Sebagian (atau mungkin mayoritas) orang menganggap bahwa ilmu bagi orang Jawa (Tengah) didapat melalui olah rasa dan hanya rasa saja. Tidak ada atau perlu ada penalarannya. Hal ini juga didukung oleh berbagai karya tulis pujangga-pujangga masa lampau yang banyak menggunakan kata yang satu ini. Padahal, anggapan seperti itu tak sepenuhnya benar atau bisa dibilang keliru. Setidaknya itulah pelajaran yang saya dapat dari beberapa orang tua di Jawa Tengah dulu, termasuk dari almarhum orang tua saya.
Semua karya orang-orang jaman dahulu memang dilandasi perolehan rasa. Semua hal harus berawal dari rasa supaya sesuai selera dan bisa dirasakan manfaatnya. Karena itu kesan yang timbul adalah bahwa rasa dianggap paling utama. Memang ada benarnya. Tapi, rasa yang seperti apa? Menurut pengalaman saya hal ini berasal dari pemahaman mereka soal diri manusia dan kaitannya dengan alam semesta.
Dalam pandangan keilmuan Jawa, manusia adalah makhluk multidimensi. Banyak pandangan soal ini dan bila bicara jumlahnya, pendapat mereka bisa berbeda-beda. Tapi, pada prinsipnya sepakat ada tiga dimensi utama, yaitu raga, jiwa, dan sukma. Dalam tiap dimensi wujud manusia relatif tetap sama, dalam arti semua fungsi ada, termasuk penginderaan dan tentunya rasa.
Kata rasa sendiri bagi mereka merujuk kepada rasa dalam dimensi mental atau jiwa. Seperti karya-karya Ki Ageng Suryo Mentaram. Di wilayah “kasunyatan” atau alam nyata disebut hawa, sedangkan di wilayah sukma disebut “rasa sakjeroning rasa” atau rasa di dalam rasa. Rasa di dalam sukma inilah yang dijadikan acuan utama dalam berkarya. Disebut “kawruh” atau biasa diartikan “kaparingan weruh” atau diberi pandangan. Sayangnya, wilayah ini sepertinya belum banyak diteliti oleh para pengamat asing yang menggunakan pendekatan nalar. Padahal, pendapat merekalah yang sering dijadikan rujukan dalam melakukan penilaian. Karena itu, ilmu kejawen secara umum lalu dianggap ilmu yang tidak rasional alias tanpa nalar.
Padahal, menurut pengalaman saya posisi nalar dalam budaya keilmuan jawa (kejawen) juga termasuk faktor paling penting. Tepatnya setelah rasa dalam sukma. Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, ada tiga dimensi utama rasa. Sosok manusia yang sejati ada di alam sukma, sedangkan raga hanya kendaraan saja. Rasa di alam nyata yang disebut hawa punya watak-watak kebinatangan. Di sisi lain, rasa di alam sukma cenderung mengarah kepada kebaikan, lebih dekat kepada kebenaran, dan punya sifat-sifat ketuhanan. Sementara itu, posisi jiwa berada di antara dua kubu yang saling tarik-menarik itu, sebagai perantara. Jiwa pada dasarnya *katanya nih* hanya menuruti pihak mana yang paling kuat daya tariknya.
Lebih lanjut soal jiwa, menurut ajaran agama yang saya pahami ada pihak tertentu yang berkepentingan di sini. Konon ia berada di antara dua pihak yang berlawanan. Di antara lelaki dan perempuan, pembeli dan pedagang, gelap dan terang, guru dan murid, dan masih banyak lagi termasuk di antara sukma dan raga. Pihak yang dimaksud adalah setan. Oleh karenanya, sebagian berpendapat di dalam jiwa itulah ruang kerjanya para setan. Masuk dari pintu-pintu yang disebut “hawa sanga” atau sembilan hawa.
Maka, menjaga kebersihan atau kesucian jiwa menjadi perkara yang sangat penting. Di wilayah ini pula letak akal pikiran manusia. Dengan harapan cahaya dari sukma selalu menyinari dan jiwa pun turut bercahaya. Inilah posisi nalar yang diinginkan dalam keilmuan orang Jawa. Sebagai cahaya atau tali yang turut menerangi atau pengendali hawa. Pandangan ini lalu disebut ilmu putih. Sebaliknya, nalar yang lebih condong kepada hawa mengarah kepada pembenaran dan akan membawa kepada kegelapan atau ilmu hitam.
Perlu diketahui bahwa dalam pandangan orang Jawa, urutan awal perolehan ilmu tidak selalu berasal dari sukma. Namun, apa yang mereka inginkan adalah keselarasan ketiga dimensi tersebut. Rasa dalam rasa memang dianggap mendekati kebenaran. Cuma, ia sifatnya personal dan tergantung kepribadian dan wawasan seseorang, jadi masih sulit dipertanggungjawabkan. Di sinilah nalar mulai memainkan perannya. Pikiran diarahkan untuk menjelaskan apa yang sudah didapat dari sukma. Tentunya supaya orang lain pun bisa memahami, merujuk, menyetujui, mendebat, dll.
Sampai di wilayah ini sudah ada interaksi dengan beberapa pihak di luar diri. Tapi, tetap saja masih sebatas wacana dan belum menjadi apa-apa. Masih dibutuhkan sesuatu yang konkret, manifestasi dari pemahaman yang ada di tingkat angan-angan. Bisa ditebak bahwa ilmu tadi harus disesuaikan juga dengan kenyataan. Secara umum terbagi dua, yaitu di wilayah pribadi dan luar pribadi. Penerapan pemahaman pada diri sendiri berwujud sebagai sebuah kepribadian atau budi pekerti, sedangkan di luar itu berupa karya indah yang umumnya disebut seni. Karya-karya dengan prinsip keselarasan seperti ini yang bisa dikatakan ada unsur kebenarannya, sarat makna, dan banyak manfaatnya. Dalam bahasa filsafat sering disebut “rasane, jarene, lan nyatane.” Terjemahan bebasnya: rasanya, katanya, dan nyatanya.
Seperti itulah esensi ajaran-ajaran yang pernah saya terima. Benar atau tidaknya, jangan tanyakan kepada saya. Tanyakan kepada para ahlinya. Ini hanya upaya berbagi saja. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
*fiuhh… hampir pingsan* ![]()
joyo Berkata:
on Januari 13, 2008 at 9:31 pm
weleh..yg nulis aj hampir pingsan apalagi yg baca
*masuk UGD*
joyo Berkata:
on Januari 13, 2008 at 9:35 pm
jadi ada ‘rasa’nya raga, ‘rasa’nya sukma dan keduanya mempengaruhi pikiran dan jiwa gitu ya mbah?
*mohon klo salah dikoreksi sblm saya dibius*
-> ya ya ya… katanya sih begitu… SUSTEEEEEER!!!
Sawali Tuhusetya Berkata:
on Januari 13, 2008 at 9:50 pm
Ada satu lagi mas jenang bahwa manusia Jawa juga mengenal jagad cilik (mikrokosmos) dan jagad gedhe (makrokosmas). “kasampurnaning urip manungsa dumunung ana laku”. *halah* dalam soal keilmuan pun saya kira sampir analog itu, yakni bagaimana manusia menyelaraskan jagad cilik (olah rasa dan olah nalar) dan jagad gedhenya (sesuatu di luar dirinya). makanya orang tua kita zaman dulu sangat dekat dengan alam (makrokosmos) sebagai simbol harmonisasi kehidupan. Makaten pemanggih kawula mas jenang, matur nuwun. Nuwun sewu menawi radi OOT, halah.
-> ya, tepat. tapi, masalahnya kan jagad di dimensi mana? *halah*
hadi arr Berkata:
on Januari 13, 2008 at 9:53 pm
“rasane, jarene, lan nyatane.” Terjemahan bebasnya: rasanya, katanya, dan nyatanya.
mirip, hati, ucapan dan tindakan ya Mas.
diucapkan dengan kata-kata, diyakini oleh hati dan diaktualisasikan dalam kehidupan.
sok tau ya saya, maaf deh kalau salah.
-> tepat juga…
Ram-Ram Muhammad Berkata:
on Januari 13, 2008 at 9:55 pm
Busyet… Wallahi kyai Jenang, saya barusan bikin komen panjang sepanjang-panjangnya, tapi kok error page-nya ya? Terus diundo tapi komennya hilang…
Kesal-kesal….
Saya beneran kesal…
*cari air menurunkan suhu amarah*
I’ll be back asap!
-> walah… mesti diulang biar lebih teliti… barangkali…
Ram-Ram Muhammad Berkata:
on Januari 13, 2008 at 10:16 pm
*betulin peci*
Bismillahirrahmaanirrahim *mungkin tadi gak baca basmallah*
Mungkin seperti Jasmani-Ruhani-Akal/Hati. Saya seringkali mensejajarkan akal dengan hati juga menganggapnya sebagai satu kesatuan. Setelah membaca sabdanya Kyai Jenang, saya melihatnya mirip *halah* dengan raga-jiwa-sukma.
Manusia oleh Allah telah dibekali potensi untuk menemukan keberadaan-Nya. Bahkan sekalipun kepada manusia tersebut tidak sampai utusan-Nya, dengan ketiga potensi tersebut -jasmani-ruhani-akal/hati- manusia dapat menemukan Tuhan. Ya seperti agama kejawen, agama-agama kepercayaan lainnya, bahkan paganisme. Mereka sampai pada kesimpulan akan adanya kekuatan tak terbatas dan abadi, yang biasa kita sebut sebagai Tuhan. Maka sekalipun temuan mereka akan adanya Tuhan dalam semesta ini “belum sempurna”, akan tetapi pesan-pesan Tuhan dapat mereka tangkap, dan hal ini mengejawantah dalam perilaku dan kesepakatan-kesepakatan aturan, nilai-nilai sosial, pranata, dan hukum yang mereka buat. Bukankah para penganut agama kepercayaan, pagan bahkan yang mengaku atheis sekalipun menyepakati apa yang baik dan buruk, salah dan benar, yang boleh dan tidak boleh.
Oleh karenanya, teramat sangat rugilah manusia yang kepadanya diutus seorang pembawa risalah Tuhan, namun kemudian mau mencampakkannya. Lalu diapakan potensi-potensi Tuhannya tersebut?
Diutusnya seorang Rasul, menurut saya adalah bentuk kasih sayang dan kemurahan Tuhan kepada manusia agar lebih mudah menemukan keberadaan-Nya.
*melepas peci*
Komen saya yang pertama dan hilang, jauh lebih panjang lho…
-> ya ya ya… tapi koreksi dikit ah… kejawen bukan agama tersendiri. saya memahaminya sebagai esensi agama tanpa bendera-bendera. khas Jawa, tapi universal dan ekuivalen dengan ajaran agama berbendera. Islam dalam kesejatian…
Ram-Ram Muhammad Berkata:
on Januari 13, 2008 at 10:34 pm
Halah…
Yang saya maksud dengan agama adalah segala bentuk aturan -spiritualitas religius- yang mengikat siapapun yang mengikatkan dirinya terhadapnya. Jadi… Kejawen dalam pemahaman saya adalah agama
*maksa MODE ON*
-> muahahaha… ya ya ya… sip… sip… terimakasih rujukan tambahannya.
deKing yang lagi-lagi sedang sibuk lagi Berkata:
on Januari 13, 2008 at 11:19 pm
Ya…lagi2 saya menemukan kuat dan indahnya matematika dalam kehidupan
“Rasane, jarene dan nyatane” merupakan suatu konsep segitiga dimana segitiga merupakan suatu bentuk yang paling seimbang dan stabil —> makanya kita menggunakan tripod untuk kamera karena konstruksi tripod yang menggunakan prinsip segitiga membentuk suatu keseimbangan dan kestabilan yang mantap.
hehehe maaf komentar saya ngaco bro
-> muahahah… untuk “memotret” permasalahan berarti mesti pake tripod juga… ya ya ya…
gempur Berkata:
on Januari 13, 2008 at 11:35 pm
saya teringat sebuah diskusi dari salah seorang teman yang petualang agama dan kepercayaan.. dia cuman berkata:
“Isi kepala setiap manusia berbeda, dari pertama kali dicipta hingga akhir kiamat tiba, tak ada yang sama. namun ada satu hal yang pasti sama karena cetakannya sama yang bisa membuat manusia berkata sama dan senada. Yang sama itu adalah RASA!”
-> yiiahahaha… hidup mbah marijan!
zal Berkata:
on Januari 14, 2008 at 12:52 am
::sepertinya, raga, jiwa dan sukma itu hanya “perangkat”,namun sebagian besar “pelakon” dalam praktiknya “perangkat” inilah, yang lebih sering dibahas/ diexplore, ketimbang manfaatnya, kenapa yak..
-> euforia dalam spiritual itu katanya biasa…
Hoek Soegirang Berkata:
on Januari 14, 2008 at 2:01 am
“ana mangsane neng ndhuwur, ana mangsane neng ngisor, nek neng dhuwur, ya syukur…nek neng ngisor ya jujur!!!” salah satu frinsif njawa yang difegang oleh kawand-kawand saia…….
-> cakra manggilingan.. ya ya ya…
antarpulau Berkata:
on Januari 14, 2008 at 2:48 am
Setiap kalimat dalam postingan ini sungguh hebat…..
*salut*
Apalagi kalimat yang PALING terakhir…..
-> muahahaha… emang mo semafut, wong kalo kurang teliti bisa “dihajar” sana-sini
antarpulau Berkata:
on Januari 14, 2008 at 2:50 am
untung Pak Siti gak jadi pingsan….
*ngebayangin repotnya…*
qzink666 Berkata:
on Januari 14, 2008 at 4:27 am
Rasane, jarene lan nyatane..
Itu semacam; apa yang kita kira (rasane) lalu apa kata orang (jarene) kemudian apa yang sesungguhnya (nyatane) ya, bro??
Kok mirip kayak hakikat, tarekat dan makripat yak..
*tolong koreksi kalo saya salah*
-> ya itulah kejawen *menurut saya*. esensi ajaran agama yang telah dialih-bahasa jawaken…
tony Berkata:
on Januari 14, 2008 at 9:32 am
gimana dengan posisi ilmu, kadang kita hanya meletakkan ilmu sebatas ilmu pengetahuan saja, jarang atau bahkan tak pernah kita meletakkan ilmu itu sebagai petunjuk untuk menuju ke hadapan-Nya, karenanya tak jarang ilmu selalu ngajak padu
-> lha kejawen kan juga ngelmu… segala macam ngelmu adalah ngelmu… he he he
tomyarjunanto Berkata:
on Januari 14, 2008 at 9:58 am
ilmu kasunyatan seperti halnya agama seharusnya *pikiranku aja* memenuhi 3 unsur : filosopis, penalaran & gaib.
karena iman harusnya hasil dari pengalaman bukan hasil cetakan .
maka dari itu bagi saya agama adalah pengalaman akan Illahi yang coba dilembagakan. *halah*
karena itu ilmu sejati adalah kasunyatan, tiada ilmu jawa, arab, cina maupun belanda
tiada islam, nasrani, hindu, budha
godong kang pating kemlisik
banyu kang pating kemricik
jangkrik-jangkrik pada ngerik
iku kabeh piwulang kang tharik-tharik
-> ngelmu kelakone kanthi lelaku… ya lakonana…
STR Berkata:
on Januari 14, 2008 at 6:30 pm
*pingsan beneran*
-> SUSSTEEER!
Mihael "D.B." Ellinsworth Berkata:
on Januari 14, 2008 at 7:05 pm
Andai saya mengerti sejarah Jawa Tengah…
Andai saya bisa bahasa Jawa…
*Baca lagi*
————–
Aha, keseimbangan. Meski aku dapat poinnya, aku sebenarnya kurang mengerti. Apakah ini mirip dengan keseimbangan jiwa-raga ?
-> jangan lupa ada sukma. sang diri sejati, kiblat sejati. selaraskan dengannya… katanya sih begitu..
SANTRI GUNDHUL Berkata:
on Januari 14, 2008 at 11:28 pm
Kang mbok sekaliyan saja di ULAS tentang
” SIR, ROSO, NAFSU lan BUDI ” ato malah piye nek dikonek, digathuk karo istilahe sampeyan..?? di gothak, gathik kiro-kiro GATHUK nggak yah..??
SIR = ……
ROSO = …..
NAFSU = …..
BUDI = …..
Koyone ini erat kaitannya dengan tulisan sampeyan pada bait terakhir, supoyo dalam mempelajari ajaran yang berupa PITUTUR dan PITUDUH tidak bersandar dengan APA KATANYA…yah..kata Pak Yai, Pak Pendeta, Pak Bikhu/Bhiksu, kata Kitab Suci…dll. Yang kebanyakan kita-kita ini ( saya ) he..he..mewakili kita-kita gak cuman sebatas hanya sebagai PEMBACA dan PENGHAFAL ayat2 Tuhan yang berhenti dan mandeg pada stasiun Akal Pikiran saja, tetapi bagaimana bisa sebagai dan menjadi PELAKU Firman-Nya yang MBALUNG SUMSUM dalam ROSO…hingga bisa DIRASAKAN oleh yg lain.
Golnya adalah ” ROSOMU yoh ROSOKU begitu sebaliknya ROSOKU yo ROSOMU ” halah…halah…mblarah..
wis bengi tak turu ah…
-> lha itu udah tahu. Sir itu kan katanya dari bahasa Arab “sirri”. kalo di jawa biasa disebut Ingsun, kalo rasa adalah Aku. nafsu udah kan… hawa, sedangkan budi itu penyingkatan “akal budi” kayaknya (jiwa). kalo sudah nyata kan jadi budi pekerti. kalo kompatibel katanya sih bakal ketemu juga.
Hoek Soegirang Berkata:
on Januari 15, 2008 at 2:27 am
“cakra manggilingan.. ya ya ya…”
lha? jadi itu bukan frinsif sekedar iseng doank ya? ternyata termasuf cakra? lha? *nyebarin info ke temen-temen*
-> sebetulnya salah satu ajaran hidup juga. digambarkan seperti roda / lingkaran. kadang kita di atas, kadang di bawah… kira-kira begitu
mydarkoctavarium Berkata:
on Januari 15, 2008 at 2:31 pm
kejawen itu yg mengutamakan harmony itu ya pakdhe..??? salam kenal, nubie
-> salam kenal juga. alamatnya mana nih?
kecaplok_askimet Berkata:
on Januari 15, 2008 at 11:49 pm
saya setuju sekali dengan komentar Ram-Ram Muhammad, Kejawen itu sepotong hasil perenungan dan pencarian manusia akan bentuk tuhan atau penguasa alam yang belum sempurna.
-> ya ya ya… kebanyakan memang melihatnya seperti itu.
Ersis W. Abbas Berkata:
on Januari 16, 2008 at 7:39 am
Semakin dalam berlayarnya dalam makrifat
-> muahahaha… makrifat kalo kata kang Ram-ram berarti pemahaman. ya, inilah dia…
gempur Berkata:
on Januari 16, 2008 at 2:08 pm
Rasa yang saya pahami sedemikian mengalami pendangkalan makna jika dikomparasikan dengan tulisan ini.. Rasa seperti menemukan jati dirinya kembali.. esensi menuju ketuhanan..
Sementara rasa yang diproduksi massal dan dijadikan komoditas ekonomi kini lebih mengarah pada pemuasan nafsu semata.. jadi rasa yang saya pahami kini rasa=nafsu.. sungguh dangkal..
Matur Nuwun pencerahannya, pak!
-> efek negatif industrialisasi segala produk katanya memang begitu… sama-sama.
wijayanto Berkata:
on Januari 16, 2008 at 4:04 pm
rasa-nya: mumet
pak, itu cakra manggilingan, jangan-jangan dianggap cakra-nya di reiki lho..
-> gak lah… kan pake manggilingan…
atapsenja Berkata:
on Januari 17, 2008 at 1:12 am
Hebat Qzink. Salut.
Menjalani hidup sesuai dengan keyakinan filsafatnya ialah bagian dari filsafat itu sendiri.
-> emang.. Qzink itu sebetulnya hebat..
Watuitem Berkata:
on Januari 17, 2008 at 8:21 am
ijin link mbah…
-> ya, silaken… silaken…
zal Berkata:
on Januari 17, 2008 at 8:11 pm
::mbak hana, yang posting disini sitijenang mbak.., kalo qzink, rumahnya sebelah sono…tu..yak..sebelah kiri, yg depan rumahnya ada tulisan “awas ada anjing gila”, nah itu qzink, mbak…,
-> untung mbaknya cakep… hmhhh
aqualy Berkata:
on Januari 18, 2008 at 6:44 am
saya suka banget membaca n mempelajari tentang budaya jawa…
thanks post nya
-> saya juga. sama-sama…
aqualy Berkata:
on Januari 18, 2008 at 6:48 am
saya link ya…page nya
saya suka hal2 begini..
-> ya. terima kasih. saya juga link blog Anda nanti.
Yari NK Berkata:
on Januari 18, 2008 at 7:43 am
Hmmm…. meskipun saya orang Jawa 87.5% namun karena lingkungan saya terbiasa majemuk jadi sedikit kehilangan pegangan pada ranah filosofis Jawa seperti ini. Namun seperti biasa saya selalu ingin mengeksplorasi sesuatu yang belum saya ketahui benar. Dan saya memang berusaha untuk terbuka dan berusaha berfikir dari sudut pandang orang lain guna dapat menyelami sebuah ilmu yang nampak ‘asing’ bagi saya.
Nah, saya tertarik dengan bagian ilmu putih dan ilmu hitam di atas. Sebenarnya definisi ilmu putih itu apa ya? Apakah ilmu tersebut hanya bermanfaat untuk menangkal ilmu hitam? Ataukah seluruh ilmu yang bermanfaat disebut ilmu putih?…
-> ilmu putih kalo menurut ortu saya yang penalarannya selaras ke nurani (sukma). penalarannya dibilang lurus. kalo kebalikan ya hitam dan penalaran dianggap kesrimpet. lha sampeyan masih mending… presentasinya masih banyakan situ. saya campur tionghoa, arab, dan entah ras apakah…
perempuan Berkata:
on Januari 18, 2008 at 3:42 pm
Sam, bikin kajian khusus aja, blognya sam sepertinya punya pakem tentang segala yang jawa. Punya banyak buku-buku jawa ya sam?
Apik…. menguak kekayaan/khasanah falsafah jawa.
-> sepertinya blog ini memang menentukan arahnya sendiri. kalo buku-buku sih gak banyak, tapi pengalaman belajar lumayan lama. terima kasih atas apresiasinya.
regsa Berkata:
on Januari 18, 2008 at 10:06 pm
*menghela nafas*
dengan cara apa supaya saya dapat menyelaraskan raga, jiwa dan sukma saya .
-> *menarik nafas panjang*
mengenai metode atau cara ada banyak jalannya. sayangnya, saya bukan ahlinya. tapi, ada kata pepatah sufi: “apa yang kami dapat tak bisa diperoleh dengan cara mencari, meski para pencarilah yang akan mendapatkannya.”
*menghela nafas*
zal Berkata:
on Januari 18, 2008 at 11:05 pm
::njenengan kejebak regsa kang..
-> gak papa… sapa tau memunculkan pandangan baru..
edratna Berkata:
on Januari 19, 2008 at 12:37 pm
Sebagai orang Jawa, sudah lama saya nggak membaca hal-hal seperti ini, membaca blog nya Sitijenang mengingatkan saya pada almarhum ayah ibu. Ilmu kejawen kalau diresapi dan dilaksanakan sungguh indah, membuat kita tidak sombong, rendah hati, dan baik budi.
-> setuju bu. sistem tatanan perilaku macam itu sebenarnya kalo diterapkan sangat indah.
fiqihsantoso Berkata:
on Januari 19, 2008 at 9:11 pm
Salam kenal Mbah…saya tertarik dengan kajian apa pun tentang manusia dan hubungannya dengan alam serta Yang Maha Kuasa. Yang saya pahami, kajian kejawen sudah punya kesamaan dengan kajian dalam psikologi agama, psikologi tasawuf, atau psikologi islami (meskipun menurut saya istilahnya kurang tepat). Yang pernah saya pelajari dan hayati manusia yang multidimensi ada beberapa aspek yang saling mempengaruhi secara dinamis…Kajian ini dalam beberapa hal coba saya analogikan dengan keilmuan positivis dari psikologi..Nah, setelah mempelajari tulisan Mbah ini, saya menemukan bahwa ilmu psikologi, ajaran Islam, dan kejawen punya kesamaan dalam memandang manusia. Semakin kesini, ilmu psikologi yang sudah tersentuh dengan filsafat fenomenologis juga lebih menyadari pentingnya rasa…Nanti kita bisa share2 lagi Mbah…Matur Nuwun (bener gak bahasa Jawanya?)
-> ya. kurang lebih setuju. ilmu Ki Suryo Mentaram misalnya, setelah diteliti katanya ekuivalen dengan ilmu psikologi modern. padahal, beliau mengungkapnya jauh sebelum itu.
fiqihsantoso Berkata:
on Januari 20, 2008 at 8:21 pm
Wah boleh tuh belajar tentang ilmu Ki Suryo Mentaram…memang apa saja hal yang equivalent mbah…? Tapi ilmu dan penghayatan saya masih minim untuk menghubungkan dengan alam ni…perlu banyak2 hiking dan belajar biologi kali yah…Kalau dari kejawennya bagaimana soal alam ya mbah?
-> saya lupa detailnya. coba liat di Blog ini. saya pernah baca artikel psikolog yang mengupas beberapa ajaran beliau di Tabloid GHS. soal alam setahu saya cukup memerhatikan alam sekitar dan diri sendiri. *katanya* banyak pelajaran soal keselarasan ini. semua dengan asumsi seorang manusia bisa jernih melihat apa yang tersirat.
Sir Arthur Moerz Berkata:
on Januari 20, 2008 at 9:12 pm
saya orang jawa…
ghak ngerti kejawen…
hihih…
*nyari pohon sengon dulu ah*
-> he he he… saya dulu malah tipe murid “pembangkang”. sampai suatu satu-persatu ajaran orang tua terbentang dan terbukti dalam kehidupan saya sendiri.
sayur asem Berkata:
on Januari 20, 2008 at 10:23 pm
Renungan tentang tata laku susila (etika) bukan merupakan refleksi teoritis belaka, melainkan merupakan keselarasan laku yang baik sebagai sarana mencapai kesempurnaan, menjalankan “dharma ksatria”, kewajiban seorang kesatria, bilamana kewajiban ini senantiasa dilakukan dengan baik “maka putusa sang hyang kalepasan” .
tapi emang jarene ngono ya Syeh..
Halah
-> muahaha… ya itu dia… semua itu katanya, sebelum melihat atau mengalami buktinya.
fiqihsantoso Berkata:
on Januari 21, 2008 at 1:31 am
oke…terima kasih untuk sharenya, kearifan lokal seperti itu sangat bermanfaat untuk menyelami kebijaksanaan yang dalam…saat ini saya sudah mengalami penghayatan tentang manusia dan alam meskipun perlu diperhalus lagi kesensitifannya….memang ya perlu keselarasan antara niat, olah rasa, keilmuan, dan pengalaman untuk mengenal dengan jernih manusia dan alam ini, apalagi mengenal Yang Maha Besar…
-> setuju. Tuhan kan memang tidak mudah dilihat maupun dipahami. Dia harus dicari supaya keberadaannya tidak katanya lagi.
Arif Budiman Berkata:
on Januari 22, 2008 at 9:42 pm
Kalau aku sih percaya bahwa Orang Jawa dahulu sudah pinter-pinter kok, sudah bisa menemukan jati diri sebagai manusia Jawa, ya lewat Ilmu Kejawen tersebut. Jadi, yang Jawa bukan hanya fisik dan keturunannya saja, namun jiwa raganya juga “Jawa”.
Yang saya sesalkan, banyak orang Jawa sekarang yang melupakan hal tersebut, dengan alasan hal itu bertentangan dengan kepercayaan (baca:agama) yang mereka anut. Hal ini yang membuat akar-akar budaya Jawa semakin tercerabut…
-> masalahnya sekarang kan iklan layanan masyarakat soal hebatnya produk asing lebih gencar. semua serba instan dan super cepat. dibumbui janji-janji yang belum tentu bisa ditepati oleh mereka yang tebar janji. padahal, orang dulu biasa pelan-pelan asal manfaat.
Arif Budiman Berkata:
on Januari 22, 2008 at 10:04 pm
Eh, ngomong-ngomong soal iklan ya, jadi ingat iklannya Djarum yang Indonesia Mahardika (kalau nggak salah judulnya
), ntu yang menampilkan beberapa unsur budaya negeri. Salut aku, kenapa kok yang lain tidak mencontoh ya? Malah menampilkan yang “lain-lain”
-> ya budaya lokal kan buat sebagian orang dianggap sudah usang. tapi kalo diakui tetangga ngamukan… he he he…
Arif Budiman Berkata:
on Januari 22, 2008 at 10:13 pm
Iya nih… malu aku… Tapi, masalahnya pandangan itu sudah mengakar di seluruh lapisan masyarakat. Terus gimana?
-> saya rasa mereka yang masih lekat dan peduli budaya lokal sebaiknya terus berkarya. menggunakan kerangka berpikir “modern”, tapi tetap menjaga nilai-nilai serta kepribadian lokal. bila hasilnya memuaskan, toh masyarakat akan tahu juga. pada dasarnya mereka kan makhluk berakal.
Arif Budiman Berkata:
on Januari 22, 2008 at 10:43 pm
Heheh… Setuju… Memang harusnya begitu… Tapi saya sendiri kadang bingung, saya bisanya apa? Modal pengetahuan cuma sekelumit saja, ilmu warisan juga tidak punya. Yang ada cuma modal nekat saja… Bisa bantu?
-> lha sama… saya juga. coba aja cari bacaan-bacaan karya orang-orang Jawa dulu. banyak versi terjemahan bikinan Anand Khrisna, terjemahan buku Kawruh Jiwa Ki Suryomentaram, dll. blom lagi beberapa blog di halaman yang masuk rombongan saya itu…
Ridwan Azari Berkata:
on Januari 26, 2008 at 11:29 am
Ya, Kejawan adalah agama di Jawa. Shinto adalah agama di Jepang. Malah Kejawen juga bisa dianut oleh umat di luar Jawa.
Saat ini, Indonesia mengalami krisis multi-dimensi. Sedangkan sebagian besar dari krisis ini disebabkan oleh agama.
Agama Islam adalah agama dari rumpun Abrahamik seperti halnya Kristen dan Yahudi. Ketiga agama ini menanamkan kebencian, permusuhan dan kekerasan sepanjang massa.
Penduduk Indonesia adalah 60% berada di Jawa. Jadi kekuatan ada di Jawa. Kalau orang jawa segera meninggalkan agama rumpun abrahamik dan kembali kepada Kepercayaan asli, maka sebagian besar dari krisis ini akan hilang dan Indonesia akan seketika sembuh dari krisis ini.
Indonesia adalah negara besar, kaya dengan sumber alam. Indonesia tidak berhak mempunyai nasib yang sepuruk ini.
-> menurut saya, semua agama pada dasarnya diturunkan untuk membawa perubahan perilaku umat manusia. lokasi turunnya, setahu saya, sepertinya selalu di wilayah yang rawan konflik, jaman kegelapan, kelaparan, kebuasan, dll. tradisi spiritualitas Jawa pada umumnya adalah hasil pengadopsian nilai-nilai ketuhanan dari luar. namun, mereka berusaha memilah antara inti ajaran dengan kultur asalnya. antara teks keagamaan dengan konteksnya dalam kehidupan. karena itu, dalam Kejawen sendiri setahu saya ada beerapa tradisi olah spiritual seperti Budha Kejawen, Hindu Kejawen, Islam Kejawen, dan mungkin Kristen Kejawen. meski begitu, tidak terjadi konflik karena semua belajar soal esensi Tuhan. hanya istilahnya yang mereka pakai saja yang berbeda-beda.
Arif Budiman Berkata:
on Januari 26, 2008 at 6:35 pm
Wah… Tak tahukah Anda bahwa Islam sebenarnya mengajarkan cinta kasih bagi semesta (Rachmatan li’l-^alamin). Cuma, beberapa penafsiran Islam oleh segelintir kelompok penganut(namun menguasai media informasi) telah membuat citra Islam seolah-olah agama yang mengajarkan teror dan permusuhan. Dan, itu mungkin juga yang diajarkan oleh agama Samawi lain, yang oleh penganutnya diselewengkan
dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Juga, pemahaman terhadap toleransi yang sangat dangkal, membuat kelompok tersebut menyulut perang dengan kaum adat. Saya benar-benar khawatir, nantinya akan terjadi peristiwa seperti pada masa Imam Bonjol dulu…-> semua agama yang diturunkan Tuhan setahu saya mengajarkan hal yang sama karena sumbernya sama. hanya, turunnya tidak selalu kepada kaum yang sudah mapan peradabannya. biasanya kepada kaum yang miskin peradaban, nalar, maupun bringas perilakunya. karena itu, konflik kebaikan vs kejahatan selalu mengemuka dalam agama apapun. jadi, bisa dibilang inti ajaran agama adalah sifat-sifat Tuhan seperti kedamaian, kebenaran, ketenangan, kasih sayang, dll. namun, manusia harus melewati pertempuran sepanjang jaman (baik vs jahat) dalam diri masing-masing. supaya tercipta idealisme yang dikehendaki Tuhan. lalu dibuatkan musuh abadi, yaitu iblis dan kawan-kawan. kalau tiap kelompok menyadari bahwa sesungguhnya mereka menghadapi musuh yang sama, tentu perdamaian antarumat manusia lebih mudah terwujud. kira-kira begitulah pendapat saya.
Om yaya Berkata:
on Februari 2, 2008 at 12:06 am
Benar… benar… ini benar…
-> ah… si om ini… yang bener nih?
munggur Berkata:
on Februari 4, 2008 at 11:05 pm
rasa memang lebih kompleks daripada pikiran. ada labirin yang lebih berliuk-liuk. namun, kebijakan manusia berasal dari rasanya. bukan sekedar pikiran dan logika.
-> kurang lebih setuju. namun, baik rasa maupun pikiran (buat saya) hanyalah perangkat dari kebijaksanaan itu sendiri…
munggur Berkata:
on Februari 4, 2008 at 11:05 pm
nambah: omong2 dari jawa atau orang jawa? saya sendiri orang yogya jadi mendengar ‘kejawen’ langsung ngeh…
-> saya orang jawa, orang tua jawa, dan dibesarkan dengan tradisi kejawen, terutama islam kejawen. gak aneh kalo situ langsung ngeh…
Keindahan Butuh Kejelasan « Halte Perjalanan Berkata:
on Februari 5, 2008 at 1:29 am
[...] seharusnya bisa melintas di segala dimensi keberadaan manusia. Mengingat orang Jawa menganut keselarasan dimensi, berarti ada juga prinsip keselarasan dalam [...]
1heart4love Berkata:
on Februari 26, 2008 at 7:06 am
“…ada tiga dimensi utama, yaitu raga, jiwa, dan sukma. Dalam tiap dimensi wujud manusia relatif tetap sama, dalam arti semua fungsi ada, termasuk penginderaan dan tentunya rasa…”
Ternyata khasanah jawa juga sudah menyentuh hakikatul insan. Manusia adalah ruh sejatinya, yang hidup dengan jiwa dan jasad. “Penginderaan” yang dimiliki oleh jiwa saja sudah jauh dibandingkan penginderaan jasad, ibarat teknologi multimedia audio-visual yang dibandingkan dengan sandi morse, apalagi “penginderaan” yang dimiliki oleh ruh.
In my opinion, perjalanan manusia seharusnya adalah untuk kembali kepada Diri Sejatinya, yang pernah bersaksi atas keesaan Tuhan.
-> memang ke arah sana tujuannya. sosok manusia sejati yang tahu tugasnya.
excoe Berkata:
on Maret 3, 2008 at 11:23 pm
Semua yang dituliskan diatas tentang kejawen menurut saya adalah benar adanya, namun apakah semua itu sudah pernah dikerjakan dan ditemukan oleh para spiritualis kejawen ? apakah para pelaku olah spiritual tersebut yang bisa mengatakan tentang makrokosmos dan mikrokosmos sudah bisa menyatukan keduanya ? adakah yang sudah menemukan siapakah sejatinya “AKU” ? dimanakah adanya “AKU” yang sejati ? karena menurut sepengetahuan saya laku kejawen bukanlah hanya untuk diomongkan saja akan tetapi harus dijalani dan di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari seperti yang diajarkan Rosul
-> saya juga sudah menuliskan di bagian akhir tulisan. kalo dipraktekkan menjadi budi pekerti. kalo dijadikan karya di luar diri menjadi karya seni. soal apakah sudah ada yang menemukan, tentunya orang-orang itu bisa tahu kan karena ada sebabnya. barangkali mereka sudah menemukan lalu menularkan ilmunya.
excoe Berkata:
on Maret 3, 2008 at 11:34 pm
Pambektine ingkang utami, nora lan wektu sesolahniro, puniko manke sembahe meneng muni, puniko sesolahe raganereki, tan simpang dadi sembah, teking wulunipun, tinja turas dadi sembah iku ing aran niat sejati, puji tan papegatan.
Wong urip iku kudu duwe pilihan, meloke ujar iku, yen wus sumelange kalbu, amung kandel kumandel, ngandel ing takdir, iku den awas den emut den memet yen arso momot urip lan netepno pilihan.
Samengko ingsun catur sembah, catur supoyo lumuntur dihin rogo, cipto, jiwo, roso kaki, ing kono lamun tinemu tondo nugrahane manon.
-> kalbu kangge tiyang Jawi punika taksih wolak-walik. minangka menika kedah mlebet langkung jero malih, alam kasukman.
langitjiwa Berkata:
on Maret 7, 2008 at 4:03 am
nekat ngelmu berani laku…..
resist Berkata:
on Maret 17, 2008 at 11:34 am
Kejawen adalah agama luhur. Sejajar dengan agama Shinto di Jepang.
Kenapa kita harus mengimpor onta dan celana katrok dari Arab? Hal ini membikin kehidupan di Jawa menjadi gersang dan garang.
Merusak tempat ibadah umat lain atas nama agama bukan ajaran Kejawen.
Agama-agama rumpun abrahamik (Islam, Kristen dan Yahudi) saling benci, saling dengki, saling memusuhi dan saling caci. Ketiga agama rumpun abrahamik ini menanamkan permusuhan, kebencian dan kekerasan sepanjang massa. Ketiga agama abrahamik ini hanya mencuci otak pemeluknya. Makin bodoh, makin gampang untuk dimanipulasi dan makin mudah untuk diadu-domba.
wah gak ikut-ikut deh…
Zulfiki Bin Taha Berkata:
on April 3, 2008 at 7:37 pm
Mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat nasrani adalah haram.
Adapun hal-hal lainnya yang haram bagi umat muslim adalah:
• makan mie instant => karena temuan orang Cina
• memakai pakaian tekstil => karena ditemukan oleh Kristiani
• makan nasi => karena berasal dari Cina
• memakai kendaraan bermotor => karena temuan bangsa Kristiani
• mengikuti ajaran Wali Songo => karena semuanya orang Cina
• menggunakan listrik => karena temuan bangsa Kristiani
• menggunakan komputer => karena temuan bangsa Kristiani
• menggunakan internet => karena temuan bangsa Kristiani
• kiblat mengarah ke Mekah => karena itu penyembahan berhala
• naik haji => karena itu penyembahan berhala
• menganggap buku al-qur’an suci => karena itu penyembahan berhala
• mengelilingi ka’bah 7 kali => karena itu penyembahan berhala
• sholat 5 kali sehari => karena ini penyembahan berhala
• mempercayai surga, neraka & akhirat => semuanya ini adalah berhala
Bagaimana dengan saudara-saudara kita umat muslim yang membela Islam dengan merusak tempat-tempat ibadah umat lain, tapi mereka memakai pakaian tekstil dan mengendarai kendaraan bermotor? Sedangkan tekstil dan kendaraan bermotor adalah temuan dan teknologi bangsa Nasrani.
Bagaimana dengan saudara-saudara kita umat muslim yang membela Islam dengan meledakkan bom untuk membunuh umat lain? Sedangkan bom itu adalah temuan orang Yahudi.
nggak ikut-ikut juga lah…
ekapratiwi Berkata:
on April 15, 2008 at 1:27 pm
KULO NAMUNG …..
SEDERMO NGLAMPAHI ……
SADERMO NGOMENTARI
SADERMO….SADERMO…. SADERMO…..
nyuwun sewu. kupat disiram santen mewani lepat nyuwun ngapunten.
tenane lho…
Dono BlomAlm Berkata:
on Mei 2, 2008 at 6:26 pm
kulo nuwun… dalem nembe kliwungan … pados2 suasono anyar.. mugi2 nentremi ati…
matur nuwun
sumangga kersa… mugi wonten manfaatipun.
Handari Berkata:
on Mei 6, 2008 at 12:37 pm
Salam kenal dulu sebelumnya. Saya sejak kecil selalu dapat dongeng, pitutur dan ilmu2 kejawen atau kanuragan dari eyang kung dan eyang uti saya sambil kaki saya dipijat. Banyak ilmu2 yang dulu sangat bisa merasuk masuk dalam ingatan saya saat ini bisa dan dapat saya nalarkan pemanfaatannya. Hanya satu yang susah pemahamannya karena semakin saya paham rasanya semakin meluas, yaitu ilmu ngeraga sukma. Benarkah ini sebuah ilmu? Adakah yang bisa membantu?
Matur nuwun,
Handari
wah kalo itu masuk khusus. silaken tanya pada ahliNYA…
Ngabehi K.M Berkata:
on Juli 9, 2008 at 2:54 pm
Salam kenal dulu sebelumnya. Saya sejak kecil selalu dapat dongeng, pitutur dan ilmu2 kejawen atau kanuragan dari eyang kung dan eyang uti saya sambil kaki saya dipijat. Banyak ilmu2 yang dulu sangat bisa merasuk masuk dalam ingatan saya saat ini bisa dan dapat saya nalarkan pemanfaatannya. Hanya satu yang susah pemahamannya karena semakin saya paham rasanya semakin meluas, yaitu ilmu ngeraga sukma. Benarkah ini sebuah ilmu? Adakah yang bisa membantu?
Matur nuwun,
Handari
———————————————————-
Kuncine mung konsentrasi tinggi mas, nek wis konsen terus di deleh neng mbathuk utawa kuncung, yen wis siap terus pleng mlumpat nglembara sak senenge, tapi kalu ga ada pendampingnya ngati2 mengko digondol wewe, hi hi hi
he he he… ati-ati lho nanti panjenengan disamperin beneran…
Tiga Dimensi Ilmu Kejawen « Halte Perjalanan Berkata:
on Juli 29, 2008 at 7:18 pm
[...] semua informasi tadi tentunya harus diproses lebih dulu. Mengingat ada prinsip keselarasan, segala hal lalu dipilah di dalam wilayah rasa dan nalar. Mencari arti dan maknanya, [...]
Aku, Aku, dan Aku « Halte Perjalanan Berkata:
on September 15, 2008 at 10:09 pm
[...] prinsip keselarasan pada artikel yang telah lalu, keberadaan manusia [setahu saya] dibagi dalam tiga dimensi utama. [...]