Menjadi Raja dan Ratu Sehari, Esensi Kepemimpinan Ningrat

Sepasang Lelaki dan perempuan yang menikah konon disebut raja dan ratu sehari. Saya tidak tahu pasti dari mana asal ungkapan tersebut. Saya pernah diberitahu bahwa dulunya pernikahan adat Jawa yang kita kenal sekarang hanya boleh dilaksanakan para kaum ningrat. Suatu ketika, ada seorang raja yang menginginkan tradisi tersebut bisa juga dilakukan oleh rakyat. Barangkali dari situlah munculnya ungkapan tersebut. Hal ini mengingatkan saya pada pernikahan sendiri. Ketika itu saya memang merasa menjadi raja sehari, tapi tidak seperti anggapan banyak orang, di mana seorang raja dan ratu mestinya tak perlu repot mengurusi acaranya sendiri.

Bersama mantan pacar, sejak memutuskan untuk menaikkan derajat hubungan, akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Sejak awal kami berencana mengurus sendiri berbagai persiapan, mulai dari mencari hari baik, mencetak undangan, katering, pakaian, tempat, dekorasi, dll. Tujuannya supaya acara berlangsung serba lancar, terencana, dan kami pun bisa merasa puas. Dengan demikian kami bisa tahu enaknya menjadi raja dan ratu sehari.

Namun, ternyata tak semua rencana berjalan lancar. Mereka yang sudah pernah menjalani pernikahan tentunya paham apa yang saya maksudkan. Dalam menentukan hari baik saja sudah banyak masalah yang timbul, terutama dari pihak istri. Pasalnya, mereka bukan dari etnis Jawa, sehingga merasa tidak perlu berhitung hari. Dalam hal ini saya lalu berusaha menjelaskan sedikit soal latar belakang penentuan hari baik. Untungnya, mereka mau bersikap terbuka dan menerima penjelasan saya.

Setelah itu barulah disusun jadwal dan mempersiapkan undangan. Nah, lagi-lagi masalah baru timbul. Pihak keluarga saya punya ide sendiri soal bagaimana desain undangan sebaiknya dibuat. Di pihak calon istri pun demikian. Untuk soal yang satu ini pun kami harus bolak-balik berdiskusi ke sana dan ke mari. *Perkara beginian aja kok pada repot sih*

Berikutnya adalah masalah menu masakan. Masing-masing pihak menginginkan menu-menu tertentu, meskipun tidak memaksa. Pokoknya, kalau bisa konsumsi yang tersedia haruslah sesuai dengan selera mereka, bukan selera kami berdua. *Halah* Pun sama saja dengan pakaian. Kebetulan salah seorang bibi saya berkecimpung di bidang desain pakaian. Karena itu, busana pengantin pun akhirnya memakai desain dari beliau. Tentu saja tidak langsung terjadi kesepakatan. Untungnya, pada akhirnya terciptalah busana trendi bagi kami.

Sebetulnya sih masih banyak masalah yang harus kami tangani berdua. Tapi, contoh-contoh di atas sepertinya sudah cukup mewakili. Intinya, dalam masa persiapan pesta sehari itu pun kami tidak merasa sebagai penguasa yang harus dituruti kemauannya. Sebaliknya, kami berdua harus bernegosiasi hampir setiap hari supaya terjadi kesepakatan dan tidak menimbulkan ganjalan di kemudian hari. Dari sinilah saya mendapat pemahaman baru soal makna menjadi raja dan ratu sehari. Ternyata, esensi kepemimpinan raja-raja jaman dahulu kala bukanlah menjadi penguasa yang bisa bertindak semena-mena. Bukan pula pemberi perintah tertinggi yang bakal selalu dilayani kemauannya.

Hal ini mirip dengan makna ningrat dalam falsafah Jawa. Secara kebetulan sudah ada yang pernah menuliskannya. Oleh karena itu, sepertinya saya cukup mengutip saja. Soalnya, tulisan yang saya ambil dari situs ini lebih bagus dan jelas dari tulisan saya.:mrgreen:

Kata “ningrat” memiliki arti membumi (“ning” atau “ana ing” = berada di; rat = bumi). Lebih jauh, ningrat bisa diartikan tahta untuk rakyat. Ningrat bersumber dari gegayuhan atau tujuan. Jika seseorang mempunyai tujuan yang mulia dan mau bekerja keras untuk mewujudkannya, ningrat adalah gelar yang layak dianugerahkan kepadanya. Dulu para keluarga kerajaan mendapatkan julukan ningrat karena mengayomi rakyatnya

Perihal

Cuma seorang pengelana yang bebas berkeliaran.

