Persatuan Hanya Awal Perpecahan
Agustus 4, 2008
Suatu ketika saya dan abang saya bertemu di rumah almarhum orang tua kami. Ketika itu dia membawa sebuah karya tulis (seperti skripsi) yang terlihat sudah lusuh. Isinya adalah hasil perenungan seseorang mengenai banyak hal. Di dalamnya sama sekali tidak ada informasi tentang identitas si penulis. Tapi, walaupun anonim, dari cara mengungkapkan pemikiran tampaknya dia punya latar belakang pendidikan teknik. Dari tulisan-tulisan yang sempat saya baca, di situ seringkali muncul istilah-istilah macam garis, bidang, ruang, dimensi, dll. Saya ingat ada pokok bahasan yang sangat menarik, meski hanya samar-samar mampir di kepala. Dia menerangkan bahwa persatuan hanyalah awal dari perpecahan.
Di situ penulis menggambarkan garis-garis dari berbagai arah menuju ke satu titik yang sama. Ketika semua garis telah sampai pada titik temu, semua garis akan menempel satu sama lain dan membentuk gambar baru. Keadaan itu oleh penulis diibaratkan sebagai sejumlah manusia dari berbagai kelompok yang ingin mencapai tujuan yang sama. Masing-masing bergerak dari titik awal yang berbeda-beda. Bila semua sudah sampai tujuan, terjadilah pertemuan atau bisa dibilang terjalinlah sebuah persatuan.
Namun, kecenderungan manusia selalu merasa tidak puas terhadap kondisi atau posisi yang sudah dicapainya. Tiap manusia pada dasarnya punya hasrat untuk terus berjalan, menuju peningkatan kualitas hidup atau menyempurnakan hasil yang sudah didapat sebelumnya. Karenanya, bila diibaratkan sebagai garis-garis yang sedang bergerak, setelah mencapai sasaran, semuanya bakal terus berjalan menjauhi titik pertemuan. Dengan kata lain, mulailah terjadi perpecahan. Dari situ penulis mengambil kesimpulan bahwa pada hakikatnya persatuan macam itu tak mungkin langgeng atau abadi. Persatuan dalam hal apapun sifatnya hanya sementara, sampai masing-masing peserta memutuskan untuk melangkah lebih jauh lagi. Berjalan kembali mencari kondisi yang lebih baik, tingkat lebih tinggi, dan hasil lebih sempurna.
Meski begitu, bukan berarti sang penulis (bukan saya) menganggap bahwa persatuan hanyalah sebuah ilusi. Tapi, beliau hanya ingin mengajukan pemikiran tentang persatuan yang sifatnya lebih kekal dan tidak mudah terpecah-belah. Hal ini mengingat sejarah bangsa kita. Kala jaman Majapahit misalnya, konon seluruh Nusantara sudah bersatu. Cuma, setelah Majapahit runtuh, persatuan di Nusantara pun sedikit demi sedikit musnah. Setelah itu muncul lagi kelompok-kelompok kecil yang saling berperang satu sama lain.
Setelah masa penjajahan barulah semangat bersatu kembali mencuat. Berawal dari persamaan nasib sebagai bangsa tertindas, pemimpin-pemimpin dari berbagai latar belakang mulai menggalang persatuan. Tujuannya supaya menjadi bangsa yang merdeka. Masalahnya, setelah lepas dari pendudukan Belanda dan Jepang, bangsa kita kembali lagi kepada perpecahan, pertikaian, perseteruan, dll. Betul juga apa yang dikemukakan penulis anonim itu. Jadi, bagaimana caranya menciptakan persatuan yang lebih langgeng? Sepertinya sih ada juga tulisan soal itu, tapi saya lupa detailnya.
Persatuan yang sebenarnya butuh syarat, yaitu sebuah awal yang baik dari masing-masing kelompok. Intinya, kalau tidak salah, mirip dengan pepatah Jawa, “Rukun agawe santosa, congkrah agawe bubrah.” (Rukun membuat sentosa, congkrah membawa kehancuran). Arti rukun sendiri menurut Niels Mulder, pengamat kebudayaan Jawa, seperti yang saya baca di situs ini, diartikan sebagai:
‘Berada dalam keadaan selaras’, ‘tenang dan tentram’, ‘tanpa perselisihan dan pertentangan’, atau ‘bersatu dalam maksud untuk saling membantu’. Dijelaskan pula bahwa rukun berlangsung ketika semua pihak berada dalam keadaan damai satu sama lain, suka bekerja sama, saling menerima, dalam suasana tenang dan sepakat.
Sementara itu, congkrah adalah lawan kata dari rukun. Berarti congkrah adalah keadaan yang tidak selaras, tidak tenang, saling bertentangan, dll. Jadi, sebelum menciptakan persatuan, syarat utama adalah adanya kerukunan. Keadaan yang selaras dari berbagai elemen masyarakat. Kondisi yang tenang, tentram, damai, saling cinta, membantu dalam memperoleh kebaikan, dll.
Lalu, mengingat analogi garis-garis dan sedikit cerita sejarah di atas, persatuan tampaknya juga butuh sebuah cita-cita bersama. Titik temu atau kesepakatan mengenai sasaran atau target yang ingin dicapai. Namun, tentunya harus dihindari sebuah tujuan yang dengan mudah dapat diraih. Cita-cita itu sebisa mungkin tidak mudah dicapai atau sesuatu yang pada hakikatnya tidak mungkin dicapai dalam kehidupan di alam fana. Sebuah cita-cita luhur, nun jauh di sana, utopia, masyarakat adil dan makmur, gemah ripah, dll. Menurut sang penulis, cita-cita tersebut bukan pula sebuah persatuan, tapi hanya tujuan.
Dengan adanya titik tolak dan kesepakatan cita-cita, barulah persatuan yang sesungguhnya bisa terwujud. Jadi, persatuan yang dimaksud adalah langkah atau tindakan yang dilakukan bersama-sama dengan semangat kerukunan dan dalam rangka mencapai tujuan bersama. Mungkin bisa digambarkan sebagai sebuah jalan lebar yang bisa dilalui berbagai kendaraan, mulai dari yang paling kinclong hingga yang paling butut. Semuanya diwadahi dalam sebuah jalur bersama.
Kira-kira seperti itulah yang saya ingat dari karya tulis anonim tersebut. Bila ada kesalahan tafsir mudah-mudahan Tuhan dan si penulis tak bernama berkenan memaafkan saya…

Agustus 4, 2008 pada 11:41 pm
mudah-mudahan kebersamaan dan kerukunan untuk menuju pada pusat titiknya,tetap selaras yah, mas. walau Congkrah itu harus tetap kita hadapi dengan bijak pula.
—
SJ: betul, congkrah juga harus dihadapi dengan bijak. kalo gak malah tambah.
Agustus 5, 2008 pada 12:32 am
hahahahahaaha.. gak tahu nich, mas.
ternyata saya kembali lagi ke background hitam, jatuh cinta kali sama warnanya,hahahahahahahahaha…
slmt malam, mas Siti jenang
—-
Agustus 5, 2008 pada 12:50 am
salam kenal mas… link back yaa..
—-
SJ: salam kenal juga. nanti saya update juga daftar jurusannya. makasih.
Agustus 5, 2008 pada 8:14 am
Sayangnya dalam setiap perjuangan menuju cita-cita bersama itu selalu melahirkan penghianat juga.
—
SJ: ya, segala sesuatu memang mengandung risiko.
Agustus 5, 2008 pada 11:14 am
Yah…. namanya juga “tak ada teman yang abadi” dan “tak ada musuh yang abadi” pula….. Yang abadi adalah egoisme dan juga pengendalian terhadap egoisme tersebut. Mereka saling tarik menarik, nah siapakah yang lebih kuat?
—
SJ: he he he… perang kepentingan yg abadi kayaknya tuh…
Agustus 5, 2008 pada 11:17 am
Negeri yang indah, rukun, aman tentram, gemah ripah loh jinawi toto tektrem kerto raharjo. mungkin sebuah ungkapan yang utopis atau bahkan hanya ada di negeri impian, negeri di awan. Namun apakah dengan begitu kita lantas tidak melakukan sesuatu? tentu tidak. Kalaupun tidak mewujudkan 100% rukun, toh masih bisa dikerjakan 85 – 90% saja. Bukan malah berdiam diri tidak melakukan apa – apa.
—
SJ: betul pak. justru karena impian itulah kita bisa terus seiring sejalan.
Agustus 5, 2008 pada 12:15 pm
waktu SD ada istilah bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh … mungkin memang itu bukan hanya sekedar kata yah, tapi bermakna banget.
—
SJ: ya, tapi sepertinya malah lebih populer plesetan, “bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi.”
Agustus 5, 2008 pada 1:50 pm
Damai…. Damai……
—
Agustus 5, 2008 pada 2:53 pm
dari berbagai peristiwa yang bersejarah, persatuan memang selalu berakhir dengan perpecahan, mas siti jenang. meski demikian, idealnya bukan persatuan yang dikambinghitamkan. ada banyak faktor yang melingkupinya. semoga kita tak terjebak dalam persatuan “klamufase”.
—
SJ: setuju pak. kalo cuma mau menang pemilu aja sih, pasti abis itu bubar jalan…
Agustus 5, 2008 pada 5:23 pm
Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan. Kalau persatuan itu dimulai dari pertemuan. Memang pasti entah kapan ujung-ujungnya ya berpisah.
Normal itu.
—
SJ: ya. tidak ada yg kekal di dunia ini, kecuali kuasa Tuhan.
Agustus 5, 2008 pada 9:48 pm
Gambarnya menyatu, berpisah ke segala arah, apa nggak sebaiknya simpul berulang., seperti gelombang tali begitu….
uraian yg mengesankan….
—
SJ: idenya boleh juga tuh… ntar deh coba cari-cari. thx.
Agustus 6, 2008 pada 10:56 am
Setuju dengan mas agor…
Tidak ada kata tidak bisa atau tidak mungkin …
Yang kebanyakan adalah : tidak mau.
——————————————-
Saya nambah celoteh juga begini :
——————————————-
Proses jauh lebih penting ketimbang hasil :
Kita tidak dilarang bodoh, yang dilarang adalah tidak mau belajar.
Kita tidak dilarang gagal, yang dilarang adalah tidak mau berusaha.
Kita tidak dilarang berpecah-berai, yang dilarang adalah tidak mau bersatu.
Mau, atau kemauan… itu muncul diawal yg terjaga diproses.
Hasil bukan urusan kita, itu urusan DIA.
Ganjaran dari-NYA juga tergantung proses, yang diawali dari mau.
Mau ?
—
SJ: tiap proses bakal selalu membuahkan hasil. setuju pak. kalo gak pernah diusahakan, lha gimana mo dapet hasil.
Agustus 6, 2008 pada 2:05 pm
Ya barangkali inilah putaran waktu dan ruang. Penyatuan dan perpecahan bertinggal di keduannya. Akan behenti jika memang sudah lagi tak berputar.
—
SJ: siklus abadi.
Agustus 6, 2008 pada 5:55 pm
menyimpulkan celotehannya pak Herianto aja deh..
kira-kira begini, ‘hidup adalah pilihan, dan separuhnya lagi adalah takdir’..
salam, pak Herianto..
maap ya kalau salah tafsir..
—
Agustus 7, 2008 pada 3:31 am
saya setuju dengan komentar sang empunya
Bersatu kita teguh, bercerai kawin lagi, cerai lagi kawin lagi dst….
Just kid’ piss men…
—
SJ: he he he… siklus kawin-cerai dong…
Agustus 7, 2008 pada 5:55 am
Membaca tulisan penuh filosofi seperti di atas selalu membuat aku jadi “minder” dan “malu”.
Minder karena aku tak mampu menyusun kalimat sedalam itu, malu karena aku merasa belum mampu menyerap “ilmu” yang ada di dalamnya.
Aku jadi semakin merasa kalau aku ini adalah orang tak mampu yang tak pernah “nrimo”.
—
SJ: lha kalimat Anda pun sarat makna dan falsafah. saya jadi ikut malu… makasih udah mampir.
Agustus 7, 2008 pada 12:31 pm
Salam kenal dari Malaysia…
Kalam Abu Musaddad
http://ibnismail.wordpress.com
—
SJ: salam kenal juga pak cik.
Agustus 7, 2008 pada 2:57 pm
Semoga semangat persatuan tetap melekat pada jiwa anak bangsa ini… salam kenal
—
SJ: semoga. salam kenal juga. makasih udah mampir.
Agustus 9, 2008 pada 11:31 am
Salam Kenal
—
SJ: he he he… salam kenal juga.
Agustus 10, 2008 pada 3:09 pm
Salam kenal dari tegal ! Jadi ingat pertemuan adalah awal perpisahan. hehehe…..
saya setuju dengan pak sawali . Perpecahan memang tak akan terjadi kalau sebelumnya tidak ada persatuan . Semua hal di dunia ini memang saling bertolak belakang.
Kenapa ada persatuan kalau harus berakhir dengan perepecahan ?
kenapa ada kebaikan kalau ternyata harus berakhir dengan keburukan ?
Yang jelas untuk memlihara nilai-nilai yang telah ada supaya tetap berada dijalan yang lurus itu tidak mudah.
—
SJ: memang tidak mudah, tapi sebaiknya diusahakan. konon itulah hakikat kehidupan. salam kenal juga.
Agustus 10, 2008 pada 5:11 pm
tetap semangat…
—
SJ: makasih. modalnya emang cuma semangat.
Agustus 10, 2008 pada 9:42 pm
Kerukunan memang sebaiknya selalu diusahakan. Lha buat apa hidup kalau cuma utk dijalani sendirian. Iya toh.
—
SJ: tepat. kalo membawa manfaat buat sesama barulah terasa maknanya. makasih udah mampir.
Agustus 11, 2008 pada 11:53 am
iya mas, ternyata betul (sebelumnya kita tidak pernah berpikir seperti itu), yaaah …. walaupun kalau harus berpisah juga, mungkin proses pisahnya yang mesra dan damai gitu lho, jangan seperti orgasme politik.
yaitu beda kepentingan …. langsung ditendang…
salam,
—
SJ: ya, kalo bisa sih kalo pisah masih dalam satu jalur cita-cita yg sama.
Agustus 11, 2008 pada 9:07 pm
wah maaf saya komen dulu baru mbaca…salam kenal
—
SJ: silaken. salam kenal juga.
Agustus 11, 2008 pada 10:03 pm
Persatuan memang awal dari perpecahan. Perpecahan juga awal dari persatuan. Itu sebabnya, nilai yang paling berharga adalah PERJALANAN dari dan menuju ke satu titik tersebut.
—
SJ: sependapat.
Agustus 14, 2008 pada 8:57 am
seperti hukum kekekalan energi selalu ada reaksi fisi & fusi berganti-ganti
—
SJ: keniscayaan yg kadang terasa menyakitkan.
Agustus 14, 2008 pada 9:45 am
persatuan itu berasal dari kesamaan kebutuhan. contohnya pada saat penjajahan, rakyat sama2 butuh kebebasan n kemerdekaan dari penindasan makanya bisa bersatu. saat kebutuhan tercapai, kebutuhan masing2 orang mulai berbeda. itu yang menyebabkan perpecahan.
kebutuhan seperti apa yang membuat manusia akan bersatu selamanya? menurutku sih kebutuhan akan cinta ILAHI dengan syarat dapat membentengi diri dari pengaruh & godaan setan.
manusia yang ingin mendapatkan cinta ILAHI, ia akan selamanya haus akan rasa itu sehingga tiada lagi yang dibutuhkan but HIM. keinginan2 duniawi yang selalu disusupi oleh setan hilang sama sekali tapi bukan berarti ia sama sekali meninggalkan dunia. dunia berada di tangan tapi hati selalu berhampiran dengan TUHAN.
salam kenal mas siti jenang. ini kunjunganku yang pertama
—
SJ: selamat datang. makasih udah mampir. kebutuhan manusia kadang berbeda, meski esensinya sama. di situlah perlu kesepakatan dalam kerangka kerukunan.
Agustus 17, 2008 pada 6:48 pm
tapi bukankah tidak ada yang kekal di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri? jadi menurut saya sejatinya memang tidak akan ada persatuan yang kekal. yang bisa dilakukan mungkin hanya mempertahankan persatuan dan keselarasan selama bisa yang sebenarnya hanyalah menunda menunggu tiba perpecahan. hehehe
—
SJ: saya setuju untuk mempertahankan keselarasan. mungkin itulah yg mesti kita definisikan sebagai persatuan. kalo gak ada upaya itulah yg berbahaya.
Agustus 19, 2008 pada 7:28 am
Filosofis bermakna dalam.
—
SJ: sayangnya sudah gak ketauan ke mana karya tulis tersebut. sebetulnya masih banyak sekali renungan-renungan yg mantap.
September 9, 2008 pada 12:22 pm
nggak ada tuh yang namanya, sifat manusia
yang ada adalah sifat ketuhanan.
manusia itu cumi…
cuma minjem…heheheheh
jadi kalau dia punya hasrat itu nggak lebih hanya ego doang
good article
▄▄▄▄▄▄
salam kenal. thx udah mampir.
SJ: kalo diurut sampek situ sih ego pun gak ada. cuma Tuhan yg ada.
September 24, 2008 pada 11:19 pm
[...] Uruk Hai. Sifatnya pun tak kalah nyleneh. Ada yang doyan membikin rusuh, tapi mengatasnamakan persatuan. Ada pula yang senang membantu, bersedekah, namun selalu ingin ditampilkan secara wah. [...]