“Orang sering mengalami kesulitan karena tidak mengerti diri sendiri. Kesulitan tersebut dapat diselesaikan bila orang mengerti diri sendiri. Maka, mengetahui diri sendiri dapat menyelesaikan berbagai macam kesulitan.” – Ki Suryomentaram

Itulah esensi dari ajaran kejawen (menurut pemahaman saya). Mengenal atau memelajari diri sendiri dari beragam aspek (atau mungkin seluruhnya).  Melalu pegenalan terhadap diri, seseorang diharapkan mampu menguasai / mengendalikan diri. Artinya, manusia telah berkuasa terhadap dirinya sendiri. Mengingat ada tiga diri dalam ajaran kejawen pada umumnya (raga, jiwa, dan sukma), maka diri yang dianggap paling layak berkuasa adalah sukmanya (ruh).

Menurut Sunan Bonang dalam “Suluk Wujil”, raga manusia seharusnya hanya menurut saja. Menurut tafsir saya, raga adalah kendaraan sang sukma dalam mengarungi kehidupan di dunia. Dialah sang pengendara, yang pernah saya gambarkan sebagai sosok ksatria yang mengendarai kereta kuda. Raga ibarat kereta kuda, sedangkan hawa nafsu adalah kuda-kudanya. Dua-duanya mesti dikendalikan. Alat kendali yang dimaksud adalah jiwa, kesadaran mental manusia.

“Kang kula nut menggah ing sak karsanipun, saosiking cipta, badan kula anglampahi, raga kula sayekti manut kewala.”
(Yang saya ikuti adalah apapun karsanya, semua gerak cipta, badan saya menjalani saja, raga saya hanya menurut perintahnya). – cuplikan Suluk Wujil

Masalahnya, panca indera raga manusia hanya mampu mengenali hal-hal yang ada dalam dimensinya saja. Sains lebih banyak mengeksplorasi dimensi fisik. Untuk wilayah mental ada ilmu psikologi, tetapi untuk dimensi spiritual Jawa (sukma) setahu saya belum banyak digali. Umumnya dianggap tidak logis, non-empiris, mistis, dan sebutan lainnya. Jadi, untuk wilayah spiritual ini menurut saya adalah wilayah klaim saja, bagi mereka yang telah mengalami dan memahaminya.

Sifatnya sangat personal, sangat tergantung pengalaman hidup dan kesadaran seseorang. Kalau buat orang Jawa, wilayah spiritual adalah wilayah rasa. Bukan rasa dalam pengertian ragawi pastinya. Barangkali karena pengetahuan spiritual biasanya sulit dijelaskan dengan kata-kata, spiritualis masa lampau (maupun masa kini mungkin) lebih senang menggunakan karya sastra yang bisa ditafsirkan secara bebas. Keterbatasan teks kalau menurut si Pejalan Keparat™.

Pengetahuan Diri

Kembali ke soal pengetahuan diri, pelajaran untuk ini oleh Ki Mentaram disebut ‘pangawikan pribadi’ atau “pengetahuan diri sendiri”. Ini adalah pengetahuan jiwa atau ilmu psikologi Jawa. Meskipun jiwa tak dapat ditangkap oleh panca indera, tetapi orang merasa bahwa jiwa itu ada. Karenanya,  terminologi yang dipakai adalah rasa (selanjutnya saya sebut rahsa saja). Jadi, pangawikan pribadi bisa diartikan pengertian terhadap rahsa manusia. Untuk membedakan dengan sensasi ragawi (plus nafsu) yang juga disebut rasa, beliau menyebutnya rasa yang dangkal.

Jika orang sudah biasa mengetahui rasa yang dangkal, orang mulai mengetahui rasa yang dalam (rahsa). Meskipun rasa dangkal itu mudah diketahui, tetapi orang sering tidak menyadari. Lebih lanjut, diri dangkal dapat mencatat atau memotret. Mencatat atau memotret maksudnya memiliki persepsi (dengan kemampuan panca indera) terhadap suatu realitas atau kenyataan.

Orang yang melihat sesuatu berarti memotret sesuatu tersebut. Misal orang melihat meja, maka ini artinya orang tersebut memotret meja dalam benaknya, lalu terciptalah potret meja di kepalanya. Potret meja tentu bukanlah meja. Meja dan potret meja adalah dua hal yang terpisah, tidak ada sangkut pautnya. Demikian juga ketika mendengar sesuatu (misalnya mendengar lagu), orang bisa memotret lagu. Potret sebuah lagu juga tidak sama dengan realitas lagu. Selain itu, orang dapat memotret dengan indera yang lain (pembau, peraba, dan perasa).

Selain memotret hal-hal yang dapat ditangkap oleh panca indera, orang dapat pula memotret rasa (dangkal). Jika merasakan haus, orang tersebut memotret rasa haus, lalu di dalam benaknya ada potret rasa haus. Persepsi soal rasa haus tersebut juga bukanlah realitas rasa haus. Menyadari bahwa diri kita dapat memotret itulah yang disebut mengetahui diri yang paling dangkal. Selanjutnya, orang dapat melangkah lebih jauh untuk mengetahui diri yang lebih dalam.

Gagasan

Selanjutnya, selain bisa memotret (kemampuan mempersepsikan) sesuatu,  orang dapat pula menggagas / mengarang / mengkhayal. Misalnya, orang menggagas  kuda terbang berkepala manusia. Dalam benak orang itu lalu tercipta gambaran kuda bersayap dan berkepala manusia. Gambar “makhluk gaib” itu bukanlah potret, melainkan gagasan saja sebab barang yang dipotret sesungguhnya tidak ada. Ini bisa disebut gagasan murni, tidak perlu logis. Dengan kata lain, gagasan mengenai makhluk aneh itu tidak bisa dipersepsikan atau dipotret karena tidak nyata.

Master Yoda

Master Yoda

Selain menggagas, orang pun mampu mencipta. Umpamanya, mencipta sebuah payung. Sebelum dicipta, sesuatu yang disebut payung itu tidak ada. Yang ada hanya gagasan mengenai bagaimana melindungi badan supaya tidak basah saat kehujanan. Selanjutnya orang mencipta gambaran konsep yang kemudian dinamai “payung” lalu diwujudkan menjadi karya yang nyata, yaitu sebuah payung betulan yang bisa dipersepsikan atau dipotret. Bandingkan dengan gagasan kuda bersayap berkepala manusia di paragraf sebelumnya.

Banyak hal di alam nyata yang merupakan karya cipta manusia. Karya-karya itu sebagian adalah buah dari gagasan juga sebenarnya.  Kendati demikian, ada gagasan yang dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang nyata, namun ada pula gagasan yang hanya bisa tetap di dalam kepala, tidak dapat diwujudkan menjadi barang. Jadi menurut beliau, mencipta dan menggagas itu sejatinya berlainan.

Konflik

Manusia pada dasarnya bebas menggagas apa saja yang diinginkannya. Oleh karena itu, gagasan tiap individu bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya. Bila tidak dikenali dan dibedakan dengan potret (persepsi) serta realitas, gagasan dapat meimbulkan konflik atau perpecahan. Pasalnya, orang-orang yang mempunyai gagasan yang sejenis cenderung ingin berkelompok. Bila mereka bertemu dengan gagasan kelompok lain yang berbeda, bisa saja terjadi pertempuran. Awalnya mungkin hanya perdebatan saja, tapi tidak mustahil bisa berujung perang betulan.

Meskipun yang menyebabkan perang itu sebenarnya hanya gagasan, tetapi adu mulut, tembak-menembak, serta bunuh-membunuh terjadi betulan. Misalnya, ada sekelompok orang merasa celaka (malang nasibnya), segala usaha untuk mendapat kebahagiaan berujung kegagalan. Mereka lantas menggagas: Kalau negara diatur “begini” orang akan bahagia. Ada kelompok lain lagi menggagas: Kalau negara diatur “begitu” pasti kita akan bahagia. Padahal, apa yang mereka sebut “begini” dan “begitu” sebetulnya baru berbentuk gagasan, bukan potret maupun realitas.

Contoh lain, gagasan bahwa teh, kopi, dan limun rasanya enak, sedangkan yang lain dianggap tidak enak umpamanya. Minuman enak dan tidak enak adalah gagasan yang diajarkan oleh lingkungan. Tubuh manusia (tanpa jiwa) sejatinya tidak memiliki selera tertentu. Ini pun jika tidak dipahami juga dapat menimbulkan masalah. Minuman enak bagi orang yang sedang haus sesungguhnya bukan menjadi soal. Jadi teh, kopi, dan limun enak adalah gagasan, bukan potret. Bila gagasan tersebut dianggap potret, manusia dalam hidupnya akan berlomba memperebutkan teh, kopi, dan limun.

*tidak membuka praktik konsultasi* :cool:

104 Responses to “Mengenal Diri: Gagasan, Persepsi, dan Realitas”

  1. sigid Says:

    Pakde, cen “ndelok githok-e dewe” itu salah satu hal yang susah dan seringkali dianggap ndak penting karena salah kaprah keyakinan bahwa “yang paling tahu kita ya kita sendiri”. Padahal … parah :D

    Lha kalau udah gitu terus merasa paling benar.

    Melatih kepekaan rasa itu susah je pakde, butuh andhap asor dalam artian yang luas. Tapi membaca ulasan pakde yang berat abis ini, sepertinya layak diperjuangkan :mrgreen:

    *aku ra kabeh dong lho isine :D *

    • S™J Says:

      padahal menurut ki sm, yg merasa paling benar itu si ego, aku kramadangsa. setuju… memang sulit dan butuh usaha dan latian yg lama, tapi layak diperjuangken. :cool:

  2. sigid Says:

    Btw, kok sekarang namanya S TM J :mrgreen:

    • S™J Says:

      lama-lama ngeri juga pake siti jenang… dikiranya sekti mandraguna… :mrgreen:

      • sigid Says:

        Hayah … :lol:
        Eh, Siti Jenang, itu plesetannya Siti Merah itu bukan to pakde …

      • S™J Says:

        he he he… iya… *malu* :razz:

  3. Lambang Says:

    Menurut saya, rahsa adalah alam bawah sadar yg sudah tahu persis apa yang harus dilakukan. Sayangnya, alam sadar (pikir) mendefinisikan sendiri berdasar pengalaman dan jarene. Akibatnya alam sadar yg mendominasi kehidupan. Sendainya semua kehendak sadar itu dihilangkan atau dikendalikan, maka kontrol kehidupan akan dikembalikan kepada yang berhak.

    • S™J Says:

      maxutnya atas sandar kali? kalo bawah sadar kan bisa dibentuk didikan masa lalu. pelaku kekerasan itu kan pengaruh bawah sadar. :?

      • Lambang Says:

        “Didikan masa lalu”… Apa bukan dari afirmasi tanpa sadar tentang kebaikan/keburukan yang berkelanjutan dari masa lalu?

        “Pelaku kekerasan”… Mangsute™ mereka rada mabok gitu? Apa bukan karena tolok ukur kebenarannya sudah bergeser karena pengaruh lingkungan misalnya?

        *mohon pencerahan… mudah-mudahan saya salah*

        • S™J Says:

          @ lambang

          didikan ortu, guru, teman, lingkungan, dll. orang klepto itu tidak niat mencuri konon, tapi ada keinginan bawah sadar untuk mengambil. orang menjadi galak itu juga belum karena dari sononya galak, tapi mungkin pernah menjadi korban kekerasan orang tua. walaupun pengennya gak galak, dari alam bawah sadarnya ada dorongan ngamuk tiap kali ada sesuatu yg dianggap gangguan atau kesalahan. kecenderungan yg pelakunya sendiri mungkin tidak sadar dari mana asalnya ataupun alasannya. kira2 gitu…

  4. kangBoed Says:

    waaaaaaah.. dah terlalu banyak ya mBaaaah pasiennya.. jadi nyang bisa daftar.. hanya nyang sudah terdaftar saja.. *geleng geleng*.. *manggut manggut*.. untung dah daftaaaar.. hihihi.. *ngelirik atas*.. waaah.. makin mantabs surantaaabs.. koncoku.. boloku.. mBaahku.. siiiiiiiiip… ngikuuuuuuut.. setuju sama commentnya.. hmm.. mBaaaah Lambang.. alam sadar.. alam bawah sadar.. yayaya.. kalau alam atas sadar.. cuba dijelaskan sekalian mBaaaah..
    Salam Sayang
    Salam Taklim
    Salam Hormat

    • S™J Says:

      kalo perempuan cakep mau *ditimpuk* :mrgreen:

      • kangBoed Says:

        huuuwaaakaakakak.. jangan jangan.. di sayang sayang aja.. hihihi..

      • S™J Says:

        nggaya dulu ah… :cool:

  5. bajava Says:

    Hmmmm….apakah mirip dengan filsafatnya Rene Descartes, saya berpikir maka saya ada.

    • S™J Says:

      ini versi lain… aku merasa, maka aku ada.

  6. frozen Says:

    membicarakan kejawen, jelas sudah bahwa postingan ini adalah salah satu bentuk kesesatan yang nyata ™

    • S™J Says:

      nek keblasuk ya wis nandung slamet… :mrgreen:

  7. m4stono Says:

    salam kenal,
    saya sangat setuju sekali bahwa ilmu mengenal diri sendiri itu sangat penting, lebih mudah pakai cermin(orang lain), yg lebih sulit tanpa orang lain(meraba-raba sendiri). lebih dalam lagi apabila mengenal diri sendiri maka akan mengenal tuhan dan mengetahui bahwa esensinya tubuh manusia hanyalah wayang juga kita semua adalah sama dan terhubung satu sama lain(hidden connection)

    • S™J Says:

      :cool:


    • Aku rada setuju, Mba!
      Tubuh adalah wayang,
      Jiwa adalah dalang.

      Setiap hari adalah “Gala”

      Roh adalah …?
      Mungkin utk show “replay”
      Dan bisa utk extra “Akan Main”
      -

      Salam Pikir Tiga!

      • S™J Says:

        jiwa menurut pemahaman saya bukan dalang, melainkan tangan sang dalang. ruh itulah dalangnya… mau mainin skenario apa aja terserah.


      • @SJ

        Menurutku,
        Roh itu penurut,
        Karena dia kuat, dahsyat, abadi.

        Tubuh itu penuntut,
        Karena lemah gampang lelah,
        Makannya kudu rajin makan dan tidur.

        Itu dasarku,
        Makanya jiwa adalah dalang,
        Triger pengarah kesempurnaan hidup kita.
        -

        Salam Pikir Tiga!

      • S™J Says:

        ooo.. begitu… ya ya ya..

  8. Yari NK Says:

    Bagian yang tersulit dari mengenali diri sendiri adalah mengidentifikasi kelemahan sendiri, dan mengakuinya sebagai sebuah kelemahan. Hal tersebut mungkin terbentur pada ego manusia yang relatif tinggi. Masalahnya jika kita tidak dapat mengakui sebuah kelemahan diri sebagai sebuah kekurangan, bagaimana kita akan memperbaiki diri kita sendiri?? Lain halnya dengan menunjuk-nunjuk kelemahan orang lain, biasanya kita paling jago deh dalam soal itu… huehehe…..

    • S™J Says:

      kelemahan itu mungkin saja cuma gagasan, bisa juga persepsi, atau memang realitas… :mrgreen:


      • Orang normal selalu menutup kemaluannya.
        Kekurangan diri adalah kemaluannya juga.
        Ada kemaluan tubuh ada kemaluan jiwa,
        Lalu cari lah kemaluan roh…Perbaiki!

        Salam Pikir Tiga!

        • S™J Says:

          @ maren kitatau

          kalo kemaluan itu kan bagian tubuh yg bermanfaat juga… kalo kekurangan menurut saya harus ada pembandingnya dulu, siapa atau apa yg dianggap lebih. :cool:


      • Kelemahan itu,
        Dekat dgn kemaluan
        Aku baru ngeposting
        “Ada tiga kemaluan”
        Pls tanggapannya, Mba!
        -

        Salam Pikir Tiga!

  9. siponang Says:

    mulat sarira hangrasa wani nggih pak dhe?

    • S™J Says:

      mbok bilih makaten eyang… :cool:

  10. sayang heulang Says:

    kulo nuwun…sedulur-dulur

    kata orang arab” konsep pengenalan diri
    1.man arofa nafsahu wakod arofa robbahu siapa yang kenal dirinya maka kenal akan tuhannya.caranya
    2,almautu qoblal mautu
    matilah kamu sebelum kamu mati /kisabdo langit udah pakarnya.
    3.baru masa pencerahan ( alloh ismun lizzatul wajibul wujud)
    4tingkat alinsanu sirruhu waana sirrohu
    manusia rahasia aku aku rahasia manusia
    untuk tahu tahu rahasia harus ahu rasa dulu,ngaji rasa,
    1ngaji rasa menurut jasmani
    sehat -sakit karena jasmani kita yang merasakan sehat atau sakit .pada saat sehat kita harus bersikap apa atau sebaliknya
    2. ngaji rasa menuru rohani
    senang- susah karena rohani kita yang merasakan,pada saat senang kita harus bersikap apa,atau sebaliknya
    3. nngaji rasa nurut rasa
    benarkah saya selama ini ?
    salahkah saya selama ini?
    jujurkah saya selama ini terhadap diri?
    bos numpang lewat ya

    • S™J Says:

      mari mengkaji diri… :cool:


    • Menurutku,
      Ngaji rasa no.2 adalah menurut jiwa,
      Bukan menurut roh, kurasa.

      Salam Pikir Tiga!

      • S™J Says:

        setuju…

    • Dalbo Says:

      Ta’ ghoroi, ta’bu ju’i…

  11. casual cutie Says:

    wow…ko fotonya pake foto wisnu??? emang mba orang hindu ya?? hindu jawa??

    • S™J Says:

      bukan. cuma kepengen aja *halah* :cool:

  12. SufiMuda Says:

    Diri sebenarnya yang datang dari Allah, yaitu Nur Ilahi. Lewat itulah kita bisa menemukan segalanya, termasuk diri dan Tuhan…

    mmm… Mas, mo nanya ni,
    gmana ya cara buat icon di blog :-)

    • S™J Says:

      hmmm? ikon di blog? avatar maxutnya? kalo itu sih di profil. anda sendiri kan ada avatarnya, bunga itu?

      • SufiMuda Says:

        Ya klu icon itu hanya muncul klu komen, sementara punya mas Jenang bisa muncul di alamat blog :-)
        Jangan2 ada mantra nya nich ha ha ha

      • Lambang Says:

        Kang Jenang,

        Mungkin mangsute™ Bang SM gambar yang di-upload dari menu Settings -> General.
        Biar di sisi kiri URL address ada icon kecilnya gitu.

        Salam.


  13. Mba Siti, jadi yang perang karena gagasan itu karena rebutan/ urusan kuda yah…

    • S™J Says:

      he he he… ya mirip anjing yg mengejar ekornya sendiri itu barangkali. menurut ki mentaram, perang itu awalnya bisa juga lantaran menyimpan rasa yg tidak baik kepada sesama. dari situ muncul gagasan buruk tentang orang lain… dan berlanjut sampai perang betulan.

  14. kangBoed Says:

    hmm.. *geleng geleng*.. hehehe.. pantesan ternyata wanita yaaaaaa.. *mangut muka merah*.. tak pijatin kemaren kulitnya halus.. jadi malu.. ampun.. maaf yaa mbaaaaaak siti..
    Salam Sayang

    • S™J Says:

      itu salah ketik aja… maxutnya mbah mungkin. :razz:

  15. Lambang Says:

    Lho…lho… *ikut geleng geleng*… ternyata wanita…
    halah.. halah… padahal selama ini saya panggil Kang…. ikutan minta maaf Mbak Siti..
    Menjura berkali-kali…

    Salam.

    • S™J Says:

      mistyped ituhh… :razz:


  16. tiba2 jadi teringat lakon “bimasuci”, mas jenang, ketika bima harus mencari “gung susuhing angin” di tengah kedalaman samudra. tekadnya yang kuat telah membuat bima berhasil mengatasi semua halangan dan rintangan hingga akhirnya bertemu dengan “dewi ruci” yang konon merupakan cermin dari sang bima sendiri. ternyata, bukan hal yang mudah utk bisa mengenali diri sendiri.

    • S™J Says:

      betul, pak. soalnya nempel. kita mungkin mesti “menjauh” dari diri untuk melihat diri.


  17. Kenapa mendadak begitu, Kang!
    Alon alon asal kelakon nyampe,
    Buru-buru spt repormasi bablas!

    Salam Maya!

    • S™J Says:

      tiap orang kan punya kemampuan memotret yg berlainan… saya sih ok aja lah. :mrgreen:


      • Canda koq, Mba/Pak/ahh..
        Kang aja gimana,
        Atawa Mas enakan!

        Salam!

  18. Lumiere Says:

    *teringat kembali percakapan di rumah illuminationis dulu*
    hmm… mbah, nganu..

    tidak membuka praktik konsultasi

    *keder* Oh.., mboten sios pun, moggo..
    *muleh*

    • S™J Says:

      weleh… ya liwat jalur laen aje. :cool:


  19. Wah!
    Tombol balasnya nggak fungsi!

    @Fitri

    DEWA sa! (kali)

    Salam!

  20. zal Says:

    ::sepertinya Suryomataram sudah menyedarhanakan tujuan pencarian ya Kang SJ..??, mengapa perlu mengenal diri agar dapat memahami akan hal yang sepetinya juga harus dialami diri, yang dibahasakan sebagai kesulitan jika keadaan itu menyesakkan, dan sebutan menyenangkan jika keadaan itu melegakan…
    ha..ha..seringnya ada yang memandang hebat apa yang “dipertemukan”, padahal keadaan-keadaan yang wajib datang pada diri seseorang, ya..kudhu datang, dan sang diri wajib menjalani…,
    sering juga dipertontonkan ada yang sudah dipertemukan eh..mengeluh…, anehnya yang gak kebagian pertemuan malah bisa menerima dengan nyaman…he..he…, sederhana tujuannya…meski rumit pencariannya…namun tetap, yang lebih rumit lagi praktik menjalaninya… *ngelesod..”

    • zal Says:

      lho…koq jadi masuk pada urutan 20 sich…pancen blognya kang siti josss. tenannnn…

    • S™J Says:

      he he he… ya, sebenarnya sudah sangat sederhana. wejangan ki mentaram ini kan ditujukan buat penduduk desa sekitar rumah beliau. cuman emang praktikny tak semudah wejangannya. tapi setidaknya udah ada ancer-ancer… :mrgreen:

  21. Ngabehi Says:

    Mulat sarira hangrasa wani, yen wis kenal dirine terus dadi dewo mangejo wantah.Apengawak manungso nanging sejatine dewo.*minum stmj mulu jadinya makin sakti*

    • S™J Says:

      muahahaha… boleh tuh dicoba, kang. sabda sembari ngunjuk STMJ. :mrgreen:

  22. Tito Says:

    Mengenal diri sendiri… itu sulit bukan hanya karena butuh pengertian mendalam, melainkan juga karena diri kita selalu berubah. misalnya: diri saya saat ini jauh berbeda dengan diri saya 5 tahun lalu…

    seperti yg dikatakan Heraclitus: “anda tak bisa menyeberangi sungai yang sama dua kali” karena “sungai” tersebut terus mengalir (anda bisa mengganti kata “sungai” dengan “jiwa”, dan kata “menyeberangi” dengan “mengenali”)

    • S™J Says:

      @ Tito

      he he he… betul itu kalo yg dikenali hasilnya. tapi ada hal-hal yg asalnya dari dalam, yg tetap dan menjadi penyebab.


    • @Tito

      Sama ngak dgn begini,
      Perenunganku:

      Tadi aku daging,
      Nanti aku roh,
      Kini aku jiwa.
      -

      Salam Pikir Tiga!

    • Dalbo Says:

      sebenarnya bukan sungai yg menglir tapi Airnya saja, tapi kalau mau lewat beberapa kali lagi ,ya..ikut lah mengalir seperti air sungai itu, nopo mekaten mas, ngapunten nggih..

  23. Toga Says:

    Manusia tidak dilarang untuk memiliki gagasan apapun. Yang salah barangkali, memaksa orang lain untuk menyetujuinya.

    Bisa menerima bahwa orang lain berpikir berbeda, saya kira adalah salah satu puncak kearifan manusia. Semakin kita yakin dengan pendapat kita, mestinya semakin bisa pula kita membiarkan orang lain dengan keyakinannya.

    *ngga pake halah*

    • S™J Says:

      @ Bang Toga

      setuju, bang… biarlah tiap manusia melihat dari sudut pandang masing2

  24. sabdalangit Says:

    Wah sedap membaca suguhan kopi hangat dari Kang Jenang yg benar2 menyegarkan dahaga spiritual…matur nuwun Kang sudah berbagi ngelmu.

    Ada hal yg menarik dalam tulisan Kang Jenang, saya coba untuk menulis pemahaman saya atas tulisan Kang Jenang, jika salah mohon dikoreksi.

    Bahwa di dalam diri manusia terdapat percaturan antara Sukma Sejati-Jiwa-Raga. Jiwa/soul/nafas/hawa/nafs berada di tengah bebas memilih mau berkiblat ke mana. Mau ke sukma sejati, atau ke raga. Jika berkeblat kepada sukma sejati (yg diberi wejangan kebenaran oleh sang rahsa sejati/rasa pangrasa/sirulah) maka jiwa menjadi an nafsul mutmainah, atau nuruti kareping rahsa. Sebaliknya jiwa yg ngikut jasad/nafsu ragawi namanya menjadi nuruti rahsaning karep.

    Nah, mengenai perang dan konflik gagasan sebagaimana dikemukakan Kang Jenang sepadan dalam konsep Weberianism (idealisme) yg sepakat bahwa ide/gagasan merupakan generator perubahan. Bermula dari ide, gagasan, selanjutnya manusia berusaha mewujudkannya menjadi sesuatu yg nyata. Dan ide berkembang secara dinamis, menghasilkan dinamika perubahan. Namun Pak Ralf Dahrendorf sang pencetus konflik teori menambahi, bahwa bermula dari gagasan atau ide muncul pertentangan dan terjadilah konflik. Dan berawal dari adanya konfik kemudian menjadi kearah perubahan positif jika dikelola secara tepat dan baik.

    Persoalannya kemudian, manusia yg tidak mengenal jati diri, akan bernasib sial, tak mampu membedakan antara imajinasi subyektif dengan noumena yang obyektif. Apalagi dalam memahami yg gaib, banyak yg tak sadar telah melakukan imajinasi kosong. Sehingga muncul terminologi hantu MEMEDI. Singkatan dari “memet ing budi”. Memedi tentu bukanlah potret, namun imajinasi. Dan di dalam wilayah gaib memang sulit membedakan antara “memedi” dengan potret yang ada sebagai eksistensi gaib.

    Untuk mempertegas mana “memedi” mana eksistensi gaib, diperlukan peran sang guru sejati sebagai pembimbing roh. Guru sejati sebagai “manifestasi” dari rahsa sejati kita. Maka perlulah olah rahsa yakni rasa pangrasa, sebagaimana Kang Jenang sebutkan.

    Sayangnya, orang zaman sekarang lebih suka ngenak-enak, ongkang-ongkang kaki, cukup tahu dari ujare, kandane, omonge, ceunah ceuk ceunah, dan apa kata buku. Hanya dengan bekal omonge tapi sudah merasa diri sangat benar, sehingga ide dan gagasan di luar dirinya ditimpuk dgn tuduhan sesat.

    “Durung becus kesusu selak besus”
    “Amaknani rapal”
    “Kåyå sayid weton mesir”
    “Pendhak pendhak angendhak”
    “Gunaning jalmå”

    salam sejati
    Rahayu
    Sesanti
    salam asih asah asuh

    • S™J Says:

      @ Mas Sabda

      Persoalannya kemudian, manusia yg tidak mengenal jati diri, akan bernasib sial, tak mampu membedakan antara imajinasi subyektif dengan noumena yang obyektif. Apalagi dalam memahami yg gaib, banyak yg tak sadar telah melakukan imajinasi kosong. Sehingga muncul terminologi hantu MEMEDI. Singkatan dari “memet ing budi”. Memedi tentu bukanlah potret, namun imajinasi.

      he he… rebutan angan-angan doang sampek perang. makasih… manstap nih masukannya… :cool:

  25. edratna Says:

    Saya baca dulu, harus dengan tenang untuk bisa memahami, bahasanya tingkat tinggi

    • S™J Says:

      @ Bu Endratna

      silaken bu… ini tapsiran aja sih.

  26. hidayat Says:

    rahayu..
    kalau dibilang ilmu tingkat rendah begini:
    kalau kita mou kenal diri secara lahir
    maka akan kenal bapak dan ibu kita masing-masing
    tapi juga aneh mau nyekar/ziarah kemakam para
    wali eh nabi sekalipun juga lupa sama bapak sendiri.
    tapi juga benar begini kalau anak balita makan
    kita orang tua menyuapi, entar bisa makan sendiri
    menyuapi dan makan sendiri juga sama benarnya
    ketika siti jenar asik masuk kedalam dirinya sendiri
    tidak butuh baju koko, kopyah dan masjid kemudian
    didemo para wali. sekali lagi keduanya bener juga..
    he he he dan wk wkw kw juga sama juga… :D :mrgreen:
    wass wb

    • S™J Says:

      @ Mas Hidayat

      he he he… yoi dah… :cool:

  27. airsetitik Says:

    Silahkan kunjungi kami di http://airsetitik.tk

    • S™J Says:

      sudah… makasih udah mampir.

  28. tomy Says:

    mituhu dhateng salira pribadi

    panjenengan punapa asring nindaki junggringan wonten Beringin?

    • S™J Says:

      @ Mas Tomy

      wah kula tebih saking mriku… wonten jakarta kabaripun wonten. ingkang ngajar putra utawi wayah KAS piyambak.

  29. agus Says:

    memahami diri sama saja dengan mengakui kelemahan-kelemahan yang kita miliki.
    hal itulah yang susah di lakaukan oleh rata2 manusia dan biasanya terkalahkan oleh ego yang di besar-besarkan….

    SAlam kenal… :D

    • S™J Says:

      @ Agus

      padahal menundukkan ego adalah esensi sembahyang… :cool:

  30. Dalbo Says:

    Om Jenang… katanya dlam diri manusia ini tidak sendirian, katanya ada sedulur papat limo pancer, apa itu termasuk bagian dari diri yg perlu di kenali?, dan kalo begitu kita perlu mbalik ngenali leluhur2 kita dulu ya?, karena itu cikal bakal kita.

    • S™J Says:

      @ Dalbo

      kalo menurut pemahaman saya sih semua itu manifestasi diri kita. ada warna yg melambangkan sifat2… semua perlu dikenali dan dipahami. melupakan leluhur sama saja melupakan diri sendiri… mengingat sejarah adanya kita ya dari leluhur itu.

  31. Abdul Cholik Says:

    -banyak orang yang mengenal diri orang lain daripada dirinya sendiri ya.
    -Teriak-teriak si ini neolib,si ini lamban,si ini peragu. Hla….dirinya sendiri menghakimi orang kok gak tahu tho…ha..ha.ha
    -salam

    • S™J Says:

      @ Abdul Cholik

      hahaha… padahal ketika melihat orang lain, mungkin yg tampak adalah bayangan kita sendiri… :mrgreen:

  32. hitam Says:

    Siapakah diri ini ? diri itu tubuh dan ruh.Tanpa ruh tubuh membangkai,tiada daya dan upaya.Ruh penggerak seluruh aktifitas tubuh:melihat,merasa,memegang dll.Dia berkuasa mutlak atas segala sesuatu.Siapakah Ar Ruh ?

  33. hitam Says:

    Jika dianggap manusia itu ada,ia cuma panca indera
    tak lebih dan tak kurang dan selalu terjebak dgn persepsi didaerah tsb.Rahasia Diri inilah yng mesti diurai sedalam dalamnya……


  34. Mengenal diri … tubuh-jiwa-roh!

    Kalau utk mengenal tubuh ya melalui kaca,
    Kalau utk mengenal jiwa melalui kata,
    Kalau utk mengenal roh … via minpi?
    -

    Salam Damai!

    • hitam Says:

      Jiwa/ruh/nyawa sama artinya,ia cuma berbeda dlm segi kata.Penting untuk diteliti siapakah Ruh,yang menguasai seluruh perbuatan,nafsu baik/jahat dan perasaan2 makhluk?


      • @hitam

        Jiwa dan roh,
        Bagiku mereka beda,
        Sebeda gila dan kesurupan!
        -

        Salam Damai!

    • hitam Says:

      Sdr.Maren,salam kenal,bgmana menurut sdr.maksud kalimat TIADA DAYA DAN UPAYA SELAIN ALLAH ?


      • @hitem

        Tak ada daya, tak ada upaya, ada Allah.
        Kalimat itu belum lengkap rasanya.
        Coba lengkapi utk didiskusikan.
        -

        Salam Damai!

        • hitam Says:

          Insan tidak mempunyai daya dan upaya,apa yg dperbuat/dikerjakan,dirasakan,bukanlah hasil perbuatannya,ia menyangka telah melakukan sesuatu.Melakukan dgn sungguh2,penuh perhitungan dsb,anehnya ketika ruh pergi/kematian dtg,si insan terbujur kaku.Tak berdaya.Jadi siapakah penggerak si insan ketika msh hidup?.Menurut saya Ruh lah yg melakukannya,dlm hal ini ATAS PERINTAH ALLAH/ALLAH sendiri yg melakukan…….


        • @Hitam

          Ya!
          Aku setuju dengan mu, Kang!

          Insan tanpa roh tak berguna,
          Insan tanpa jiwa tak berdaya,
          Insan tanpa tubuh tak berupaya.

          Yang manakah yang utama,
          Dlm hidup dan berkehidupan?
          Begitu maksudmu, kan!
          -

          Salam Damai!

        • hitam Says:

          Lagu Dewa/Ahmad Dhani judul Satu.
          syairnya al.Aku ini adl DiriMu,jiwa ini adl JiwaMu,cinta ini adl CintaMu……..Dgn MataMu aku melihat,dgn LidahMU aku bicara……..
          Si insan merasa melihat,bicara………….

    • hitam Says:

      Ruh yang DITIUPKAN Allah pada penciptan manusia.Kalau roh,saya mmg tak faham..

  35. kangBoed Says:

    hmm.. asiiik.. mbaaak Jenang buka bukaan.. hehehe..
    Salam Sayang

  36. Lambang Says:

    Ini njawab komen nyang mana sih.. koq tiba-tiba membahas kemaluan…

    *kenapagadireplydekatkomenterkaitya*

  37. Fitri Says:

    seperti dewa … dewa apa ya?


  38. @Lambang

    Maklumin aja kami yg awam blog, Mas!
    Omong2, selalu duet ya dgn kangBoed,
    Sudah tiga kali kuperogokin …hehe.
    -

    Salam Sayang!


  39. DEWA sa!

  40. kangBoed Says:

    *ngelirik atas*.. hehehe.. mau ikutan gabungkah ??… jadi pikir tertiga.. hehehe.. :mrgreen:

    Salam Sayang

    *garuk garuk kepala*
    *kok belum mampir…*

  41. Lambang Says:

    Maklumlah Bang MK,
    Kita berdua ini suka ngamen dimana-mana. Siapa tahu dapet recehan ilmu gitu…

    Salam.


  42. @Lambang

    Aku udah lakukan semua nasehatnya,
    Tiga amngkuk Lamb dan tiga hati.
    Mungkin kau dah baca semua posterku,
    Apakah ada yg blum berkenan di hatimu?
    -

    Salam Maya!

  43. S™J Says:

    @ Kangboed
    trimurti, trilogi, apa tri in wan. :razz:

  44. kangBoed Says:

    waaaaaaah.. paling uenaaaaak tri in one yaa..
    Salam Sayang

    *nyengir keledai* :lol: :mrgreen: :lol:


Leave a Reply