Ditulis dalam Pemikiran, Pengalaman, Pengamatan, Umum
32 comments on “Menjadi Raja dan Ratu Sehari, Esensi Kepemimpinan Ningrat
  1. langitjiwa mengatakan:

    itulah suka dan dukanya mas, mempersiapkan segala kebutuhan utk pernikahan. slmt malam. mas siti

    :mrgreen:

  2. esensi mengatakan:

    *baca paragraf 1 dan 2*
    jadi pengen cepet-cepet kawin, mwahaha…
    .
    *baca paragraf selanjutnya*
    ternyata kawin itu nggak enak…
    .
    *baca konklusi di paragraf paling akhir*
    alhamdulillah, ternyata ndak sulit mendapat gelar sebagai ningrat (meski cuma sebatas de jure:mrgreen: )


    SJ: tenane lho gak sulit. nyatanya banyak yg gak bisa… :p

  3. dana mengatakan:

    Belon bisa komen, soale belon mengalami sih.


    SJ: tinggal masalah waktu. kalo bisa jangan pake Wedding Organizer (WO) kalo berani.:mrgreen:

  4. bisaku mengatakan:

    Ruwet dan bikin migrain kali ini tulisanmu Mas, menantang pikiran gilaku untuk segera menikahi kekasihku:mrgreen:


    SJ: ya sudah, ditunggu tanggal minum obatnya… muahahaha

  5. Ngabehi K.M mengatakan:

    Wah berarti saya paling enak kang jenang, Waktu saya mau nikah segala sesuatunya saya komando dari jakrta sedangkan istri di jogja, dari hari baik sampai, pakaian sampai tetek bengeknya. Untung calon mertua saya nurut2 aja, he he. Kalau saya jan seperti ratu tenanan je, jadi pengen lagi, ke ke keek


    SJ: wah sampeyan ndara nganten sejati kuwi…:mrgreen:

  6. Yari NK mengatakan:

    Tapi zaman dulu kan belum ada kodifikasi hukum, sehingga jadinya banyak juga tuh penguasa yang semena2 zaman dulu. Bukan hanya di tanah Jawa atau di negeri ini saja, tapi hampir di seluruh dunia….


    SJ: lha kalo ajaran sebaik apapun kan bisa menimbulkan tafsir dan implementasi yg berbeda-beda, tergantung lagi kepada manusianya.

  7. 3yoga mengatakan:

    dikatakan raja dan ratu sehari, karena :

    tempat duduk kita lebih tinggi dan lebih baik dari yang diundang,
    pakaian kita juga lebih hebat, boleh bawa keris,
    kita jadi pusat perhatian mereka,
    kita (duduknya) menghadapi mereka,
    dan saat malam tiba, keris kita boleh digunakan ….

    salam,


    SJ: he he he… keris kyai sedekah bumi.:mrgreen:

  8. Sawali Tuhusetya mengatakan:

    blogwalking hari ini saya mendapatkan banyak postingan yang membahas tentang pernikahan, haks…. agaknya menjelang ramadhan menjadi saat yang tepat utk menikah atau ngomong ttg pernikahan. btw, ttg kata “ningrat” agaknya juga telah mengalami perluasan makna, mas siti jenang. bahkan, para pejuang demokrasi yang mengutamakan egalitarianisme memang ningrat sebagai sosok yang elitis dan kurang membumi, bukannya mau melayani, melainkan justru minta dilayani. padahal, makna sejatinya justru malah sebaliknya, yak? info yang menarik dan berharga, mas siti jenang!


    SJ: saya kira karena kebanyakan melihat sisi luarnya aja, tanpa mau tau latar belakang sebutan tersebut.

  9. rochmaniac mengatakan:

    Yang repot itu memang saat PRANIKAH kok, kalau sedang NIKAH cukup tebar pesona saja, yang menyenangkan ya saat malam PASCANIKAH, terkenang sepanjang hayat dikandung badan.


    SJ: muahahaha… memang sepertinya tak terlupakan.:mrgreen:

  10. peristiwa mengatakan:

    Dunia ini tak adil, karena sepertinya menikah tidak juga menjadi bagian saya, memang menikah itu enak ya..?? *pertanyaan menjebak:mrgreen: *


    SJ: dunia memang tidak adil karena keadilan ada di tangan penciptanya. ada yg bilang bahwa pernikahan adalah jebakan buat para lelaki. adil bukan? … muahaha

  11. tomyarjunanto mengatakan:

    aku kapok jadi raja & ratu sehari, pisan wae ah:mrgreen:


    SJ: muahaha… lho sapa tau kalo berulang kali bisa lebih mantap ilmunya.😀

  12. sufimuda mengatakan:

    Pengalaman saya, nikah hari jum’at itu bagus sekali dan saya tanya ke temen2 saya yang nikah hari jum’at juga punya pengalaman yang sama.
    Tapi kalau mo kaya? yang harus berusaha, gak ada hubungan dengan nikah hari jum’at, bukan begitu mas Siti?🙂


    SJ: muahahaha… dan jangan pula beribadah supaya kaya. itu gak ada bedanya dengan ilmu pesugihan.:mrgreen:

  13. Achmad Sholeh mengatakan:

    Persiapan nya emang bikin pusing dan capai apalagi setelahnya ternyata capai juga dan……bukannya ningrat artinya ning ratan alias ndak punya rumah …. he…he.. salam


    SJ: apa ning njaratan alias di pemakaman…:mrgreen:

  14. marsudiyanto mengatakan:

    Yang payah adalah “putra mahkota sehari”, baru nikah sehari langsung lahir anaknya.
    Fenomena alam yang memang ada. Ini suatu “keniscayaan” sekaligus “kenistaan”


    SJ: lha kalo itu tampaknya naik tahta karena terpaksa.

  15. Rindu mengatakan:

    Saya menangis membaca postingan ini … berterbangan di jiwa saya, terlintas kembali luka-luka itu, dan bernyanyian kembali kehilangan demi kehilangan sebelum semuanya menjadi ada.

    Saya perempuan yang tidak memiliki apa yang seharusnya saya miliki.


    SJ: mungkin ada baiknya Anda berkenalan dengan sang sukma. konon dia tak bisa terluka dan sudah memiliki segalanya.

  16. hadi arr mengatakan:

    mas SJ, saya cuma bilang selamat sampai lanjut usia


    SJ: makasih pak. mudah-mudahan awet dan rukun.

  17. Wah wah saya serasa berkelana, pintar nian dikau meramunya. Salam.


    SJ: he he he… bisa aja deh… salam kembali.:mrgreen:

  18. aqualy mengatakan:

    wes..mumet aku kalo gini …

    by the way selamat ya..

    n aku suka desain blog nya kali ini…:D

    —😎

  19. edratna mengatakan:

    Sekarang sih kenyataannya pasangan pengantin sibuk kesana kemari, mengurusi segala hal…..dan saat acara udah lelah. Kalau ada kekurangan, mungkin perlu dibuat cerita ya kelucuan-kelucuan saat pernikahan…..ada kejadian ayah pengantin pria pakai sendal jepit, dan terpaksa salah satu panitia meminjamkan selop….ada yang lupa nggak pake anting (kakak pengantin pria, keponakanku kemarin, untung saya bawa persediaan anting, walau imitasi)… dan pegawai KUA udah datang, pengantin prianya udah datang…..

    Juga saat anakku menikah, karena dadakan among tamunya adik dan teman-temannya, untuk memudahkan di satukan tidur di penginapan…dasar anak mahasiswa, malamnya malah nonton bola rame2, terpaksa jam 5 pagi saya nggedor kamar masing-masing membangunkan…. hopo tumon?

    Dan karena senengnya pake blangkon, beskap dan kebaya…malah pada jalan-jalan gantian saling berfoto ria… jadi yang benar-benar bertugas jadi among tamu hanya dua pasangan, temanku dan adik kandungku…hehehe…ya udahlah, dinikmati aja…yang penting sah, pesta kan cuma kembangannya, kata orang tua-tua.


    SJ: he he he… persiapan sedetail apapun masih bisa menyisakan tempat untuk lupa.

  20. Herianto mengatakan:

    Maunya saya sih pelaksanaan nikah itu segalanya dipemudah saja.
    Datang ke mesjid rame2 terus akad nikah, disediakan jamuan semampunya untuk yg datang, beres deh.
    Tapi ….
    Ternyata tak sesederhana itu kejadiannya.

    Terlampau banyak embel2 pernikahan yang harus dituruti atas nama adat tak terkecuali adat kami (minang).
    Wuah …
    Saya jadi teringat kejadian dimana2 di sana …
    Selalu saja ada kericuhan gara2 masalah adat ….
    Mo nikah kok dipersulit ….
    Mo ibadah kok dipersulit … :mrgreen:


    SJ: kalo adat dianggap mempersulit, tentunya menjadi masalah. pernikahan serba singkat menjadi solusinya. namun, bila ingin menyajikan pesta sekali seumur hidup yg sarat makna, acara adat bisa mengakomodasinya.

  21. lovepassword mengatakan:

    Kalo aku sih bukan ningrat, tapi ningratan. Kadang-kadang di jalan. gitu lho. Hi Hi hi…

    Tapi jangan-jangan memang kata ningrat itu adalah kependekan dari ning ratan alias di jalan. Kan katanya ning ratan harus membumi gitu lhoh??? Lha namanya ratan ya pasti di bumi lah.


    SJ: sepertinya punya makna yg bagus juga. boleh lah…😎

  22. gempur mengatakan:

    Syukurlah, pak! saya nikah ndak perlu jadi seperti raja dan ratu sehari.. bener-bener dengan segala kesederhanaan. Bahkan, ada yang nyeletuk kayak ‘kawin tangkap’ hahahahaha… kawin karena ketangkap basah bermesum-ria. Tapi, serius saya tidak kawin tangkap kok.. hehehehe..

    Dari pengertian Ningrat, sepertinya terjadi pergeseran makna atau mungkin penyempitan makna yang tak tertangkap oleh generasi penerus jawa. saya sepakat dengan definisi di atas, saya sendiri pernah menduga, ningrat= ning ratan, dan ternyata asumsi saya itu benar setelah membaca artikel ini.

    Sepakat bahwa ningrat itu pelayan rakyat.


    SJ::mrgreen: ya, pelayan rakyat.

  23. gentole mengatakan:

    Wah saya gak kepikiran nih bagaimana upacara pernikahan saya. Bener-bener kagak kepikiran, kalo nurutin urutan cerita mas SJ mah pasti berantakan, sangat-sangat berantakan. Tapi, apakah nikah itu perlu diraya-rayakan, yah? Saya jadi inget kawan yang nikah cuma selametan gaya tahlilan, pake aqua doang, dan yang terakhir cuma nyepam sms.

    Makasih buat definisi ningratnya.😀


    SJ: mau dirayakan atau tidak sepertinya tergantung pemaknaan pernikahan sendiri. kalo dianggap sebuah fase kehidupan baru, barangkali pesta pernikahan bisa dianggap perayaan kehidupan. *halah*:mrgreen:

    kembali…

  24. Ndoro Seten mengatakan:

    leluhur kita memang sangat kaya dengan nilai filosofi hidup….


    SJ: memang.😎

  25. Rindu mengatakan:

    Udah nikah belum mas?


    SJ: sudah. kalo belom mungkin situ yg saya lamar… *halah*:mrgreen:

  26. adi isa mengatakan:

    kawin mungkin sudah..
    gitu ya, mas? hehehe


    SJ: weeew… baca tulisan saya yg teliti dong.:mrgreen:

  27. Rindu mengatakan:

    Belum ada tulisan baru … setiap hari saya mampir kesini🙂 sibuk bulan madu yah? hahahhaha … *rahim saya teracak acak rasanya*


    SJ: he he he… sibuk kerjaan nih. plus sedang menimbang topik baru.😎

  28. max mengatakan:

    Wah, guru saya juga pernah cerita Mas, tentang alumnus sekolah saya yang mau menikah, tapi calon pria dan wanitanya ribut masalah hari, susah memang jadi orang jawa…:mrgreen:


    SJ: he he he… emang.

  29. arkenz mengatakan:

    hmmm… kawin atau ga kawin hidup tetap penuh masalah, mending kawin aja degh kalo gitu… (g nyambung…), hehe.. numpang lewat mas..


    SJ: he he he… silaken.. silaken…😎

  30. kurt mengatakan:

    Tapi bagusnya budaya ningrat itu bisa diturunkan kepada penganitn yang berlatar belakang sosial rendah sekalipun. Ini apakah menunjukkan bahwa ningratisasi itu berhasil dilakukan oleh para tetua zaman dulu sehingga raja sehari itu sifatnya universal….😀


    SJ: sepertinya begitu, pak. makanya kadang ada orang biasa yg mendapat gelar ningrat juga.

  31. 3yoga mengatakan:

    sebenarnya untuk raja dan ratu sehari itu lebih banyak untuk mengetahui “keris” nya, luk berapa …… ???

    hehehe …. mas, ini berdasarkan survey lho mas ….

    salam,


    SJ: ini ngomongin keris kyai sedekah bumi, ya?:mrgreen:

  32. […] Maksudnya, seorang raja harus paham dan menyadari bahwa sesungguhnya dia tak punya dan tak pernah punya kuasa. Kekuasan yang ada padanya hanyalah sebuah mandat. Raja cuma sekadar pelaksana saja. Dengan kesadaran seperti ini, melalui busana takwa, dan dengan kebesaran serta kerendahan hati seorang raja diharapkan bisa berlaku bijaksana, menjadi ningrat sejati. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: