Telusur Sejarah Aksara Jawa

Carakan atau disebut juga Dentawyanjana adalah sistem penulisan tradisional masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali. Sebagai sistem tutur, bahasa Jawa dipakai setidaknya oleh sekitar 150 juta jiwa di seluruh dunia. Sayangnya, kini hanya sedikit orang Jawa yang masih tahu dan menggunakan Carakan untuk menulis bahasa ibu mereka.

Aksara Jawa

Contoh Carakan atau aksara Jawa. (Wikipedia)

Pada abad ke-19 VOC, yang demi kenyamanan mereka sendiri dan tak mengindahkan estetika, budaya, dan pentingnya sejarah Carakan, menggantinya dengan abjad Latin.

Carakan mungkin adalah contoh terbaik untuk menggambarkan ikatan budaya yang mendalam peradaban dengan Hindu. Bentuk Carakan didasarkan pada sistem aksara Hindu, Brahmin. Kedua bahasa tulisan berbagi struktur suku kata yang sama. Bahkan, aksara, kata Jawa untuk suku kata adalah sama dengan bahasa Sansekerta “Akshara” atau अक्षर.

Dalam Carakan, konsonan tunggal disertai dengan bunyi vokal. Untuk mengubah atau menghilangkan vokal, penulis hanya perlu menambahkan tanda kecil yang dikenal sebagai “sandhangan swara” atau “pangku”. Konsonan-konsonan dalam aksara ditulis dengan menambahkan bentuk konsonan, yang dikenal sebagai “pasangan”,untuk konsonan utama.

Ada pula bentuk konsonan yang disebut “Aksara Murda”, yang dapat digunakan untuk menulis nama. Bentuk-bentuk dan kombinasi sistem aksara ini terbilang ekonomis. Carakan terdiri 22 konsonan dan 6 vokal.

Setelah berabad-abad tradisi kaligrafi tradisional ini, seperti di belahan bumi lain, secara berangsur tergusur oleh sistem tipografi yang dikembangkan dan dipakai secara luas pada abad ke-19. Sejak itu, Carakan telah direduksi hanya sebagai alat untuk menjelajahi khasanah sejarah yang kaya dari bahasa dan sastra Jawa.

Dengan bergantinya generasi ke generasi, pengguna fasih Carakan kian berkurang. Maka, keputusan VOC mengganti Carakan dengan abjad Latin boleh jadi adalah tindakan yang disengaja untuk melakukan agresi intelektual.

Namun, apakah benar hal itu agresi atau hanya sebentuk keegoisan, tak diragukan lagi, pemaksaan penggunaan abjad latin berkontribusi terhadap penambahan jarak antara generasi muda Indonesia dengan budaya mereka sendiri. Ini adalah contoh lain dari warisan kolonial.

Melalui pemahaman tentang warisan pra-kolonial, kita bisa mulai membebaskan diri dari rasa rendah diri (inferiority complex) yang hingga kini masih masih mencengkeram sebagai dampak lanjutan dari dari penindasan kolonial (sebuah korporasi global).

Akan tetapi, kita mungkin tak perlu mundur ke belakang untuk mengembalikan atau memperkuat jati diri kita sebagai bangsa. Kita tak harus menolak modernitas atau mengabaikan perkembangan sejarah selama 400 tahun terakhir.

Namun, kita semestinya bisa melihat diri sendiri secara menyeluruh dan independen terlepas dari kekangan (apapun bentuknya) dari para penindas kolonial masa lalu. Bila kita punya waktu untuk mempelajari dan memahami Carakan, mungkin itu adalah salah satu langkah dalam perjalanan memahami jati diri.

Courtesy: SDIJ

Perihal

Cuma seorang pengelana yang bebas berkeliaran.

Tagged with: , ,
Ditulis dalam Renungan, Umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: