Belajar Dari Eksodus Pesepakbola

Sejak dilanda krisis, kita sebagai bangsa tampaknya masih terus akan terpuruk. Dari berbagai artikel di blog terlihat masih suramnya negeri yang konon bisa super makmur ini. Di pengujung 2007 pun Indonesia belum mampu bangkit juga. Sebetulnya sudah tak kurang momen untuk itu. Peringatan hari-hari bersejarah, bencana, konflik, kemiskinan, dll datang silih berganti. Semua seolah tak ada yang punya arti. Rakyat yang sebagian “bodoh” malah disalahkan, padahal mereka produk sistem pendidikan. Mereka yang hidup dalam kemiskinan dan penderitaan makin dihinakan, padahal mereka saksi kegagalan sistem pemerintahan.

Tulisan ini sebetulnya sudah saya tulis cukup lama. Mengendap di arsip komputer juga sudah beberapa tahun. Berhubung belum ada ide anyar yang bisa dituangkan dalam wujud tertulis, ya sudah, yang ini saja bisa dipakai untuk menyumpal kekosongan update di blog ini.😀

Kalau keluar dari krisis diartikan meningkatnya pendapatan atau pemasukan uang masyarakat, kita sebenarnya *menurut saya* bisa belajar dari negara-negara yang relatif sama miskin. Kalau belajar dari negara kaya tentunya sistem yang mereka terapkan sudah mapan. Hasil dari pengembangan kultur masyarakat maupun kumpulan pemikiran pendahulu mereka. Saya setuju dengan pendapat yang menyatakan sistem di negara maju yang kita lihat sekarang kebanyakan adalah hasil ilmu terapan. Dasar-dasarnya sudah dibangun sejak lama.

Berkaitan dengan hal ini, saya tertarik dengan peran sepakbola yang turut memakmurkan kehidupan masyarakat Brasil.

Inggris boleh saja mengaku sebagai tanah kelahiran sepakbola modern. Di negeri yang terkenal dengan armada lautnya itulah sepakbola maju pesat. Tapi, kalau soal produksi pemain-pemain terbaik dunia, seluruh dunia mengakui bahwa Brasil adalah pabriknya.

Prestasi sepakbola Tim Samba pun jauh lebih kinclong kalau dilihat dari rekor juara. Brasil sudah menggondol gelar juara Piala Dunia sebanyak lima kali. Sementara itu, Inggris baru sempat sekali mencicipinya. Sepanjang sejarah digelarnya piala empat tahunan itu, Inggris lebih banyak gagal. Padahal, orang Brasil kenal sepakbola dari orang Inggris.

Adalah Charles Miller, seorang mahasiswa Inggris yang membawa sepakbola ke Brasil kali pertama pada 1894. Sejak saat itu, sepakbola mulai merebut hati masyarakat koloni setempat. Gaya dribel bola yang dikembangkan di Selatan Brasil, akhirnya menjadi ciri khas gaya bermain sepakbola di sana. Terbentuknya organisasi sepakbola nasional juga makin menguatkan pondasi Brasil sebagai negerinya para pesepakbola sejati.

Awalnya, sepakbola tak lebih dari sebuah permainan populer yang dapat menyenangkan segala usia. Suburnya lahan sepakbola di Brasil berakibat pada lahirnya banyak bibit muda berbakat. Ketika liga Eropa mulai membuka keran untuk pemain asing, banyak klub yang tertarik untuk memboyong pemain samba untuk memperkuat timnya. Alasannya masih sangat sederhana. Kemampuan dalam mengolah bola tak diragukan. Disamping itu, standar gaji mereka jauh lebih rendah dibanding pemain lokal.

Lari Dari Kemiskinan
Pada perkembangan selanjutnya, alasan untuk memakai pemain Brasil makin kuat. Nilai transfer buat seorang pemain lokal, yang melambung tajam akibat perkembangan industri sepakbola di Eropa, membuat para pengelola klub pusing kepala. Di sisi lain, perekonomian Brasil, setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir tak jauh berbeda dengan Indonesia. Kemiskinan makin merajalela di negeri penghasil kopi terbesar dunia itu. Sebuah kombinasi yang sangat pas.

Buntutnya, sepakbola membuka harapan baru di negeri yang juga terkenal dengan karnaval tahunan itu. Banyak kaum miskin di Brasil menganggap sepakbola sebagai jaring penyelamat kehidupan mereka. Kisah-kisah manis para pendahulu mereka pun memperkuat anggapan tersebut. Transfer serta gaji bernilai jutaan euro sudah pasti sangat diharapkan. Kegiatan “menjual diri” lewat sepakbola kemudian menjadi tren di kalangan anak muda, yang ingin punya kehidupan lebih baik. Bahkan, sejak beberapa tahun terakhir, negara tujuan eksodus sudah menyebar ke lebih banyak benua.

Menurut catatan konfederasi sepakbola Brasil (CBF), sedikitnya 658 pemain bola keluar Brazil pada 1999, tahun 2000 ada 701 pemain, 2001 sebanyak 736 pemain, 2002 dengan 665 pemain, serta tahun lalu sekitar 857 pemain telah diekspor ke berbagai negara. Selain data-data resmi, tentu banyak pula eksodus yang tak terdata CBF.

Dengan banyaknya bintang sepakbola asal Brasil yang bergaji jutaan euro, bisa dibayangkan berapa uang masuk ke kas negara tiap tahunnya. Nah, kalau konsep ekspor tenaga kerja kita bisa dikembangkan–supaya tak sekadar ekspor pembantu– barangkali kita bisa seperti Brasil. Paling tidak bisa menimbulkan semangat dalam diri masyarakat untuk bangkit. Kalau kemiskinan atau rakyat miskin dianggap sebagai “biang masalah”, buat saja sistem supaya mereka bisa diekspor seperti pesepakbola Brasil itu. Beban pemerintah bisa berkurang dan para “pengungsi” pun mungkin bisa hidup dengan lebih tenang. Tidak lagi menjadi kambing hitam.

Perihal

Cuma seorang pengelana yang bebas berkeliaran.

Ditulis dalam Pengamatan, Umum
6 comments on “Belajar Dari Eksodus Pesepakbola
  1. Ram-Ram Muhammad mengatakan:

    Assalaamu ‘alaikum Kyai Jenang, eksodus ala pesepakbola brazil dalam bahasa pesantrenan kurang lebihnya seperti konsep hijrah. Hijrah atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain atau dari satu kondisi ke kondisi lain yang lebih baik dari sebelumnya. Ketika Nabi SAW dulu memerintahkan hijrah, para sahabat dan kaum muslimin pada saat itu diperintahkan agar membawa bekal; Iman dan ketakwaan, di samping bekal lain dalam bentuk materi secukupnya.

    Semangat hijrah ini sebenarnya yang kudu ditumbuhkan dalam benak setiap manusia, khususnya bangsa kita. Semangat untuk senantiasa berpindah dari keadaan yang buruk ke keadaan yang baik, bahkan berpindah dari keadaan yang sudah baik ke keadaan yang lebih baik lagi.

    Miskin secara bahasa adalah lawan dari hijrah. Miskin artinya diam atau tidak berdaya, sedangkan hijrah adalah berpindah, bergerak atau melakukan perjalanan.

    Ketika seseorang memiliki semangat untuk memperbaiki kualitas hidupnya secara ekonomi, yang harus dibangun pertama kali adalah kesadaran dan keinginan yang kuat agar tidak melulu dipasung oleh kemiskinan. Semangat ini yang kemudian akan membangun sikap-sikap positif dalam dirinya; tidak mudah putus asa, tekun, mau belajar, berani memulai dari nol, dan optimis.

    Semoga…

    -> mantaps! 8) Miskin >< Hijrah. berarti hijrah bisa diartikan perjalanan ya? maka, kita harus terus menempuh perjalanan.😀

  2. Ram-Ram Muhammad mengatakan:

    Kepanjangan yak?😯

    -> namanya juga halte perjalanan. komentar panjang berarti sarat modal buat perjalanan lanjutan… 8) alhamdulillah.

  3. rozenesia mengatakan:

    Ah, pak…

    Saya rasa di Indonesia pun banyak bakat bagus… debu yang belum menjadi intan. Tapi sayangnya perhatian ke dunia sepakbola masih kurang.
    Pemerintah kelihatannya masih terpaku pada ‘kejayaan masa lalu’ yang semu.😎
    Tauk ah gelap..

    -> he he he… emang sekarang masuk jaman kegelapan lagi nih😀

  4. […] dilanjutkan dengan tulisan-tulisan bagus lainnya. Misalnya ketika mengangkat tulisan mengenai sepakbola dan indera. Dalam bertutur, pemilik blog cukup banyak memberikan referenri. Dalam berkomentar, […]

  5. StreetPunk mengatakan:

    Negara-negara mapan memang sistemnya beda dengan kita. Dengan demikian, sebagian menganggap itu kurang cocok apabila kita mencoba menirunya.

    Namun, untuk menjadi negara sukses, tentunya tidak langsung-langsungan alias tentunya ada proses yang berlangsung untuk tercapainya kemapanan tersebut. Nah, bagian itu harus kita sorot. Bagaimana mereka masih belum ada apa-apanya, kemudian sedikit demi sedikit berkembang, perlahan-lahan hingga menjadi sebuah negara sukses bahkan menjadi negara superpower (Amerika bisa dijadikan contoh). Kalau kita bisa mempelajari itu semua dengan baik dan mengaplikasikannya secara tepat, bukan tidak mungkin Indonesia bisa sukses.

    -> sepakat. di luaran sana ada jurusan seperti Asian Studies atau lebih spesifik: Indonesian Studies. kita tinggal “membalikkan” aja.

  6. […] meski kebanyakan malah membuat tulisan saya makin mistis. Tapi tidak semua sih, ada tulisan soal sepakbola juga […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: