<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Karma Bisa Menurun dan Menular?</title>
	<atom:link href="http://sitijenang.wordpress.com/2008/02/13/karma-bisa-menurun-dan-menular/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sitijenang.wordpress.com/2008/02/13/karma-bisa-menurun-dan-menular/</link>
	<description>Sekadar Renungan Pribadi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Nov 2009 07:23:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: RyoH</title>
		<link>http://sitijenang.wordpress.com/2008/02/13/karma-bisa-menurun-dan-menular/#comment-891</link>
		<dc:creator>RyoH</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 04:52:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sitijenang.wordpress.com/?p=32#comment-891</guid>
		<description>nanyak nih. di dalam kitab suci (apapun) ada nggak yg menjelaskan secara gamblang karma yang menurun. Kalo di QS Zalzalah masih blawur menurut saya , masih belum jelas.

Minta petunjuk ^^

▄▄▄▄▄▄
SJ: saya tidak tahu referensi kitab suci. saya sendiri memahami karma sebagai perbuatan beserta dampaknya. jadi, tampaknya memang bisa menurun, dalam arti dampak secara fisik maupun mental.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>nanyak nih. di dalam kitab suci (apapun) ada nggak yg menjelaskan secara gamblang karma yang menurun. Kalo di QS Zalzalah masih blawur menurut saya , masih belum jelas.</p>
<p>Minta petunjuk ^^</p>
<p>▄▄▄▄▄▄<br />
SJ: saya tidak tahu referensi kitab suci. saya sendiri memahami karma sebagai perbuatan beserta dampaknya. jadi, tampaknya memang bisa menurun, dalam arti dampak secara fisik maupun mental.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: meiditami</title>
		<link>http://sitijenang.wordpress.com/2008/02/13/karma-bisa-menurun-dan-menular/#comment-616</link>
		<dc:creator>meiditami</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 08:52:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sitijenang.wordpress.com/?p=32#comment-616</guid>
		<description>soal pasangan narkoba menularkan bayi bermuatan narkoba, itu gak usah pake istilah karma krn pastinya itu sebab akibat.

&lt;em&gt;he he he... makasih udah mampir&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>soal pasangan narkoba menularkan bayi bermuatan narkoba, itu gak usah pake istilah karma krn pastinya itu sebab akibat.</p>
<p><em>he he he&#8230; makasih udah mampir</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Exel-01</title>
		<link>http://sitijenang.wordpress.com/2008/02/13/karma-bisa-menurun-dan-menular/#comment-611</link>
		<dc:creator>Exel-01</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 06:17:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sitijenang.wordpress.com/?p=32#comment-611</guid>
		<description>Salam damai dan sejahtera..
Nyuwun ngapunten Pak..Ikut gabung pak Sitijenang..he..he.. 
Bicara atau memahami makna karma..saya masih kurang paham dan perlu banyak referensi untuk pemahaman..tetapi menurut keyakinan saya karma itu memang ada dan terkadang  kita tidak menyadarinya bahwa itu &quot;buah karma&quot;..dan terkadang tidak bisa dijelaskan secara nalar/logis..Tetapi bicara mengenai karma..banyak juga yang dapat kita pahami secara nalar/logika..sebagai contoh sederhana..misal kita berbagi kasih atau kebaikan kepada orang lain, maka orang lainpun juga akan menerimanya dengan rasa senang,nyaman,dll..dan imbas dari itu smua orang lain yang kita beri kasih sayang dan kebaikan juga akan menghargai kita,bahkan juga bisa timbal balik berupa imaterial atau material..dan kalau ada orang lain yang kita beri kasih sayang atau kebaikan tetapi malah di balas dengan kebencian atau kejahatan itu menurut saya juga imbas dari &quot;buah karma buruk&quot;..yang sulit untuk di jelaskan secara nalar/logika..
Lepas dari wacana tentang karma..yg terpenting dari hidup kita adalah kita saling berbagi KASIH dengan orang lain..tanpa memandang latar belakang orang tersebut dan selalu positive thinking akan apa yg terjadi di hidup kita..dan yang tidak kalah pentingnya selalu mendekatkan diri kepada Tuhan..untuk membentengi diri kita dari godaan jahat/setan..
&quot;KASIH TAK MENGENAL MUSIM..KASIH BERBUAH SETIAP WAKTU..WALAU BUAH KASIH TIDAK SELALU MANIS,TETAPI JANGAN PERNAH BERHENTI BERBAGI KASIH..&quot;
..salam damai dan sejahtera..
Terimakasih..

&lt;em&gt;salam sejahtera. memang kira-kira seperti itulah pesan yg ingin saya sampaikan. berhati-hatilah dalam bertindak karena pada akhirnya kita jugalah yg akan mendapat dampaknya. makasih tambahannya.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam damai dan sejahtera..<br />
Nyuwun ngapunten Pak..Ikut gabung pak Sitijenang..he..he..<br />
Bicara atau memahami makna karma..saya masih kurang paham dan perlu banyak referensi untuk pemahaman..tetapi menurut keyakinan saya karma itu memang ada dan terkadang  kita tidak menyadarinya bahwa itu &#8220;buah karma&#8221;..dan terkadang tidak bisa dijelaskan secara nalar/logis..Tetapi bicara mengenai karma..banyak juga yang dapat kita pahami secara nalar/logika..sebagai contoh sederhana..misal kita berbagi kasih atau kebaikan kepada orang lain, maka orang lainpun juga akan menerimanya dengan rasa senang,nyaman,dll..dan imbas dari itu smua orang lain yang kita beri kasih sayang dan kebaikan juga akan menghargai kita,bahkan juga bisa timbal balik berupa imaterial atau material..dan kalau ada orang lain yang kita beri kasih sayang atau kebaikan tetapi malah di balas dengan kebencian atau kejahatan itu menurut saya juga imbas dari &#8220;buah karma buruk&#8221;..yang sulit untuk di jelaskan secara nalar/logika..<br />
Lepas dari wacana tentang karma..yg terpenting dari hidup kita adalah kita saling berbagi KASIH dengan orang lain..tanpa memandang latar belakang orang tersebut dan selalu positive thinking akan apa yg terjadi di hidup kita..dan yang tidak kalah pentingnya selalu mendekatkan diri kepada Tuhan..untuk membentengi diri kita dari godaan jahat/setan..<br />
&#8220;KASIH TAK MENGENAL MUSIM..KASIH BERBUAH SETIAP WAKTU..WALAU BUAH KASIH TIDAK SELALU MANIS,TETAPI JANGAN PERNAH BERHENTI BERBAGI KASIH..&#8221;<br />
..salam damai dan sejahtera..<br />
Terimakasih..</p>
<p><em>salam sejahtera. memang kira-kira seperti itulah pesan yg ingin saya sampaikan. berhati-hatilah dalam bertindak karena pada akhirnya kita jugalah yg akan mendapat dampaknya. makasih tambahannya.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Siwa Buddha</title>
		<link>http://sitijenang.wordpress.com/2008/02/13/karma-bisa-menurun-dan-menular/#comment-607</link>
		<dc:creator>Siwa Buddha</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 14:17:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sitijenang.wordpress.com/?p=32#comment-607</guid>
		<description>Salam Damai dan Penuh Cinta Kasih... ,

Salam kenal mas Sitijenang... ,

Boleh kan ikut gabung dan membaca-baca tulisan2 anda ?

Saya pengin ikut menanggapi sedikit ni mas... .

Dalam ajaran Buddha, karma itu tidak didapatkan karena keturunan. 

&quot; Setiap orang terlahir dari perbuatannya sendiri, memetika buah perbuatannya sendiri, mewarisi buah perbuatannya sendiri, berhubungan dengan perbuatannya sendiri, Baik ataupun buruk, itulah yang akan diwarisinya... &quot;

Demikian salah satu sutta dalam Parita Suci Buddhis mengatakan.  

Sesungguhnya, tidak bijaksana jika menyalahkan pihak lain atas terjadinya sesuatu hal atas diri kita, baik ataupun buruk. Tidak bijaksana jika ada seseorang yang menyatakan bahwa ia miskin karena karma orang tuanya.

Yang ada adalah hukum &quot;Jenis-Mencari-Jenis&quot;.  Seseorang yang senantiasa berbuat baik, ketika meninggal, setelah itu, ia akan segera terlahir didalam keluarga yang baik, sesuai &quot;gati-nimiita&quot; ( lambang-tujuan ) dan karma pendukung saat detik-detik ia meninggal. Gati nimita dan karma pendukung ini, misalnya, bagi seorang dokter, adalah pengalaman perbuatan baiknya menolong makhluk2 yang membutuhkan. Bagi seorang tukang jagal adalah, perbuatannya memotong hewan-hewan. Kondisi batin saat seseorang meninggal itulah yang menentukan kelahiran berikutnya. Maka, ada tradisi Buddhis untuk membimbing seseorang yang akan meninggal, dengan mengingatkan kenangan yang indah-indah, perbuatan2nya yang baik, membacakan Parita / Sutta, dan lain2.  Maka dari itu juga, dalam tradisi Islam di Jawa juga banyak yang membisiki doa, shalawat, syahadat, dll, bagi orang yang akan meninggal.

Kira2 sekian dulu mas Sitijenang.  

Silakan mampir ke weblog saya, mempererat tali silaturrahmi, saling mengenal, saling berdiskusi, saling bertukan pikiran, di =  http://ciwabuddha.wordpress.com.

Saya tunggu lho mas, hehehehehe.... .

Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari segala bentuk penderitaan, baik penderitaan didalam batinnya, maupun penderitaan jasmaninya... .

Salam-Damai dan Penuh-Cinta-Kasih... .

Rahayu...Rahayu...RAhayu... Nir ing sambekala... SATUHU.....

&lt;em&gt;makasih tambahan referensinya. saya ambil referensi buddha hanya untuk definisi karma aja. soal karma turunan itu kalo gak salah dari kultur Jawa. akan ke TKP.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam Damai dan Penuh Cinta Kasih&#8230; ,</p>
<p>Salam kenal mas Sitijenang&#8230; ,</p>
<p>Boleh kan ikut gabung dan membaca-baca tulisan2 anda ?</p>
<p>Saya pengin ikut menanggapi sedikit ni mas&#8230; .</p>
<p>Dalam ajaran Buddha, karma itu tidak didapatkan karena keturunan. </p>
<p>&#8221; Setiap orang terlahir dari perbuatannya sendiri, memetika buah perbuatannya sendiri, mewarisi buah perbuatannya sendiri, berhubungan dengan perbuatannya sendiri, Baik ataupun buruk, itulah yang akan diwarisinya&#8230; &#8221;</p>
<p>Demikian salah satu sutta dalam Parita Suci Buddhis mengatakan.  </p>
<p>Sesungguhnya, tidak bijaksana jika menyalahkan pihak lain atas terjadinya sesuatu hal atas diri kita, baik ataupun buruk. Tidak bijaksana jika ada seseorang yang menyatakan bahwa ia miskin karena karma orang tuanya.</p>
<p>Yang ada adalah hukum &#8220;Jenis-Mencari-Jenis&#8221;.  Seseorang yang senantiasa berbuat baik, ketika meninggal, setelah itu, ia akan segera terlahir didalam keluarga yang baik, sesuai &#8220;gati-nimiita&#8221; ( lambang-tujuan ) dan karma pendukung saat detik-detik ia meninggal. Gati nimita dan karma pendukung ini, misalnya, bagi seorang dokter, adalah pengalaman perbuatan baiknya menolong makhluk2 yang membutuhkan. Bagi seorang tukang jagal adalah, perbuatannya memotong hewan-hewan. Kondisi batin saat seseorang meninggal itulah yang menentukan kelahiran berikutnya. Maka, ada tradisi Buddhis untuk membimbing seseorang yang akan meninggal, dengan mengingatkan kenangan yang indah-indah, perbuatan2nya yang baik, membacakan Parita / Sutta, dan lain2.  Maka dari itu juga, dalam tradisi Islam di Jawa juga banyak yang membisiki doa, shalawat, syahadat, dll, bagi orang yang akan meninggal.</p>
<p>Kira2 sekian dulu mas Sitijenang.  </p>
<p>Silakan mampir ke weblog saya, mempererat tali silaturrahmi, saling mengenal, saling berdiskusi, saling bertukan pikiran, di =  <a href="http://ciwabuddha.wordpress.com" rel="nofollow">http://ciwabuddha.wordpress.com</a>.</p>
<p>Saya tunggu lho mas, hehehehehe&#8230;. .</p>
<p>Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari segala bentuk penderitaan, baik penderitaan didalam batinnya, maupun penderitaan jasmaninya&#8230; .</p>
<p>Salam-Damai dan Penuh-Cinta-Kasih&#8230; .</p>
<p>Rahayu&#8230;Rahayu&#8230;RAhayu&#8230; Nir ing sambekala&#8230; SATUHU&#8230;..</p>
<p><em>makasih tambahan referensinya. saya ambil referensi buddha hanya untuk definisi karma aja. soal karma turunan itu kalo gak salah dari kultur Jawa. akan ke TKP.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sungai</title>
		<link>http://sitijenang.wordpress.com/2008/02/13/karma-bisa-menurun-dan-menular/#comment-580</link>
		<dc:creator>Sungai</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 09:49:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sitijenang.wordpress.com/?p=32#comment-580</guid>
		<description>ikut baca aja. pemahamanku soal karma masih minim. suer

&lt;em&gt;saya juga. cuma berusaha memahami apa yg saya ketahui aja.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ikut baca aja. pemahamanku soal karma masih minim. suer</p>
<p><em>saya juga. cuma berusaha memahami apa yg saya ketahui aja.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: bisaku</title>
		<link>http://sitijenang.wordpress.com/2008/02/13/karma-bisa-menurun-dan-menular/#comment-579</link>
		<dc:creator>bisaku</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 01:07:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sitijenang.wordpress.com/?p=32#comment-579</guid>
		<description>@CY
Ya terus terang saya pesimis. Karena kalau semua orang hanya berlomba untuk berderma untuk berbuat kebaikan, tanpa tahu tujuan dari derma tersebut untuk mendapat apa, sama saja seperti berusaha untuk menyelamatkan orang hutan tanpa tahu tujuannya untuk menyelamatkan orang hutan itu untuk apa?? Yang saya maksudkan disini adalah tujuan dan dasar dari derma dalam perbuatan baiknya itu ... Kalau hanya untuk berbuat baik menghindari karma yang akan menerpanya? Lalu apakah itu bisa dikatakan sebagai sebuah dasar yang baik untuk berderma; itu kalau Anda mengatakan saya pesimis bila setiap manusia berlomba2 mendermakan perbuatan baik.
Well, saya tidak pernah berpendapat bahwa kita harus mendermakan perbuatan jahat. Tapi kalau konteksnya adalah karma, kalau Anda mau ya itu hak anda :mrgreen:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@CY<br />
Ya terus terang saya pesimis. Karena kalau semua orang hanya berlomba untuk berderma untuk berbuat kebaikan, tanpa tahu tujuan dari derma tersebut untuk mendapat apa, sama saja seperti berusaha untuk menyelamatkan orang hutan tanpa tahu tujuannya untuk menyelamatkan orang hutan itu untuk apa?? Yang saya maksudkan disini adalah tujuan dan dasar dari derma dalam perbuatan baiknya itu &#8230; Kalau hanya untuk berbuat baik menghindari karma yang akan menerpanya? Lalu apakah itu bisa dikatakan sebagai sebuah dasar yang baik untuk berderma; itu kalau Anda mengatakan saya pesimis bila setiap manusia berlomba2 mendermakan perbuatan baik.<br />
Well, saya tidak pernah berpendapat bahwa kita harus mendermakan perbuatan jahat. Tapi kalau konteksnya adalah karma, kalau Anda mau ya itu hak anda <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: CY</title>
		<link>http://sitijenang.wordpress.com/2008/02/13/karma-bisa-menurun-dan-menular/#comment-577</link>
		<dc:creator>CY</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 05:32:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sitijenang.wordpress.com/?p=32#comment-577</guid>
		<description>@Bisaku
Begitukah? Bukankah dengan adanya kepercayaan ttg karma yg bisa membuat seseorang bertobat dari jalan hidup nyelenehnya.  Lucu sekali menurut saya kalau anda pesismis akan hasilnya bila setiap manusia berlomba2 mendermakan perbuatan baik. Kan cuman ada dua perbuatan, baik dan jahat. Kalau pendapat anda seperti itu berarti kita harus mendermakan perbuatan jahat juga dong. gitu?  :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Bisaku<br />
Begitukah? Bukankah dengan adanya kepercayaan ttg karma yg bisa membuat seseorang bertobat dari jalan hidup nyelenehnya.  Lucu sekali menurut saya kalau anda pesismis akan hasilnya bila setiap manusia berlomba2 mendermakan perbuatan baik. Kan cuman ada dua perbuatan, baik dan jahat. Kalau pendapat anda seperti itu berarti kita harus mendermakan perbuatan jahat juga dong. gitu?  <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: bisaku</title>
		<link>http://sitijenang.wordpress.com/2008/02/13/karma-bisa-menurun-dan-menular/#comment-576</link>
		<dc:creator>bisaku</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 03:26:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sitijenang.wordpress.com/?p=32#comment-576</guid>
		<description>Kalau pemikiran hanya terbatas pada karma, maka tidak akan ada pertobatan. Karena yang akan terjadi adalah masing-masing manusia berusaha untuk mendermakan perbuatan baik tanpa memikirkan tentang hakekat dari kebaikan tersebut sendiri. 

Karma bagi saya adalah balasan dari sebuah pilihan tentang hidup yang kita jalani; tentang apakah ini akan menurun kepada anak cucu? Ah, biarkan rentetan tarik menarik pararel dari &quot;Jalan hidup atau pilihan hidup?&quot; &lt;a href=&quot;http://bisaku.wordpress.com/2008/01/22/jalan-hidup-atau-pilihan-hidup/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;hasil pilihan&lt;/a&gt; yang sudah kita jalani yang akan menjawabnya ....

&lt;em&gt;saya kan belum bicara pengampunan. kalo itu sih semua kesalahan katanya kan bisa lenyap... barangkali juga beserta dampaknya.&lt;/em&gt;

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau pemikiran hanya terbatas pada karma, maka tidak akan ada pertobatan. Karena yang akan terjadi adalah masing-masing manusia berusaha untuk mendermakan perbuatan baik tanpa memikirkan tentang hakekat dari kebaikan tersebut sendiri. </p>
<p>Karma bagi saya adalah balasan dari sebuah pilihan tentang hidup yang kita jalani; tentang apakah ini akan menurun kepada anak cucu? Ah, biarkan rentetan tarik menarik pararel dari &#8220;Jalan hidup atau pilihan hidup?&#8221; <a href="http://bisaku.wordpress.com/2008/01/22/jalan-hidup-atau-pilihan-hidup/" rel="nofollow">hasil pilihan</a> yang sudah kita jalani yang akan menjawabnya &#8230;.</p>
<p><em>saya kan belum bicara pengampunan. kalo itu sih semua kesalahan katanya kan bisa lenyap&#8230; barangkali juga beserta dampaknya.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lingkarkecil</title>
		<link>http://sitijenang.wordpress.com/2008/02/13/karma-bisa-menurun-dan-menular/#comment-574</link>
		<dc:creator>lingkarkecil</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 05:40:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sitijenang.wordpress.com/?p=32#comment-574</guid>
		<description>saya jadi teringat Acinteyya-sutta (Anguttara-nikaya, iv.77),

&quot;Ada empat hal, para bhikkhu, yang tak terpikirkan, yang tidak seharusnya direnungkan, yang hanya menghasilkan kegilaan dan kegusaran bagi mereka yang memikirkannya. Apakah empat hal itu?
(1) Lingkup kebuddhaan dari para Buddha (buddhaana.m buddha-visayo) ...
(2) Lingkup jhana dari seorang yang berada dalam jhana (jhaayissa jhaana-visayo) ...
(3) Perbuatan (karma) dan buahnya (kamma-vipako) ...
(4) Perenungan tentang alam semesta (loka-cinta) [asal-mula alam semesta dsb/Thanissaro Bhikkhu], para bhikkhu, adalah hal-hal yang tak terpikirkan, yang tidak seharusnya direnungkan, yang hanya menghasilkan kegilaan dan kegusaran bagi mereka yang memikirkannya.

Inilah, para bhikkhu, empat hal yang tak terpikirkan, yang tidak seharusnya direnungkan, yang hanya menghasilkan kegilaan dan kegusaran bagi mereka yang memikirkannya. (&quot;Imaani kho, bhikkhave, cattaari acinteyyaani na cintetabbaani, yaani cintento ummaadassa vighaatassa bhaagii assaa &#039;ti)

[Dari: Access to Insight, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an04/an04.077.than.html
dan Tipitaka Pali, http://www.mettanet.org/tipitaka/2Sutta-Pitaka/4Anguttara-Nikaya/Anguttara2/4-catukkanipata/008-apannakavaggo-p.html ]

hanya tambah info tentang karma :)

&lt;em&gt;wah makasih tambahannya.. biar kian lengkap referensinya..&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya jadi teringat Acinteyya-sutta (Anguttara-nikaya, iv.77),</p>
<p>&#8220;Ada empat hal, para bhikkhu, yang tak terpikirkan, yang tidak seharusnya direnungkan, yang hanya menghasilkan kegilaan dan kegusaran bagi mereka yang memikirkannya. Apakah empat hal itu?<br />
(1) Lingkup kebuddhaan dari para Buddha (buddhaana.m buddha-visayo) &#8230;<br />
(2) Lingkup jhana dari seorang yang berada dalam jhana (jhaayissa jhaana-visayo) &#8230;<br />
(3) Perbuatan (karma) dan buahnya (kamma-vipako) &#8230;<br />
(4) Perenungan tentang alam semesta (loka-cinta) [asal-mula alam semesta dsb/Thanissaro Bhikkhu], para bhikkhu, adalah hal-hal yang tak terpikirkan, yang tidak seharusnya direnungkan, yang hanya menghasilkan kegilaan dan kegusaran bagi mereka yang memikirkannya.</p>
<p>Inilah, para bhikkhu, empat hal yang tak terpikirkan, yang tidak seharusnya direnungkan, yang hanya menghasilkan kegilaan dan kegusaran bagi mereka yang memikirkannya. (&#8220;Imaani kho, bhikkhave, cattaari acinteyyaani na cintetabbaani, yaani cintento ummaadassa vighaatassa bhaagii assaa &#8216;ti)</p>
<p>[Dari: Access to Insight, <a href="http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an04/an04.077.than.html" rel="nofollow">http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an04/an04.077.than.html</a><br />
dan Tipitaka Pali, <a href="http://www.mettanet.org/tipitaka/2Sutta-Pitaka/4Anguttara-Nikaya/Anguttara2/4-catukkanipata/008-apannakavaggo-p.html" rel="nofollow">http://www.mettanet.org/tipitaka/2Sutta-Pitaka/4Anguttara-Nikaya/Anguttara2/4-catukkanipata/008-apannakavaggo-p.html</a> ]</p>
<p>hanya tambah info tentang karma <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>wah makasih tambahannya.. biar kian lengkap referensinya..</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
