Mengenal Diri: Gagasan, Persepsi, dan Realitas

“Orang sering mengalami kesulitan karena tidak mengerti diri sendiri. Kesulitan tersebut dapat diselesaikan bila orang mengerti diri sendiri. Maka, mengetahui diri sendiri dapat menyelesaikan berbagai macam kesulitan.” – Ki Suryomentaram

Itulah esensi dari ajaran kejawen (menurut pemahaman saya). Mengenal atau memelajari diri sendiri dari beragam aspek (atau mungkin seluruhnya).  Melalu pengenalan terhadap diri, seseorang diharapkan mampu menguasai / mengendalikan diri. Artinya, manusia telah berkuasa terhadap dirinya sendiri. Mengingat ada tiga diri dalam ajaran kejawen pada umumnya (raga, jiwa, dan sukma), maka diri yang dianggap paling layak berkuasa adalah sukmanya (ruh).

Menurut Sunan Bonang dalam “Suluk Wujil”, raga manusia seharusnya hanya menurut saja. Menurut tafsir saya, raga adalah kendaraan sang sukma dalam mengarungi kehidupan di dunia. Dialah sang pengendara, yang pernah saya gambarkan sebagai sosok ksatria yang mengendarai kereta kuda. Raga ibarat kereta kuda, sedangkan hawa nafsu adalah kuda-kudanya. Dua-duanya mesti dikendalikan. Alat kendali yang dimaksud adalah jiwa, kesadaran mental manusia.

“Kang kula nut menggah ing sak karsanipun, saosiking cipta, badan kula anglampahi, raga kula sayekti manut kewala.”
(Yang saya ikuti adalah apapun karsanya, semua gerak cipta, badan saya menjalani saja, raga saya hanya menurut perintahnya). – cuplikan Suluk Wujil

Masalahnya, panca indera raga manusia hanya mampu mengenali hal-hal yang ada dalam dimensinya saja. Sains lebih banyak mengeksplorasi dimensi fisik. Untuk wilayah mental ada ilmu psikologi, tetapi untuk dimensi spiritual Jawa (sukma) setahu saya belum banyak digali. Umumnya dianggap tidak logis, non-empiris, mistis, dan sebutan lainnya. Jadi, untuk wilayah spiritual ini menurut saya adalah wilayah klaim saja, bagi mereka yang telah mengalami dan memahaminya.

Sifatnya sangat personal, sangat tergantung pengalaman hidup dan kesadaran seseorang. Kalau buat orang Jawa, wilayah spiritual adalah wilayah rasa. Bukan rasa dalam pengertian ragawi pastinya. Barangkali karena pengetahuan spiritual biasanya sulit dijelaskan dengan kata-kata, spiritualis masa lampau (maupun masa kini mungkin) lebih senang menggunakan karya sastra yang bisa ditafsirkan secara bebas. Keterbatasan teks kalau menurut si Pejalan Keparat™.

Pengetahuan Diri

Kembali ke soal pengetahuan diri, pelajaran untuk ini oleh Ki Mentaram disebut ‘pangawikan pribadi’ atau “pengetahuan diri sendiri”. Ini adalah pengetahuan jiwa atau ilmu psikologi Jawa. Meskipun jiwa tak dapat ditangkap oleh panca indera, tetapi orang merasa bahwa jiwa itu ada. Karenanya,  terminologi yang dipakai adalah rasa (selanjutnya saya sebut rahsa saja). Jadi, pangawikan pribadi bisa diartikan pengertian terhadap rahsa manusia. Untuk membedakan dengan sensasi ragawi (plus nafsu) yang juga disebut rasa, beliau menyebutnya rasa yang dangkal.

Jika orang sudah biasa mengetahui rasa yang dangkal, orang mulai mengetahui rasa yang dalam (rahsa). Meskipun rasa dangkal itu mudah diketahui, tetapi orang sering tidak menyadari. Lebih lanjut, diri dangkal dapat mencatat atau memotret. Mencatat atau memotret maksudnya memiliki persepsi (dengan kemampuan panca indera) terhadap suatu realitas atau kenyataan.

Orang yang melihat sesuatu berarti memotret sesuatu tersebut. Misal orang melihat meja, maka ini artinya orang tersebut memotret meja dalam benaknya, lalu terciptalah potret meja di kepalanya. Potret meja tentu bukanlah meja. Meja dan potret meja adalah dua hal yang terpisah, tidak ada sangkut pautnya. Demikian juga ketika mendengar sesuatu (misalnya mendengar lagu), orang bisa memotret lagu. Potret sebuah lagu juga tidak sama dengan realitas lagu. Selain itu, orang dapat memotret dengan indera yang lain (pembau, peraba, dan perasa).

Selain memotret hal-hal yang dapat ditangkap oleh panca indera, orang dapat pula memotret rasa (dangkal). Jika merasakan haus, orang tersebut memotret rasa haus, lalu di dalam benaknya ada potret rasa haus. Persepsi soal rasa haus tersebut juga bukanlah realitas rasa haus. Menyadari bahwa diri kita dapat memotret itulah yang disebut mengetahui diri yang paling dangkal. Selanjutnya, orang dapat melangkah lebih jauh untuk mengetahui diri yang lebih dalam.

Gagasan

Selanjutnya, selain bisa memotret (kemampuan mempersepsikan) sesuatu,  orang dapat pula menggagas / mengarang / mengkhayal. Misalnya, orang menggagas  kuda terbang berkepala manusia. Dalam benak orang itu lalu tercipta gambaran kuda bersayap dan berkepala manusia. Gambar “makhluk gaib” itu bukanlah potret, melainkan gagasan saja sebab barang yang dipotret sesungguhnya tidak ada. Ini bisa disebut gagasan murni, tidak perlu logis. Dengan kata lain, gagasan mengenai makhluk aneh itu tidak bisa dipersepsikan atau dipotret karena tidak nyata.

Master Yoda

Master Yoda

Selain menggagas, orang pun mampu mencipta. Umpamanya, mencipta sebuah payung. Sebelum dicipta, sesuatu yang disebut payung itu tidak ada. Yang ada hanya gagasan mengenai bagaimana melindungi badan supaya tidak basah saat kehujanan. Selanjutnya orang mencipta gambaran konsep yang kemudian dinamai “payung” lalu diwujudkan menjadi karya yang nyata, yaitu sebuah payung betulan yang bisa dipersepsikan atau dipotret. Bandingkan dengan gagasan kuda bersayap berkepala manusia di paragraf sebelumnya.

Banyak hal di alam nyata yang merupakan karya cipta manusia. Karya-karya itu sebagian adalah buah dari gagasan juga sebenarnya.  Kendati demikian, ada gagasan yang dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang nyata, namun ada pula gagasan yang hanya bisa tetap di dalam kepala, tidak dapat diwujudkan menjadi barang. Jadi menurut beliau, mencipta dan menggagas itu sejatinya berlainan.

Konflik

Manusia pada dasarnya bebas menggagas apa saja yang diinginkannya. Oleh karena itu, gagasan tiap individu bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bila tidak dikenali dan dibedakan dengan potret (persepsi) serta realitas, gagasan dapat meimbulkan konflik atau perpecahan. Pasalnya, orang-orang yang mempunyai gagasan yang sejenis cenderung ingin berkelompok. Bila mereka bertemu dengan gagasan kelompok lain yang berbeda, bisa saja terjadi pertempuran. Awalnya mungkin hanya perdebatan saja, tapi tidak mustahil bisa berujung perang betulan.

Meskipun yang menyebabkan perang itu sebenarnya hanya gagasan, tetapi adu mulut, tembak-menembak, serta bunuh-membunuh terjadi betulan. Misalnya, ada sekelompok orang merasa celaka (malang nasibnya), segala usaha untuk mendapat kebahagiaan berujung kegagalan. Mereka lantas menggagas: Kalau negara diatur “begini” orang akan bahagia. Ada kelompok lain lagi menggagas: Kalau negara diatur “begitu” pasti kita akan bahagia. Padahal, apa yang mereka sebut “begini” dan “begitu” sebetulnya baru berbentuk gagasan, bukan potret maupun realitas.

Contoh lain, gagasan bahwa teh, kopi, dan limun rasanya enak, sedangkan yang lain dianggap tidak enak umpamanya. Minuman enak dan tidak enak adalah gagasan yang diajarkan oleh lingkungan. Tubuh manusia (tanpa jiwa) sejatinya tidak memiliki selera tertentu. Ini pun jika tidak dipahami dapat menimbulkan masalah. Minuman enak bagi orang yang sedang haus sesungguhnya bukan menjadi soal. Jadi teh, kopi, dan limun enak adalah gagasan, bukan potret. Bila gagasan tersebut dianggap potret, manusia dalam hidupnya akan berlomba memperebutkan teh, kopi, dan limun.

*tidak membuka praktik konsultasi*😎

Perihal

Cuma seorang pengelana yang bebas berkeliaran.

Ditulis dalam Pemikiran, Pengalaman, Pengamatan, Renungan, Umum
106 comments on “Mengenal Diri: Gagasan, Persepsi, dan Realitas
  1. sigid mengatakan:

    Pakde, cen “ndelok githok-e dewe” itu salah satu hal yang susah dan seringkali dianggap ndak penting karena salah kaprah keyakinan bahwa “yang paling tahu kita ya kita sendiri”. Padahal … parah😀

    Lha kalau udah gitu terus merasa paling benar.

    Melatih kepekaan rasa itu susah je pakde, butuh andhap asor dalam artian yang luas. Tapi membaca ulasan pakde yang berat abis ini, sepertinya layak diperjuangkan:mrgreen:

    *aku ra kabeh dong lho isine😀 *

    • S™J mengatakan:

      padahal menurut ki sm, yg merasa paling benar itu si ego, aku kramadangsa. setuju… memang sulit dan butuh usaha dan latian yg lama, tapi layak diperjuangken.😎

  2. sigid mengatakan:

    Btw, kok sekarang namanya S TM J:mrgreen:

  3. Lambang mengatakan:

    Menurut saya, rahsa adalah alam bawah sadar yg sudah tahu persis apa yang harus dilakukan. Sayangnya, alam sadar (pikir) mendefinisikan sendiri berdasar pengalaman dan jarene. Akibatnya alam sadar yg mendominasi kehidupan. Sendainya semua kehendak sadar itu dihilangkan atau dikendalikan, maka kontrol kehidupan akan dikembalikan kepada yang berhak.

    • S™J mengatakan:

      maxutnya atas sadar kali? kalo bawah sadar kan bisa dibentuk didikan masa lalu. pelaku kekerasan itu kan pengaruh bawah sadar.😕

      • Lambang mengatakan:

        “Didikan masa lalu”… Apa bukan dari afirmasi tanpa sadar tentang kebaikan/keburukan yang berkelanjutan dari masa lalu?

        “Pelaku kekerasan”… Mangsute™ mereka rada mabok gitu? Apa bukan karena tolok ukur kebenarannya sudah bergeser karena pengaruh lingkungan misalnya?

        *mohon pencerahan… mudah-mudahan saya salah*

        • S™J mengatakan:

          @ lambang

          didikan ortu, guru, teman, lingkungan, dll. orang klepto itu tidak niat mencuri konon, tapi ada keinginan bawah sadar untuk mengambil. orang menjadi galak itu juga belum karena dari sononya galak, tapi mungkin pernah menjadi korban kekerasan orang tua. walaupun pengennya gak galak, dari alam bawah sadarnya ada dorongan ngamuk tiap kali ada sesuatu yg dianggap gangguan atau kesalahan. kecenderungan yg pelakunya sendiri mungkin tidak sadar dari mana asalnya ataupun alasannya. kira2 gitu…

  4. kangBoed mengatakan:

    waaaaaaah.. dah terlalu banyak ya mBaaaah pasiennya.. jadi nyang bisa daftar.. hanya nyang sudah terdaftar saja.. *geleng geleng*.. *manggut manggut*.. untung dah daftaaaar.. hihihi.. *ngelirik atas*.. waaah.. makin mantabs surantaaabs.. koncoku.. boloku.. mBaahku.. siiiiiiiiip… ngikuuuuuuut.. setuju sama commentnya.. hmm.. mBaaaah Lambang.. alam sadar.. alam bawah sadar.. yayaya.. kalau alam atas sadar.. cuba dijelaskan sekalian mBaaaah..
    Salam Sayang
    Salam Taklim
    Salam Hormat

  5. bajava mengatakan:

    Hmmmm….apakah mirip dengan filsafatnya Rene Descartes, saya berpikir maka saya ada.

  6. frozen mengatakan:

    membicarakan kejawen, jelas sudah bahwa postingan ini adalah salah satu bentuk kesesatan yang nyata ™

  7. m4stono mengatakan:

    salam kenal,
    saya sangat setuju sekali bahwa ilmu mengenal diri sendiri itu sangat penting, lebih mudah pakai cermin(orang lain), yg lebih sulit tanpa orang lain(meraba-raba sendiri). lebih dalam lagi apabila mengenal diri sendiri maka akan mengenal tuhan dan mengetahui bahwa esensinya tubuh manusia hanyalah wayang juga kita semua adalah sama dan terhubung satu sama lain(hidden connection)

  8. Yari NK mengatakan:

    Bagian yang tersulit dari mengenali diri sendiri adalah mengidentifikasi kelemahan sendiri, dan mengakuinya sebagai sebuah kelemahan. Hal tersebut mungkin terbentur pada ego manusia yang relatif tinggi. Masalahnya jika kita tidak dapat mengakui sebuah kelemahan diri sebagai sebuah kekurangan, bagaimana kita akan memperbaiki diri kita sendiri?? Lain halnya dengan menunjuk-nunjuk kelemahan orang lain, biasanya kita paling jago deh dalam soal itu… huehehe…..

  9. siponang mengatakan:

    mulat sarira hangrasa wani nggih pak dhe?

  10. sayang heulang mengatakan:

    kulo nuwun…sedulur-dulur

    kata orang arab” konsep pengenalan diri
    1.man arofa nafsahu wakod arofa robbahu siapa yang kenal dirinya maka kenal akan tuhannya.caranya
    2,almautu qoblal mautu
    matilah kamu sebelum kamu mati /kisabdo langit udah pakarnya.
    3.baru masa pencerahan ( alloh ismun lizzatul wajibul wujud)
    4tingkat alinsanu sirruhu waana sirrohu
    manusia rahasia aku aku rahasia manusia
    untuk tahu tahu rahasia harus ahu rasa dulu,ngaji rasa,
    1ngaji rasa menurut jasmani
    sehat -sakit karena jasmani kita yang merasakan sehat atau sakit .pada saat sehat kita harus bersikap apa atau sebaliknya
    2. ngaji rasa menuru rohani
    senang- susah karena rohani kita yang merasakan,pada saat senang kita harus bersikap apa,atau sebaliknya
    3. nngaji rasa nurut rasa
    benarkah saya selama ini ?
    salahkah saya selama ini?
    jujurkah saya selama ini terhadap diri?
    bos numpang lewat ya

  11. casual cutie mengatakan:

    wow…ko fotonya pake foto wisnu??? emang mba orang hindu ya?? hindu jawa??

  12. SufiMuda mengatakan:

    Diri sebenarnya yang datang dari Allah, yaitu Nur Ilahi. Lewat itulah kita bisa menemukan segalanya, termasuk diri dan Tuhan…

    mmm… Mas, mo nanya ni,
    gmana ya cara buat icon di blog🙂

  13. illuminationis mengatakan:

    Mba Siti, jadi yang perang karena gagasan itu karena rebutan/ urusan kuda yah…

    • S™J mengatakan:

      he he he… ya mirip anjing yg mengejar ekornya sendiri itu barangkali. menurut ki mentaram, perang itu awalnya bisa juga lantaran menyimpan rasa yg tidak baik kepada sesama. dari situ muncul gagasan buruk tentang orang lain… dan berlanjut sampai perang betulan.

  14. kangBoed mengatakan:

    hmm.. *geleng geleng*.. hehehe.. pantesan ternyata wanita yaaaaaa.. *mangut muka merah*.. tak pijatin kemaren kulitnya halus.. jadi malu.. ampun.. maaf yaa mbaaaaaak siti..
    Salam Sayang

  15. Lambang mengatakan:

    Lho…lho… *ikut geleng geleng*… ternyata wanita…
    halah.. halah… padahal selama ini saya panggil Kang…. ikutan minta maaf Mbak Siti..
    Menjura berkali-kali…

    Salam.

  16. Sawali Tuhusetya mengatakan:

    tiba2 jadi teringat lakon “bimasuci”, mas jenang, ketika bima harus mencari “gung susuhing angin” di tengah kedalaman samudra. tekadnya yang kuat telah membuat bima berhasil mengatasi semua halangan dan rintangan hingga akhirnya bertemu dengan “dewi ruci” yang konon merupakan cermin dari sang bima sendiri. ternyata, bukan hal yang mudah utk bisa mengenali diri sendiri.

  17. Maren Kitatau mengatakan:

    Kenapa mendadak begitu, Kang!
    Alon alon asal kelakon nyampe,
    Buru-buru spt repormasi bablas!

    Salam Maya!

  18. Lumiere mengatakan:

    *teringat kembali percakapan di rumah illuminationis dulu*
    hmm… mbah, nganu..

    tidak membuka praktik konsultasi

    *keder* Oh.., mboten sios pun, moggo..
    *muleh*

  19. Maren Kitatau mengatakan:

    Wah!
    Tombol balasnya nggak fungsi!

    @Fitri

    DEWA sa! (kali)

    Salam!

  20. zal mengatakan:

    ::sepertinya Suryomataram sudah menyedarhanakan tujuan pencarian ya Kang SJ..??, mengapa perlu mengenal diri agar dapat memahami akan hal yang sepetinya juga harus dialami diri, yang dibahasakan sebagai kesulitan jika keadaan itu menyesakkan, dan sebutan menyenangkan jika keadaan itu melegakan…
    ha..ha..seringnya ada yang memandang hebat apa yang “dipertemukan”, padahal keadaan-keadaan yang wajib datang pada diri seseorang, ya..kudhu datang, dan sang diri wajib menjalani…,
    sering juga dipertontonkan ada yang sudah dipertemukan eh..mengeluh…, anehnya yang gak kebagian pertemuan malah bisa menerima dengan nyaman…he..he…, sederhana tujuannya…meski rumit pencariannya…namun tetap, yang lebih rumit lagi praktik menjalaninya… *ngelesod..”

    • zal mengatakan:

      lho…koq jadi masuk pada urutan 20 sich…pancen blognya kang siti josss. tenannnn…

    • S™J mengatakan:

      he he he… ya, sebenarnya sudah sangat sederhana. wejangan ki mentaram ini kan ditujukan buat penduduk desa sekitar rumah beliau. cuman emang praktikny tak semudah wejangannya. tapi setidaknya udah ada ancer-ancer…:mrgreen:

  21. Ngabehi mengatakan:

    Mulat sarira hangrasa wani, yen wis kenal dirine terus dadi dewo mangejo wantah.Apengawak manungso nanging sejatine dewo.*minum stmj mulu jadinya makin sakti*

  22. Tito mengatakan:

    Mengenal diri sendiri… itu sulit bukan hanya karena butuh pengertian mendalam, melainkan juga karena diri kita selalu berubah. misalnya: diri saya saat ini jauh berbeda dengan diri saya 5 tahun lalu…

    seperti yg dikatakan Heraclitus: “anda tak bisa menyeberangi sungai yang sama dua kali” karena “sungai” tersebut terus mengalir (anda bisa mengganti kata “sungai” dengan “jiwa”, dan kata “menyeberangi” dengan “mengenali”)

    • S™J mengatakan:

      @ Tito

      he he he… betul itu kalo yg dikenali hasilnya. tapi ada hal-hal yg asalnya dari dalam, yg tetap dan menjadi penyebab.

    • Maren Kitatau mengatakan:

      @Tito

      Sama ngak dgn begini,
      Perenunganku:

      Tadi aku daging,
      Nanti aku roh,
      Kini aku jiwa.

      Salam Pikir Tiga!

    • Dalbo mengatakan:

      sebenarnya bukan sungai yg menglir tapi Airnya saja, tapi kalau mau lewat beberapa kali lagi ,ya..ikut lah mengalir seperti air sungai itu, nopo mekaten mas, ngapunten nggih..

  23. Toga mengatakan:

    Manusia tidak dilarang untuk memiliki gagasan apapun. Yang salah barangkali, memaksa orang lain untuk menyetujuinya.

    Bisa menerima bahwa orang lain berpikir berbeda, saya kira adalah salah satu puncak kearifan manusia. Semakin kita yakin dengan pendapat kita, mestinya semakin bisa pula kita membiarkan orang lain dengan keyakinannya.

    *ngga pake halah*

  24. sabdalangit mengatakan:

    Wah sedap membaca suguhan kopi hangat dari Kang Jenang yg benar2 menyegarkan dahaga spiritual…matur nuwun Kang sudah berbagi ngelmu.

    Ada hal yg menarik dalam tulisan Kang Jenang, saya coba untuk menulis pemahaman saya atas tulisan Kang Jenang, jika salah mohon dikoreksi.

    Bahwa di dalam diri manusia terdapat percaturan antara Sukma Sejati-Jiwa-Raga. Jiwa/soul/nafas/hawa/nafs berada di tengah bebas memilih mau berkiblat ke mana. Mau ke sukma sejati, atau ke raga. Jika berkeblat kepada sukma sejati (yg diberi wejangan kebenaran oleh sang rahsa sejati/rasa pangrasa/sirulah) maka jiwa menjadi an nafsul mutmainah, atau nuruti kareping rahsa. Sebaliknya jiwa yg ngikut jasad/nafsu ragawi namanya menjadi nuruti rahsaning karep.

    Nah, mengenai perang dan konflik gagasan sebagaimana dikemukakan Kang Jenang sepadan dalam konsep Weberianism (idealisme) yg sepakat bahwa ide/gagasan merupakan generator perubahan. Bermula dari ide, gagasan, selanjutnya manusia berusaha mewujudkannya menjadi sesuatu yg nyata. Dan ide berkembang secara dinamis, menghasilkan dinamika perubahan. Namun Pak Ralf Dahrendorf sang pencetus konflik teori menambahi, bahwa bermula dari gagasan atau ide muncul pertentangan dan terjadilah konflik. Dan berawal dari adanya konfik kemudian menjadi kearah perubahan positif jika dikelola secara tepat dan baik.

    Persoalannya kemudian, manusia yg tidak mengenal jati diri, akan bernasib sial, tak mampu membedakan antara imajinasi subyektif dengan noumena yang obyektif. Apalagi dalam memahami yg gaib, banyak yg tak sadar telah melakukan imajinasi kosong. Sehingga muncul terminologi hantu MEMEDI. Singkatan dari “memet ing budi”. Memedi tentu bukanlah potret, namun imajinasi. Dan di dalam wilayah gaib memang sulit membedakan antara “memedi” dengan potret yang ada sebagai eksistensi gaib.

    Untuk mempertegas mana “memedi” mana eksistensi gaib, diperlukan peran sang guru sejati sebagai pembimbing roh. Guru sejati sebagai “manifestasi” dari rahsa sejati kita. Maka perlulah olah rahsa yakni rasa pangrasa, sebagaimana Kang Jenang sebutkan.

    Sayangnya, orang zaman sekarang lebih suka ngenak-enak, ongkang-ongkang kaki, cukup tahu dari ujare, kandane, omonge, ceunah ceuk ceunah, dan apa kata buku. Hanya dengan bekal omonge tapi sudah merasa diri sangat benar, sehingga ide dan gagasan di luar dirinya ditimpuk dgn tuduhan sesat.

    “Durung becus kesusu selak besus”
    “Amaknani rapal”
    “Kåyå sayid weton mesir”
    “Pendhak pendhak angendhak”
    “Gunaning jalmå”

    salam sejati
    Rahayu
    Sesanti
    salam asih asah asuh

    • S™J mengatakan:

      @ Mas Sabda

      Persoalannya kemudian, manusia yg tidak mengenal jati diri, akan bernasib sial, tak mampu membedakan antara imajinasi subyektif dengan noumena yang obyektif. Apalagi dalam memahami yg gaib, banyak yg tak sadar telah melakukan imajinasi kosong. Sehingga muncul terminologi hantu MEMEDI. Singkatan dari “memet ing budi”. Memedi tentu bukanlah potret, namun imajinasi.

      he he… rebutan angan-angan doang sampek perang. makasih… manstap nih masukannya…😎

  25. edratna mengatakan:

    Saya baca dulu, harus dengan tenang untuk bisa memahami, bahasanya tingkat tinggi

  26. hidayat mengatakan:

    rahayu..
    kalau dibilang ilmu tingkat rendah begini:
    kalau kita mou kenal diri secara lahir
    maka akan kenal bapak dan ibu kita masing-masing
    tapi juga aneh mau nyekar/ziarah kemakam para
    wali eh nabi sekalipun juga lupa sama bapak sendiri.
    tapi juga benar begini kalau anak balita makan
    kita orang tua menyuapi, entar bisa makan sendiri
    menyuapi dan makan sendiri juga sama benarnya
    ketika siti jenar asik masuk kedalam dirinya sendiri
    tidak butuh baju koko, kopyah dan masjid kemudian
    didemo para wali. sekali lagi keduanya bener juga..
    he he he dan wk wkw kw juga sama juga…😀:mrgreen:
    wass wb

  27. airsetitik mengatakan:

    Silahkan kunjungi kami di http://airsetitik.tk

  28. tomy mengatakan:

    mituhu dhateng salira pribadi

    panjenengan punapa asring nindaki junggringan wonten Beringin?

  29. agus mengatakan:

    memahami diri sama saja dengan mengakui kelemahan-kelemahan yang kita miliki.
    hal itulah yang susah di lakaukan oleh rata2 manusia dan biasanya terkalahkan oleh ego yang di besar-besarkan….

    SAlam kenal…😀

  30. Dalbo mengatakan:

    Om Jenang… katanya dlam diri manusia ini tidak sendirian, katanya ada sedulur papat limo pancer, apa itu termasuk bagian dari diri yg perlu di kenali?, dan kalo begitu kita perlu mbalik ngenali leluhur2 kita dulu ya?, karena itu cikal bakal kita.

    • S™J mengatakan:

      @ Dalbo

      kalo menurut pemahaman saya sih semua itu manifestasi diri kita. ada warna yg melambangkan sifat2… semua perlu dikenali dan dipahami. melupakan leluhur sama saja melupakan diri sendiri… mengingat sejarah adanya kita ya dari leluhur itu.

  31. Abdul Cholik mengatakan:

    -banyak orang yang mengenal diri orang lain daripada dirinya sendiri ya.
    -Teriak-teriak si ini neolib,si ini lamban,si ini peragu. Hla….dirinya sendiri menghakimi orang kok gak tahu tho…ha..ha.ha
    -salam

  32. hitam mengatakan:

    Siapakah diri ini ? diri itu tubuh dan ruh.Tanpa ruh tubuh membangkai,tiada daya dan upaya.Ruh penggerak seluruh aktifitas tubuh:melihat,merasa,memegang dll.Dia berkuasa mutlak atas segala sesuatu.Siapakah Ar Ruh ?

  33. hitam mengatakan:

    Jika dianggap manusia itu ada,ia cuma panca indera
    tak lebih dan tak kurang dan selalu terjebak dgn persepsi didaerah tsb.Rahasia Diri inilah yng mesti diurai sedalam dalamnya……

  34. Maren Kitatau mengatakan:

    Mengenal diri … tubuh-jiwa-roh!

    Kalau utk mengenal tubuh ya melalui kaca,
    Kalau utk mengenal jiwa melalui kata,
    Kalau utk mengenal roh … via minpi?

    Salam Damai!

    • hitam mengatakan:

      Jiwa/ruh/nyawa sama artinya,ia cuma berbeda dlm segi kata.Penting untuk diteliti siapakah Ruh,yang menguasai seluruh perbuatan,nafsu baik/jahat dan perasaan2 makhluk?

    • hitam mengatakan:

      Sdr.Maren,salam kenal,bgmana menurut sdr.maksud kalimat TIADA DAYA DAN UPAYA SELAIN ALLAH ?

      • Maren Kitatau mengatakan:

        @hitem

        Tak ada daya, tak ada upaya, ada Allah.
        Kalimat itu belum lengkap rasanya.
        Coba lengkapi utk didiskusikan.

        Salam Damai!

        • hitam mengatakan:

          Insan tidak mempunyai daya dan upaya,apa yg dperbuat/dikerjakan,dirasakan,bukanlah hasil perbuatannya,ia menyangka telah melakukan sesuatu.Melakukan dgn sungguh2,penuh perhitungan dsb,anehnya ketika ruh pergi/kematian dtg,si insan terbujur kaku.Tak berdaya.Jadi siapakah penggerak si insan ketika msh hidup?.Menurut saya Ruh lah yg melakukannya,dlm hal ini ATAS PERINTAH ALLAH/ALLAH sendiri yg melakukan…….

        • Maren Kitatau mengatakan:

          @Hitam

          Ya!
          Aku setuju dengan mu, Kang!

          Insan tanpa roh tak berguna,
          Insan tanpa jiwa tak berdaya,
          Insan tanpa tubuh tak berupaya.

          Yang manakah yang utama,
          Dlm hidup dan berkehidupan?
          Begitu maksudmu, kan!

          Salam Damai!

        • hitam mengatakan:

          Lagu Dewa/Ahmad Dhani judul Satu.
          syairnya al.Aku ini adl DiriMu,jiwa ini adl JiwaMu,cinta ini adl CintaMu……..Dgn MataMu aku melihat,dgn LidahMU aku bicara……..
          Si insan merasa melihat,bicara………….

    • hitam mengatakan:

      Ruh yang DITIUPKAN Allah pada penciptan manusia.Kalau roh,saya mmg tak faham..

  35. batjoe mengatakan:

    ya … bener mas diri itu yang paling sulit adalah mengenal dirinya sendiri cm ya anehnya suadh ndak tahu dirinya sediri masih suka nyelain orang lain!!! ya seperti saya ini sukanya nyela melulu mungkin udah bakat kali ya mas…

    ah… nafas saja masih dipinjemin ya mas kok masih saja belum kenal diri..

    salam kenal diri dan salam untuk si gitar tuanya…

  36. Johnd228 mengatakan:

    There is clearly a bundle to realize about this. I suppose you made some good points in features also. dgedgkdkaeac

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: