Mari Kita Melihat-lihat

Sejak menulis soal panca indera ada dua kata yang sering muncul di benak saya, yaitu sudut (titik) pandang. Dalam perbincangan sehari-hari maupun tulisan, dua kata itu sering disebut-sebut. Kalau kata teman, makna tergantung kepada yang memaknai. Kemudian dimulailah proses mencari. Melalui dunia maya, indera mata, dan lewat layar kaca. Hasilnya, kalau bicara definisi, sudut pandang adalah sebuah tempat di mana subjek sedang memandangi.

Setelah itu, ada beberapa penjelasan soal sudut pandang dalam penulisan cerita fiksi. Pertama, sudut pandang orang pertama. Di sini penulis atau narator berperan sebagai salah satu karakter. Contohnya seperti cerpen soal narapidana yang pernah ditulis Pak Sawali. Karakter yang dipakai adalah karakter utama di cerita. Biasanya sudut pandang ini mudah dikenali, dengan ‘aku’ atau ‘saya’ sebagai karakter utama.

Sudut pandang berikutnya adalah orang kedua. Di sini seolah sang penulis sedang berbincang dengan pembacanya. ‘Kamu’ atau ‘Anda’ sering disebut. Tapi, katanya jarang dipakai untuk penulisan novel. Tulisan saya kali ini pun barangkali bisa masuk kategori ini.

Ketiga, sudut pandang orang ketiga atau kalau boleh saya sebut sudut pandang pasif. Sudut pandang ini dipakai bila narator seperti mengamati tiap kejadian. Mengetahui apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh karakter-karakter di dalamnya. Reportase katanya masuk kelompok ini. Tapi, ternyata tak hanya satu macam. Masih bisa dibedakan lagi menjadi Omniscient (mahatahu) atau Limited (terbatas). Narator omniscient mengetahui seluruh karakter, baik pikirannya maupun perasaannya. *Berarti rasa itu memang ada*:mrgreen: Sementara itu, limited hanya mengetahui beberapa karakter saja.

Di luar tiga tadi ada lagi yang disebut sudut pandang netral. Singkatnya konsep ini berniat untuk membuat artikel yang tak berat sebelah, menjelaskan sebuah topik secara adil, bukan mendukung pihak tertentu sebagai yang paling benar.

Sudut PandangSudut pandang ini tampaknya sangat menarik untuk dipelajari atau dilatih. Namun, pada kenyataannya sangat sulit. Menurut Wiki yang ingin semua artikel ditulis dengan cara tersebut pun mengakuinya. Masalahnya, berat sebelah adalah sifat yang melekat pada tiap manusia.

Saya setuju dengan pendapat Si Wiki ini. Dari dua kata ‘sudut’ dan ‘pandang’ jelas mengacu ke indera penglihatan. 8) Ketika dua individu sedang berkomunikasi pun sudah ada dua sudut pandang yang berbeda. Soalnya, tiap individu punya latar belakang yang tak mungkin identik atau persis sama. Darimana datangnya perbedaan sudut pandang itu?

Menurut saya, banyak faktor yang menjadi penyebabnya seperti anugerah, sejarah masa lalu, niat, watak, wawasan, dan masih bisa dikembangkan lagi. Persepsi *katanya* lahir dari penginderaan. Dari situ muncul analisis melalui latar belakang kepribadian. Setelah itu barulah muncul sudut pandang. Selanjutnya disebut sudut pandang pribadi. Setelah memandang mestinya muncul pemahaman atau bisa juga diberi pemahaman. Maka, pemahaman bisa disebut berasal dari atau sesuai sebuah sudut pandang. Nah, berarti selain yang telah dirumuskan di atas masih banyak kemungkinan pemekaran lainnya.

Bisa dibayangkan berapa banyak sudut-sudut dan paham-paham yang bisa dikembangkan dari miliaran manusia yang ada sejak dulu, sekarang, maupun masa datang. Tidaklah mengherankan kalau kita sering berselisih paham.

Cuma, saya tertarik dengan perbedaan-perbedaan ini. Bila dikaitkan dengan kebenaran, berarti pada dasarnya tiap manusia punya “kebenaran” masing-masing. Saya jadi teringat mainan rubik yang sering saya mainkan. Tiap sisi punya warna tersendiri dan tak satupun identik. Ah, bisa jadi ada pemahaman baru agaknya…

Kalau kebenaran Tunggal kita analogikan sebagai sebuah kubus rubik, tiap manusia bisa digambarkan sedang memandang dari sudut yang berbeda-beda. Misalkan ada enam orang yang memandangi dari enam sisi yang berbeda, tiap orang cuma melihat satu warna saja melalui sisi pandangnya. Barangkali inilah yang disebut sebagai sebuah perspektif. Lalu, masing-masing bisa mengklaim bahwa rubik yang mereka lihat berwujud bujur sangkar dan berwarna putih, kuning, merah, biru, jingga, dan hijau. Bisa pula melihat dua warna dari sebuah sisi atau tiga warna dari sisi lainnya.

Bila kita melihat gambar di atas tentunya semua klaim bisa dianggap benar. Namun, bukan itu wujud aslinya. Kalau ingin tahu semua sisi sudah pasti harus berusaha melihat dari sisi-sisi lainnya. Bisa juga cukup dengan bertanya lalu percaya dengan yang disebelahnya. Tapi, bila ingin yakin tentang wujud aslinya, ya, tinggal keliling saja, melihat dari sisi-sisi lainnya. Apakah bisa? Andalah yang tahu jawabannya. Ini hanya permainan logika. Logika ana, logika beta, logika saya, dan mungkin logika kita semua.

Jelaslah bahwa perbedaan itu sesungguhnya memang rahmat. Kalau dipertentangkan bisa jadi makin cepat kiamat. Bila dirangkul bisa terasa lebih nikmat. Kalau enggan melihat-lihat, jangan-jangan malah menjadi tersesat. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang selamat. He he he…

Tambahan:

Setelah mencari beberapa referensi lagi dan berdialog dengan seorang teman dari bidang kebahasaan, saya mendapat masukan baru. Setelah berangkat dari sudut (titik) pandang, ada pengembangan pandangan, yaitu sisi pandang (perspektif). Kemudian di tingkat lebih tinggi sudah menjadi ruang pandang, cara pandang, atau paradigma. Digambarkan *secara kebetulan* sebagai sebuah kubus. Lalu, ada orang seperti ini bisa lompat dari kubusnya dan istilahnya “to think out of the box”. Barangkali orang sekitar sini yang bisa dibilang model begini adalah Danalingga. Saya rasa *halah* cukup sekian. 8)

Perihal

Cuma seorang pengelana yang bebas berkeliaran.

Ditulis dalam Pemikiran, Pengamatan, Umum
26 comments on “Mari Kita Melihat-lihat
  1. Ram-Ram Muhammad mengatakan:

    Hohohoho… Pertamax euy!:mrgreen:
    *bikin aman dulu posisi, baru baca*

  2. Ram-Ram Muhammad mengatakan:

    Hmmm, begitu toh “sudut pandangnya” Kyai Jenang.. Menarik, sangat menarik!
    *tepuk tangan dan tepuk kaki dah..*

    Satu nasihat lagi yang saya terima dari Kyai Sepuh, kata beliau, “carilah ilmu dari berbagai sumber, karena jika kamu hanya menggali ilmu dari satu sumber, kamu hanya akan menjadi orang yang setengah pandai. Namun jika kamu menggali ilmu dari berbagai sumber ilmu, kamu bukan hanya akan menjadi manusia pandai, tetapi juga bijaksana dan mudah memaklumi”. Beliau kemudian melanjutkan, “ada 4 macam orang berkaitan dengan pengetahuannya; pertama, orang yang tahu banyak tentang sesuatu yang sedikit, kedua orang yang tahu sedikit tentang banyak hal, ketiga orang yang tahu sedikit tentang satu hal dan keempat orang yang tahu banyak tentang banyak hal. Semuanya tergantung kepada selebar apa ia buka dan gunakan potensi akalnya”

    Kyai Jenang mau pilih yang mana?

    -> kalo boleh saya pilih tidak tahu apa-apa, tapi diberitahu dan dipahamkan semuanya… muahahaha:mrgreen:

  3. Ram-Ram Muhammad mengatakan:

    Maaf salah ketik, maksudnya “Semuanya tergantung kepada selebar apa ia buka dan gunakan potensi akalnya”.

    -> ok. udah diralatin.

  4. watonist mengatakan:

    bagaimana kalau kita tidak punya cukup waktu untuk mengenal si rubik ?? apakah si rubik akan menyangkal bahwa ia berwarna biru ?? *semisal kita hanya mampu melihat warna birunya*

    -> menurut saya tinggal berniat untuk bertanya saja. seberapa pun jawaban yang muncul, itulah yang bisa kita terima. selebihnya mungkin percuma, tidak membawa manfaat bagi kita… *barangkali*:mrgreen:

  5. […] Desember 29, 2007 pada 7:24 pm · Disimpan dalam pertanyaan, renungan ini sebenarnya pertanyaan sudah lama hinggap di kepala, terbangkitkan lagi oleh postingan ini. […]

  6. zal mengatakan:

    ::cak jenang, apa yg termaksud, pada “pelakon”, “jarene”, “penonton” dan yang keempat “mbuh gak wruh”,..???
    nah ini, mungkin biruku…, sepertinya, sebanyak-banyaknya yg kita ketahui hanya apa yg ditahukan, sedang yg ditahukanpun sering dicabut dan digantikan dengan sesuatu yg baru, bisa jadi meningkat dan bisa jadi setara..
    Kemungkinan kemahfuman akan segala sesuatu, terjadi jika kepada kita sdh dibekali yg namanya titik sambung, titik sambung ini seperti teka-teki untuk para bocah yg gambar baru terlihat jika titik-titik terhubung,
    sebenarnya ini terlambang pada bintang sebagai pemberi petunjuk. Boleh jadi jalan-jalan mengelilingi ini akan memberi kemahfuman, namun gerak untuk jalan-jalan ini, yg biasanya belum ada jika tidak diberi paspornya…, selain itu, jalan-jalan bisa jadi hanya bekal, yg entah kapan baru bermanfaat, sesuai waktu/ musim ditetapkannya penggunaannya…
    “sampaikan meski satu ayat”, bisa jadi engga akan sanggup terlakoni memahaminya secara total…(kalimah tsb lebih sering diartikan menyebutkan ayat, ketimbang menindaki ayat sampai bengkong), sepertinya di Luar negeri, seorang pengamat bebatuan misalnya, maka ia akan mengumpulkan a~z, yg berkaitan dengan itu, meski sampai janggut memutih he..he…ini biruku…😆

    -> ya ya ya… setelah ada sudut pandang katanya bisa ditingkatkan menjadi “sisi pandang” lalu ada “ruang pandang”… 8)

  7. Sawali Tuhusetya mengatakan:

    perbedaan pendapat tidak seharusnya dipertentangkan, apalagi diperuncing, hingga menimbulkan konflik, kecuali dalam fiksi, hehehehe😆 dalam fiksi, konflik justru harus diciptakan. penyeragaman pendapat itu mustahil karena setiap orang punya otak dan sudut pandang yang berbeda2.

    -> 8):mrgreen:

  8. Santri Gundhul mengatakan:

    Malem Mas Jenang…tambah GAYENG wae postingannya OIII…IIIHHH. Maju terus

    -> pantang munduuurrr… awas tikungaaan…:mrgreen:

  9. kurtubi mengatakan:

    Itu artinya bahwa hakekat, Istilah lain dari sudut pandang manusia tidak akan bisa dikuasai. Hanya sempalan-sempalan pemikiran. Pertanyaan ku siapa dan bagaimana penguasaan sudut pandang itu bisa dikuasai…🙂

    saya setuju kesimpulannya akhirnya “perbedaan itu adalah rakhmat” yaa rakhmat atau kebaikan dari tiap2 pemikir darimana saja sudut pandang itu dilihat… *halah sok ngerti aku*

    -> ya ya ya… rahmat, nek diarah dadi nikmat *halah*:mrgreen:

  10. sitijenang mengatakan:

    Buat Semua:

    Tulisan ini sudah dimutakhirkan supaya makin mendekati “kesempurnaan”. terima kasih atas perhatiannya. 8)

  11. mulut mengatakan:

    welgedewelbeh
    Menganalogikan kompleksitas kebenaran tunggal dan sudut pandang mennggunakan kubus rubrik memang menarik. Coba juga direnungkan dengan analogi yang lebih kompleks misalkan tubuh manusia (mahluk hidup). Meskipun telah terdifferensiasi menjadi macam-macam jenis sel dengan beragam fungsinya ….. akan tetapi DNA yang dikandungnya tetap sama. Baik di sel yang telah berupa rambut, sel otak, kuku, sel darah dan lain sebagainya. Apakah DNA ini bisa kita sebut sebagai hakikat tubuh seorang individu manusia?. Kalau iya, maka hakikat bisa juga dicari dengan ilmu dan logika ternyata ….. hmmm bagaimana menurut panjenengan.

    -> ya. maksud saya mengambil contoh kubus supaya secara visual bisa mudah ditangkap. DNA tubuh manusia menurut saya mengisyaratkan bahwa kita berasal dari “tempat” yang sama. namun, perbedaan DNA yang super kecil dari tiap individu sudah bisa menghasilkan fir’aun, nabi, einstein, dsb. berarti ada faktor lainnya. kalau makrifat diartikan pemahaman, mestinya sih bisa. cuma, ilmu katanya hanya pemberian, bukan milik kita. jadi, kita paham hanya sebatas yang telah diberikan saja. selebihnya cuma percaya saja karena keterbatasan umur kita.

    Tujuannya tentu supaya kita meningkatkan keimanan dari ‘sekadar’ percaya. Tapi, mengarah ke bentuk keyakinan, yang mana tidak mudah goyah atau bahkan tak tergoyahkan. katanya ada tiga tingkatan, yaitu ainul yaqiin, ilmul yaqiin, lalu haqqul yaqiin. katanya…:mrgreen:

  12. Donny Reza mengatakan:

    Hmm, tapi kok ngeri ya kalau setiap orang memandang traffic light sesuai dengan persepsinya sendiri? Misalnya ketika lampu merah ada yang berpendapat itu “tanda jalan”, jadinya kan bisa berantakan jalan raya.

    Saya memahami aturan Tuhan juga seperti itu, kalau dibikin relatif…ya, jadinya berantakan.

    -> seperti dalam tulisan, persepsi adalah hasil proses penginderaan. bukan relatif aturannya, tapi, relatif sudut pandangnya. persepsi orang saat melihat lampu merah jelas relatif. apa benar orang buta warna melihat lampu seperti yang Anda lihat? apa kalau orang buta melanggar lampu merah dianggap mengacau? tapi secara umum kita tahu aturan yang sudah disepakati. akibat bila melanggar juga jelas, meski sudut pandangnya beda-beda dalam cara mempertanggungjawabkan pelanggarannya.

