Karma Bisa Menurun dan Menular?

Dulu saya sering mendengar adanya hukum karma. Lalu, ada juga karma yang bisa “menular” kepada generasi sesudahnya. Ada karma baik, ada karma buruk. Katanya, dua-duanya akan diturunkan kepada anak, cucu, cicit, dst. Dosa yang diperbuat oleh para orang tua masih bisa dipetik oleh keturunan mereka dan sebaliknya. Pertama kali diberitahu saya tidak paham dan tidak percaya. Bagaimana mungkin bayi lahir yang katanya masih suci tiba-tiba mendapat dosa titipan orang tua?

Awalnya, ajaran tersebut terdengar asing di telinga saya. Namun, beberapa tahun kemudian, setelah mendapat banyak masukan, ada pemahaman baru soal karma. Konon, menurut informasi soal ajaran Buddha yang saya dapat, karma artinya kehendak berbuat (cetana), perbuatan, atau perilaku. Perbuatan baik bakal berbuah kebahagiaan (pahala), sedangkan perbuatan jahat berujung penderitaan (dosa). Jadi, hukum karma bisa disebut juga hukum perilaku atau hukum sebab-akibat.

KarmaTernyata klop juga dengan ujar-ujar “ngundhuh wohing pakarti” (memetik buah budi pekerti), ajaran versi Jawa. Dari situ saya mulai berpikir bahwa karma sepertinya sebuah konsep tata laku yang universal. Intinya, apa yang kita tanam bakal kita petik, sebuah aksi bakal menimbulkan reaksi, bila ada sebab pasti berujung akibat, dll. Di semua agama sepertinya konsep macam itu selalu ada, tapi namanya saja yang berbeda-beda.

Setelah itu muncul pertanyaan baru, yakni seputar karma yang bisa menurun. Hal ini terkait dengan pengalaman saya. Ada seorang teman hidup serba kekurangan dan menderita. Lalu, seseorang memberitahu bahwa kondisi hidupnya saat itu adalah buah karma dari orang tuanya. “Ah, bagaimana mungkin?” Saya bertanya dalam hati. Kalau kebahagiaan sih boleh saja diturunkan, tapi kalau dosa rasanya menjadi tidak adil bila hal tersebut terjadi juga. Mestinya Tuhan membebankan dosa-dosa kepada pelakunya, bukan para keturunan yang tak tahu duduk persoalannya.

Namun, saya mendapati adanya ajaran Jawa yang menyatakan bahwa seseorang bisa menapakkan jalan bagi keturunannya. Caranya dengan melakukan sejumlah ritual atau laku tirakat. Lamanya sih katanya bisa berlangsung sepanjang hayat. Melalui cara tersebut si pelaku berharap untuk memperoleh kesadaran spiritual, pemahaman, serta kepribadian yang lebih baik. Apa hubungannya dengan anak-cucu? Lagi-lagi saya tidak paham maksud ajaran itu. Namun, saya terus mencoba melihat dengan lebih jernih, lepas dari segala praduga, sugesti, maupun pengetahuan saya sendiri sebelum mencapai kesimpulan akhir.

Hasilnya, saya mendapat pemahaman baru lagi. Bila seseorang punya kesadaran tinggi, pemahaman mendalam, dan perilaku yang luhur tentu tidak sembarang dalam memilih pasangan, menjalani hidup, serta mendidik anak-anaknya. Artinya, upaya yang dilakukan melalui beragam ritual itu bisa dianggap do’a yang disertai niat serta tekad kuat. Tak hanya ada dalam hati, tapi juga dijalani dengan penuh harap. Meskipun hasilnya belum menjadi kepastian, mestinya secara tidak langsung orang tersebut sudah membangun landasan yang lebih baik bagi masa depan keturunannya. Hasil dari segala upaya itu tentunya tak hanya bisa dinikmati oleh dirinya sendiri, tapi juga oleh pasangan serta anak-cucu mereka.

Di sisi sebaliknya, saya juga melihat adanya kecocokan bila dikatakan karma buruk bisa diturunkan. Sejauh ini saya melihatnya dalam dimensi ragawi, sehingga terlihat lebih jelas. Bila seorang lelaki / perempuan adalah pecandu narkoba misalnya, ada kemungkinan perilaku macam itu bakal berbuah kerusakan organ atau bahkan gen di dalam tubuhnya. Kalau kemudian berkeluarga dan diberi keturunan, tentunya ada peluang kerusakan tersebut menurun kepada sang anak, bukan? Namun, bukan berarti anak lahir dalam keadaan berdosa. Bayi yang dilahirkan jelas suci dari segala dosa. Cuma, dampak perbuatan kedua orang tua tetap saja bisa menurun ke sang bayi. Dengan kata lain, anak tersebut turut terkena dampak perilaku buruk orang tuanya. Jadi, karma ternyata bukan saja perilaku, tapi juga dampaknya.

Sama halnya dengan kerusakan lingkungan alam sekarang ini. Boleh jadi tidak semua orang melakukan perusakan. Nyatanya, kita semua turut merasakan akibatnya. Malahan, tidak cuma keturunan saja atau perlu menunggu pergantian generasi. Baik pelaku maupun korban sama-sama menderita dibuatnya. Kalau begitu, barangkali karma tak hanya berakibat kepada pelakunya saja. Keluarga, teman, orang lain, serta lingkungan sekitar sepertinya bisa kena getahnya juga. Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!:mrgreen:

Perihal

Cuma seorang pengelana yang bebas berkeliaran.

Ditulis dalam Pemikiran, Pengalaman, Pengamatan, Umum
54 comments on “Karma Bisa Menurun dan Menular?
  1. Tumes_semuT mengatakan:

    perdanax???🙂
    bener juga pak, lebih kepada dampaknya karena segala sesuatu bila awalnya sudah salah selanjutnya akan semakin mbundel dan ruwet,seperti yang sampean contohkan dengan pasangan pecandu,mungkin saja mereka tidak akan bisa mendidik anaknya dengan baik karena mereka tidak bisa memberikan uswatun hasanah.
    saya sendiri yakin dan percaya bahwa tidak ada dosa warisan atau juga pahala warisan, kecuali kalau utang warisan hehehe

    -> he he he… utang kan kayaknya dampak dari berhutang. jadi ya karma juga.. muahaha:mrgreen:

  2. Sawali Tuhusetya mengatakan:

    bisakah karma itu menurun atau menular kepada anak cucu? wah, ini sebuah diskursus yang menarik untuk didiskusikan mas jenang. tiba2 saya jadi teringat ketika rezim orba melakukan proses clearence tes alias bersih diri utk mendeteksi apakah orang yang bersangkutan keturunan komunis atau bukan? apakah pak harto yang notabene orang jawa itu sengaja memberikan stigma kepada orang2 yang tidak tahu-menahu perbuatan yang dilakukan oleh orangtuanya itu sengaja menggunakan konsp kultur jawa dalam menjalankan roda pemerintahannya? ndak masuk akal juga. dalam ajaran agama, berdasarkan pengetahuan awam saya, kok ndak ada dosa turunan. limbah2 dosa adalah milik perorangan, dus kalau sampek ada stigma bahwa orang tuanya *maaf* bajingan, pasti anaknya juga akan menjadi bajingan pula? dalam konteks ini, mestinya konsep “karma” tidak lantas dijadikan sebagai media pembenar terhadap hal2 yang ndak masuk akal kayak gitu, hehehehe😆 tapi, saya sangat percaya, mas jenang, kalau doa2 orang tua agar anak dan keturunan mereka menjadi orang baik sebagai media utk melakukan katharsis dan penyucian jiwa dari segala macam bentuk “sukerta” cukup bagus dan strategi utuk membentengi anak-keturunan mereka dari perbuatan yang ndak terpuji.

    -> kalo orang tua perampok kan belum tentu mendidik anak menjadi rampok juga. apa yang saya maksud juga bukan dosa turunan, tapi dampak kesalahan orang tua itu sepertinya bisa menciprat ke anak-cucu juga. kalo bapaknya masuk penjara misalnya, anak-anaknya kan terkena imbas juga secara ekonomi atau mungkin di sisi sosial juga. kalo yang positif dianggap benar, mestinya yang negatif bisa juga terjadi.

    • Anonim mengatakan:

      kalau saya percaya dosa turunan itu ada soalnya kesalahan yang saya perbuat persis sama apa yang ayah saya perbuat dan saya mengalami jalan hidup yang tidak baik namun karena saya masih percaya Tuhan dan selalu berdoa/ sembahyang saya merasa diampuni (hidup lebih baik) jadi kalau kita kena hukum karma obatnya adalah berdoa ,sembahyang menurut kepercayaan yang anda anut dan bisa memaafkan dosa/kesalahan orang lain supaya karma yang mereka terima bisa dihilangkan selain karma kita juga hilang.

      • Felix Budhi mengatakan:

        Maaf nimbrung , dulu sang Budha pernah bersabda , tapi nampaknya anda Konghucu ya ? , nah gapapalah saya jelaskan aja , Buddha pernah bersabda bahwa doa itu tidak berguna , selain perilaku mu yang mengubah nya sendiri , lah keenakan dong kalo doa mulu kaga usaha , nah bagi yang bilang bahwa doa nya dikabulka.n , itu hanyalah sebuah sugesti semata , karena anda juga berusaha dan anda berdoa , jadi anda menganggap bahwa doa anda lah yang terkabul , sebenarnya tidak , dan di agama Buddha , Hukum Karma berprinsip seseorang mewarisi karma nya sendiri , jadi tidak ada yang namannya karma yang menurun , salah besar . Nah kalau sifat anda sama dengan ayah anda itu adalah hasil gen , bukan Karma , Karma adalah buah dari perbuatan yang kita lakukan SENDIRI baik dari masa lampau maupun masa sekarang

  3. Sawali Tuhusetya mengatakan:

    eh, ada ralat dikit, bukan “… yang tahu-menahu perbuatan yang dilakukan oleh orangtuanya itu …, tapi “… yang tidak tahu-menahu perbuatan yang dilakukan oleh orangtuanya itu …. ”

    -> ok udah diralat. terima kasih masukannya.

  4. antarpulau mengatakan:

    karma hanya berlaku untuk di kehidupan akhir…. pada saat kehidupan yg semu ini berakhir…🙂
    kalo masih di dunia mah namanya bukan karma.. tapi lebih kepada menunjukan eksistensi-NYA Yang Maha Mysterious…:)

    Yo opo toh le…… le…….:mrgreen:

    -> tergantung definisi karma berarti. kalo hanya berlaku setelah mati, menurut saya tidak bisa menjelaskan kenapa ada pemanasan global, banjir, dampak pencemaran lingkungan, dll. misterius kan kalo gak kenal. kalo udah mulai kenal mestinya sudah tidak terlalu misterius lagi… he he he… *barangkali*

  5. Tumes_semuT mengatakan:

    ~antarpulau~
    karma(dosa) kan ada juga yang dipercepat balasannya..

    *loh kok aku seng jawab, ngapunten pakde jenang*

    -> he he he… gak papa. gak mesti dosa dong. aturan hukum sebab-akibat itu barangkali yang dimaksud sebagai karma. ada yang baik dan ada yang buruk.

  6. antarpulau mengatakan:

    ~Tumes_semuT
    ralat dikit ah..🙂
    anda nulis karma (dosa)… berarti karma atau dalam kurung dosa, donk.. ?🙂

    karma beda dengan dosa…
    karma adalah ‘bentuk’ balasan dari ‘suatu’ perbuatan…
    kalo perbuatan baik, maka akan menerima karma baik…
    kalo buruk, akan menerima karma buruk…
    kata kuncinya ‘buah’ dari perbuatan…

    sedangkan dosa adalah bentuk suatu perbuatan yang dianggap terlarang oleh-NYA….🙂
    ada perbuatan yg dianggap boleh dilakukan…
    dan ada yg dipercaya terlarang…
    kata kunci dosa adalah perbuatan yg dilarang oleh-NYA… (tentunya tergantung kepercayaan masing2x..)🙂

    minta maap kalo saya salah mengartikan…:mrgreen:

  7. antarpulau mengatakan:

    ~Tumes_semuT~
    tapi saya setuju dg anda kalo memang ada ‘balasan’ yg dipercepat…
    tapi itu bukan karma yg sesungguhnya… tapi lebih kepada DIA sedang menunjukan eksistensi-NYA…

    Jika menggunakan bhs kasarnya »» “nih.. saya adalah Tuhan… saya tuh ada.. makanya hidup di dunia jgn macem2x ya…??… mau contoh balasan yg akan AKU berikan… tuh… balasannya… sebagian dari kalian akan menerimanya di dunia… tapi kelak setelah kalian meninggalkan dunia yg semu ini »» disitulah kalian akan merasakan karma yg sesungguhnya… dan abadi….”

    kurang lebihnya sih gituh… :mrgreen:

  8. danalingga mengatakan:

    Huehehehehe…. karma ya?😆

    Kalo di lihat lebih jauh lagi ternyata yang cacat atau kena aids itu bukan akibat karma orang tuanya tuh. Tapi karena karma si bayi sendiri, yang bisa dalam bentuk segala kesadaran dari rohnya yang memilih karma tersebut, atau karena karma di kehidupan lalu yang memaksa dia. Jadi saya tetap menolak kalo karma itu bisa di wariskan.:mrgreen:

    -> wah kalo masalah pilihan karma seperti itu di luar pengetahuan saya. kalo bayi kena aids dari transfusi kan beda lagi ceritanya. banyak faktor penyebab kerusakan gen pada bayi. tapi, maksud saya apa yang kita lakukan bisa berdampak kepada orang lain, baik itu keluarga maupun non-keluarga. anak yang sering dibohongi katanya bakal tumbuh jadi pembohong. kalo yang seperti itu saya gak tau juga apakah termasuk pilihan atau karma si bayi sejak belum lahir. menurut pakar psikologi anak sih karena didikan orang tuanya.

  9. Cabe Rawit mengatakan:

    Pak Siti, ane sepakat bahwa karma merupakan tata nilai dan perilaku yang bersifat universal. Semua tentu bakalan mengakui hukum sebab akibat. Hanya saja, ketika Karma masup ke wilayah doktrin ekslusif keagamaan atau kepercayaan, maka pengertiannya akan berbeda-beda.

    Dalam agama Budha, dikeal ada tiga macam karma Sanchita, Prarabdha dan Riyamana (Agami atau Vartamana). Bukan pada tempatnya kalo ane ngebahasnya satu persatu. Tapi pada intinya, konsep karma dalam Budha sangat berkaitan dengan konsep dan doktrin tentang reinkarnasi. Karma secara bahasa adalah perbuatan atau amal. Amal ini dipandang sebage “sebab” yang kemudian akan melahirkan “akibat” berupa “Phala” atau balasan dari perbuatan. Nah… Karma Phala inilah yang akan sangat menentukan Punarbhawa atau reinkarnasi kehidupan.

    Dalam Islam, karma phala sama persis dengan konsep al-‘amal wa al Jazaa (perbuatan dan balasan). Perbuatan dan balasan yang diterima sebagai sebuah konsekuensi diyakini sebagai suatu hukum alam, atau sunnatullah, yaitu hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Allah sejalan dengan penciptaan alam beserta seluruh makhluk-Nya. Sunnatullah atau hukum alam sendiri merupakan bentuk pemeliharaan Allah terhadap alam, yang di dalam konsep tauhid disebut sebagai Tauhid Rububiyah. Hanya saja, ada perbedaan yang sangat fundamental mengenai konsep amal dan balasan dengan konsep karma phala, yaitu tidak adanya punarbhawa atau kelahiran kembali, karena dalam Islam tidak dikenal doktrin reinkarnasi sebagai bentuk kelahiran kembali makhluk yang telah mati ke alam dunia.

    Wakakakakkk… ane sok tahu… ane sok tahu….
    Pak Siti, mohon maafin komen ane yang kelewat kagak ilmiah ini…
    *dijitak, digantung, difecut*:mrgreen:

    ->

    …melahirkan “akibat” berupa “Phala”

    (jangan-jangan ini asal dari kata pahala. P(a)hala…) 8)

  10. Cabe Rawit mengatakan:

    Ane frotes, ane frotes….👿
    Kenapa pak Siti kalo nyampah di gubuk ane, selalu irit…??? Padahal, ane kalo nyamfah di sini, bisa nyaingin postingan aseli-na…👿
    :mrgreen:

    -> jangan-jangan karena faktor karma juga…:mrgreen:

  11. Cabe Rawit mengatakan:

    Nyamfah…!!!👿
    eh… pak Siti, ane minta tolong, komen ane yang atas tolong diedit, banyak kata yang kurang huruf-na…🙂

    -> OK deh…

  12. zal mengatakan:

    Pak siti, do’a Ibrahim AS, “berikan jugalah kepada anak keturunanku…” lalu kata Allah, “janjiku tidak mengenai kepada yang zhalim..”, secara saya, yg zhalim menemukan keruwetan, namun inipun samar, jika tak ada pedoman ruwet juga sulit menemukan pedoman mudahnya, namun yg zhalim, inipun mesti juga dikritisi, sisi mana dari suatu konstruksi manusia yang zhalim…
    Lalu karma baik dan buruk itu seperti apa.., bila yg terlihat baik belum tentu baik dan sebaliknya…, misalnya..untuk penggoda, baiknya seperti apa, yang digoda baiknya seperti apa, lalu siapa yg menggoda siapa yg digoda…:mrgreen:

    -> kalo yang diminta adalah kenikmatan dari perbuatan baik, nalarnya tentu tidak berlaku bagi yang zalim. wong perbuatannya aja zalim kok… menurut info yang saya dapat karma sepertinya ya hukum sebab-akibat itulah beserta dampaknya. tentu beda lagi kalo bicara kesalahan yang sudah diampuni, dihapuskan, dan dimaafkan. boleh jadi dampaknya juga hilang begitu saja, dilibas oleh “pengampunan”.

  13. hildalexander mengatakan:

    Aneh juga komentnya Oom Danalingga…memangnya karma bisa dipilih? kalo bisa dipilih, saya pilih karma yang bisa membuat hidup bahagia lahir batin, jasmani-rohani, gemah ripah lohjinawi hikz hikz hikz….

    tapi, gpp seh itu haknya Oom dana untuk kasih koment.

    Betewe Ngkonx, karma itu bukannya nama akhir penyanyi dangdut?

    *sambil menjentikkan jempol*

    -> siapa ya? Rhoma I-Karma?:mrgreen:

  14. danalingga mengatakan:

    Ndak aneh kok kalo memilih hidup ini sebagai tempat melatih jiwa.:mrgreen:

    -> jiwa apa sukma?

  15. regsa mengatakan:

    lalu cara yang paling nyata untuk menangkal karma apa saja njeng sunan..

    mohon pencerahannya

    -> karma kan katanya kehendak berbuat. kalo mau nangkal ya jangan berkehendak dan berbuat.. he he he… *nyorot senter ke regsa* 8)

  16. Tumes_semuT mengatakan:

    ~antarpulau~
    iya ente bener, maklum saja yang biasa terdengar di masyarakat kata karma konotasinya jelek, soalnya saya belom pernah dengar ancaman tentang karma yang baik, semisal; awas, ati-ati aja kamu ntar kena karma hidupmu tentram dan damai

  17. Arwa mengatakan:

    karma….?

    jadi teringat kisah perang baratayuda di medan kurusetra.

    Jika dicermati secara keseluruhan kisah mahabarata memberikan gambaran jelas tentang karma dimana setiap mahluk akan menerima ganjaran dari apa yang telah ia perbuat. Ya itu dia Pak Siti, hukum sebab akibat.

    tidak ada akibat kalau tidak ada sebab dan tidak ada sebab kalau tidak ada sumber.

    dan sumberpun apabila dilacak terus akan sampai pada semesta sumber yang tak terjangkau dan tak terdefinisi.

    mungkin hanya orang sekelas batara Kresnalah yang diberikan kapasitas pemahaman sempurna akan hal ini. *ngelirik mbah siti*

    jadi kesimpulannya apa dunk. kalau menurut saya seh semesta hukum itu telah ditetapkan sehingga apa yang kita tanam maka itulah yang akan kita tuai.

    adapun karma bisa menurun dan bisa menular hal ini bisa terjadi karena ada faktor keterkaitan dan keterikatan. Sebab rantai hukum sebab akibat itu sangat-sangat komplek dan njimet.

    *tumben komeng panjang begene sech*
    *pukul-pukul jidat*

    -> muahaha… kresnamukti? terima kasih masukannya. lengkap abis…

  18. evelynpy mengatakan:

    Dari kecil sudah ditanamin sama orang tua bahwa karma itu ada.
    Jadi aku nggak boleh bertindak yang nggak-nggak kalau nggak ingin mendapatkan karma atas tindakan yang aku perbuat.
    Apalagi mengingat dalam ajaran agamaku sangat menitikberatkan pada apa itu karma.
    Jadi aku si percaya aja, tapi kalau karma itu menurun aku rasa aku nggak percaya.
    Masa yang berbuat satu orang harus menurun atau yang bertanggung jawab misalnya sang ayah?
    Aneh kan?

    -> bukan tanggungjawabnya, tapi dampaknya. ya kalo liat contoh dari saya di dua alinea terbawah, sebetulnya tidak aneh. dampak bisa berlangsung lebih lama dari umur manusia.

  19. maxbreaker mengatakan:

    Karma? saya ga terlalu percaya ma hukum karma..
    yang saya percaya tu:

    Barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun niscaya dia akan melihat balasannya dan Barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun niscaya dia akan melihat balasannya pula

    QS. Az Zalzalah 7-8
    jadi saya selalu berusaha berbuat baik tiap hari semampu saya….

    -> kalo kata karma diasosiasikan Hindu & Buddha tentu Anda tidak percaya. tapi, ayat yg Anda sampaikan itu masuk definisi karma. sebaiknya memang tiap hari selalu melakukannya.

    • Felix Budhi mengatakan:

      Kalau saya di Buddha , boleh dong saya gak percaya sm ajaran Muslim ,nih ya agan , di smua agama ada yang namannya sebab dan akibat nah di Muslim dikatakan dalam ayat Al Zalzalah , sama saja definisinya seperti hukum karma , mungkin di Nasrani juga berbeda , intinya sama, anda saja yang terlalu berpandangan sempit , ingat bahwa menganggap agama sendiri paling benar itu salah besar

  20. sigid mengatakan:

    Saya percaya jika perbuatan baik akan menghasilkan buah yang baik. Meski akibatnya tidak selalu terasa instant.

    “Hard work often pays off after time, but laziness always pays off now.”
    Despair Inc.

    Pak de, tentang karma apakah bisa menurun itu menurut saya penjelasannya bagus. Meninjau dari pola pikir rasional dengan melepaskan konsep “karma”. Toh menurut pak de konsep itu ada dalam berbagai agama dengan sebutan yang berbeda-beda.

    -> ya, seperti itulah. beda-beda, tapi tetap satu jua. Bhinneka Tunggal Ika.. muahaha

  21. sigid mengatakan:

    Nyambung ndak yah itu😕

    -> nyambung rasa…

  22. tomyarjunanto mengatakan:

    apa mungkin karma sama dengan hukum kekekalan energi ya? atau seperti nihilisme saat masa depan & masa lalu akan selalu bertemu?

    -> bisa jadi begitu. tak ada yang musnah. apa yang ada hanyalah aransemen berulang-ulang.

  23. masdhenk mengatakan:

    karma?
    banyak tuh di arab pohonnya…🙂

    salam kenal, gut post

    -> he he he… berbukalah dengan karma. salam kenal juga.

  24. Ersis W. Abbas mengatakan:

    Ha ha ngaklah setiap orang punya kehidupan sendiri kog … dan dipertanggungjawabkan masing-masing. Masalah budaya kali. Kini, http://www.webersis.com menayangkan tulisan bebasis budaya. Salam.

    -> memang tanggungjawab milik pribadi, tapi dampaknya itu… he he he… ok nanti ke TKP.

  25. Santri Gundhul mengatakan:

    Weeeeeeeeerrrr….wuuuuuzzzzz…..
    Angin lesus menggeliat dari pembaringan…melongok Kang Jenang langsung disuguhi rembugan masalah KARMA.
    Hmmm…hmmm…rasanya aku barusan saja kena KARMA hingga harus
    menginap di rumah sakit selama 8 hari.

    Sebenarnya KARMA ini jika dikenakan pada Manusia duduknya di mana yah Kang..??. Biar tidak ada kesan ” DIGEBYUR UYAH PODHO ASINE “, maka sebaiknya kita perlu mengetahui ekssistensi sang PRIBADI. Struktur apa saja sih yg membungkus atau menyelimuti sang PRIBADI ini..??.
    Saya khawatir saja nantinya timbul penilaian dan pendapat bahwa karena adanya KARMA WARISAN dari leluhur lantas menjadikan sang PRIBADI ini tidak bisa kembali kepada si Empu-Nya kelak. Pedahal sesuai dengan Janji-Nya yg seperti ini ” Sesungguhnya yang berasal dari pada-KU akan kembali kepada-KU “.

    Jadi dalam konteks PRIBADI yg mana KARMA tadi hinggap pada Manusia..???.

    Ngaso dhisik….awak durung sehat…..ambegan alon-alon…karo gondhelan teken…nunggu koment balik….ngglesod ah….

    -> dampak perbuatan kita memang kadang bisa sangat fatal. perkara spiritual, silakan cari sendiri-sendiri… he he he

  26. perempuan mengatakan:

    Masa si, menurun?
    Tapi saya kira ada kaitannya bagaimana kita berlaku/bersikap pada Tuhan dan pada manusia. Ada tanggung jawab dan konsekwensi logisnya sam semuanya. Tinggal kesiapannya saja?

    -> coba baca lagi pelan-pelan. saya melihat ada dampak yang bisa menurun. sekali lagi bukan tanggungjawabnya, tapi dampaknya.

  27. Apurwa mengatakan:

    Salam…nimbrung ah…saya sepakat dengan Ki Jenang, dampak itu bisa menyeret siapa saja, pelakunya dan orang-orang di sekitarnya. Dampaknya…contoh: Si A maling dan tertangkap, dipukuli sampai mati..orang-orang bertanya, dari mana asalnya? Dari kampung B…oh, malingnya orang kampung B…nah orang sekampung B jadi maling semua (sebut orang-orang itu)..salam

    salam. betul, itu maksud saya. dampaknya gak nahan.

  28. Aldi mengatakan:

    Nah, ini bahayanya kalo orang mengerti sebagian2 tentang karma. Akibat perbuatan hanya diterima oleh pribadi bersangkutan dan sama sekali tidak ada hubungan dengan perbuatan org lain, baik orang tuanya , saudaranya ataupun temannya.

    Untuk mengerti mengenai hal ini (diturunkan atau tidak), saya akan kasih contoh: Si A melakukan perbuatan jahat yang membuat sekeluarganya menderita termasuk anaknya si B. Di sini sepertinya si B yg tidak berdosa ikut2an terkena akibatnya.

    Nah di sini ada satu mata rantai yang kadang tidak dimengerti, pertanyaannya, kenapa si B lahir di keluarga si A? Itu juga akibat karma, karena dia juga mempunyai karma yang membuatnya merasakan akibat seperti bapaknya A dari perbuatannya yg terdahulu.

    Pertanyaan yang sama juga bisa kita ajukan kenapa kita dilahirkan di Indonesia, yang punya pejabatnya koruptor? Kenapa kita tinggal di Jakarta yang tiap hari macet? polusi? banjir? penjelasannya sama.

    terima kasih masukannya. ini cuma pendapat aja sih.

  29. puthut mengatakan:

    Karma bisa diputus / hapus atau diampuni nggak ya, karena karma itu sendiri hasil dari perbuatan mungkin : Leluhur, Orang Tua dan diri sendiri. Jadi kita yg masih hidup, bisa nyuwun Welas lan Asih Pangapuro Kepada Gusti Allah, dari hasil perbuatan baik itu dari, Leluhur, Orang tua, diri sendiri yang salah. Dan kita memulai hidup yg baru, Tumindak becik, ngudikautaman, prilaku Apik. Ada kalimat baso jowo, SOPO GAWE BAKAL NGANGGO SOPO NANDUR BAKAL NGUNDUH

    Maaf kalo ada kalimat/ucapan yg nggak berkenan.

    Rahayu

    katanya sih begitu. mudah-mudahan kita tidak panen karma buruk para pendahulu…

  30. ekapratiwi mengatakan:

    karma itu tulis…………(papan lan tulis)
    karma itu menurun YESSSS………………………(tut-ke ilening banyu ngger)
    setinggi-tinggi Air mancur jatuhnya kebawah juga.
    dulu nggak ada sekarang ada dan besok kembali ngga ada.
    (asale kang lemah balik dadi lemah)
    Kalo kita salah dan lupa kepada kholiq jelas …kholiq maha pengampun.
    tapi jika kita salah dan lupa pada makhluk lain (human relations) maka KARMA tuh. (gawe kapithunaning liyan)…..jarkoni…..iso ngajar ra iso nglakoni… sami mawong GEDANG WOHING PAKEL
    omang gampang nglakoni engkang angel. kalo saya berpendapat jelas KARMA menurun….. tapi ada pertanyaan dosa siapa salah siapa…. tidak boleh menyalahkan orang tua…… (air mancur dong) …………………….
    ……………yen ora keno saiki yo ngesuk…yen ora keno ngesuk ya ngemben…….. yen ora kena awak dewe yo anak…. yen ora keno anak yooo keno ing puthu……………… rahayu……. (PASTI)

    wah sampeyan kayaknya sakti nih… he he he…

  31. jalansutera mengatakan:

    seorang bapak jadi bos. dia korupsi gedhe. karena dia orangnya pinter, korupsinya nggak ketahuan. sampai saatnya meninggal, tidak ada orang yang bisa membuktikan bahwa dia korupsi. alhasil, anak-anaknya, dan juga cucu-cucunya, bergelimang harta. mereka tidak perlu kerja keras. mereka tidak perlu berkeringat. harta sudah ada, rumah sudah punya, mau apa lagi?

    nah, saya pengin tanya: kemana karma si bapak itu diturunkan? nyatanya anak cucunya justru hidup makmur…

    makmur ukuran duit. tapi, mana tahu kehidupan sehari-hari. kecuali kalau sudah diampuni, barangkali bekasnya bisa lenyap. barangkali…

    • Anonim mengatakan:

      Siapa bilang turunan koruptor selamat ,saya pernah melihat turunannya berantakan ada yang meninggal tabrakan dll. dan saya melihat keluarga sederhana (hampir kekurangan ) anak 6 dan sang ayah yang jujur ini meniggal waktu anak2nya belum pada bekerja .tetapi apa yang terjadi satu persatu bisa bekerja dan semua selamat dan bahagia.

  32. Robert Manurung mengatakan:

    Karma itu kan balasan terhadap perbuatan seseorang. jadi tidak logis kalau menjadi “dosa warisan”.

    btw aku baru memposting wawancara dengan Gus Dur, lihat di :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/04/25/islam-itu-agama-damai/

    Terima kasih
    Salam Merdeka

    ya, memang bukan dosa warisan. tepatnya, akibat buruk warisan…

  33. Wawanz mengatakan:

    Karma? Aku pikir masih jadi rahasia Tuhan. Jadi apapun pandangan kita tentang karma boleh jadi benar ato sebaliknya.
    Salam kenal.

    benar proses, salah pun proses..

  34. H M mengatakan:

    Nah mungkin bener juga Karma bisa menular. Wong buktinya bapa-bapa kita yang gak korupsi kita anak-anaknya nanggung karmanya dari bapa-bapa orang lain yang korupsi. sampai negara jadi serba susah yah……:):):)

    http://airimbang.wordpress.com/coretan/israel-pornografi/

    http://airimbang.wordpress.com/serbaneka/humour/kepeleset/

    ta’ tunggu tekone

    he he he… emang kayaknya bener juga ya..

  35. Guh mengatakan:

    jadi yang menurun dan menyebar itu efek dari karmanya ya. Yang mbikin satu atau segelintir, yang menikmati, yang nanggung rame-rame.

    Ngeliat paparannya logis banget. Tapi kok terasa tak adil ya? Masak anak ga ngerti apa-apa tiba-tiba disuruh ikut nanggung kesalahan?

    wah kalo masalah keadilan, bukan wewenang saya deh… he he he

    • Anonim mengatakan:

      jangan berkecil hati kalau merasa tidak adil ,pengalaman saya ialah saya merasakan saya kena hukum karma karena ada yang salah di orang tua ,saya berbuat kesalahan yang sama ,tapi saya masih percaya Tuhan dan mau beribadah, akhirnya hidup saya lebih baik (beruntung) dan saya selalu berdoa agar Tuhan mengampuni orang tua saya dan janganlah anak saya menerima karma buruk saya .Pendapat saya perlu rajin beribadah (terserah kepercayaan ) dan suka mengampuni orang yang bersalah pada diri kita percayalah Tuhan itu adil

  36. […] Lha itu karma siapa, kok ikut mbayar? Diterbitkan Juni 16, 2008 Indonesia , Renungan Tags: anak, Indonesia, karma, pertanyaan, Sex, tuhan Hanya sebongkah pertanyaan sebelum main ps istirahat setelah seharian lelah ngurusin perut dan selangkangan, terinspirasi sebuah tulisan tentang karma yang ternyata bisa menurun dan menular: […]

  37. lingkarkecil mengatakan:

    saya jadi teringat Acinteyya-sutta (Anguttara-nikaya, iv.77),

    “Ada empat hal, para bhikkhu, yang tak terpikirkan, yang tidak seharusnya direnungkan, yang hanya menghasilkan kegilaan dan kegusaran bagi mereka yang memikirkannya. Apakah empat hal itu?
    (1) Lingkup kebuddhaan dari para Buddha (buddhaana.m buddha-visayo) …
    (2) Lingkup jhana dari seorang yang berada dalam jhana (jhaayissa jhaana-visayo) …
    (3) Perbuatan (karma) dan buahnya (kamma-vipako) …
    (4) Perenungan tentang alam semesta (loka-cinta) [asal-mula alam semesta dsb/Thanissaro Bhikkhu], para bhikkhu, adalah hal-hal yang tak terpikirkan, yang tidak seharusnya direnungkan, yang hanya menghasilkan kegilaan dan kegusaran bagi mereka yang memikirkannya.

    Inilah, para bhikkhu, empat hal yang tak terpikirkan, yang tidak seharusnya direnungkan, yang hanya menghasilkan kegilaan dan kegusaran bagi mereka yang memikirkannya. (“Imaani kho, bhikkhave, cattaari acinteyyaani na cintetabbaani, yaani cintento ummaadassa vighaatassa bhaagii assaa ‘ti)

    [Dari: Access to Insight, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an04/an04.077.than.html
    dan Tipitaka Pali, http://www.mettanet.org/tipitaka/2Sutta-Pitaka/4Anguttara-Nikaya/Anguttara2/4-catukkanipata/008-apannakavaggo-p.html ]

    hanya tambah info tentang karma🙂

    wah makasih tambahannya.. biar kian lengkap referensinya..

  38. bisaku mengatakan:

    Kalau pemikiran hanya terbatas pada karma, maka tidak akan ada pertobatan. Karena yang akan terjadi adalah masing-masing manusia berusaha untuk mendermakan perbuatan baik tanpa memikirkan tentang hakekat dari kebaikan tersebut sendiri.

    Karma bagi saya adalah balasan dari sebuah pilihan tentang hidup yang kita jalani; tentang apakah ini akan menurun kepada anak cucu? Ah, biarkan rentetan tarik menarik pararel dari “Jalan hidup atau pilihan hidup?” hasil pilihan yang sudah kita jalani yang akan menjawabnya ….

    saya kan belum bicara pengampunan. kalo itu sih semua kesalahan katanya kan bisa lenyap… barangkali juga beserta dampaknya.

  39. CY mengatakan:

    @Bisaku
    Begitukah? Bukankah dengan adanya kepercayaan ttg karma yg bisa membuat seseorang bertobat dari jalan hidup nyelenehnya. Lucu sekali menurut saya kalau anda pesismis akan hasilnya bila setiap manusia berlomba2 mendermakan perbuatan baik. Kan cuman ada dua perbuatan, baik dan jahat. Kalau pendapat anda seperti itu berarti kita harus mendermakan perbuatan jahat juga dong. gitu? 🙂

  40. bisaku mengatakan:

    @CY
    Ya terus terang saya pesimis. Karena kalau semua orang hanya berlomba untuk berderma untuk berbuat kebaikan, tanpa tahu tujuan dari derma tersebut untuk mendapat apa, sama saja seperti berusaha untuk menyelamatkan orang hutan tanpa tahu tujuannya untuk menyelamatkan orang hutan itu untuk apa?? Yang saya maksudkan disini adalah tujuan dan dasar dari derma dalam perbuatan baiknya itu … Kalau hanya untuk berbuat baik menghindari karma yang akan menerpanya? Lalu apakah itu bisa dikatakan sebagai sebuah dasar yang baik untuk berderma; itu kalau Anda mengatakan saya pesimis bila setiap manusia berlomba2 mendermakan perbuatan baik.
    Well, saya tidak pernah berpendapat bahwa kita harus mendermakan perbuatan jahat. Tapi kalau konteksnya adalah karma, kalau Anda mau ya itu hak anda:mrgreen:

  41. Sungai mengatakan:

    ikut baca aja. pemahamanku soal karma masih minim. suer

    saya juga. cuma berusaha memahami apa yg saya ketahui aja.

  42. Siwa Buddha mengatakan:

    Salam Damai dan Penuh Cinta Kasih… ,

    Salam kenal mas Sitijenang… ,

    Boleh kan ikut gabung dan membaca-baca tulisan2 anda ?

    Saya pengin ikut menanggapi sedikit ni mas… .

    Dalam ajaran Buddha, karma itu tidak didapatkan karena keturunan.

    ” Setiap orang terlahir dari perbuatannya sendiri, memetika buah perbuatannya sendiri, mewarisi buah perbuatannya sendiri, berhubungan dengan perbuatannya sendiri, Baik ataupun buruk, itulah yang akan diwarisinya… ”

    Demikian salah satu sutta dalam Parita Suci Buddhis mengatakan.

    Sesungguhnya, tidak bijaksana jika menyalahkan pihak lain atas terjadinya sesuatu hal atas diri kita, baik ataupun buruk. Tidak bijaksana jika ada seseorang yang menyatakan bahwa ia miskin karena karma orang tuanya.

    Yang ada adalah hukum “Jenis-Mencari-Jenis”. Seseorang yang senantiasa berbuat baik, ketika meninggal, setelah itu, ia akan segera terlahir didalam keluarga yang baik, sesuai “gati-nimiita” ( lambang-tujuan ) dan karma pendukung saat detik-detik ia meninggal. Gati nimita dan karma pendukung ini, misalnya, bagi seorang dokter, adalah pengalaman perbuatan baiknya menolong makhluk2 yang membutuhkan. Bagi seorang tukang jagal adalah, perbuatannya memotong hewan-hewan. Kondisi batin saat seseorang meninggal itulah yang menentukan kelahiran berikutnya. Maka, ada tradisi Buddhis untuk membimbing seseorang yang akan meninggal, dengan mengingatkan kenangan yang indah-indah, perbuatan2nya yang baik, membacakan Parita / Sutta, dan lain2. Maka dari itu juga, dalam tradisi Islam di Jawa juga banyak yang membisiki doa, shalawat, syahadat, dll, bagi orang yang akan meninggal.

    Kira2 sekian dulu mas Sitijenang.

    Silakan mampir ke weblog saya, mempererat tali silaturrahmi, saling mengenal, saling berdiskusi, saling bertukan pikiran, di = http://ciwabuddha.wordpress.com.

    Saya tunggu lho mas, hehehehehe…. .

    Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari segala bentuk penderitaan, baik penderitaan didalam batinnya, maupun penderitaan jasmaninya… .

    Salam-Damai dan Penuh-Cinta-Kasih… .

    Rahayu…Rahayu…RAhayu… Nir ing sambekala… SATUHU…..

    makasih tambahan referensinya. saya ambil referensi buddha hanya untuk definisi karma aja. soal karma turunan itu kalo gak salah dari kultur Jawa. akan ke TKP.

  43. Exel-01 mengatakan:

    Salam damai dan sejahtera..
    Nyuwun ngapunten Pak..Ikut gabung pak Sitijenang..he..he..
    Bicara atau memahami makna karma..saya masih kurang paham dan perlu banyak referensi untuk pemahaman..tetapi menurut keyakinan saya karma itu memang ada dan terkadang kita tidak menyadarinya bahwa itu “buah karma”..dan terkadang tidak bisa dijelaskan secara nalar/logis..Tetapi bicara mengenai karma..banyak juga yang dapat kita pahami secara nalar/logika..sebagai contoh sederhana..misal kita berbagi kasih atau kebaikan kepada orang lain, maka orang lainpun juga akan menerimanya dengan rasa senang,nyaman,dll..dan imbas dari itu smua orang lain yang kita beri kasih sayang dan kebaikan juga akan menghargai kita,bahkan juga bisa timbal balik berupa imaterial atau material..dan kalau ada orang lain yang kita beri kasih sayang atau kebaikan tetapi malah di balas dengan kebencian atau kejahatan itu menurut saya juga imbas dari “buah karma buruk”..yang sulit untuk di jelaskan secara nalar/logika..
    Lepas dari wacana tentang karma..yg terpenting dari hidup kita adalah kita saling berbagi KASIH dengan orang lain..tanpa memandang latar belakang orang tersebut dan selalu positive thinking akan apa yg terjadi di hidup kita..dan yang tidak kalah pentingnya selalu mendekatkan diri kepada Tuhan..untuk membentengi diri kita dari godaan jahat/setan..
    “KASIH TAK MENGENAL MUSIM..KASIH BERBUAH SETIAP WAKTU..WALAU BUAH KASIH TIDAK SELALU MANIS,TETAPI JANGAN PERNAH BERHENTI BERBAGI KASIH..”
    ..salam damai dan sejahtera..
    Terimakasih..

    salam sejahtera. memang kira-kira seperti itulah pesan yg ingin saya sampaikan. berhati-hatilah dalam bertindak karena pada akhirnya kita jugalah yg akan mendapat dampaknya. makasih tambahannya.

  44. meiditami mengatakan:

    soal pasangan narkoba menularkan bayi bermuatan narkoba, itu gak usah pake istilah karma krn pastinya itu sebab akibat.

    he he he… makasih udah mampir

  45. RyoH mengatakan:

    nanyak nih. di dalam kitab suci (apapun) ada nggak yg menjelaskan secara gamblang karma yang menurun. Kalo di QS Zalzalah masih blawur menurut saya , masih belum jelas.

    Minta petunjuk ^^

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: saya tidak tahu referensi kitab suci. saya sendiri memahami karma sebagai perbuatan beserta dampaknya. jadi, tampaknya memang bisa menurun, dalam arti dampak secara fisik maupun mental.

  46. Kamel mengatakan:

    Jangan Sekali membuat jahat.

  47. nana mengatakan:

    bagus…. ijin share🙂

  48. Felix Budhi mengatakan:

    Hanya mengingatkan , Hukum Karma
    adalah Sebab dan Akibat
    bukan Perbuatan dan Ganjaran yang terdengar seperti ancaman

    Namo Buddhaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: