Mengenal Diri: Gagasan, Persepsi, dan Realitas
Mei 19, 2009
“Orang sering mengalami kesulitan karena tidak mengerti diri sendiri. Kesulitan tersebut dapat diselesaikan bila orang mengerti diri sendiri. Maka, mengetahui diri sendiri dapat menyelesaikan berbagai macam kesulitan.” – Ki Suryomentaram
Itulah esensi dari ajaran kejawen (menurut pemahaman saya). Mengenal atau memelajari diri sendiri dari beragam aspek (atau mungkin seluruhnya). Melalu pegenalan terhadap diri, seseorang diharapkan mampu menguasai / mengendalikan diri. Artinya, manusia telah berkuasa terhadap dirinya sendiri. Mengingat ada tiga diri dalam ajaran kejawen pada umumnya (raga, jiwa, dan sukma), maka diri yang dianggap paling layak berkuasa adalah sukmanya (ruh).
Menurut Sunan Bonang dalam “Suluk Wujil”, raga manusia seharusnya hanya menurut saja. Menurut tafsir saya, raga adalah kendaraan sang sukma dalam mengarungi kehidupan di dunia. Dialah sang pengendara, yang pernah saya gambarkan sebagai sosok ksatria yang mengendarai kereta kuda. Raga ibarat kereta kuda, sedangkan hawa nafsu adalah kuda-kudanya. Dua-duanya mesti dikendalikan. Alat kendali yang dimaksud adalah jiwa, kesadaran mental manusia.
“Kang kula nut menggah ing sak karsanipun, saosiking cipta, badan kula anglampahi, raga kula sayekti manut kewala.”
(Yang saya ikuti adalah apapun karsanya, semua gerak cipta, badan saya menjalani saja, raga saya hanya menurut perintahnya). – cuplikan Suluk Wujil
Masalahnya, panca indera raga manusia hanya mampu mengenali hal-hal yang ada dalam dimensinya saja. Sains lebih banyak mengeksplorasi dimensi fisik. Untuk wilayah mental ada ilmu psikologi, tetapi untuk dimensi spiritual Jawa (sukma) setahu saya belum banyak digali. Umumnya dianggap tidak logis, non-empiris, mistis, dan sebutan lainnya. Jadi, untuk wilayah spiritual ini menurut saya adalah wilayah klaim saja, bagi mereka yang telah mengalami dan memahaminya.
Sifatnya sangat personal, sangat tergantung pengalaman hidup dan kesadaran seseorang. Kalau buat orang Jawa, wilayah spiritual adalah wilayah rasa. Bukan rasa dalam pengertian ragawi pastinya. Barangkali karena pengetahuan spiritual biasanya sulit dijelaskan dengan kata-kata, spiritualis masa lampau (maupun masa kini mungkin) lebih senang menggunakan karya sastra yang bisa ditafsirkan secara bebas. Keterbatasan teks kalau menurut si Pejalan Keparat™.
Pengetahuan Diri
Kembali ke soal pengetahuan diri, pelajaran untuk ini oleh Ki Mentaram disebut ‘pangawikan pribadi’ atau “pengetahuan diri sendiri”. Ini adalah pengetahuan jiwa atau ilmu psikologi Jawa. Meskipun jiwa tak dapat ditangkap oleh panca indera, tetapi orang merasa bahwa jiwa itu ada. Karenanya, terminologi yang dipakai adalah rasa (selanjutnya saya sebut rahsa saja). Jadi, pangawikan pribadi bisa diartikan pengertian terhadap rahsa manusia. Untuk membedakan dengan sensasi ragawi (plus nafsu) yang juga disebut rasa, beliau menyebutnya rasa yang dangkal.
Jika orang sudah biasa mengetahui rasa yang dangkal, orang mulai mengetahui rasa yang dalam (rahsa). Meskipun rasa dangkal itu mudah diketahui, tetapi orang sering tidak menyadari. Lebih lanjut, diri dangkal dapat mencatat atau memotret. Mencatat atau memotret maksudnya memiliki persepsi (dengan kemampuan panca indera) terhadap suatu realitas atau kenyataan.
Orang yang melihat sesuatu berarti memotret sesuatu tersebut. Misal orang melihat meja, maka ini artinya orang tersebut memotret meja dalam benaknya, lalu terciptalah potret meja di kepalanya. Potret meja tentu bukanlah meja. Meja dan potret meja adalah dua hal yang terpisah, tidak ada sangkut pautnya. Demikian juga ketika mendengar sesuatu (misalnya mendengar lagu), orang bisa memotret lagu. Potret sebuah lagu juga tidak sama dengan realitas lagu. Selain itu, orang dapat memotret dengan indera yang lain (pembau, peraba, dan perasa).
Selain memotret hal-hal yang dapat ditangkap oleh panca indera, orang dapat pula memotret rasa (dangkal). Jika merasakan haus, orang tersebut memotret rasa haus, lalu di dalam benaknya ada potret rasa haus. Persepsi soal rasa haus tersebut juga bukanlah realitas rasa haus. Menyadari bahwa diri kita dapat memotret itulah yang disebut mengetahui diri yang paling dangkal. Selanjutnya, orang dapat melangkah lebih jauh untuk mengetahui diri yang lebih dalam.
Gagasan
Selanjutnya, selain bisa memotret (kemampuan mempersepsikan) sesuatu, orang dapat pula menggagas / mengarang / mengkhayal. Misalnya, orang menggagas kuda terbang berkepala manusia. Dalam benak orang itu lalu tercipta gambaran kuda bersayap dan berkepala manusia. Gambar “makhluk gaib” itu bukanlah potret, melainkan gagasan saja sebab barang yang dipotret sesungguhnya tidak ada. Ini bisa disebut gagasan murni, tidak perlu logis. Dengan kata lain, gagasan mengenai makhluk aneh itu tidak bisa dipersepsikan atau dipotret karena tidak nyata.

Master Yoda
Selain menggagas, orang pun mampu mencipta. Umpamanya, mencipta sebuah payung. Sebelum dicipta, sesuatu yang disebut payung itu tidak ada. Yang ada hanya gagasan mengenai bagaimana melindungi badan supaya tidak basah saat kehujanan. Selanjutnya orang mencipta gambaran konsep yang kemudian dinamai “payung” lalu diwujudkan menjadi karya yang nyata, yaitu sebuah payung betulan yang bisa dipersepsikan atau dipotret. Bandingkan dengan gagasan kuda bersayap berkepala manusia di paragraf sebelumnya.
Banyak hal di alam nyata yang merupakan karya cipta manusia. Karya-karya itu sebagian adalah buah dari gagasan juga sebenarnya. Kendati demikian, ada gagasan yang dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang nyata, namun ada pula gagasan yang hanya bisa tetap di dalam kepala, tidak dapat diwujudkan menjadi barang. Jadi menurut beliau, mencipta dan menggagas itu sejatinya berlainan.
Konflik
Manusia pada dasarnya bebas menggagas apa saja yang diinginkannya. Oleh karena itu, gagasan tiap individu bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bila tidak dikenali dan dibedakan dengan potret (persepsi) serta realitas, gagasan dapat meimbulkan konflik atau perpecahan. Pasalnya, orang-orang yang mempunyai gagasan yang sejenis cenderung ingin berkelompok. Bila mereka bertemu dengan gagasan kelompok lain yang berbeda, bisa saja terjadi pertempuran. Awalnya mungkin hanya perdebatan saja, tapi tidak mustahil bisa berujung perang betulan.
Meskipun yang menyebabkan perang itu sebenarnya hanya gagasan, tetapi adu mulut, tembak-menembak, serta bunuh-membunuh terjadi betulan. Misalnya, ada sekelompok orang merasa celaka (malang nasibnya), segala usaha untuk mendapat kebahagiaan berujung kegagalan. Mereka lantas menggagas: Kalau negara diatur “begini” orang akan bahagia. Ada kelompok lain lagi menggagas: Kalau negara diatur “begitu” pasti kita akan bahagia. Padahal, apa yang mereka sebut “begini” dan “begitu” sebetulnya baru berbentuk gagasan, bukan potret maupun realitas.
Contoh lain, gagasan bahwa teh, kopi, dan limun rasanya enak, sedangkan yang lain dianggap tidak enak umpamanya. Minuman enak dan tidak enak adalah gagasan yang diajarkan oleh lingkungan. Tubuh manusia (tanpa jiwa) sejatinya tidak memiliki selera tertentu. Ini pun jika tidak dipahami juga dapat menimbulkan masalah. Minuman enak bagi orang yang sedang haus sesungguhnya bukan menjadi soal. Jadi teh, kopi, dan limun enak adalah gagasan, bukan potret. Bila gagasan tersebut dianggap potret, manusia dalam hidupnya akan berlomba memperebutkan teh, kopi, dan limun.
*tidak membuka praktik konsultasi*
Mei 19, 2009 at 4:44 pm
Pakde, cen “ndelok githok-e dewe” itu salah satu hal yang susah dan seringkali dianggap ndak penting karena salah kaprah keyakinan bahwa “yang paling tahu kita ya kita sendiri”. Padahal … parah
Lha kalau udah gitu terus merasa paling benar.
Melatih kepekaan rasa itu susah je pakde, butuh andhap asor dalam artian yang luas. Tapi membaca ulasan pakde yang berat abis ini, sepertinya layak diperjuangkan
*aku ra kabeh dong lho isine
*
Mei 19, 2009 at 5:14 pm
padahal menurut ki sm, yg merasa paling benar itu si ego, aku kramadangsa. setuju… memang sulit dan butuh usaha dan latian yg lama, tapi layak diperjuangken.
Mei 19, 2009 at 5:24 pm
Btw, kok sekarang namanya S TM J
Mei 19, 2009 at 5:26 pm
lama-lama ngeri juga pake siti jenang… dikiranya sekti mandraguna…
Mei 20, 2009 at 11:27 am
Hayah …
Eh, Siti Jenang, itu plesetannya Siti Merah itu bukan to pakde …
Mei 20, 2009 at 11:56 am
he he he… iya… *malu*
Mei 19, 2009 at 5:50 pm
Menurut saya, rahsa adalah alam bawah sadar yg sudah tahu persis apa yang harus dilakukan. Sayangnya, alam sadar (pikir) mendefinisikan sendiri berdasar pengalaman dan jarene. Akibatnya alam sadar yg mendominasi kehidupan. Sendainya semua kehendak sadar itu dihilangkan atau dikendalikan, maka kontrol kehidupan akan dikembalikan kepada yang berhak.
Mei 19, 2009 at 7:10 pm
maxutnya atas sandar kali? kalo bawah sadar kan bisa dibentuk didikan masa lalu. pelaku kekerasan itu kan pengaruh bawah sadar.
Mei 20, 2009 at 6:54 pm
“Didikan masa lalu”… Apa bukan dari afirmasi tanpa sadar tentang kebaikan/keburukan yang berkelanjutan dari masa lalu?
“Pelaku kekerasan”… Mangsute™ mereka rada mabok gitu? Apa bukan karena tolok ukur kebenarannya sudah bergeser karena pengaruh lingkungan misalnya?
*mohon pencerahan… mudah-mudahan saya salah*
Mei 22, 2009 at 7:42 pm
@ lambang
didikan ortu, guru, teman, lingkungan, dll. orang klepto itu tidak niat mencuri konon, tapi ada keinginan bawah sadar untuk mengambil. orang menjadi galak itu juga belum karena dari sononya galak, tapi mungkin pernah menjadi korban kekerasan orang tua. walaupun pengennya gak galak, dari alam bawah sadarnya ada dorongan ngamuk tiap kali ada sesuatu yg dianggap gangguan atau kesalahan. kecenderungan yg pelakunya sendiri mungkin tidak sadar dari mana asalnya ataupun alasannya. kira2 gitu…
Mei 19, 2009 at 6:20 pm
waaaaaaah.. dah terlalu banyak ya mBaaaah pasiennya.. jadi nyang bisa daftar.. hanya nyang sudah terdaftar saja.. *geleng geleng*.. *manggut manggut*.. untung dah daftaaaar.. hihihi.. *ngelirik atas*.. waaah.. makin mantabs surantaaabs.. koncoku.. boloku.. mBaahku.. siiiiiiiiip… ngikuuuuuuut.. setuju sama commentnya.. hmm.. mBaaaah Lambang.. alam sadar.. alam bawah sadar.. yayaya.. kalau alam atas sadar.. cuba dijelaskan sekalian mBaaaah..
Salam Sayang
Salam Taklim
Salam Hormat
Mei 19, 2009 at 7:13 pm
kalo perempuan cakep mau *ditimpuk*
Mei 20, 2009 at 12:29 pm
huuuwaaakaakakak.. jangan jangan.. di sayang sayang aja.. hihihi..
Mei 20, 2009 at 12:32 pm
nggaya dulu ah…
Mei 19, 2009 at 6:23 pm
Hmmmm….apakah mirip dengan filsafatnya Rene Descartes, saya berpikir maka saya ada.
Mei 19, 2009 at 7:14 pm
ini versi lain… aku merasa, maka aku ada.
Mei 19, 2009 at 7:02 pm
membicarakan kejawen, jelas sudah bahwa postingan ini adalah salah satu bentuk kesesatan yang nyata ™
Mei 19, 2009 at 7:17 pm
nek keblasuk ya wis nandung slamet…
Mei 19, 2009 at 9:27 pm
salam kenal,
saya sangat setuju sekali bahwa ilmu mengenal diri sendiri itu sangat penting, lebih mudah pakai cermin(orang lain), yg lebih sulit tanpa orang lain(meraba-raba sendiri). lebih dalam lagi apabila mengenal diri sendiri maka akan mengenal tuhan dan mengetahui bahwa esensinya tubuh manusia hanyalah wayang juga kita semua adalah sama dan terhubung satu sama lain(hidden connection)
Mei 20, 2009 at 12:24 pm
Mei 20, 2009 at 10:13 pm
Aku rada setuju, Mba!
Tubuh adalah wayang,
Jiwa adalah dalang.
Setiap hari adalah “Gala”
Roh adalah …?
Mungkin utk show “replay”
Dan bisa utk extra “Akan Main”
-
Salam Pikir Tiga!
Mei 22, 2009 at 7:45 pm
jiwa menurut pemahaman saya bukan dalang, melainkan tangan sang dalang. ruh itulah dalangnya… mau mainin skenario apa aja terserah.
Mei 22, 2009 at 10:29 pm
@SJ
Menurutku,
Roh itu penurut,
Karena dia kuat, dahsyat, abadi.
Tubuh itu penuntut,
Karena lemah gampang lelah,
Makannya kudu rajin makan dan tidur.
Itu dasarku,
Makanya jiwa adalah dalang,
Triger pengarah kesempurnaan hidup kita.
-
Salam Pikir Tiga!
Mei 24, 2009 at 7:55 pm
ooo.. begitu… ya ya ya..
Mei 20, 2009 at 6:06 am
Bagian yang tersulit dari mengenali diri sendiri adalah mengidentifikasi kelemahan sendiri, dan mengakuinya sebagai sebuah kelemahan. Hal tersebut mungkin terbentur pada ego manusia yang relatif tinggi. Masalahnya jika kita tidak dapat mengakui sebuah kelemahan diri sebagai sebuah kekurangan, bagaimana kita akan memperbaiki diri kita sendiri?? Lain halnya dengan menunjuk-nunjuk kelemahan orang lain, biasanya kita paling jago deh dalam soal itu… huehehe…..
Mei 20, 2009 at 12:25 pm
kelemahan itu mungkin saja cuma gagasan, bisa juga persepsi, atau memang realitas…
Mei 21, 2009 at 5:37 am
Orang normal selalu menutup kemaluannya.
Kekurangan diri adalah kemaluannya juga.
Ada kemaluan tubuh ada kemaluan jiwa,
Lalu cari lah kemaluan roh…Perbaiki!
Salam Pikir Tiga!
Mei 22, 2009 at 7:50 pm
@ maren kitatau
kalo kemaluan itu kan bagian tubuh yg bermanfaat juga… kalo kekurangan menurut saya harus ada pembandingnya dulu, siapa atau apa yg dianggap lebih.
Mei 22, 2009 at 10:42 pm
Kelemahan itu,
Dekat dgn kemaluan
Aku baru ngeposting
“Ada tiga kemaluan”
Pls tanggapannya, Mba!
-
Salam Pikir Tiga!
Mei 20, 2009 at 8:33 am
mulat sarira hangrasa wani nggih pak dhe?
Mei 20, 2009 at 12:26 pm
mbok bilih makaten eyang…
Mei 20, 2009 at 9:14 am
kulo nuwun…sedulur-dulur
kata orang arab” konsep pengenalan diri
1.man arofa nafsahu wakod arofa robbahu siapa yang kenal dirinya maka kenal akan tuhannya.caranya
2,almautu qoblal mautu
matilah kamu sebelum kamu mati /kisabdo langit udah pakarnya.
3.baru masa pencerahan ( alloh ismun lizzatul wajibul wujud)
4tingkat alinsanu sirruhu waana sirrohu
manusia rahasia aku aku rahasia manusia
untuk tahu tahu rahasia harus ahu rasa dulu,ngaji rasa,
1ngaji rasa menurut jasmani
sehat -sakit karena jasmani kita yang merasakan sehat atau sakit .pada saat sehat kita harus bersikap apa atau sebaliknya
2. ngaji rasa menuru rohani
senang- susah karena rohani kita yang merasakan,pada saat senang kita harus bersikap apa,atau sebaliknya
3. nngaji rasa nurut rasa
benarkah saya selama ini ?
salahkah saya selama ini?
jujurkah saya selama ini terhadap diri?
bos numpang lewat ya
Mei 20, 2009 at 12:26 pm
mari mengkaji diri…
Mei 21, 2009 at 5:40 am
Menurutku,
Ngaji rasa no.2 adalah menurut jiwa,
Bukan menurut roh, kurasa.
Salam Pikir Tiga!
Mei 22, 2009 at 7:50 pm
setuju…
Juni 7, 2009 at 8:56 pm
Ta’ ghoroi, ta’bu ju’i…
Mei 20, 2009 at 8:11 pm
wow…ko fotonya pake foto wisnu??? emang mba orang hindu ya?? hindu jawa??
Mei 22, 2009 at 7:43 pm
bukan. cuma kepengen aja *halah*
Mei 20, 2009 at 8:16 pm
Diri sebenarnya yang datang dari Allah, yaitu Nur Ilahi. Lewat itulah kita bisa menemukan segalanya, termasuk diri dan Tuhan…
mmm… Mas, mo nanya ni,
gmana ya cara buat icon di blog
Mei 22, 2009 at 7:44 pm
hmmm? ikon di blog? avatar maxutnya? kalo itu sih di profil. anda sendiri kan ada avatarnya, bunga itu?
Mei 23, 2009 at 8:05 am
Ya klu icon itu hanya muncul klu komen, sementara punya mas Jenang bisa muncul di alamat blog
Jangan2 ada mantra nya nich ha ha ha
Mei 23, 2009 at 1:41 pm
Kang Jenang,
Mungkin mangsute™ Bang SM gambar yang di-upload dari menu Settings -> General.
Biar di sisi kiri URL address ada icon kecilnya gitu.
Salam.
Mei 21, 2009 at 12:02 am
Mba Siti, jadi yang perang karena gagasan itu karena rebutan/ urusan kuda yah…
Mei 22, 2009 at 7:47 pm
he he he… ya mirip anjing yg mengejar ekornya sendiri itu barangkali. menurut ki mentaram, perang itu awalnya bisa juga lantaran menyimpan rasa yg tidak baik kepada sesama. dari situ muncul gagasan buruk tentang orang lain… dan berlanjut sampai perang betulan.
Mei 21, 2009 at 1:48 am
hmm.. *geleng geleng*.. hehehe.. pantesan ternyata wanita yaaaaaa.. *mangut muka merah*.. tak pijatin kemaren kulitnya halus.. jadi malu.. ampun.. maaf yaa mbaaaaaak siti..
Salam Sayang
Mei 22, 2009 at 7:48 pm
itu salah ketik aja… maxutnya mbah mungkin.
Mei 21, 2009 at 11:26 am
Lho…lho… *ikut geleng geleng*… ternyata wanita…
halah.. halah… padahal selama ini saya panggil Kang…. ikutan minta maaf Mbak Siti..
Menjura berkali-kali…
Salam.
Mei 22, 2009 at 7:51 pm
mistyped ituhh…
Mei 21, 2009 at 12:04 pm
tiba2 jadi teringat lakon “bimasuci”, mas jenang, ketika bima harus mencari “gung susuhing angin” di tengah kedalaman samudra. tekadnya yang kuat telah membuat bima berhasil mengatasi semua halangan dan rintangan hingga akhirnya bertemu dengan “dewi ruci” yang konon merupakan cermin dari sang bima sendiri. ternyata, bukan hal yang mudah utk bisa mengenali diri sendiri.
Mei 22, 2009 at 7:52 pm
betul, pak. soalnya nempel. kita mungkin mesti “menjauh” dari diri untuk melihat diri.
Mei 21, 2009 at 9:23 pm
Kenapa mendadak begitu, Kang!
Alon alon asal kelakon nyampe,
Buru-buru spt repormasi bablas!
Salam Maya!
Mei 22, 2009 at 7:52 pm
tiap orang kan punya kemampuan memotret yg berlainan… saya sih ok aja lah.
Mei 22, 2009 at 10:49 pm
Canda koq, Mba/Pak/ahh..
Kang aja gimana,
Atawa Mas enakan!
Salam!
Mei 22, 2009 at 5:25 pm
*teringat kembali percakapan di rumah illuminationis dulu*
hmm… mbah, nganu..
*keder* Oh.., mboten sios pun, moggo..
*muleh*
Mei 22, 2009 at 7:53 pm
weleh… ya liwat jalur laen aje.
Mei 23, 2009 at 11:54 pm
Wah!
Tombol balasnya nggak fungsi!
@Fitri
DEWA sa! (kali)
Salam!
Mei 24, 2009 at 1:18 am
::sepertinya Suryomataram sudah menyedarhanakan tujuan pencarian ya Kang SJ..??, mengapa perlu mengenal diri agar dapat memahami akan hal yang sepetinya juga harus dialami diri, yang dibahasakan sebagai kesulitan jika keadaan itu menyesakkan, dan sebutan menyenangkan jika keadaan itu melegakan…
ha..ha..seringnya ada yang memandang hebat apa yang “dipertemukan”, padahal keadaan-keadaan yang wajib datang pada diri seseorang, ya..kudhu datang, dan sang diri wajib menjalani…,
sering juga dipertontonkan ada yang sudah dipertemukan eh..mengeluh…, anehnya yang gak kebagian pertemuan malah bisa menerima dengan nyaman…he..he…, sederhana tujuannya…meski rumit pencariannya…namun tetap, yang lebih rumit lagi praktik menjalaninya… *ngelesod..”
Mei 24, 2009 at 1:21 am
lho…koq jadi masuk pada urutan 20 sich…pancen blognya kang siti josss. tenannnn…
Mei 24, 2009 at 7:49 pm
he he he… ya, sebenarnya sudah sangat sederhana. wejangan ki mentaram ini kan ditujukan buat penduduk desa sekitar rumah beliau. cuman emang praktikny tak semudah wejangannya. tapi setidaknya udah ada ancer-ancer…
Mei 24, 2009 at 9:06 am
Mulat sarira hangrasa wani, yen wis kenal dirine terus dadi dewo mangejo wantah.Apengawak manungso nanging sejatine dewo.*minum stmj mulu jadinya makin sakti*
Mei 24, 2009 at 7:52 pm
muahahaha… boleh tuh dicoba, kang. sabda sembari ngunjuk STMJ.
Mei 25, 2009 at 3:24 pm
Mengenal diri sendiri… itu sulit bukan hanya karena butuh pengertian mendalam, melainkan juga karena diri kita selalu berubah. misalnya: diri saya saat ini jauh berbeda dengan diri saya 5 tahun lalu…
seperti yg dikatakan Heraclitus: “anda tak bisa menyeberangi sungai yang sama dua kali” karena “sungai” tersebut terus mengalir (anda bisa mengganti kata “sungai” dengan “jiwa”, dan kata “menyeberangi” dengan “mengenali”)
Mei 26, 2009 at 1:16 pm
@ Tito
he he he… betul itu kalo yg dikenali hasilnya. tapi ada hal-hal yg asalnya dari dalam, yg tetap dan menjadi penyebab.
Mei 27, 2009 at 5:21 pm
@Tito
Sama ngak dgn begini,
Perenunganku:
Tadi aku daging,
Nanti aku roh,
Kini aku jiwa.
-
Salam Pikir Tiga!
Juni 5, 2009 at 5:39 pm
sebenarnya bukan sungai yg menglir tapi Airnya saja, tapi kalau mau lewat beberapa kali lagi ,ya..ikut lah mengalir seperti air sungai itu, nopo mekaten mas, ngapunten nggih..
Mei 26, 2009 at 6:50 pm
Manusia tidak dilarang untuk memiliki gagasan apapun. Yang salah barangkali, memaksa orang lain untuk menyetujuinya.
Bisa menerima bahwa orang lain berpikir berbeda, saya kira adalah salah satu puncak kearifan manusia. Semakin kita yakin dengan pendapat kita, mestinya semakin bisa pula kita membiarkan orang lain dengan keyakinannya.
*ngga pake halah*
Juni 8, 2009 at 8:45 pm
@ Bang Toga
setuju, bang… biarlah tiap manusia melihat dari sudut pandang masing2
Mei 27, 2009 at 11:06 pm
Wah sedap membaca suguhan kopi hangat dari Kang Jenang yg benar2 menyegarkan dahaga spiritual…matur nuwun Kang sudah berbagi ngelmu.
Ada hal yg menarik dalam tulisan Kang Jenang, saya coba untuk menulis pemahaman saya atas tulisan Kang Jenang, jika salah mohon dikoreksi.
Bahwa di dalam diri manusia terdapat percaturan antara Sukma Sejati-Jiwa-Raga. Jiwa/soul/nafas/hawa/nafs berada di tengah bebas memilih mau berkiblat ke mana. Mau ke sukma sejati, atau ke raga. Jika berkeblat kepada sukma sejati (yg diberi wejangan kebenaran oleh sang rahsa sejati/rasa pangrasa/sirulah) maka jiwa menjadi an nafsul mutmainah, atau nuruti kareping rahsa. Sebaliknya jiwa yg ngikut jasad/nafsu ragawi namanya menjadi nuruti rahsaning karep.
Nah, mengenai perang dan konflik gagasan sebagaimana dikemukakan Kang Jenang sepadan dalam konsep Weberianism (idealisme) yg sepakat bahwa ide/gagasan merupakan generator perubahan. Bermula dari ide, gagasan, selanjutnya manusia berusaha mewujudkannya menjadi sesuatu yg nyata. Dan ide berkembang secara dinamis, menghasilkan dinamika perubahan. Namun Pak Ralf Dahrendorf sang pencetus konflik teori menambahi, bahwa bermula dari gagasan atau ide muncul pertentangan dan terjadilah konflik. Dan berawal dari adanya konfik kemudian menjadi kearah perubahan positif jika dikelola secara tepat dan baik.
Persoalannya kemudian, manusia yg tidak mengenal jati diri, akan bernasib sial, tak mampu membedakan antara imajinasi subyektif dengan noumena yang obyektif. Apalagi dalam memahami yg gaib, banyak yg tak sadar telah melakukan imajinasi kosong. Sehingga muncul terminologi hantu MEMEDI. Singkatan dari “memet ing budi”. Memedi tentu bukanlah potret, namun imajinasi. Dan di dalam wilayah gaib memang sulit membedakan antara “memedi” dengan potret yang ada sebagai eksistensi gaib.
Untuk mempertegas mana “memedi” mana eksistensi gaib, diperlukan peran sang guru sejati sebagai pembimbing roh. Guru sejati sebagai “manifestasi” dari rahsa sejati kita. Maka perlulah olah rahsa yakni rasa pangrasa, sebagaimana Kang Jenang sebutkan.
Sayangnya, orang zaman sekarang lebih suka ngenak-enak, ongkang-ongkang kaki, cukup tahu dari ujare, kandane, omonge, ceunah ceuk ceunah, dan apa kata buku. Hanya dengan bekal omonge tapi sudah merasa diri sangat benar, sehingga ide dan gagasan di luar dirinya ditimpuk dgn tuduhan sesat.
“Durung becus kesusu selak besus”
“Amaknani rapal”
“Kåyå sayid weton mesir”
“Pendhak pendhak angendhak”
“Gunaning jalmå”
salam sejati
Rahayu
Sesanti
salam asih asah asuh
Juni 8, 2009 at 8:49 pm
@ Mas Sabda
he he… rebutan angan-angan doang sampek perang. makasih… manstap nih masukannya…
Mei 28, 2009 at 11:00 am
Saya baca dulu, harus dengan tenang untuk bisa memahami, bahasanya tingkat tinggi
Juni 8, 2009 at 8:50 pm
@ Bu Endratna
silaken bu… ini tapsiran aja sih.
Mei 30, 2009 at 3:33 pm
rahayu..

kalau dibilang ilmu tingkat rendah begini:
kalau kita mou kenal diri secara lahir
maka akan kenal bapak dan ibu kita masing-masing
tapi juga aneh mau nyekar/ziarah kemakam para
wali eh nabi sekalipun juga lupa sama bapak sendiri.
tapi juga benar begini kalau anak balita makan
kita orang tua menyuapi, entar bisa makan sendiri
menyuapi dan makan sendiri juga sama benarnya
ketika siti jenar asik masuk kedalam dirinya sendiri
tidak butuh baju koko, kopyah dan masjid kemudian
didemo para wali. sekali lagi keduanya bener juga..
he he he dan wk wkw kw juga sama juga…
wass wb
Juni 8, 2009 at 8:52 pm
@ Mas Hidayat
he he he… yoi dah…
Juni 1, 2009 at 3:17 pm
Silahkan kunjungi kami di http://airsetitik.tk
Juni 8, 2009 at 8:52 pm
sudah… makasih udah mampir.
Juni 3, 2009 at 8:50 am
mituhu dhateng salira pribadi
panjenengan punapa asring nindaki junggringan wonten Beringin?
Juni 8, 2009 at 8:53 pm
@ Mas Tomy
wah kula tebih saking mriku… wonten jakarta kabaripun wonten. ingkang ngajar putra utawi wayah KAS piyambak.
Juni 5, 2009 at 11:08 am
memahami diri sama saja dengan mengakui kelemahan-kelemahan yang kita miliki.
hal itulah yang susah di lakaukan oleh rata2 manusia dan biasanya terkalahkan oleh ego yang di besar-besarkan….
SAlam kenal…
Juni 8, 2009 at 8:54 pm
@ Agus
padahal menundukkan ego adalah esensi sembahyang…
Juni 5, 2009 at 5:48 pm
Om Jenang… katanya dlam diri manusia ini tidak sendirian, katanya ada sedulur papat limo pancer, apa itu termasuk bagian dari diri yg perlu di kenali?, dan kalo begitu kita perlu mbalik ngenali leluhur2 kita dulu ya?, karena itu cikal bakal kita.
Juni 8, 2009 at 8:56 pm
@ Dalbo
kalo menurut pemahaman saya sih semua itu manifestasi diri kita. ada warna yg melambangkan sifat2… semua perlu dikenali dan dipahami. melupakan leluhur sama saja melupakan diri sendiri… mengingat sejarah adanya kita ya dari leluhur itu.
Juni 7, 2009 at 7:04 am
-banyak orang yang mengenal diri orang lain daripada dirinya sendiri ya.
-Teriak-teriak si ini neolib,si ini lamban,si ini peragu. Hla….dirinya sendiri menghakimi orang kok gak tahu tho…ha..ha.ha
-salam
Juni 8, 2009 at 8:57 pm
@ Abdul Cholik
hahaha… padahal ketika melihat orang lain, mungkin yg tampak adalah bayangan kita sendiri…
Juni 28, 2009 at 12:41 am
Siapakah diri ini ? diri itu tubuh dan ruh.Tanpa ruh tubuh membangkai,tiada daya dan upaya.Ruh penggerak seluruh aktifitas tubuh:melihat,merasa,memegang dll.Dia berkuasa mutlak atas segala sesuatu.Siapakah Ar Ruh ?
Juni 28, 2009 at 12:56 am
Jika dianggap manusia itu ada,ia cuma panca indera
tak lebih dan tak kurang dan selalu terjebak dgn persepsi didaerah tsb.Rahasia Diri inilah yng mesti diurai sedalam dalamnya……
Juni 29, 2009 at 5:49 am
Mengenal diri … tubuh-jiwa-roh!
Kalau utk mengenal tubuh ya melalui kaca,
Kalau utk mengenal jiwa melalui kata,
Kalau utk mengenal roh … via minpi?
-
Salam Damai!
Juni 30, 2009 at 8:42 pm
Jiwa/ruh/nyawa sama artinya,ia cuma berbeda dlm segi kata.Penting untuk diteliti siapakah Ruh,yang menguasai seluruh perbuatan,nafsu baik/jahat dan perasaan2 makhluk?
Juni 30, 2009 at 11:25 pm
@hitam
Jiwa dan roh,
Bagiku mereka beda,
Sebeda gila dan kesurupan!
-
Salam Damai!
Juni 30, 2009 at 9:08 pm
Sdr.Maren,salam kenal,bgmana menurut sdr.maksud kalimat TIADA DAYA DAN UPAYA SELAIN ALLAH ?
Juni 30, 2009 at 11:29 pm
@hitem
Tak ada daya, tak ada upaya, ada Allah.
Kalimat itu belum lengkap rasanya.
Coba lengkapi utk didiskusikan.
-
Salam Damai!
Juli 1, 2009 at 7:55 pm
Insan tidak mempunyai daya dan upaya,apa yg dperbuat/dikerjakan,dirasakan,bukanlah hasil perbuatannya,ia menyangka telah melakukan sesuatu.Melakukan dgn sungguh2,penuh perhitungan dsb,anehnya ketika ruh pergi/kematian dtg,si insan terbujur kaku.Tak berdaya.Jadi siapakah penggerak si insan ketika msh hidup?.Menurut saya Ruh lah yg melakukannya,dlm hal ini ATAS PERINTAH ALLAH/ALLAH sendiri yg melakukan…….
Juli 1, 2009 at 11:57 pm
@Hitam
Ya!
Aku setuju dengan mu, Kang!
Insan tanpa roh tak berguna,
Insan tanpa jiwa tak berdaya,
Insan tanpa tubuh tak berupaya.
Yang manakah yang utama,
Dlm hidup dan berkehidupan?
Begitu maksudmu, kan!
-
Salam Damai!
Juli 2, 2009 at 6:47 pm
Lagu Dewa/Ahmad Dhani judul Satu.
syairnya al.Aku ini adl DiriMu,jiwa ini adl JiwaMu,cinta ini adl CintaMu……..Dgn MataMu aku melihat,dgn LidahMU aku bicara……..
Si insan merasa melihat,bicara………….
Juli 1, 2009 at 8:08 pm
Ruh yang DITIUPKAN Allah pada penciptan manusia.Kalau roh,saya mmg tak faham..
Mei 22, 2009 at 10:13 pm
hmm.. asiiik.. mbaaak Jenang buka bukaan.. hehehe..
Salam Sayang
Mei 23, 2009 at 1:46 pm
Ini njawab komen nyang mana sih.. koq tiba-tiba membahas kemaluan…
*kenapagadireplydekatkomenterkaitya*
Mei 23, 2009 at 11:29 am
seperti dewa … dewa apa ya?
Mei 23, 2009 at 11:49 pm
@Lambang
Maklumin aja kami yg awam blog, Mas!
Omong2, selalu duet ya dgn kangBoed,
Sudah tiga kali kuperogokin …hehe.
-
Salam Sayang!
Mei 23, 2009 at 11:51 pm
DEWA sa!
Mei 25, 2009 at 2:54 pm
*ngelirik atas*.. hehehe.. mau ikutan gabungkah ??… jadi pikir tertiga.. hehehe..
Salam Sayang
*garuk garuk kepala*
*kok belum mampir…*
Mei 25, 2009 at 8:47 pm
Maklumlah Bang MK,
Kita berdua ini suka ngamen dimana-mana. Siapa tahu dapet recehan ilmu gitu…
Salam.
Mei 27, 2009 at 5:23 pm
@Lambang
Aku udah lakukan semua nasehatnya,
Tiga amngkuk Lamb dan tiga hati.
Mungkin kau dah baca semua posterku,
Apakah ada yg blum berkenan di hatimu?
-
Salam Maya!
Mei 26, 2009 at 1:14 pm
@ Kangboed
trimurti, trilogi, apa tri in wan.
Mei 27, 2009 at 10:24 pm
waaaaaaah.. paling uenaaaaak tri in one yaa..
Salam Sayang
*nyengir keledai*