  13. deteksi mengatakan:

    Bila dikaitkan dengan kebenaran, berarti pada dasarnya tiap manusia punya “kebenaran” masing-masing

    memang demikian. semua yg ada di dunia ini adalah relatif, termasuk cara pandang manusia. benar menurut saya belum tentu benar menurut teman saya. cantik menurut saya belum tentu cantik menurut anda. relatif!

    kebenaran hakiki yang tidak relatif terhadap apapun adalah kebenaran Tuhan
    salam kenal…

    -> sepakat dan Tuhan memang bukan seperti kubus yang mudah dilihat…:mrgreen:

  14. gempur mengatakan:

    Selamat tahun baru 2008..
    Mudah2an bencana di tahun depan segera berkurang

    -> amin. 8)

  15. edratna mengatakan:

    Perbedaan memang harusnya membuat kita bisa melihat, betapa hal yang sama bisa menimbulkan persepsi berbeda. Dan jika keinginan kita sama… wahh dunia malah nggak seru….

    -> sepakat bu. keunikan memang tak terelakkan. 8)

  16. kurtubi mengatakan:

    “Menurut saya, banyak faktor yang menjadi penyebabnya seperti anugerah, sejarah masa lalu, niat, watak, wawasan, dan masih bisa dikembangkan lagi.”

    Saya tertarik dengan anugerah.. bagaimana orang2 yang dianugerahi itu. mampukah ia melihat sudut pandang dari berbagai segi?

    -> kalau nabi sampai dijuluki Al Quran berjalan, mestinya bisa. bukan begitu? perkembangan pemahaman seseorang juga *katanya* bisa meningkatkan keluasan pandangan. ini katanya… he he he:mrgreen:

  17. danalingga mengatakan:

    Wah, saya di sebut-sebut.😎
    Btw, menurut saya memang apa yang kita lihat dari kubus itu, itulah yang harus kita lihat.

    -> ya ya ya… perkara gak bisa seluruhnya lain cerita. yang penting usaha…:mrgreen:

  18. […] berbeda dengan kepercayaan. Jadi, definisi yang saya dapat sebetulnya untuk diri sendiri saja. Dari sudut atau sisi pandang pribadi. Tidak bermaksud menggurui atau menggiring orang lain supaya […]

  19. […] Mencontek terori soal IQ, EQ, dan SQ. Sepertinya lebih gampang memahaminya. Paling tidak dari sudut pandang saya […]

  20. […] anjuran agar masyarakat mempercayainya. Saya hanya berusaha melihat tradisi leluhur ini dari sudut pandang yang lepas dari asumsi, prasangka, citra, dll. Sebagai contoh sederhana, penentuan hari baik […]

  21. […] Jawa, manusia adalah makhluk multidimensi. Banyak pandangan soal ini dan bila bicara jumlahnya, pendapat mereka bisa berbeda-beda. Tapi, pada prinsipnya sepakat ada tiga dimensi utama, yaitu raga, jiwa, […]

  22. […] atau komponen-komponen lainnya. Dari dua contoh tadi mengisyaratkan bahwa keindahan berasal dari persepsi seseorang. Kalau begitu, keindahan memang bersifat relatif dan tiap orang bisa punya penilaian yang […]

  23. […] Bagi yang tertarik silakan klik tiga atau empat tautan di atas. Saya hanya memaparkan sesuai perspektif *halah* saya saat ini, sebagai dongeng pribadi. Bila mengakibatkan pusing di kepala, silakan […]

  24. […] yang telas beredar di Nusantara. Sepertinya memang para leluhur suka mengambil pelajaran dari berbagai perspektif, meski sebagian diimpor dari negeri yang menjadi musuh […]

  25. kangBoed mengatakan:

    iya mbaaaah hampir sama dan mirip.. 4 model dan 1 orang suci.. 4 model ini bisa berarti berbeda agama.. satu agama berbeda aliran.. atau banyak macamnya.. sedangkan orang suci.. telah mengembalikan semuanya kepada sang pemilik.. bahasa peyan kesadaran tertinggi.. beneer itu.. apa sih yang tidak buat mbaaah Jenang sayang ???:mrgreen:
    Salam Sayang
    Salam Taklim
    Salam Kangen…

  26. […] atau komponen-komponen lainnya. Dari dua contoh tadi mengisyaratkan bahwa keindahan berasal dari persepsi […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: