Permohonan Sang Begawan

Saat penanggalan kerajaan menunjukkan angka 15, tanda datangnya bulan purnama, Begawan Jayengkedaton mengadakan mengadakan ritual untuk memilih pimpinan. Seorang calon penguasa negeri yang tengah porak-poranda dilanda krisis mutidimensi, termasuk dimensi keyakinan. Langit gelap, mendung tanpa menurunkan setetes pun hujan. Mungkin rahmat dari langit sudah benar-benar terangkat. Ribuan orang ikut menundukkan kepala. Sambil memohon ampun dosa-dosa. Mereka ingin menyaksikan juga kedatangan Sang Utusan yang konon pasti muncul pada upacara sakral itu. Di antara mereka terlihat beberapa pejabat negara.

Tibalah saat tengah malam, saat yang dinantikan orang-orang di sekeliling altar. Di langit malam muncul tanda-tanda alam, tanda terkabulnya permohonan. Awan tebal perlahan-lahan menipis, menepis, hingga akhirnya tampak sang rembulan. Bersinar sedikit lebih terang dari biasanya.

Diam-diam para hadirin bertanya-tanya. Inikah tanda-tanda yang sering dibincangkan para rohaniawan itu? Mereka semua begitu takjub memandangi Sang Dewi, seolah baru melihatnya pertama kali.

Memang tak seperti malam lainnya, makin mereka memandangi rembulan, sepertinya makin terang memberi penyinaran. Sinar yang didambakan menerangi jalan negeri yang pernah makmur itu. Tapi, sinar dari benda langit itu tampak kian memutih, kian terang, kian cemerlang. Sampai suatu ketika sinarnya tak lagi mampu dipandangi indera mata kebanyakan orang. Cahaya yang mereka takutkan bisa membutakan. Sebagian akhirnya menutup mata. Tak kuasa dengan cahaya yang datang.

Berbeda dengan sang Begawan Jayengkedaton dan beberapa pengikutnya. Ia justru makin menengadahkan muka. Menyambut kedatangan sosok yang telah dinantinya. Sosok yang selalu dirindunya. Sang Utusan.

Seketika sang Begawan merasakan kedamaian, ketenangan, dan kesejukan. Ia tahu betul sebentar lagi sosok yang ia nanti-nantikan segera memberi pesan. Hatinya mulai bergetar, bergetar, dan makin gemetar. Tak tampak jua sosok itu. Ia hanya bisa mendengar suara. Suara yang bisa meruntuhkan semua bagian tubuhnya hingga ia menempelkan dahi ke lantai altar.

Suara itu berkata:

Aku masih banyak tugas. sampaikan langsung do’amu supaya bisa kusampaikan nanti. Setelah aku kembali.

Sang Begawan sambil masih gemetaran berkata, “Kami ingin memohon restu untuk melakukan prosesi pemilihan Raja kami sendiri. Rakyat telah menentukan pilihannya. Kami masyarakat yang mandiri. Mohon disampaikan do’a kami ini Tuanku. Rakyat sudah terlalu lama menderita. Mudah-mudahan kali ini tak salah lagi pilihan kami.”

Baiklah,” kata Suara itu. “Tapi sebelumnya ingin kuingatkan siapa saja yang pernah kalian jadikan pimpinan.

Ketika kalian menunjuk seorang pahlawan sebagai pemimpin, ia ingin membawa kesejahteraan. Tapi, rakyat banyak melakukan perlawanan.

Ketika ia digantikan ahli keprawiraan, rakyat lebih banyak menjadi korban. Tapi, kebanyakan enggan melawan.

Ketika akhirnya ia tumbang. Ia memilih pengganti, yaitu seorang ilmuwan. Namun, tetap saja jauh api dari panggang. Rakyat menjadi kelinci percobaan.

Setelah itu ada perubahan. Kali itu kalian memilih Agamawan. Tapi, rakyat masih kelaparan. Banyak pejabat lupa daratan. Keadaan tak berubah meski wakilnya sudah menggantikan.

Lalu, kalian mengangkat seorang nelayan yang didampingi usahawan. Rakyat dianggap ikan-ikan. Dijaring untuk dimakan atau dijadikan barang dagangan.

Masih inginkah kalian menentukan sendiri?

Sang Begawan tak lantas menjawab. Ia diam sejenak sambil mengingat apa yang telah dipesankan kepadanya oleh para pejabat pemerintahan. Mereka ingin mengajukan calon-calon dari kalangan mereka sendiri. Tadinya ia cuma mengiyakan, tapi saat ini nuraninya jelas menolak.

“Mohon ampun Tuan. Kami masih ingin menentukan sendiri pilihan,” kata Jayengkedaton lirih.

Baiklah. Siapa calon pimpinan kalian itu. Waktu sudah hampir habis. Dari golongan apa kali ini?

Begawan diam lagi. Dia segera sadar bahwa waktunya tak banyak. Tapi, ia masih ingin memberi penjelasan lebih dulu. Rohaniawan berumur lebih dari satu abad itu ingin mengkhianati amanat para pejabat. Ia ingin memberi usulan sendiri. “Wahai Tuan. Kami adalah masyarakat majemuk. Terdiri dari berbagai suku dan bangsa. Karena itu, saya memutuskan untuk menunjuk pimpinan dari golongan bangsawan.”

Blas… Cahaya itu langsung lenyap. Malam kembali seperti sedia kala. Mendung gelap dan rembulan kembali tak menampakkan wajahnya.

——————— Habis ———————–

Siti Jenang:

Cuma sekadar iseng aja. Tidak ada muatan apa-apa. Terinspirasi tulisan terbaru Kang Ram-ram… he he he…:mrgreen:

Perihal

Cuma seorang pengelana yang bebas berkeliaran.

Ditulis dalam Khayalan, Umum
14 comments on “Permohonan Sang Begawan
  1. zal mengatakan:

    ::seharusnya Sang Bengawan menjawab, Panjenengan aja ngga tahu apalagi kami…,😆 kami sudah cape-cape menunggu keajaiban malah ditanyain… he..he

    -> muahahaha… utusannya mau ada rapat barangkali. gak sempat liat agenda langit.:mrgreen:

  2. antarpulau mengatakan:

    Blas… Cahaya itu langsung lenyap. Malam kembali seperti sedia kala. Mendung gelap dan rembulan kembali tak menampakkan mukanya.

    ——————— Habis ———————–

    ————
    Saya protes…!
    Ceritanya ga boleh Habis… harus dilanjutkan dilain waktu….
    Soalnya seru banget…🙂

    -> dibuat dengan serba kemrungsung. nanti mungkin ada lagi. barangkali.. he he he…

  3. Sawali Tuhusetya mengatakan:

    kyai jenang emang ok banget menggunakan bahasa pasemon, halah. utk ngomong masalah suksesi aja mesti pinjem mulutnya sang begawan. eh, jadi inget pak harto yang lagi collaps, habibie, gus dur, megawati, dan SBY. *halah*
    *berlalu sambil minta didoakan sang begawan jayengkedaton agar diberi keselamatan dan panjang umur di malam 1 syura* *halah*

    -> muahahaha… nyatanya pada gak pede ya.. pake titipan…

  4. Arwa mengatakan:

    minta bocorannya mas jenang siapa seh bangsawan yang di maksud itu…? weh..hee..he…, seru.
    sepertinya sepanjang tahun 2008 ini akan ada tontonan yang mengasyikan.

    =pemerhati yang setia=

    -> sepertinya begitu… tontonan buat bahan pelajaran barangkali…

  5. Ram-Ram Muhammad mengatakan:

    Ruarr biasa…
    Andai saja ada pemimpin yang memiliki semuanya.
    Seorang pahlawan (Soekearno), ahli keprawiraan (Soeharto), Ilmuwan (Habiebie), agamawan (Gus Dur), nelayan (SBY)…

    Kyai Jenang agak sentimen… soalnya karakternya Megawati kok gak ada ya… Wakkakkaak…

    -> muahahaha… buru-buru pulang soalnya. megawati kan sepintas ada, meski gak disebut seorang perempuan putri sang pahlawan.

  6. patul mengatakan:

    Begawan Jayengkedaton.. namanya kok unik sekali ya.. Jayengkedaton = Jaya Ing Kedaton = (yang) Berjaya di dalam keraton. Dari namanya kok seolah-olah memihak kedaton (=tempat para bangsawan) ya? apakah begawan ini juga antek² sang bangsawan?😀

    (asal bukan “bangsawan” (=bangsa hewan) atau “bangsatwan”😀 )

    **elho.. saya kok berkhayalnya kejauhan, dalangnya blm cerita sampe segitu jauhnya, tapi kok udah habis ya??**

    -> silakan kalo mau ditakwil… he he he… mungkin nanti ada cerita lain. bangsawan bukan sekadar turunan, tapi semangat pengabdian. 8)

  7. edratna mengatakan:

    Jadi yang cocok profesinya apa ya….😀

    -> mungkin pilihan disesuaikan denga konteks kebutuhan bangsa barangkali… barangkali… he he he

  8. Moerz mengatakan:

    jadi inget crita ken arok..
    loh..
    hehehehe….

    -> muahahaha…

  9. qzink666 mengatakan:

    Lha, saya kira om Jayakedaton itu beneran tokoh nyata..😀

    -> he he he… kalo punya anak namain aja seperti itu. jadilah kenyataan 8)

  10. watonist mengatakan:

    eh … seorang bangsawan nggak selalu harus dari lingkungan kedhaton kan ??

    -> tergantung apa makna kedaton menurut kang waton. tapi emang bukan dari keturunan aja sebetulnya.

  11. tomyarjunanto mengatakan:

    nandhang duhkita Risang Sungkawa

    amulat sakehing punggawa praja dalasan para pandhita

    tan bisa bangkit pinilih kinarya tuladha

    -> wah istilah basanya dari jaman yang gak saya paham… *geleng-geleng* ada versi terbaru?:mrgreen:

  12. Ngabehi K.M mengatakan:

    Bangsawan iku bangsane wanara, yaitu anoman. Anoman simbol kesaktian, cerdik, jujur dan berani, warnanya putih simbol kesucian. Negara Alengka yang begitu kuat diacak2 sendirian, Jayeng Kedaton. Apa itu yang berjaya di kedaton, tentu saja para bangsawan, kedaton itu ya badan ini, sedangkan bangsawan adalah rohnya. Jadi pemimpin yang dinanti2 adalah pemimpin yang selalu berpegang kepada rohnya bukan hawa nafsunya. gitu loch he eh he

    muahahahaha…. muantep…😎

  13. […] atau empat tautan di atas. Saya hanya memaparkan sesuai perspektif *halah* saya saat ini, sebagai dongeng pribadi. Bila mengakibatkan sakit kepala silakan kunjungi apotek terdekat. Risiko ditanggung […]

  14. […] saya adalah Siti Jenang dong, seorang pengamat amatir falsafah Jawa. Pernah juga mencoba membuat cerita pendek, tapi sepertinya terlalu sulit buat saya. Ada sisi yang rada idealis juga sebenarnya. Saya melihat […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: