TIdak terasa sudah beberapa bulan saya menghilang dari peredaran dunia maya. Tentunya banyak hal yang sudah terjadi selama itu, baik di dunia blog maupun nyata. Tampaknya dalam hidup ini memang banyak sekali informasi yang bisa kita tangkap. Sayangnya, ibarat hutan yang penuh pepohonan, hasilnya tidak banyak yang bisa saya petik sebagai pelajaran. Sebagian besar justru lewat begitu saja tanpa menyisakan bekas apa-apa. Meski begitu, mestinya tidak ada yang keberatan kalau saya membacot lagi… he he he…
Saya pernah diberitahu bahwa kelengkapan (jangkep) belajar manusia terdiri dari tiga tahap. Masing-masing harus ada kalau ingin lengkap ilmunya, yaitu hangarti, mangarti, dan makarti. Terjemahannya, tahu, paham, dan menjalani. Diibaratkan seperti anak tangga karena berlangsung berulang-ulang. Semuanya harus dikembalikan ke diri, dikaitkan, atau menjadi bagian pribadi kita sendiri dan digunakan untuk menjalani hidup ini.
Hangarti, tahap pertama, diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan hasil penangkapan inderawi. Segala bentuk informasi yang bisa ditangkap atau diterima tanpa arti dan makna termasuk dalam tahap ini. Bila berasal dari pihak lain atau bukan dari sumber pertama lalu disebut katanya. Bila secara langsung artinya benar-benar menyaksikan, mencium, mendengar, meraba, atau mengecap sendiri. Bisa pula berdasarkan hasil dari pengalaman, hal-hal yang pernah dialami. Apa yang tersaji saat itu atau mungkin plus sejarah, latar belakang, sumber, dll.
Selanjutnya, semua informasi tadi tentunya harus diproses lebih dulu. Mengingat ada prinsip keselarasan, segala hal lalu dipilah di dalam wilayah rasa dan nalar. Mencari arti dan maknanya, sebab-akibat, aksi-reaksi, maksud-tujuan, kaitan-kaitan, dll. Proses mencari jawaban seperti ini biasanya diikuti tirakat / lelaku dengan aktifitas raga, jiwa, maupun sukma dengan harapan mencapai tahap esensi. Ada kalanya berlangsung singkat, tapi dalam banyak hal mungkin bisa berlangsung sepanjang hayat. Dari sini seseorang kemudian diharapkan mampu membedakan mana yang dianggap asli atau benar. Informasi yang benar lalu disimpan, sedangkan yang palsu atau dianggap salah diabaikan. Melalui tahap ini baru muncul pemahaman, wawasan, atau kawruh. Mangarti.
Cuma, pemahaman atau wawasan saja dianggap kurang lengkap. Wawasan bersifat abstrak dan berada di wilayah angan-angan. Karena itu, haruslah ada pembuktian soal kebenaran wawasan tersebut. Harus ada wujud yang jelas dan bermanfaat. Bisa berbentuk budi pekerti atau mengalami apa yang telah dipahami, tapi bisa juga melaui hasil karya yang nyata (samubarang gawe ingkang wis dumadi). Bila tiga elemen tersebut sudah dimiliki, barulah seseorang dikatakan lengkap atau sempurna kadar ilmunya. Orang-orang seperti ini biasanya mampu menjelaskan dengan cukup gamblang mengenai pemahamanan yang mereka punya. Mengingat ada wujud yang nyata, hasil dari tahap ketiga bisa memunculkan pengetahuan yang baru lagi. Seiring berjalannya waktu, boleh jadi hal baru yang muncul akan menguatkan pemahaman sebelumnya. Namun, bisa juga membatalkan yang lama, berganti dengan yang baru atau penyempurnaan ilmu.
*Horeee… ngeblog lagiii..* ![]()
langitjiwa Berkata:
on Juli 6, 2008 at 9:24 pm
selamat datang kembali, mas.
SJ:
zal Berkata:
on Juli 7, 2008 at 12:43 am
::wah iki hasil, menghilang dari peradaban ngeblog toh…wah ..mantab…
kefahamanku mengatakan memang beginilah seharusnya,
sebenarnya pd AQ Surah Arrum, 21-24 tiap ujung ayat menunjukkan jenjang ini…
eh bener ternyata… baru buka-buka…
thx tambahan infonya..
Sawali Tuhusetya Berkata:
on Juli 7, 2008 at 12:54 am
kenapa juga mas siti jenang selama ini terus menghilang. sesekali komen juga sih di blog saya, hehehe
tapi setiap balik ke sini, postingannya itu2 mlulu, hiks. wah, makin dikupas, budaya jawa seperti kotak pandora, banyak nilai2 filsafat dan keagungan nilai yang belum terungkap. saya pribadi berharap, mas siti jenang berkenan utk mengupasnya di blog ini. sungguh!
wah lagi sok sibuk, pak. makasih dukungannya. saya sih pengennya emang mengupas dengan bahasa jaman sekarang, tapi sayang minim referensi keilmuwan masa kini… jadi nulis yang gampang-gampang aja deh… he he he
ulan Berkata:
on Juli 7, 2008 at 11:12 am
we…
nanti kalau njenengan udah ahli ilmu kejawen nya aku minta tolong ya mas, pengen melet orang nih..
*malu malu*
pengen melet pangeran william..
*malu*
tinggal modal menjulurkan lidah aja kan… he he he… lagian kok pangeran william. pangeran Jawa juga banyak…
Mad Max Berkata:
on Juli 7, 2008 at 1:44 pm
wah saya keknya sulit mencapai tahap esensi itu… kekekekeke
setuju dengan paragraf pertama! saya juga sering baca banyak tulisan tapi gak dapet apa-apa….
sulit bukan berarti mustahil, bukan? iya, sebetulnya kita termasuk orang-orang yang banyak ruginya…
Ersis Warmansyah Abbas Berkata:
on Juli 7, 2008 at 6:00 pm
Dalam banget … mangut-mangut. Pikiran saja jadi berpikir tentang berpikir karena terpikiran tersebab pikiran disuntik pikiran Samoeyan. Makasih.
lha… ini komentarnya juga bikin mikirin pamikir… he he he… makasih kembali.
Herianto Berkata:
on Juli 8, 2008 at 9:43 am
Persis mas jenang …


Ulama harakah berkata bahwa al-Islam harus dimulai tafahum (faham). Membangun ukhuwah harus dimulai dari ta’aruf (kenalan)- tafahum - sampai akhirnya ta’awun (saling tolong) dan itsar (mementingkan orang lain).
Segala sesuatu memang ada tahapannya.
Met ngBlog …
Kapan main ke Lampung lagi ?
Lha kok gawur aku …
Herianto Berkata:
on Juli 8, 2008 at 9:44 am
Persis mas jenang …


Ulama harakah berkata bahwa belajar Islam harus dimulai dari tafahum (faham/mengenal). Membangun ukhuwah harus dimulai dari ta’aruf (kenalan)- tafahum - sampai akhirnya ta’awun (saling tolong) dan itsar (mementingkan orang lain).
Segala sesuatu memang ada tahapannya.
Met ngBlog …
Kapan main ke Lampung lagi ?
Lha kok gawur aku …
Herianto Berkata:
on Juli 8, 2008 at 9:48 am
Duh, dah lama gak komen kok malah jadi ngawur.
Itu yang pertama tak pikir gak nyampe tadi.
Hore… nyentrik eh hatrik atau apalah istilahnya.
he he he… thx tambahan referensinya.
tomy Berkata:
on Juli 8, 2008 at 1:57 pm
selamat ngeblog lagi Kang
emang Hidup itu kayak Cakra Manggilingan berputar terus untuk membentuk lingkaran yang lebih besar, berubah dari perubahan kuantitatip menuju perubahan kualitatip, kualitas2 yang sekarang kita temukan belum tentu menjadi kualitas yang tetap baik pada pencapaian kita berikutnya. yang penting terus berjalan, makaryane cipta rasa lan karsa karena dengan praktek, teori akan diperkaya mungkin juga diubah untuk mencapai teori yang baru lagi yang mungkin lebih sempurna.
ya ya ya… kalo merasa sudah paling top tandanya malah terhenti.
Ngabehi K.M Berkata:
on Juli 8, 2008 at 2:36 pm
Kulanuwun mas jenang, mriki to dalemipun, nuwun sewu nderek ngeyub sajake kok edum tur tintrim, sampeyan ini kok hobinya datang mak bedunduk terus pergi plasss, tapi kecandak sampean saiki, he he he
wingi kula nggih mampir dalemipun mas karyan, mangga paring pituwah wonten gubug kula malih.
he he he… biasa… nengga wangsit… muahahaha… lha alamatipun pundi? nuwun sewu, kula kok kesupen wonten pundi. wonten buku alamat kok mboten wonten…
det Berkata:
on Juli 8, 2008 at 8:05 pm
weton, wuku, nogo dino
apakah termasuk dimendi kejawen?
trus: manunggaling kawula gusti?
mestinya sih iya…
Ngabehi K.M Berkata:
on Juli 9, 2008 at 8:27 am
menika alamat kula http://ngajitauhid.wordpress.com untuk searchingnya ngupadi kasampurnaning hurip, gantian ah…mlayu meneh.
eh iya… he he he…
kabarihari Berkata:
on Juli 9, 2008 at 1:31 pm
hmm sekian lama menghilang ternyata mbah siti sedang menyempurnakan ilmu rupanya.
welkombek mbah, saya juga jadi nambah ilmu saya mbaca posting njenengan ini
he he he… sibuk aja sih. mungkin juga ada tambahan referensi sana-sini. makasih.
Ngabehi K.M Berkata:
on Juli 9, 2008 at 3:13 pm
e he he… biasa… nengga wangsit… muahahaha… lha alamatipun pundi? nuwun sewu, kula kok kesupen wonten pundi. wonten buku alamat kok mboten wonten…
———————————————
Niki alamat kula mas :http://ngajitauhid.wordpress.com, mangga pinarak malik, syukur2 ngisi kuliah walau sedikit.
OK. sip… tapi kok ngisi kuliah… mboten kiyat… hi hi hi…
zawawi Berkata:
on Juli 9, 2008 at 4:21 pm
menarik…
terima kasih sudah tertarik…
atmo glendem Berkata:
on Juli 9, 2008 at 8:47 pm
ngupadio samubarang ngelmu,
mengko mesthi nemoni dalan….
ning ojo lali mRing Gusti
(mbah atmo namung nunut ngiyup)
mangga pinarak, mbah. wontene nggih ming kados ngaten…
okta sihotang Berkata:
on Juli 10, 2008 at 8:09 am
welkam bek
thx.
SiMunGiL Berkata:
on Juli 10, 2008 at 3:35 pm
selamat datang kembaliii….
waduh…keren kali, tulisan pembuka setelah nge-blog lagi, KEJAWEN!
weeehh…
lha biasanya emang gak jauh dari “begituan” kok
ratutebu Berkata:
on Juli 11, 2008 at 12:48 pm
selamat datang kalo begituuu..
ayooo.. semangat ngeblog lagihhh..
he he he… kalo referensi kurang apa boleh buat, nanti bertapa lagi…
JalanSutera.com™ Berkata:
on Juli 12, 2008 at 1:12 pm
sampeyan menghilang dari orbit dunia maya karena Euro2008, ya? gimana nih, menang taruhan nggak? kekekekkkkkk
itu kan acaranya orang-orang eropa. nun jauh di sana. saya kan bukan dan ada di sini…
sigid Berkata:
on Juli 14, 2008 at 10:09 am
Hi hi, pakde balik juga … welkombek
Eh, pakde, kalau membaca tulisan ini saya jadi ingat waktu sma pak guru saya memberi wejangan tentang kesadaran atau perilaku hidup immanens, immanens-traanscendens, dan transcendens.
Yang saya ingat cuma (maklum udah banyak lupa), imamnens berhubungan dengan hal-hal yang bisa ditangkap panca indera. Immanens-transcendens berhubungan dengan hal-hal yang tidak bisa ditangkap panca indera namun diyakini ada dan terjadi. Transcendens berhubungan dengan sesuatu yang ilahi.
Payahnya saya dulu sambil melamun, jadi ndak bisa nangkap intinya …
he he he… sepertinya punya maksud sejenis. waktu di dalam kelas emang *kebanyakan* tidak menyenangkan. kalo pas kelar baru tuh…
CY Berkata:
on Juli 15, 2008 at 4:55 pm
Hmm… Tahu, Paham, dan Menjalani.
*catet*
ikut nyatet…
kehadiranedratna Berkata:
on Juli 16, 2008 at 5:56 pm
Selamat datang kembali……
….Hangarti, mangarti, dan makarti…yang terkemahannya…. tahu, paham, dan menjalani.
Yup setuju, kita tak sekedar tahu, tapi harus memahami dengan benar, baru mempraktekkannya.
wah dah lama gak ke tempat ibu… betul bu. juga tidak sekadar menjalani, tapi harus berusaha memahami apa yg telah, sedang, dan bakal dijalani…
Arif Budiman Berkata:
on Juli 17, 2008 at 7:09 pm
Semuanya sulit sih… Ya hangarti, mangarti, makarti juga…
Ya, selamat kembali lagi ke dunia maya….
menurut falsafah Jawa, susahnya ilmu baru terasa kalo sudah ketemu.
esensi Berkata:
on Juli 18, 2008 at 8:21 pm
Woo… asem! Wis nggawe postingan anyar koq yo ra omong2
aku ngomong opo tho, kang?
.
Jadi ini sudah jelas menunjukkan bahwa kejawen tidak bisa divonis sembarangan sebagai aliran yang tak bisa bergandengan dengan Islam, lha wong pada kenyataannya inti dan tapa laku (orang2 pengikut) kejawen selaras dengan spirit ajaran kalimasada, ya tho?
.
.
*nggluyur, ra disuguhi opo-opo…*
he he he… lha dari kemaren2 udah aktif komentar lagi sana-sini kok gak ditengok. ya, menurut para tetua sebetulnya kejawen sudah mengambil inti ajaran2 keagamaan, membuang bungkusan yg berbau kultur asing. silaken minum jamu kunyit asem…
Toga Berkata:
on Juli 21, 2008 at 8:43 pm
Membaca uraian tentang kekayaan filosofi Jawa, kadang saya berpikir, jangan-jangan filsuf Yunani “mencuri” kearifannya dari sini.
muahahaha… seandainya ada teori yg menyatakan budaya nusantara lebih tua dari Yunani, saya kira bukan tidak mungkin.
Yari NK Berkata:
on Juli 22, 2008 at 3:49 pm
Wah…. saya kurang memahami sebenarnya ilmu kejawen, kesunden, kebataken, kepapuan dan sebagainya hehehe…..
Tapi yang jelas, kira2 mirip dengan penyempurnaan logika manusia. Di sebuah blog saya pernah menceritakan tentang penyempurnaan logika manusia. Dulu orang percaya dan berlogika bahwa yang menyebabkan burung bisa terbang adalah sayapnya. Lalu manusia membuat sayap, ternyata manusia tetap tidak bisa terbang seperti yang diharapkan. Dan manusia belajar dan belajar kembali, menyempurnakan setiap logika baru yang didapat dari belajar, sampai akhirnya manusia sadar bahwa selain punya sayap, prinsip aerodinamika (dan faktor2 lainnya tentu saja) sangat berperan sehingga burung bisa terbang. Dan….. akhirnya kini manusiapun bisa terbang seperti burung….
Begitulah kira2…. penyempurnaan logika dari proses belajar oleh manusia……
ya, betul pak. ada proses yg harus dijalani menuju sebuah penyempurnaan.
I w Berkata:
on Juli 23, 2008 at 5:07 pm
Ternyata masih ada tempat saya bisa diterima, ngaurip sakjroning pati.. seblumnya saya merasa aneh! tapi sekarang yo iki lelakon ku
lha mangga sesarengan makarya…
JalanSutera.com™ Berkata:
on Juli 24, 2008 at 5:27 pm
saya baca ulang lagi tulisan Mas Jenang lagi. Kalo nggak salah Pak Harto dulu pernah ngoceh seperti ini juga di televisi, ya? Anda berdua ini satu guru, ya?
kalo itu kan… secara… etnis dan sumber falsafah kan sama, meski mungkin beda penafsiran serta implementasinya. bukan begitu?
Rindu Berkata:
on Juli 25, 2008 at 12:54 pm
Bertapanya diamana sih? tulisannya jadi bagus gini …
makasih. kalo berminat, silakan bergabung di pertapaan para blogger.
mengejaperistiwa Berkata:
on Juli 29, 2008 at 2:59 pm
selamat siang, pak
saya mampir minum, *berharap disuguhi “air” berkualitas untuk menghilangkan haus dan menambah bekal perjalanan*
*mendapatkan yang diharapkan, lalu pamitan*
nanti saya mampir lagi, minta “air” lagi ya , pak..
terimakasih..
silaken… silaken… makasih dah mampir. btw, gambarnya perempuan, tapi email kok nama lelaki?
godamn Berkata:
on Juli 29, 2008 at 8:28 pm
Wuah… panjang banget ya mas… kalo aki-ku bilang sih gini… “Cu, kamu tuh mesti jujur ma diri kamu sendiri, ucapan kamu, pikiran kamu, tindakan kamu hendaknya selaras sama hati kamu, soalnya kalo gak kitu kamu pasti sakit, kalo ilmu mah nanti juga nyamperin, kalo kamu dah siap mah, yang penting kamu baik ma orang, orang juga sama ma kamu, kalo dicubit sakitnya sama dengan kamu dicubit orang”, gitu deh katanya, sama kali artinya ya mas yah…?
sepertinya punya maksud yg sama. tidak perlu memaksakan diri mendapat ilmu lah… kalo dapet juga percuma kalo gak dijalankan. makasih dah mampir.
mengejaperistiwa Berkata:
on Juli 30, 2008 at 5:28 pm
@sitijenang
hehehe..memang sengaja, pak..
email itu adalah nama
kekasih saya dahulu, karena saya suka nama itu dan tidak akan lupa, maka nama dan no teleponnya saya jadikan alamat email dan password sekalian, saya pasti gak akan lupa..btw, saya benar-benar dapat sesuatu dari postingan ini..matur suwun..
*laporan selesai*
mudah-mudahan mendapat manfaat. amin
Ndoro Seten Berkata:
on Juli 31, 2008 at 9:37 am
welha eloook kang!
ndherek bingah pranyata isih akeh para mudha kang isih kerso nguri-uri bab kawruh luhur kang wus winarisake dening para sepuh….
nderek tepang kang!
sugeng tepang ugi, kang. naming sak bisanipun kawula.
Tumes_semuT Berkata:
on Agustus 3, 2008 at 5:17 pm
selamat ngeblog lagi pakde hehehe
tetap dengan pencarian dan pembuktian akan pemahaman…
he he he… gak selalu gitu lah.
langitjiwa Berkata:
on Agustus 3, 2008 at 9:20 pm
malam. mas
selamat malam…
marsudiyanto Berkata:
on Agustus 9, 2008 at 10:42 pm
Ilmunya mantap…
Menguasai hal2 yang bagi sebagian orang jaman sekarang sudah terlupakan.
Saya menduga, saya memprediksi dan saya menerawang, Mas Sitijenang ini produk desa seperti saya, karena saya amati, hanya orang2 yang lahir dipedesaan seperti kitalah, yang ketajaman indera kesekiannya terasah. Semoga dugaan saya benar adanya. Saya tidak mengatakan orang kota tidak terasah, tapi itulah kenyataannya. (Maaf bagi yang merasa orang kota, karena kota sah disebut kota setelah adanya desa).
Saya bangga, saya salut dan saya sangat mengapresiasi Anda…
Anda memahami Hasta Brata…
Jangan2 Anda santrinya Pak Harto. Saya jadi takut!
Sukses!
—
SJ: terima kasih kunjungannya. tapi, saya gak ada hubungan dengan bapak tersebut.. he he he
marsudiyanto Berkata:
on Agustus 9, 2008 at 10:51 pm
Masuk kesini, kesan pertama sama seperti masuk ke bangunan lain pada umumnya.
Tapi makin masuk ke dalam, makin mrinding, makin angker…
(agak bau kemenyan)
Aroma kejawennya kenthal, unggahungguhnya terjaga, tatakramanya terbawa, tiap komentar saya serasa ngabiyantoro, sowan, koyo kethoprak…
Nama “Sitijenang” saja sudah membuat saya minder wardeg…
(mengandung unsur trah!)
Andai masih ada kasta, minimal aria dan pasti bukan sudra
(saya pahamnya cuman arial, tahoma & times new roman)
—
SJ: he he he.. kalo gak salah saya malah Verdana.
Andi Berkata:
on Agustus 11, 2008 at 8:11 am
Nyuwun sewu.. Saya minta tolong sama teman2 di site ini. Saya ada masalah tentang nogo dino.. Apakah ada alternatif lain selain harus menunggu nogo dino berpindah arah dahulu.. Karena saya sudah ngebet masuk rmh baru itu.. Tapi kata ortu .. Jgn dulu,krn dr rmh ortu ke rmh saya mengarah ke BARAT.. lha katanya skrg sang nogo dino menghadap ke timur.. Terima kasih atas jawabannya.. Via email juga gpp..
—
SJ: wah kalo masalah itungan itu saya gak ngerti. tapi coba aja liat-liat di daftar jurusan. sapa tau ada yg isinya naga dina.
alatas Berkata:
on Oktober 4, 2008 at 6:19 am
kalau saya hakikat orak hidup.
1 rasa
2 krasa
3 cipto
mas pernah dengar g’???