Indera Keenam atau Cuma Perluasan?

Sudah lama saya bertanya-tanya soal indera manusia, tapi belum ketemu juga jawabannya. Kaum yang realis, atau paling tidak saya sebut begitu, menganggap jumlah indera kita cuma lima dan lebihnya mengada-ada. Sementara itu, kaum yang konon akrab dengan dunia “sana” menyebut ada indera keenam. Kalau dari serial kartun Saint Seiya yang sesat menyebut adanya indera ketujuh! Mantap! Banyak ajah… 8)

Ada lagi pendapat soal indera ekstra kulikuler bernama ESP (Extra Sensory Perception) atau persepsi sensor ekstra atau lagi-lagi disebut juga indera keenam. Setelah itu ketemu lagi pendapat spiritualis bahwa ternyata ada indera yang dipakai untuk memahami realitas yang lebih halus. Konon, realitas di ranah enerji, alam malaikat atau jabaruut (dalam bahasa Arab). Indera kelas sirri atau dalam tingkatan kedalaman qolbu adalah rasa sejatining rasa. Di nurmuhammad.com disebut sebagai HSP (High Sensory Perception). Tingkatan ini katanya lebih halus dibanding ESP.

Versi Hindu tentu lain lagi. Indera atau Indria merupakan alat penghubung/kontak antara jiwa dalam wujud kesadaran rohani diri dengan material lingkungan. Dalam ajaran Hindu indera ada 11 macam dan disebut sebagai eka dasa indriya.

Lima macam indera berfungsi sebagai alat sensor dalam bahasa Sansekertanya disebut panca budi indriya dan dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai panca indera yaitu: alat pembantu untuk melihat (mata), alat pembantu untuk mengecap (lidah), alat pembantu untuk membau (hidung), alat pembantu untuk mendengar (telinga), dan alat pembantu untuk merasakan (kulit/indera peraba).

Lima jenis lagi disebut panca budi indria sebagai alat gerak yaitu tangan untuk mengambil, kaki untuk berjalan, anus untuk membuang air, mulut sampai hidung untuk bicara – bernapas – makan, alat kelamin untuk menikmati hubungan kelamin. Indria ke-11 merupakan indera utama yang mengontrol jalannya kesepuluh indera yang lain, yakni pikiran sebagai kendali segala aktivitas diri.

Tangga SpiritualKalau belajar dari orang-orang tua atau sesepuh Jawa, konon jumlah bilangannya malah ada sembilan. Hal ini mungkin ada kaitan dengan prinsip “hawa sanga” atau sembilan lubang yang ada di tubuh manusia. “Menutup” lima indera ragawi bakal bertemu indera keenam. “Menutup” yang keenam bisa mengangkat yang ketujuh, dst. Intinya, makin bertanya, jawaban yang muncul kok makin banyak. Jangan-jangan nanti ada teori yang bilang bahwa manusia punya 99 indera.

Daripada kepanjangan, saya singkat aja deh. Saya pernah mencoba mengklasifikasikan indera ke dalam tiga jenis saja, yaitu indera fisikal, indera mental, dan indera spiritual. Mencontek terori soal IQ, EQ, dan SQ. Sepertinya lebih gampang memahaminya. Paling tidak dari sudut pandang saya sendiri.

Menurut saya sementara ini, setuju dengan pendapat bahwa manusia sebetulnya cuma punya lima indera. Tapi, ada ranah lain yang memungkinkan yang lima itu melakukan perluasan. Di tingkat fisikal atau ragawi kita pasti sudah tahu. Di tingkat lebih dalam ada lima lagi, sebut saja indera mental atau kalau terlalu ngeri sebut saja level akal.

Di situ kita juga punya penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Contohnya, kita tidak perlu melihat dengan mata ragawi untuk melihat permasalahan. Kita cukup mengumpulkan informasi, baik bacaan maupun ucapan. Akal juga bisa mendengar hal yang tidak terucapkan atau tersirat. Mencium adanya bahaya dari gerak-gerik lawan bicara, atau meraba seperti apa wataknya.

Dari sisi spiritual mungkin bisa dibilang ada di wilayah “rasa”. Tapi ini daerah kekuasaan Kang Ram-ram, Pak Kurt, Mbah Zal, dll. Cuma, dua dari tiga sudah komplen. Satu bilang terserah diri sendiri, satu lagi bilang tidak paham apa itu “rasa”. Jadi, saya ganti aja lah. Wilayah spiritual ada dalam diri masing-masing, sebuah ruang yang tak (belum) terdefinisi… :D Di sini pun menurut saya hanya ada lima indera. Jadi, pada prinsipnya indera hanya ada lima, tapi perluasannya saja yang bisa ke mana-mana.

-> telah direvisi atas komplen Pak Kurt dan Mbah Zal yang saya sebut dalam tulisan :mrgreen:

39 comments on “Indera Keenam atau Cuma Perluasan?

  1. Terus bagaimana kang Siti Jenang biar bisa mendapatkan indera-indara itu. Saya mengenal Indra Lesmana, Indra Bekti dan Indrajit tetanggaku… Ketiga orang ini luar biasa mampu menembus kemampuan rata-rata manusia: 2 selebriti bisa eksis melampaui artis lainnya… sementara tetanggaku Indrajit mampu mendulang rupiah dalam waktu singkat: bisnisnya ok…

    Bisakah indra2 itu dipelajari dan mestinya bapak Presiden dan semua petinggi akan lebih baik barangkali jika punya Indra ke-enam atau tujuh …

    anu kang Jenang, wilayah sepiritual itu punya masing2 individu bukan punya saya heheh :)

    -> he he he… situ aja nyerahin ke masing-masing… saya gak berani ah… :mrgreen:

  2. sulit mas jenang, biasanya hasil praktek kebanyakan sudah pasti bisa jadi teori (tapi u/ menjelaskannya ke diri yang lain biasanya bagi mereka bahasanya jadi seperti terdengar bahasa “ngawang2″) dan sesama praktisi tentu saja pengalaman2 masing2 jadi “bahan”+an. tapi yang bikin saya bingung bagi yang sering baca/dengar teori2 indra itu lho mas, kebanyakan si “indra” itu jadi bahasa banyolan. :D sedikit sedih jadinya.

    -salam kenal-

    -> salam kenal juga. tentu saja hanya orang yang aktif inderanya (atau yang percaya) yang bisa mencari penjelasan. kalau belum ya cuma katanya aja. seperti juga *maaf* orang tuli atau buta tak bisa membayangkan bagaimana mendengar atau melihat yang kasat mata.

  3. Mantabh!

    Yak, sependapat saya. Sementara ini, sampai saat ini juga bisa dikatakan saya oke-oke aja dengan pernyataan 5 indera pada manusia. Tapi jika dikelompokkan ke IQ, EQ,SQ….. bagus juga. :mrgreen:

    Ah, capek…lanjut ntar komennya, pak. :P

    -> he he he… oke deh :lol:

  4. ::he..he…bahkan saya engga ngerti dengan yang namanya rasa, gimana saya jadi mbahnya … :lol:
    ada suatu pekataan dari Al Junaid Al Bagdadi, “dahulu kepadaku banyak Allah berikan karomah, karena Allah tahu aku engga memerlukannya, maka digantinya dengan yang lebih baik yaitu mengenalNYA”,
    namun itupun aku engga ngerti…, hanya tahu dari apa yang ditahukan, merasa cukup dari apa yang ada, jika ditambah, matur sembah nuwun…

    -> nah… berarti menurut Anda rasa itu memang ada… huwo… huwooo… katanya :mrgreen:

  5. budda bilang klo pikiran itu indra ke enam, sedangkan pikiran berkaitan dengan sensasi (rasa) dan persepsi. pikiran dan persepsi yg salah menyebabkan tingkah laku yg salah. 5 indra fisikal bisa menangkap informasi yg sama persis tapi pikiran dan persepsi bisa mengolahnya secara berbeda. ah…saya juga masih belom terlalu mudeng. tapi pendekatan Kang Jenang boleh juga indera fisikal, mental dan spritual. lanjut…

    -> daya tangkapnya berbeda-beda berarti… ok deh… :D

  6. memang u/ urusan si “indra” :) qt hrs ada kemauan mujahadah (berjuang) bkn lg riyadah (latihan2) seadanya, tp hrs terus menerus sprt halnya sang pakar “wirid”an (dlm suatu tarekat-dgn puji2an dlm asmaNya) namun tetap illustrasinya sprt air yg mengalir (sabar/tdk ngoyo). dan satu lagi repotnya, qt tdk boleh memiliki wewenang dlm berkehendak (pasrah), jk hslnya msh tampak “hitam pekat” maka itulah “kita” saat itu.

    tapi pada zaman skrg dgn pola pikir yg serba pro-materialis, apa iya si “indra” masih laku mas …. :D

    -> wah kalo metode itu katanya. saya cuma percaya aja… he he he… kalo masalah laku-gak laku saya kira tergantung apa manusia membutuhkannya. kalo sudah punya buat apa, kalo belum kok pengen punya, dll. benar kata Mbah Zal… 8)

  7. Ping-balik: Sebuah Perjalanan Spiritual « Blog Review !

  8. Mungkin, indera itu hanya bahasa manusia saja untuk memberi nama sesuatu yang mereka pahami.

    -> ya. mestinya semua yang bisa diberi nama bisa dipahami. nyatanya, ini memang wilayah kerja pakar bahasa, sedangkan kita hanya pengguna saja… terima kasih sudi mampir *halah kayak nama restoran* :D

  9. Secara fisik barangkali jadi benar ya bahwa indra manusia hanya 5 (lima), tetapi secara non fisik bisa juga kita memiliki semacam indra fisik itu … Wadduh kalo ngomong ginian agak mumet aku … :)
    —————

    -> katanya kan ada tubuh eterik, esoterik, eksotik *halah* dan tiap dimensi bentuknya, katanya lagi, sama juga :D

  10. Kalo boleh beranalogi, mungkin seperti blog lah.. Yang kasat mata dilihat oleh orang adalah halaman depan blognya aja, sementara “Meta” atau bagian admin-nya hanya si “Pemilik” blog yang bisa mengaksesnya. Meta ini mungkin juga dimasuki orang lain, kalau orang tersebut punya kemampuan untuk “nge-hack” ke dalam sistem…

    *Halah mbulet*

    -> terminologi positifnya, ada akses karena diberi hak. btw saya pernah baca soal hack vs crack. kata hack itu ditujukan buat yang suka ngoprek, mengubah atau menambah fungsi. kalo crack itu menjebol (terutama keamanan) dan memasukin wilayah di luar otoritasnya. terima kasih sudah mampir… :D

  11. Mas ya sudah, indraku dan indramu mari bergabung untuk menjawab kegelisahan hidup ini dan antar hubungan agama.. :)

    -> ya betul! *termasuk indra birawa* dengan harapan makin terlihat utuh wujud yang sebenarnya… ya ya ya… 8)

  12. ada kesetujuan apa yg dikatakan bang menggugat mualaf, bs jd “bahasa” itu hny sekedar predikat. namun harapan qt yg brngkali ckp penting adlh bhw setiap kali qt brbcara “indra” mdh2n hsl tafakurnya dpt menjd dasar yg bs membw qt u/ menggali kepd ungkapan bahwa “al qalbu maudin allah ul haq” (tempat pandangan allah kpd manusia sesungguhnya adlh qalbu/hati). amin.

    -> yang Anda maksud itu mbak. :D berarti jelaslah ke mana kita seharusnya menghadap saat sedang salat… mudah-mudahan saja kita tidak dianggap tersesat. amin 8)

  13. Kalau menurut bapak, ungkapan jawa “ngerti sakdurunge winarah” itu maksudnya gimana njih. Kadang saya berpikir bahwa mungkin ungkapan itu maknanya lebih dari sekedar “indera ke-6″. Ungkapan itu implikasinya antara lain kepada kepekaan manusia terhadap manusia lain dan alam sekitar sehingga membuat yang bersangkutan menjadi lebih “waspada”.
    Gitu ndak njih pak? :grin:

    -> ya setuju. seperti persamaan matematika barangkali… 6+y=9 lalu berapa nilai y? eh sesat gak sih? :mrgreen:

  14. … Jadi, saya ganti aja lah. Wilayah spiritual ada dalam diri masing-masing, sebuah ruang yang tak terdefinisi…

    ***Perlu ditambahkan .. terdefinisikan … dan (harus didefinisikan). Ini tukang Kang Sitijenang, he he

    -> he he he… definisi masing-masing aja ah… 8)

  15. Pembahasan yang menarik. Saya sebenarnya berminat juga mau mempelajarinya lebih dalam lagi tapi takutnya otak ini nanti bisa hang. Namun, tentang indra keenam itu kebanyakan diartikan sebagai ramalan tentang masa yang akan datang walau menurut saya itu hanya dugaan atau tebakan tentang yang akan terjadi.
    Salam kenal.
    ==== StreetPunk ====

    -> terima kasih kunjugannya. kalau Anda liat komentar mas sigid, di situ lebih jelas mengungkap apa sebetulnya ramal-meramal itu. katanya semua kembali ke niat, jadi memang sebaiknya luruskan saja niat. sisanya, terserah Yang Memberi. lihat juga komentar Mbah Zal. salam kenal juga :mrgreen:

  16. Walah, aku kok mumet ya mikirin soal si Indra ini. Berbagi pengalaman saja, saya kok suka punya firasat bahwa seseorang sudah dekat waktu kematiannya hanya dengan melihat raut muka, baik yang sakit atau yang lagi sehat wal afiat. Tolong dicatat, bukan mendahului Gusti Allah Ta’ala, cuma sekedar firasat kuat yang sering menjadi kenyataan. Makanya suka agak “MALAS” kalau bercermin, takut lihat muka sendiri… :mrgreen:

    Apakah hal semacam ini termasuk indra ke sekian tah?

    -> he he he… seingat saya ada hadits (atau ayat ya?) juga yang menjelaskan tanda-tanda seperti itu. tentu bukan untuk mendahului kehendak, tapi kalau bisa bersiap-siap kenapa tidak… *barangkali ini*. kalau melihat komentar-komentar yang masuk, sepertinya memang banyak sekali manifestasi keinderaan (sensor) kita itu. *halah sok tau* :mrgreen:

  17. Saya juga dapat nasihat, bahwa mendawamkan aurod atau wirid dan doa dapat mempertajam intuisi. Kok mata saya tidak mau lepas dari kalimat “alat kelamin untuk menikmati hubungan kelamin”… Halah! :mrgreen:

    -> muahahaha… lha itu kan menyiratkan bahwa ada alat bantu (obat) mempertajam indera, tapi versi yang itu aja.. wakakaka.. :lol:

    • om saya ada pr bahasa inggris di prku itu disuruh panca indera ada 12 bisa kasih tau gak 12 panca indera dalam bahasa inggris terima kasih atas perhatiaannya

  18. ::kalau kataNYA, “bukankah padamu ada 8 pasang”, teka-teki menjadi suatu fenomena menarik bagi pencari, dan pencarian ini uniknya membangun banyak pandang, akhirnya jawabanpun beragam, “pengenal diri” merespon dengan double coin, bagaimana pada “sedulur papat limo pancer”, bagaimana pula dengan “aku bersama Bapa”, bagaimana pula dengan “Aku adalah Alam, maka Aku bisa terbang”, dan bagaimana pula “inilah aku, apa adanya”, masing-masing terespon dari “respon” yang dialami, dan “menamakan” dari pandangan “respon” masing-masing.

