Kepercayaanku Bukan Keyakinanku
Januari 3, 2008
Sebelumnya perlu diketahui bahwa saya bukanlah orang yang hidup dengan 100% keyakinan. Tulisan ini bukan pula dikerjakan dengan pemahaman secara keseluruhan. Justru karena sadar bahwa ternyata baru sebagian kecil yang bisa saya anggap masuk definisi keyakinan. Sebuah definisi yang saya buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi. Sisanya adalah kepercayaan-kepercayaan.
Namun, saya ingin berusaha menyandarkan kepercayaan kepada pihak-pihak yang saya anggap paham kebenaran. Hanya berniat membangun sebuah landasan buat melangkah mencapai tujuan.
Pada suatu ketika saya bertemu dengan seorang saudara. Dari sisi genetika dia adalah sepupu saya. Kami lalu terlibat percakapan seputar pemahaman. Singkat cerita dia berkata, “Kamu tahu apa beda kepercayaan dan keyakinan?” Sebagai anak muda yang sok gaul *halah* waktu itu, saya cuma bisa pasang telinga, manggut-manggut, sambil sesekali menampakkan raut muka serba kusut. Menunggu jawaban yang dia maksud. Berhubung tak ada tanggapan apa-apa dia lalu melanjutkan, “Kalau saya buat kopi lalu saya bilang minuman ini manis. Kamu boleh langsung percaya. Tapi, kalau mau yakin, rasakan sendiri kopinya. Itulah arti keyakinan.”
Seketika itu juga saya merasa paham, padahal tadinya sangat awam. Sambil mengingat-ingat apa saja yang sudah ada di dalam diri ini. Apa saja yang sudah saya pahami. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, nyatanya sepenggal dialog itu tak kunjung berlalu. Soalnya, makin dalam direnungkan, makin jelas bahwa dalam hal keyakinan saya sesungguhnya belum paham.
Namun, saya sudah punya niat. Punya tekad dan didukung hasrat, meski rada-rada nekat. “Tidak masalah,” kata saya dalam hati. Sambil merujuk kepercayaan saya sendiri bahwa Tuhan tidak akan menyesatkan umat yang sedang mencari-Nya. Dia hanya bisa memberi sambutan. Karena itulah saya beranikan diri mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Mencari penyelesaian atas persoalan-persoalan. Sebagian orang mengatakan bahwa saya sesungguhnya sedang berjalan. Menempuh perjalanan untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini mencari sebuah jawaban.
Akhirnya, muncul jawaban-jawaban sepanjang perjalanan, meski selalu mengisyaratkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Namun, paling tidak sebuah jawaban sudah bisa saya temukan. Sebentuk pemahaman yang konon ada karena telah dipahamkan. Sebuah defini keyakinan yang mungkin tak jauh berbeda dengan kepercayaan. Jadi, definisi yang saya dapat sebetulnya untuk diri sendiri saja. Dari sudut atau sisi pandang pribadi. Tidak bermaksud menggurui atau menggiring orang lain supaya mengikuti. Perlu Anda ketahui bahwa dalam perjalanan tersebut saya lebih dulu meyakinkan diri bahwa Tuhan itu ada, seperti yang dirujuk berbagai sumber.
Menurut saya keyakinan adalah perwujudan dari sebuah pemahaman. Sebuah keyakinan perlu adanya bukti atau penjelasan-penjelasan. Tujuannya supaya ada kejelasan dan bisa mengurangi atau tidak lagi menimbulkan keraguan. Contohnya, keyakinan bahwa saya adalah seorang lelaki, dilahirkan di Jawa Tengah, dari dua orang tua yang membesarkan, dll. Bila muncul pertanyaan lanjutan, ia adalah perkembangan dari sebuah keyakinan. Merujuk pada pendapat bahwa ada tingkatan-tingkatan (Arab), yaitu ainul yaqiin, ilmul yaqiin, dan haqqul yaqiin.
Hal ini sangat berbeda dengan sebuah kepercayaan. Pada dasarnya *menurut saya nih* kepercayaan adalah sebuah penyerahan pemahaman kepada pihak yang dipercayai. Misalnya, percaya bahwa makanan yang akan dimakan tidak beracun, tahu ada teman yang mencari setelah diberitahu ibu, dll. Akibatnya, tidak selalu konsisten dan bisa berubah-ubah, tergantung dalam hal apa dan kepada siapa kepercayaan itu diserahkan. Bisa juga lihat gambar wanita ini sebagai contoh.
Jadi, sebetulnya banyak hal yang tidak saya ketahui kebenarannya secara pasti. Pun banyak yang tidak mampu saya buktikan sendiri. Namun, saya berusaha untuk mengarahkan beberapa kepercayaan ke bentuk keyakinan, yang mana tidak mudah goyah atau bahkan tak tergoyahkan. Tentunya dengan harapan bahwa hidup saya menjadi lebih nyaman. Pasalnya, konon bila melakukan hal-hal yang kita yakini kebenarannya dengan nyaman atau ikhlas baru bernilai ibadah. Di sisi lain, melakukan segala sesuatu atas dasar pemaksaan dan minim pengetahuan terasa memberatkan. Dengan kata lain malah mengakibatkan penderitaan.
Kepercayaan-kepercayaan yang belum atau tak bisa saya tingkatkan menjadi keyakinan, tinggal saya serahkan kepada Tuhan. Lagi-lagi menurut keyakinan saya soal ujar-ujar “Bila kita percaya kepada seseorang atau sesuatu, bersiaplah untuk kecewa. Tapi, bila engkau serahkan kepercayaan itu kepada Tuhan, bersiaplah untuk berbahagia”. Mudah-mudahan bila memang dibutuhkan bakal diberi tambahan. Itulah sepenggal kisah penjaga halte perjalanan. Mudah-mudahan berkenan.
-> Direvisi pada 4 Januari 2008
Januari 3, 2008 at 9:46 pm
Vertamax sudah naik!!!
*betulin dulu alas duduk*
Januari 3, 2008 at 9:49 pm
Jangan diganggu, lagi khusyu baca dulu…! Komen serieusnya belakangan
Januari 3, 2008 at 10:12 pm
Menurut saya *halah*…
Kepercayaan bermula dari pengetahuan. Kadar ilmu atau pengetahuan inilah yang menentukan kualitas kepercayaan. Jika pengetahuannya ala kadarnya, maka rasa percayanya pun akan se-ala kadarnya pula. Jika pengetahuannya luas, maka tingkat kepercayaannya pun akan mengiringinya -biasanya- berbanding lurus.
Pengetahuan yang dikombinasikan dengan perenungan, pengalaman dan pengamalan akan menghantarkan kepercayaan kepada tingkat selanjutnya, yaitu keyakinan.
Contoh sederhananya:
Saya mendapatkan penerangan bahwa jika seorang manusia sedang menghadapi masalah, maka mintalah jalan keluarnya pada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Pada tahap ini, yang terbangun adalah kepercayaan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mampu memberikan jalan keluar dari segala bentuk persoalan yang dihadapi manusia. Pada beberapa waktu, pengajaran tentang hal ini hanya sebatas menjadi pengetahuan yang saya percayai kebenarannya.
Ketika pada suatu saat saya ditimpa musibah dan masalah, saya “dipaksa” untuk mengamalkan pengetahuan -dan kepercayaan- untk berdoa meminta pertolongan Allah. Dan saya mendapati kebenaran dari pengetahuan saya selama ini, bahwa setiap masalah selalu ada jalan keluarnya, atas pertolongan Allah. Ketika hal ini berulang, pengetahuan dan kepercayaan saya berubah menjadi keyakinan -mungkin sampai pada tingkatan haqqul yakin-. Maka saya tidak pernah merasa takut menghadapi masalah dan persoalan hidup seperti apapun, karena adanya keyakinan, Allah senantiasa siap dan akan menolong hamba-Nya yang meminta pertolongan.
Jadi siklusnya:
ilmu/Pengetahuan – kepercayaan – Pengalaman/pengamalan – keyakinan -
*ngelap keringat*
-> berarti persepsi melahirkan pengetahuan, lalu muncul bukti sehingga ada pemahaman. dari situ muncul keyakinan. berarti memang perlu kejelasan, dalam hal ini bukti (fisikal, mental, maupun spiritual) baru keyakinan. begitu ya? ya ya ya… terima kasih atas tambahan wawasannya. mungkin nanti saya jadikan semacam footnote buat kelengkapan tulisan, bila tidak keberatan.
btw, sebelum yakin soal Allah berarti kan mesti paham juga ya… ya ya ya… *lagi*
Januari 3, 2008 at 11:07 pm
Bisa dibolak-balik. Ini sajian serius yang tidak memusingkan. Saya nikmati sekaligus renungkan. Aku suka pemicu renungan begini. Salam Mas Siti … jenang.
-> muahahaha… sang guru berkenan berkunjung. silaken… silaken.
Januari 3, 2008 at 11:55 pm
::Sambil merujuk kepada ajaran bahwa Tuhan tidak akan menyesatkan”,
“jika kalimahnya begini : “Kutunjuki yg KUkehendaki, KUsesatkan yg KUkehendaki” bagaimana…???,
“keyakinan perlu adanya penjelasan-penjelasan”, jika yg kufahami “keyakinan yg membutuhkan jawaban-jawaban adalah keyakinan setengah hati…”, gimana kalo “yakin aja, no reserve” karena yakin pada Sang Zat Tunggal, lantaran mengenal “gaya/ Pola” Yang MaHa Segala MAHA, apa perlu jawaban…, jika tak mengenal Pola, bagaimana Ibrahim AS Percaya…
-> lha Dia gak pernah bikin saya menderita. saya sendiri yang suka menganiaya diri sendiri, tapi atas ijin Dia juga semua itu terjadi. dalam pandangan saya hukum sebab-akibat. saya gak ngerti kalo suruh “yakin aja”. lha yakin itu apa? lha buat saya kalo sudah “terbukti” kebenarannya, meski adanya di dalam hati, ya baru yakin. saya berdoa supaya hujan ditunda, ternyata benar adanya. saya mohon penjelasan, nyatanya diberi-Nya…
Januari 4, 2008 at 12:26 am
wah gak maqome nek komentar iki…
-> tenang… selalu saya cek keberadaannya.
Januari 4, 2008 at 12:47 am
kayakinan dan kepercayaan, apa bedanya, yak? waduh setahu saya dua kosakata itu kok bersinonim, yak. kalau dibedakan kajiannya mesti pakai filsafat yang njlimet betul. *walah*, hehehehe
-> sepertinya memang kelewat personal. *btw kalo ada definisi kata bahasa Indonesia, saya mau juga…* nanti mungkin saya revisi. barangkali nanti ada yg merasa terganggu…
Januari 4, 2008 at 1:20 pm
Saya menikmati baca aja deh…pusing…..
Januari 4, 2008 at 2:02 pm
He he, saya idem dengan yang #8
Speechless …
Januari 4, 2008 at 4:00 pm
Buat Semua:
Tulisan di atas bukanlah pendapat yang final. Saya masih membuka ruang lebar-lebar untuk perbaikan. Pun defini versi lain sebagai rujukan tambahan. Perlu diketahui juga bahwa saya yakin Tuhan itu ada. Terimakasih atas segala perhatiannya.
Januari 4, 2008 at 4:10 pm
::oh..oh..sorry…
kebetulan kalau saya dekat dengan seseorang, maka gerak mimiknyapun sudah meyakinkan saya apa maunya…, dan anehnya dia suka ngambek jika saya enggak pengertian juga dengan mimik yg seharusnya sudah saya kenali.. itu beda ya…
-> muahahaha… udah direvisi tuh… silaken baca lagi (kalau percaya).. he he he
Januari 4, 2008 at 4:33 pm
::he..he… bener e, harus terbuka lebar ya…biar banyak hasilnya…
-> menjaring hikmah, menuai berkah, biar jadi aula hikmah *halah*
Januari 4, 2008 at 4:46 pm
Ehmmmm, Ini baru postingan yang mantab beneeerrr
*Sambil ngisep rokok dulu buat mikir, halah, mikir kok pake ngrokok… hahahahaha, untung saya cuman sebungkus sehari*
Saya sepakat dan sepaham saja dengan argumen Pak Sitijenang juga pak Ram-ram Muhammad… La, sebagai orang awam, kalo saya ingin meyakinkan diri saya bahwa khamr itu memabukkan, bagaimana caranya? Apa kudu minum dulu baru kemudian teler dan baru kemudian yakin? hehehehehe, maaf pak! saya orang awam…
Trus, begitu juga dengan zina, apa kudu melakukan dulu baru kemudian yakin bahwa itu dosa dan mengakibatkan dampak negatif lain? hehehehe..
Maaf, Pak! saya sepakat dengan pernyataan ini:
-> lha emang ngeliat orang lagi mabuk gak cukup kuat untuk membuktikan bahwa dia lagi teler? cari juga referensi soal tingkatannya. kalo haqqul itu menurut saya memang harus dibuktikan, meski tak selalu sebagai pelaku. kalo ada nabi yang pernah ngomong, “ana al haqq” tentunya Anda jadi paham. soal zina kita bisa merujuk ke tetangga mungkin, yang anaknya bunting waktu SMP, sehingga masa depannya suram. atau buat mereka yang pernah lalu insap karena kena AIDS misalnya, tentu dia bisa haqqul yaqiin juga. bukan begitu? *barangkali ini*
Januari 4, 2008 at 6:10 pm
[...] sudah pasti harus berusaha melihat dari sisi-sisi lainnya. Bisa juga cukup dengan bertanya lalu percaya dengan yang disebelahnya. Tapi, bila ingin yakin tentang wujud aslinya, ya, tinggal keliling saja, [...]
Januari 4, 2008 at 11:02 pm
Bedanya percaya dengan yakin apa sih?
Salam kenal!
-> muahahaha… ketahuan gak baca nih. nyari trepik ye?
Januari 5, 2008 at 1:41 am
Marilah terus melihat lebih teliti lagi di sekitar kita dan di diri sendiri, hingga bisa yakin, dan tidak sekedar percaya aja.
-> muahahaha… pria kiamat dateng juga
Januari 5, 2008 at 2:03 am
Mau curhat dulu, pak. Sekalian nanya.
Ketika ditanya apakah saya percaya (di sini saya menekankan konteks percaya) bahwa Tuhan itu ada, saya akan menjawab “I want to believe…”
Saya masih bingung, dengan diri saya sendiri…apakah saya ini ingin percaya atau yakin. Karena jika merujuk pada contoh kopi itu…yah, saya belum merasa tahu. (layaknya jawaban klasik para agnostik)
-> curhat juga… dulu saya juga begitu. trus diajarin memohon pembersihan “rasa” lalu lama-lama (lama juga ini sampe 1 tahun) “berasa”… abis itu mencoba minta bukti yang bisa saya pahami. tujuannya tentu bukan untuk membangkang atau menantang, tapi supaya tidak mudah goyah, supaya yakin itu tadi.
Januari 5, 2008 at 2:52 am
hmmm,
menurut saya kepercayaan itu sangat dipengaruhi oleh pancaindra. pancaindra itu memberikan kesan tertentu ke akal sehingga membuat seseorang menjadi percaya dan tidak percaya. sedangkan keyakinan lebih berhubungan dari pengalaman.
seperti minum kopi. indra pendengaran mendengar dari orang yang dianggap pancaindra td sebagai orang yang selalu berkata benar maka ia akan mempercayai apa yang didengarnya. tapi apa dia yakin? belum tau juga. setelah meminumnya sendiri merasakannya sendiri baru keyakinan dapat memastikan apa yang iya percaya.
tapi timbul lagi pertanyaan siapa sebenarnya panca indra ini? apa benar ia mata, telinga, lidah dan dua teman nya lagi itu?
huhuhuhu
*salam kenal yah
-> ya ya ya… perspektif baru nih. terima kasih atas masukannya. salam kenal juga
Januari 5, 2008 at 8:25 am
Barangkali saya setuju dengan komen-komen sebelumnya, pak Ram-ram bilang bermula dari pengetahuan, om bedh bilang dari panca indera…kalau bahasa saya, berdasarkan informasi, sama saja sih.
Dulu juga saya pernah ditanya, bagaimana nasib mereka orang-orang pedalaman di akhirat nanti yang seumur hidupnya tidak mengenal Tuhan? Saya jawab,”ya itu tergantung apakah mereka sudah pernah mendengar atau mengetahui informasi soal Tuhan atau belum. Karena untuk mempercayai atau meyakini sesuatu, setiap orang perlu informasi.”. Ah, intinya sih nggak beda jauh sama komen2 yang di atas
-> wah satu lagi perspektif lain. terima kasih juga. katanya segala hal yang kita tidak tahu tidak akan dimintai tanggungjawab. jadi, memang dari satu sisi lebih beruntung yang tidak tahu
Januari 5, 2008 at 12:40 pm
Satu hal lagi, dalam pelajaran sosiologi dasar, ada tiga kecenderungan naluri manusia. naluri bertahan hidup, melanggengkan keturunan dan mengagungkan Tuhan. Naluri ketiga inilah yang barangkali selalu menuntun manusia untuk kembali ke kesadaran diri.. mencari pembenaran atas yang dipercayai, mencari bentuk tertinggi yang layak untuk diagungkan. Naluri ketiga inilah yng mungkin mengantarkan manusia menuju keyakinan..
Naluri yang terberi.. kepercayaan yang terberi.. keyakinan yang terberi..
-> saya lebih setuju kalo yang ketiga disebut nurani
Januari 5, 2008 at 4:15 pm
lama bertualang
ane baru baca post isinya maknyos begini
memberi kesan serius bgt
salud buat kk deh salam kenal yah
kepercayaan menurut ane juga gt kk
berhubungan dengan panca indra apa yg kita lihat, kita dengar, kita rasa
maklum awam jd segini aj deh takut salah ucap
thx
-> ok deh. tadinya malah saya pikir terlalu personal dan bisa timbul polemik. salam kenal juga.
Januari 5, 2008 at 10:15 pm
Dengan begitu percaya dan yakin berbeda… yakinkah?
————–
Tapi benar percaya adalah kata hati, namun yakin ada hati ada perbuatan.. *halah*
-> he he he he… masih dalam taraf ujicoba. sepakat pak. kalo istilah jawa “jarene, rasane, nyatane” atau katanya, rasanya, dan nyatanya.
Januari 5, 2008 at 11:16 pm
Heks..heks…
Kang Jenang, melu2 urun rembug ah…
Simpel wae kok bedone antara Kepercayaan dengan Keyakinan.
KEPERCAYAAN tuh sifatnya masih bisa berupa ” Ilmul YAQIN ” dan ” AINUL YAQIN ” jadi masih ilmu teori yang berupa ANGAN-ANGAN, KHAYALAN ato MIMPI-MIMPI. DIMANA DENGAN KEKUATAN KEPERCAYAAN INI kita-kita mencoba BERUSAHA MEMPENGARUHI PERASAAN SENDIRI UNTUK BISA MENIKMATI
ATAU MERASAKAN HAL2 YANG TIDAK MUNGKIN DIRAIH DALAM ALAM REALITAS. Untuk semua itulah manusia mencoba memasuki dunia AGAMA dengan segala tetek bengek teorinya misalnya, kebanyakan dari KITA kan pada percaya tuh akan adanya ” SURGA yang penuh Bidadari dan NERAKA yang panas membara ” kelak di Alam kelanggengan. Permasalahannya adalah ini kan JUGA masih dalam KAPASITAS baru denger cerita-cerita orang-orang terdahulu DOANG atau dari cerita buku. Nah..ini yang saya anggap ANGAN-ANGAN, HAYALAN dan MIMPI he..he….
Sedangkan KEYAKINAN
Jika sifatnya masih belum melakukan PEMBUKTIAN secara lansung yah gak ada bedanya dengan KEPERCAYAAN tadi. Karena KEYAKINAN entuh harus ada TINDAKAN dan memerlukan PERJUANGAN..jika dianalogkan minum KOPI, rasanya itu pahit atau manis, yah harus ada TINDAKAN mulai memegang gelasnya, meminum airnya nah…baru ada sesuatu yang dirasakan oleh PANCA INDERA sebagai INSTRUMENT atau alat ukur sebagai WUJUD UJI EMPIRISNYA. Disilah baru timbul yang namanya KEYAKINAN yang sifatnya ” HAQQUL YAQIN ” tentang rasa minuman KOPI tadi, tapi masih dalam wujud RASA MATERI loh… Dan, semestinya kita gak perlu lagi memperdebatkan dan meributkan tentang RASA manis ato pahit kita dengan RASA orang lain. Mestinya harus gitu kan…?.
Hmm..hmmm..REALITASNYA, FAKTANYA..masak hanya gara-gara KEPERCAYAAN dan KEYAKINAN yang telah dilakukan oleh seseorang berbeda dari KAUM kebanyakan bisa saling GEBUG-GEBUG-kan..ini ANEH banget yah..yah..Masak berbeda tentang RASA minuman KOPI yang dalam wujud Materi saja harus gontok-gontokan..tak uu..uu.. la yaw..!!
Lalu bagaimana jika pertanyaan tak lanjutkan adakah INTERPRETASINYA tentang KEPERCAYAAN dan KEYAKINAN terhadap hal-hal yang sifatnya ” NON MATERI…??”. Misalnya seperti apakah KEPEARCAYAAN dan KEYAKINAN kita tentang TUHAN yang selalu kita SEMBAH.
Adakah bisa DIRASAKAN..??.
He..he..biar GAYENG saja Blok ini…
Lanjut mang…??.
salam
dari USPD ( uborampe Sangkan Paraning Dumadi )
Blog lama-koe :
http://karyakariyan.blogspot.com
Blog baru-koe :
http://kariyan.wordpress.com
http://okleqs.wordpress.com
-> satu lagi perspekstif tambahan. terima kasih. saya rada “bermasalah” kalo pake istilah Arab. banyak gak ngartinya… he he he… seperti yang saya tulis di komentar Pak Kurt, kata orang Jawa jaman baheula, “jarene, rasane, nyatane”. kalo bisa menyatakan, itulah keyakinan. kalo non materi sih gak berani ahh…
Januari 6, 2008 at 11:00 pm
[...] calon penguasa negeri yang tengah porak-poranda dilanda krisis krisis mutidimensi, termasukdimensi keyakinan. Langit gelap, mendung tanpa menurunkan setetes pun hujan. Mungkin rahmat dari langit masih sudah [...]
Januari 7, 2008 at 10:24 pm
mbaca sambil manggut-manggut, sambil sesekali menampakkan raut muka serba kusut, simpen dulu ah.
-> he he he… perspektif alternatip nih
Januari 8, 2008 at 3:54 pm
Coba pak.. buktikan kalau 1+1=2
Percaya ndak kalau 1+1=2? Yakin ndak kalau 1+1=2? Jadi kalau mau pilih-pilih, mana yang bisa diyakini tanpa perlu pembuktian, mana yang harus diyakini dengan pembuktian? Atas dasar apa menetapkan pilihan tersebut?.
-> muahahaha… apa anda yakin itu? gimana kalo 1 roti + 1 cangkir teh?
Januari 8, 2008 at 11:20 pm
Jadi siklusnya:
ilmu/Pengetahuan – kepercayaan – Pengalaman/pengamalan – keyakinan -
Keyakinan-Pengalaman/pengamalan-kepercayaan-ilmu pengetahuan (teori)
Bisa gak kalau di balik, berangkat dari rasa yakin (keyakinan) walau tanpa kemampuan kemudian dia mencoba melakukan/belajar (pengamalan) nah setelah mengalaminya dia menjadi percaya dengan apa yang selama ini telah diyakininya sampai kemudian dia bisa menjabarkannya sebagai ilmu (teori?)
-> kalo menurut saya lebih tepat rasa percaya. saya dari lahir percaya saja. agama yang saya anut “warisan” orang tua, jadi menurut saya belum menjadi keyakinan. sampai suatu ketika ada pengalaman, pemahaman, dan *kalo ada* pembuktian. paling tidak percaya bahwa ayat-ayat di kitab suci bisa dibuktikan kebenarannya oleh para pakar. misalnya, penemuan kandungan garam di paru-paru mumi firaun, atom yang dibelah menghasilkan kekuatan luar biasa, dll.
Januari 9, 2008 at 10:44 pm
begitu ya,…
saya membalik siklusnya menjadi seperti itu (Keyakinan-Pengalaman/pengamalan-kepercayaan-ilmu pengetahuan (teori/agama))
teringat kisah pencarian Nabi Ibrahim alaihissalam pada wujud tuhan (Allah) yang pada awalnya berangkat dari keyakinannya bahwa pasti ada tuhan atau sesuatu yang berkuasa atas hidup dan dunia ini dan kemudian pengalaman-pengalamannya selama pencarian dengan menuhankan hal-hal yang dianggapnya pantas jadi tuhan kemudian mendapat wahyu yang membuatnya percaya bahwa penguasa dunia dan segala kehidupan adalah Allah yang akhirnya menjadi agama…
-> ya ya ya… bener juga ya… perspektif yang menarik.
Januari 14, 2008 at 9:40 am
jangan percaya apapun & siapapun sebelum itu menjadi kebenaran bagi dirimu
bagiku tuhan kok cuma ruang kosong dalam benak yang perlu kita isi sesuatu
Dzat kang tanpa kumpulan kahanane ora ana
ya Ingsun sejatine ora ana
-> hana tan kena kinira. papan kang tanpa kiblat…
Januari 16, 2008 at 4:22 pm
kalau di Kawruh Jiwa, ada yang disebut (secara bercanda…) “Kawruh Keyakinan”, yaitu kawruh milik tiap-tiap orang yang tidak perlu (tidak dapat) diperdebatkan…
lha wis kalau sudah yakin itu… nggak bisa diganggu-gugat.
inilah yang oleh Ki Ageng Suryamentaram, kalau kita belajar “kawruh” yang baru, jangan pakai “pikiran”, tetapi gunakan “pikir”, sehingga bisa obyektif jika mendapatkan “pengetahuan” baru.
kalau sudah pakai pikiran (yaitu pikir yang sudah dimuati oleh pengalaman/cathetan) yang terjadi adalah menilai apakah kawruh yang baru lebih baik atau tidak lebih baik drpd kawruh yang sudah ada….
nah kalau sudah yakin kawruh dahulu lebih baik, jadi “sengit”/benci, pada kawruh yang baru…
kalau kawruh yang baru diyakini lebih baik, jadi benci pada kawruh yang lama…
supaya tidak terjadi “benci kawruh” maka terima kawruh dengan pikir (atau boleh disebut dengan pikiran jernih..)
nah… silakan anda boleh percaya, boleh yakin, boleh tidak percaya dan pasti tidak yakin..
he he he….
-> muahaha… ya, saya pernah baca. harus jernih itu… baru kebenaran sesungguhnya bisa tinarbuka.
Januari 18, 2008 at 1:27 pm
Bos saya juga pendapat, tapi sepertinya Bos juga ngerti, radha memper thitik. Kepercayaan: terkadang (dadi gak mesti bos, akeh-akehe ngene) menimbulkan rasa benar sendiri menurut yang dipercaya (njaluk karepe dhewe tapi gak weruh), menyalahkan orang2 selain yang dipercaya (nyoto lek iki Bos), hanya nafsu yang bermain karena adanya sugesti yang berlebih dan dibarengi dengan janji-janji yang muluk2 (nanti kalo kamu percaya kamu akan mendapatkan ini, dapat itu, gratis ini gratis itu, masuk sini masuk situ, dll koyok wong dodolan togel, karo diweden-wedeni lek gak nglakoni gak iso oleh penak.)
Keyakinan: “ngaweruhi sing dikaweruhi”, mantap menjalani hidup tanpa perasaan pamrih dan takut tapi gak “ngawut”, secara nurani iklhas dan tulus menjalaninya, tanpa ada paksaan tanpa ada desakan tanpa ada yang mempengaruhi, tanpa menggunakan akal pikir yang menjebak, hanya dari nurani dan kata hati sendiri, kalo pake pikiran biasanya membohoni hati. Waduh sori Pak Siti lek aku kakehan cocot. Sepunten nggih… Peace..
-> he he he… ya ya ya.. perspektif yang menarik. cuma soal “hanya dari kata hati” itu saya beda. hati itu kan katanya bolak-balik. lha kalo lagi mbalik itu yang bahaya… harus masuk lagi wilayah yang lebih dalam. bikin blog dong…
Januari 18, 2008 at 8:56 pm
ada cerita disebuah kampung dekat danau tempe di sulawesi, orang tua yang setiap hari menangkap ikan di danau itu tanpa menggunakan kail atau alat. Dia hanya menggunakan tangannya, maka ikanpun datang dengan membaca semacam mantra ditangkapnya ikan itu. Kawan saya nanya, pak tadi saya lihat Bapak nangkap ikan hanya dengan menepuk air…tadi baca apa ?….pak tua itu hanya tersenyum. Dihubungkan dengan posting ini, saya menarik kesimpulan bahwa pak tua itu sudah pada tingkat Yakin, sementara saya dan kawan saya baru pada tahap percaya karena kami hanya melihat dan tidak ikut melakukan.
-> hmmm… kisah yang sangat menarik. pas juga untuk menggambarkan perbedaan yang saya maksud. terima kasih atas masukannya.
Januari 23, 2008 at 10:07 pm
iyo-yo… ati iku bolak balik…., guoblok temen aku iki pak Bos…hua…hua…hua… Oke-oke, pokoke lek sampun wonten blog’e kulo sanjang pak Bos…
-> ok ditunggu alamatnya…
Januari 25, 2008 at 1:38 am
Kami atas nama Keluarga Besar JarIK Bandung memohon izin soal pemuatan tulisan ini. Terimakasik. Met berkarya.
-> ya, silakan. saya sudah liat juga.
Februari 26, 2008 at 4:23 pm
aku adalah aku, kamu adalah kamu, keyakinanku bukan keyakinanmu… SETUJUUUUUUUUUUUU…
-> persepsiku untukku, yang mu ya untuk mu…