanNYA dalam Kesejatian

    Hanya itu doa dan permohonanku
    Dalam tangis dan kerinduanku
    Hanya kehangatan pelukan dan sapaan mesraMU
    itulah satu satunya dambaan pengobat rinduku

    Salam Sayang cup cuup cuuup celepooooooot….

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: ha ha ha… mirip film Matrix, ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s