    Sebagaimana Bruce Lee, bermain dalam “rumah cermin” pada “enter the dragon” yang harus memutuskan yg mana posisi musuhnya dari milyaran bayang-bayang pantulan cermin, dan keyakinan itu membawanya pada posisi yg tepat, meski luka goresan cakar menghiasi tubuhnya. “Pencarian atau dicari” sulit juga terdefinisikan sebab “sejengkal berbalas sedepa, berjalan berbalas berlari, dalam hati berbalas dalam zat”, ujar-ujar fenomena lampu jalan, jika bertemu “Harta Terpendam, semua ada bak kantung Doraemon (yg sesat itu :lol: ) namun bagaimana mendefinisikan rasa manis dari gula yg dicicip…???

    -> maaf mbah, sepertinya terlalu banyak yang perlu dicerna dari komentar Anda ini. memuat banyak referensi dan respon tiap orang pun bisa berbeda. seperti misalnya kata “keyakinan”. menurut saya keyakinan perlu penjelasan supaya muncul kejelasan, berbeda dengan kepercayaan. sebuah penyerahan pemahaman kepada pihak yang dipercayai. akibatnya, bisa berubah-ubah tergantung kepada siapa kepercayaan itu diserahkan. dalam hal ini saya belum jelas apakah pernyataan di atas ditujukan buat semua atau sebagian atau hanya satu orang. belum lagi film enter the dragon, yang mana saya belum pernah liat :mrgreen:

    barangkali perlu diperjelas lagi seperti “serat kandha cetha”. masalahnya, tingkat pemahaman tiap manusia bisa berbeda-beda. pun persepsinya… :D

  19. ::he..he..karup-karup kadit itreng iki, :lol: rasane.., iki prosoku lho.., dhuduk roso-rosone mbah marijan.. sing pancen jagoan roso :lol: Tiap-tiap yang “diadakan” itu uniq, “tiada yg dapat dipersamakan”, sedang hakikat Ketunggalanlah yang merespon yang memasuki “alam bebas”, “hakikat pada Alam bebas” sepertinya melakukan “penyaringan”, mulai “penyaring” paling halus sampai “penyaring” kasar, “konsep ini diujar-ujar sebagai “ujian”, bukan merupakan Kadar Ketidaktahuan Yang Maha Tahu, namun untuk Memahamkan si “dzolamna”, dari sinilah mungkin terjadinya keragaman bentuk pengenalan dan cara dikenalkan, bisa jadi pula dari sini pula terjadi “alam jenjang”, sepertinya alam, “wujud rasa”, “alam wujud bentuk”, “alam wujud cahaya” pada mungkin yg disebut “perluasan” (sepertinya sih sdh ada, mau meluas kemana..he.he), dari bentuk kepada “sumber”, bisa jadi ada juga “sumber” dari “sumber” dst… wallhu a’lam.

    -> he he he… “lha kabeh punika jarene”… ya, ini dia. 8) sip sip… rasa dari jarwa dhasak katanya “rosing Karsa” atau “rosing Kuwasa”. sayangnya, dalam bahasa Indonesia setahu saya belum ada pendefinisian kata. padahal, mungin dari sini *menurut saya* timbulnya selisih pendapat (yang mengarah ke perpecahan). tapi kalau Inggris sih ada. saya biasanya ambil referensi dari situs ini. jadi tampaknya memang sebanyak jalan menuju ke “Sana” ya? nywun gungin pangaksama, matur sembah nuwun… :mrgreen:

  20. permisi pak, numpang lewat. Baca postnya trus mo koment eh liat komentnya jauh lebih berat *apalagi koment yang diatas saya ini* Jadi ga tau mo koment apa, *pulang plonga-plongo dapet sekarung ilmu*

    -> ya silakan. memang tidak salah kalau saya sebut Mbah, bukan? 8)

  21. Heks..heks…Malem Mas Jenang
    Akoe dah ganti Blog neh…urun rembug sethithik wae yoh..mengenai Lawang Songo ( sembilan ) akoe ada UKORO seperti ini ( kejawen loh ):
    Tes putih soko Bopo
    Tes Abang soko Biyang
    Wujud gedhang
    Cagak Papat, LAWANG SONGO
    Isen-isene SUKMO SEJATI
    Gumantung Tanpo Centhelan
    Lungguhe BATINKU sing SUCI

    Dah siapa Poro Sanak Kadang sing MANGERTENI tembung kuwi mau…??.

    Mas Jenang makasih SARANNYA untuk pindah RUMAH ( blog lain ).

    -> tutupen aku kaki, bene ketemu Dewa Ruci, ruh Ingsun kang sejati *halah* mana alamat barunya kaki? mingsih spot-spotan mamiiih… :mrgreen:

  22. weleh..weleh… lah kok aku salah ngisi web penggunanya masih yang lama to, iki loh web ku sing anyar. Mas Jenang mbok aku diwenehi alamat Mailnya. Japriku neng kene yoh : karyan_btg@y***id. Ada sesuatu yg pingin aku tanyakan sekaligus minta bantuan sama sampeyan. Salam

    -> weleh-weleh juga… udah tuh ya. alamat email saya kan ketahuan di komentar :mrgreen:

  23. sampai saat ini saya masih bingung dengan indra ke enam… kalau ada ke enam pasti ada ke tujuh dan seterusnya …. salam dari Perhimpunan Mahasiswa Bandung :)

    -> muahahaha… selamat datang. salam juga 8)

  24. Ping-balik: Permohonan Sang Begawan « Halte Perjalanan

  25. Ping-balik: Keselarasan Dalam Ilmu Kejawen « Halte Perjalanan

  26. nderek urun rembug menawi kepareng

    dalam mahabarata dikisahkan pandawa lima beristrikan Drupadi jadi si Drupadi ini melakukan poliandri
    dalam ranah filosofis untuk mencapai kasampurnan atau katakan aja ‘kepenuhan hidup yang sejati’ kelima indra manusia harus “bisa kawin” dengan, ya sebut aja indra keenam, atau kata njenengan wilayah spiritual, atau bisa juga disebut rasa keduanya harus terintegrasi dengan baik diungkapkan dalam bahasa kias’curiga manjing warangka’

    nah rasa tanpa nalar hasilnya sesat nalar tanpa rasa tidak akan mendapat ‘gaib’ (pengalaman akan Ilahi) mbokbilih kados makaten pemanggih kula tiyang sekeng menika. Nuwun.

    -> ya, setuju sekali. perspektif yang menarik. terima kasih. 8)

  27. kenapa saya sering ngerasain ada medan energi negatif disekitar saya.Apa itu bagian dari the six sence atau indera ke 6?

    -> barangkali memang begitu. kalo saya, gak tahan berada deket (radius ratusan meter) daerah tegangan tinggi. pasti pusing, bersin-bersin, pilek, dll, meskipun tadinya gak tahu ada apa di sekitar tempat itu. masalahnya, cuma saya yang ngalamin, sedangkan orang lain gak berasa. :)

  28. Ping-balik: Keindahan Butuh Kejelasan « Halte Perjalanan

  29. betul itu dimana sejatining rasa menengnya ingsun dalam sangkar ojo ucul-ucul…. itulah Mutiara hikmah bila kita dapat akan menjadi sirr dalam qalb dimana seperti mutiara disimpan dalam kotak dan dikunci.lalu pintu lemari dikunci. alu pintu kamar pun dikunci.. karena angel gole’innya……larang barangnya mas

    katanya sih begitu. tapi memang sulit menjelaskan kepada orang “awam”. he he he… bisa dipahami kalo malah dikira gak waras.

  30. Memang sangat sulit untuk mendefinisikan dan mendeskripsikan apa sebenarnya dan bagaimana indera ke enam tersebut. apa lagi bagi orang yang tidak “mempunyai” atau memilikinya ditingkat yang “lebih” dibanding kebanyakan orang “normal”. Bagi saya pribadi, saya menyebut diri saya “tidak normal” dibanding orang lain yang kurang jeli dengan “indera ke enam” hahahaha……….

    saya berpikir, mungkin saja sakit jiwa karena bisa mengetahui banyak hal yang orang lain “tak mampu” walau hanya membayangkan. Mengapa saya bisa mengetahui bahkan melihat dan paling parahnya lagi bisa berinteraksi dengan hal2 yang kasat mata? mereka terkadang menginginkan saya menyampaikan “pesan” untuk orang2 yang mereka tinggalkan dan sangat sayangi.

    Ini beban terbesar saya sampai hari ini. Belum lagi saya bisa mengetahui kejadian apa yang akan saya atau orang2 disekitar saya akan alami nantinya. Apakah saya bisa dikatakan “orang normal”? Apakah ada yang senasib dengan saya? Dari sederetan peristiwa yang saya alami, ketika…. (dia tidak suka dipublikasikan. dunianya sudah beda) maaf… Mohon sarannya. TQ.

    menurut saya batas normal berbeda-beda. ada yg bilang normalnya manusia ya seperti Anda ini… he he he… saya kira lebih baik disembunyikan bila mungkin (tidak terang-terangan). pesan dari mereka dinalar dulu lalu ketika menyampaikan ke orang lain dengan nalar juga. dengan begitu, orang tidak menganggap Anda “kurang waras”.

  31. Menurut saya indra manusia ada 7, barang siapa yang mencapai ketujuh-tujuhnya maka dia mencapai pencerahan sempurna. makasih
    SALAM SEMANGAT

    bisa dijelaskan gak apa itu indera keenam dan ketujuh?

  32. Ping-balik: Tiga Dimensi Ilmu Kejawen « Halte Perjalanan

  33. Tak bakal berujung membahas indera keenam itu ada apa tidak, itu perluasan atau tersendiri. Indera tak ada maknanya ketika berjalan sendiri2. Bagi kita, yang utama adalah bagaimana kita mensinergikan indera2, mau lima atau enam tidak penting. Percuma banyak indera tapi parsial. Punya mangga 6 buah tapi setengah matang, lebih baik 3 tapi matang, kerana kita tak tau, “sampaikah waktu kita” pada matangnya mangga yang setengah matang tadi…
    (suka yang pasti2 saja)


    SJ: betul. masalahnya kalo mau kenal Tuhan. apa bisa pak hidung aja? gitu ta. :mrgreen:

  34. Mau tanya dikit Mas Sitijenang…
    Ada indrawi, ada surgawi…
    Nerakawi ada kagak???


    SJ: suwarga menika ateges sruwa-srawu sarwa lila lan legawa. neraka ateges sing di ‘ner ora teka-teka. :mrgreen:

  35. Ping-balik: Rasa Adalah Kesadaran Manusia? « Halte Perjalanan

  36. Kulo nuwun, nderek kumecap,

    Kang Jenang, kalau nyari definisi indera keenam, ya jelas susah. Roso juga susah didefinisikan. Yang penting, indera dan roso itu untuk digunakan.

    Nah, yang jadi masalah adalah bagaimana cara menggunakan indera keenam dan roso itu ? Ja jelas dengan olah roso. Setuju. Gimana caranya ? Ubah cara hidup untuk selalu ingat Tuhan, selalu mencari kebenaran dan berbuat sebanyak mungkin agar bermanfaat untuk orang lain. Setuju lagi.

    Mencari kebenaran harus kemana ? Cari guru mursyid. Nah ini yang susah. Gimana menguji seseorang itu calon guru mursyid atau bukan ? Dari jumlah pengikutnya, dari kemampuan spiritualnya atau dari kecerahan wajahnya dan kehalusan budi pekertinya ?

    Kalau soal wajah cerah, para biksu buddha itu wajahnya sangat cerah dan menyejukkan dibandingkan dengan ahli agama lainnya. Ini hasil survey saya. Yang keberatan silahkan buat survey sendiri. Lha apa saya harus pindah dari Islam ke Buddha hanya untuk cari guru mursyid ?

    Pencarian guru mursyid jelas perlu usaha. Saya sudah beberapa kali kejeblos, habis duit ratusan ribu untuk setiap membership, bai’at dan sejenisnya. Selama perjalanan pencarian puluhan tahun kalau dijumlah bisa sampai jutaan. Ada juga yang gratis, tapi beberapa tahun ngga ada hasilnya. Wiridan ribuan kali, juga ngga ada hasilnya. Ini semua dilakukan dengan bimbingan guru, ngga ada yang coba2 sendiri.

    Kadang saya mengeluh kepada Tuhan, “Ya Tuhan, saya sudah berusah mendekatkan diri kepadaMu dan mencari kebenaran, tapi koq susah amat. Tolong beritahu saya apakah memang kesempatan itu sudah tertutup bagi saya dan hanya terbuka untuk orang lain ?”
    Padahal kalau melihat kenyataannya, banyak ahli kebatinan, paranormal, penghusada, guru berilmu tinggi, kyai, haji, ustadz dll yang kelakuan dan tutur katanya tidak mencerminkan seseorang yang dekat dengan Tuhan. Sekali lagi ini hasil survey saya. Boleh dibantah.

    Ada yang coba-coba menjawab, ooooo… kalau itu saya tahu penyebabnya, anda ngga konsen, ngga khusyuk dan kelakukan anda banyak yang ngga benar.
    He..he… maaf, itu jawaban klise. Anak kecil juga tahu apa syarat untuk mendekatkan diri ke Tuhan. Ikuti perintahnya dan jauhi larangannya. Cukup satu kalimat inti, tapi jutaan kalimat penjabarannya. Coba jawaban yang lain, atau phone a friend. Seperti acara TV aja.

    Terus, apa yang harus dilakukan sementara pencarian kebenaran itu belum tercapai ? Ya cukup membuat kebenaran menurut definisi kita sendiri, atau menurut kitab2 agama. Selanjutnya ya cukup menunggu dan menunggu sampai mati, sambil nglakoni urip yang benar. He.. he.. ternyata mbaliknya koq ya kesini-sini lagi. Makin mumet ya kang…..

    Barangkali ada pencerahan buat saya kang ? Makasih sebelumnya.

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: kalo buat kejawen guru sejati yg dicari, tak lain adalah sang diri. berguru dengan orang lain pastilah tak ada guru yg sempurna. memang sepertinya kita cukup menjalani apa yg kita yakini, tapi tetap membuka pintu bagi pemahaman baru. dengan begitu kita bisa terus berjalan…. sebab kalau menutup diri menjadi stagnan, tak ada lagi perjalanan.

  37. Utk HSP atau High Sensory Perception……..yah..itu benar…..dan jika seseorang sudah berada dalam tahap HSP, akan mengerti banyak hal yg terkadang sulit dijelaskan oleh manusia pada umunya.

    ▄▄▄▄▄▄
    SJ: yg lain berarti salah, ya?

  38. Ping-balik: Menghargai Sebuah Penghargaan « Halte Perjalanan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s